Flu Linglung Landa Kaum Musyrikin Berbasis Islam

Oleh :

Darmen Adios

كَيْفَ يَهْدِى اللهُ قَوْمًا كَفَرُوا بَعْدَ إِيْمَانِهِمْ وَشَهِدُوا أَنَّ الرَّسُولَ حَقٌّ وَجَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ، وَاللهُ لاَ يَهْدِى الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang mengingkari Al Qur’an sesudah mereka beriman, padahal mereka mengakui bahwa Rasul itu benar, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka, sungguh Allah tidak menunjuki kepada kaum yang zalim. (Ál ‘Imrán;  3:86)

Penyebabnya virus Democrazyah. Suatu virus maha ganas yang keluar dari dubur orang orang kafir, ditularkan kepada semua manusia tanpa kecuali, termasuk kepada pengaku pengaku Islam. Akibat terkena serangan virus yang sangat ganas ini, maka kerusakan demi kerusakan melanda manusia yang terkontaminasi. Tak pernah terbayangkan sebelumnya, suatu virus yang menyerang bisa menjangkau masalah keimanan manusia, kejiwaan manusia, sekaligus juga menyerang phisik dan mental manusia. Ini bukan cerita fiktif, bukan berita rekayasa, tapi fakta.

Keistimewaan dari virus democrazyah ini adalah kemampuannya mengalihkan ketauhidan ummat pengaku Islam yang semula hanya bertuhan tunggal Allah SWT, dimekarkan oleh virus ini menjadi penyembah banyak tuhan, dengan demikian status pengaku muslim tadi telah berubah dari yang biasa dikatakan kaum muslimin  menjadi dikatakan kaum musyrikin. Suatu kaum penyembah banyak tuhan berbasis Islam, sebab ada pula kaum musyrikin berbasis Nashrani atau berbasis Yahudi dengan inti kriteria yang sama, penyembah banyak tuhan.

Korban Virus Ternyata Tidak Paham Apa Itu Dien Islam

Chevi_juve@yahoo.com menulis email kepada saya yang telah saya pilah paragraph per paragraph sbb:

Assalamualaikum wr. wb
Coba antum pikirkan lagi. Sebenarnya jamaah antum ‘telat’ mencela demokrasi. Demokrasi sudah hadir di tanah air sejak kemerdekaan indonesia dideklarasikan. Sebelum pemilihan langsung ini, sama saja, suara tebanyak telah menjadi sistem penghasil pemimpin bagi umat dinegeri kita. Sistem ini pun telah di update amerika melalui kampanyenya dan kian kuat adanya.

Paragraf diatas memberi gambaran kedangkalan Chevi memahami apa itu ugama Islam. Ugama dan system dalam konteks tulisannya adalah sesuatu yang berbeda. Ugama baginya apa yang telah ia rasakan selama ini, yaitu bentuk peribadatan vertikal (rukun Islam), sementara system adalah sekedar mesin penghasil kepemimpinan di negeri ini. Jadi ugama dan system sesuai pernyataan Chevi adalah sesuatu yang terpisah.

Memang kalau melihat kata kata dan ejaannya, kata kata system dan ugama sangat berbeda, apalagi umumnya kata kata system lebih banyak dilekatkan pada peralatan mesin, bukan pada kata kata ugama, seperti misal kata kata audio system. Amat jarang orang mengatakan kalau bertanya apa ugama anda?, mereka tak bertanya apa system ugama anda?.

Tak pelak secara umum orang memandang kata kata ugama, tak jauh jauh dari rukun Islam atau peribadatan yang bersifat vertikal. Terhadap ugama lain juga pemahamannya serupa, ugama adalah ritual vertikal. Dangkalnya memahami apa itu ugama menurut ke hendak Allah, menyebabkan rusaknya akidah pengaku pengaku Islam itu. Karena ugama atau ad Dien yang datang dari Allah tidak sebatas pemahaman orang awam tsb!.

Kita lihat paragraf awal tulisan Chevi menunjukkan kekacauan pandangannya tentang ugama, karena itu perlu di jelaskan kepada Chevi bahwa Islam bukan sekedar ugama sebagaimana pemahaman kebanyakan orang (vertikal), melainkan Islam adalah system kehidupan bagi manusia yang lengkap (vertikal, horizontal), sempurna produk Allah Swt. Islam is not merely a religion, but it is a complete system of life, of how to manage men and nature according to the will of Allah SWT”

System democrazy juga bukan sekedar mesin penghasil president, tapi juga merupakan ugama, atau system kehidupan tandingan system Islam yang juga how to manage people. Layaknya system operating Windows melawan system operating Linux.

Kalau kita telah bicara how to manage people sudah pasti berbeda dengan kalau kita berbicara how to manage machine, menghadapi mesin berbeda dengan menghadapi manusia. Kalau kita telah bicara how to manage people, ber arti kita mau tak mau akan berhadapan dengan Who make the people (Allah). Karena yang menciptakan manusia adalah Allah. Jadi Allah SWT tidak bisa diabaikan, mengabaikan Allah dalam How to manage people berarti keingkaran terhadap Allah. Wajar saja, yang menciptakan Allah manusia, bagaimana mungkin manusia yang diciptakan Allah SWT malah mengabaikan yang menciptakan, mengabaikan yang Maha Mengatur manusia???.

Maka jelaslah bahwa system democrazy bukan sekedar mesin penghasil kepala Negara seperti pemahaman Chevi, karena system democrazy me manage manusia. Maka ia telah menjadi Ugama democrazyah. Dalam system democrazy, atau ugama democrazyah Suara Rakyat adalah suara Allah (vox Populi Vox Dei). Rakyat sebagai tuhan. Dalam Islam Suara Allah adalah suara Rakyat (Vox Dei Vox Populi). Allah SWT sebagai tuhan sesungguhnya.

Terdapat perbedaan prinsip 180 derajat satu sama lainnya antara syestem Islam melawan system democrazy. Tepat kata Abul A’la Al Maududi, jika System democrazy berkuasa, tidak ada Islam didalamnya dan jika Islam berkuasa tidak ada system democrazy didalamnya. Tuhannya berbeda bagaimana bisa dipadukan?. Para pengaku Islam yang telah rusak ugamanya membiarkan system Islam yang sempurna dibawah ketiak system democrazy yang kafir. Tak bermalu, yang hebat dan sempurna dibiarkan diatur oleh yang  buruk dan merusak.

Jumlah ajaran yang how to manage the people ini sangat banyak, ada yang baru yang lama juga tak hilang. Dari kelompok kafir berbasis vertical ada protestan, advent, katholik, yahudi, hindu budha dstnya, dari kelompok berbasis politik (horizontal) ada komunisme, sosialisme, nasionalisme, liberalisme dstnya.

Komunisme adalah ajaran how to manage people not machine, maka walau mereka katakan tidak bertuhan Allah, tidak percaya adanya Allah, tetap saja aturan aturan mereka dalam me manage manusia akan berhadapan dengan aturan baku, aturan patent yang dibuat oleh Allah, tahu atau tidak tahu mereka terhadap aturan aturan Allah itu. Maka komunismepun ugama. Jangan terbelenggu kita pada mata pelajaran ketika kita masih disekolah dasar bahwa ugama itu di nilai dari yang memiliki kitab kitab resmi seperti Hindu, Budha, Kristen, Islam dan Yahudi, kalau Komunisme dianggap bukan ugama lantaran tidak punya kitab resmi, itu pandangan yang tidak betul, karena di belakang ajaran komunis ada ajaran Karl Marx di dalamnya.

Dari kelompok berbasis Islam Rasulullah mensabdakan 72 golongan sesat, ada syiah, ahmadiyah, NII, JIL, Azzaitun, lembaga kerasulan, islam jamaah, pengusung pancasila, pengusung democrazy, pengusung partai Islam, lantaran partai Islam pengusung democrazy dstnya, dan Allah tidak perduli dengan semua nama yang bermacam macam itu, nama barukah, nama lamakah, walau nama itu telah muncul diawal kemerdekaan atau baru lahir seperti kelompok “malaikat” Lia Aminuddin, semua ugama ugama itu, semua ajaran ajaran itu, semua system system tersebut tertolak.

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرِ اْلإِسْلاَمِ دِيْنًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِى اْلآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barang siapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Ál ‘Imrán; 3:85)

Barang siapa mencari system kehidupan selain dari system kehidupan Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima system itu, dan dia diakhirat mereka termasuk orang-orang yang rugi. (Ál ‘Imrán; 3:85)

Barang siapa mengamalkan system kehidupan lain selain dari system kehidupan Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima amal dari system yang lain itu, dan dia diakhirat mereka termasuk orang-orang yang rugi. (Ál ‘Imrán; 3:85)

أَفَغَيْرَ دِيْنِ اللَّهِ يَبْغُوْنَ وَلَهُ اَسْلَمَ مَنْ فِىالسَّمَاوَاتِ وَاْلأَ رْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُوْنَ

Artinya :” Apakah  ingin mencari system hidup selain Islam; padahal tunduk siapa-siapa yang dilangit dan dibumi, baik secara sukarela atau terpaksa. Dan kepadaNya mereka dikembalikan.”Ali Imran (3) : 83

Permasalahan yang dihadapi pengaku Islam adalah mereka mencampurkan yang hak (mereka sholat, puasa, zakat, haji) dengan yang batil (melaksanakan syariat syariat democrazyah) tanpa merasa bersalah sedikitpun dan tanpa merasa perbuatan itu telah menjatuhkan mereka menjadi orang orang musyrik. Kondisi yang mem prihatinkan ini diderita dan berlanjut terus sampai kematian menemui mereka, mereka mati sebagai orang musyrik, tetapi tak sadar bahwa mereka menghembuskan nafasnya dalam keadaan syrik, merasanya masih iman saja. Apes amat nasib para pengaku muslim ini.

Melihat kata kata Chevi berikutnya,

Pertanyaannya, bagaimana sistem yang sudah mengakar ini di rubah. Apa cukup dengan mencela ulama? Apa cukup dengan golput? Atau memperbanyak diskursus keburukan sistem demokrasi? Manakah yang lebih efektif merubah bangsa ini, seperti yang jamaah antum pahamkan atau turut berkubang di tinja yang dalam tinja itu ada umat Nabi yang sedang tenggelam yang harus kita selamatkan?

Chevi sadar bahwa system democrazy ini sesat, walau belum dipandang sebagai ugama, tapi masih dipandang sebagai mesin saja, kemudian ia mencari jalan atau solusi mengubah system democrazy ini benar menurut pandangan akalnya, untuk yang katanya dengan alasan menyelamatkan ummat yang sedang tenggelam rela menceburkan diri kedalam lubang tinja, maka dari dalam kubangan lubang tinja itulah dilakukan perbaikan perbaikan.

Melihat itikad baik Chevi dan jika Chevi telah sadar bahwa system democrazy adalah ugama democrazy, maka solusi pemecahannya amat mudah, tapi jika Chevi dan pendukungnya belum sadar juga bahwa system democrazy sebagai ugama, hanya sekedar mesin, maka Chevi persis seperti ketika banjir bandang Situ Gintung melanda, seharusnya jika ada banjir air bah melanda, manusia logikanya harus berusaha sekuat tenaga untuk menghindarinya.

Tapi bagi manusia yang tidak mengerti bahaya, seperti balita yang tak mengerti bahaya, Chevi malah menerjunkan diri kedalam arus banjir bandang Situ Gintung seraya berteriak teriak, cepat kemari bantu aku orang orang yang terseret banjir ini, selamatkan diri mereka. Kamu ngapain saja diatas tidak berbuat, sesungguhnya ketahuilah orang yang menolong langsung dalam banjir besar ini lebih baik dari pada kalian yang tidak berbuat diatas sana?, begitulah teriakan lantang Chevi dalam arus deras banjir bandang. Kisah ilustrasi Chevi bukan sekedar ilustrasi, tapi pernah terjadi ketika banjir raksasa nabi Nuh melanda, anak kandung nabi Nuh, emoh di panggil ayahnya untuk naik kekapal buatan ayahnya itu.

Kalau begitu kenapa Chevi dan para pengusung democrazyah ini nekad menceburkan diri dalam arus deras banjir bandang system democrazyah?, tak lain memang mereka kaum  balita yang tak memahami bahaya bagi dirinya sendiri. Siapa sih orangnya yang kalau bukan balita mau menceburkan diri dalam banjir bandang besar democrazyah?. Tak akan ada, itu bagi yang paham akan bahaya atau resiko yang bakal mereka terima, tapi bagi yang tak memperoleh informasi, petunjuk dari Allah, bahwa banjir bandang akan tiba, akan menenggelamkan mereka, mereka akan asyik dengan ketidak perduliannya, namanya juga tidak tahu akan adanya bahaya yang bakal menimpa mereka, kagetnya kalau neraka sudah mereka masuki, barulah mereka menyalahkan murobbinya.

Kalau Chevi telah menyadari bahwa system democrazyah adalah suatu ugama, adakah perlu untuk menyadarkan orang orang yang berpaham komunisme kita harus komunis dulu?, adakah perlu untuk menyadarkan orang orang nashrani yang bertuhan manusia bernama jesus kita harus masuk ugama nasrani terlebih dahulu?, memperbaiki orang yang terjebak ugama democrazyah harus terima dulu ajaran democrazyah dalam perjalanan hidupnya?, perbuatan masuk ugama Kristen untuk memperbaiki ummat Kristen yang sesat itu bukanlah memperbaiki mereka, tapi malah merusak diri kita terlebih dahulu.

Dengan  tunduk patuhnya manusia pada system democrazyah, berhakim kepada hukum thaghut, maka manusia tersebut telah berugama dua, satu Islam satu lagi ugama democrazyah, tuhannya juga menjadi dua, yang pertama Allah SWT lantaran manusia itu masih juga sholat puasa zakat haji, tuhan keduanya adalah manusia. (suara terbanyak yang telah dipertuhankan).

اَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلاَلاً بَعِيدًا

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku ngaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu, Mereka berhakim kepada hukum thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (QS. 4:60)

{وَقَالَ اللهُ لاَ تَتَّخِذُوا إِلَهَيْنِ اثْنَيْنِ ، إِنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ ، فَإِيَّاىَ فَارْهَبُونِ}

Allah berfirman: “Janganlah kamu menyembah dua ilah; sesungguhnya Dialah Rabb Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada Aku saja kamu takut”. (QS. 16:51)

اَلنَّاسُ يَدِيْنُ بِدِيْنِ مُلْكِهِمْ الحديث

Artinya: “ Manusia itu beragama dengan agama kerajaan (negara) mereka” Al Hadith

Berugama dua dan bertuhan dua ini lah dikatakan mempersekutukan Allah, dan resikonya luar biasa besar. Dengan perbuatan double face ini, maka penyokong penyokong system democrazyah semua tercebur dalam perbuatan syrik yang justru menghancur leburkan amal mereka dan menempatkan mereka jadi manusia manusia paling sial didunia maupun diakhirat. Walaupun tampak secara zahir para anggota DPR DPRD MPR itu tampak kaya raya, naik Innova, rumah rancak bana, tampak banyak amal, tampak seperti wanita sholehah, tampak seperti ustad bertaqwa, tapi kehidupan mereka sudah tak ber makna lagi dihadapan Allah.

وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu:”Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. 39:65)

Taat Tanpa Reserve (Full Obedience)

Inilah sesungguhnya ciri ciri orang yang beriman, ia hanya patuh dan taat terhadap apa yang terdapat dalam qur’an sunnah,

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya:” Maka demi Tuhanmu (wahai Muhammad)! Mereka tidak disifatkan beriman sehingga mereka menjadikan engkau hakim dalam mana-mana perselisihan yang timbul di antara mereka, kemudian mereka pula tidak merasa di hati mereka sesuatu keberatan dari apa yang telah engkau hukumkan, dan mereka menerima keputusan itu dengan sepenuhnya. An Nisa (4) : 65

tidak ada lagi kata kata tapi, tapi kita kan bukan Negara Islam, tapi kalau kita tidak ambil tu jabatan, ntar keadaan kita semakin parah, tapi bagaimana dengan pulau lain yang mayoritas bukan Islam, tapi, tapi mlulu, pertanyaannya yang kalian harus jawab, adakah contoh pada Rasulullah berjuang seperti yang telah kalian lakukan tersebut?. Adakah kalian berjuang telah mengikuti sunnah Rasul?, Kalau tidak ikuti sunnah Rasul, kalian mengikuti sunnah siapa?, yang pasti sunnah ketua partai anda yaa, ngikutin orang biasa, oon oon….

{وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهَا الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ، وَسَاءَتْ مَصِيرًا}

Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali. (QS. 4:115)

Mereka hanya Ngaku Ngaku Beriman

”The So Called True Believers”

Selanjutnya Chevi mengatakan,

Saudaraku, Tuhan kita sama, Nabi terakhir kita sama, kita beruntung tergabung dalam kelompok yang menghindari syirik dan bid’ah. Kita pun bangga dengan halaqah-halaqah kita. Perbedaan pandangan janganlah dijadikan bahan untuk mencela apalagi mencela mu’min. Setiap mu’min pasti selalu diberi petunjuk oleh Allah. Seharusnya kita bangga dengan kelompok-kelompok dalam dien ini, karena umat kita kaya akan strategi dakwah. Ada yang lewat atas, ada yang ‘jalan semut’ dibawah. Jika kita merasakan psikologi musuh-musuh kita, mereka akan bingung membaca strategi dakwah kita. Seharusnya musuh kita bukan sesama mu’min yang sama-sama menjalankan misi dakwah namun berbeda cara, tapi musuh kita adalah kekosongan hati umat kita. Berprasangka baiklah sesama mu’min dan saling menasehatilah kita. Itulah yang lebih utama kita lakukan. Tidak perlu jauh-jauh kita saling menyalahkan dan merasa paling benar.

Jelas dari pernyataan Chevi diatas ia merasa masuk dalam kelompok  orang orang beriman, apalagi kalau kita melihat aktivitas sehari hari Chevi yang terbiasa sholat puasa zakat atau mungkin juga tahajud setiap malam. Tapi sayang amat disayang, apa yang Chevi lakukan setiap hari, misalnya sholat hanyalah untuk memenuhi perasaan berimannya saja kepada Allah, padahal sesungguhnya Allah menyatakan Chevi dan para pendukungnya hanyalah manusia manusia yang ngaku ngaku beriman “The So Called True Believers”, padahal keimanannya itu di tolak Allah SWT.

Lho, kenapa ditolak Allah SWT?, lantaran Chevi dalam rangka menyelamatkan ummat, tunduk patuh terlebih dahulu, follow them, berhakim kepada hukum hukum mereka, padahal hukum hukum mereka perintah Allah SWT harus di ingkari, di tendang jauh jauh dari kehidupan Chevi dan para liqonya, sikap berhakim kepada hukum thaghut ini menyebabkan Chevi dan para pendukungnya dikatakan Allah SWT hanyalah orang yang hanya ngaku ngaku beriman, hakikatnya sesungguhnya mereka bukan orang orang beriman.

اَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلاَلاً بَعِيدًا

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku ngaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu, Mereka berhakim kepada hukum thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (QS. 4:60)

Anda berhakim, patuh taat kepada hukum thaghut, tapi mulut anda selalu mengatakan anda berjuang dijalan Allah, jadi anda ini orang partai Islam mau mengajari Allah ya bagaimana berugama menurut versi kalian?

قُلْ أَتُعَلِّمُونَ اللَّهَ بِدِينِكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya:” Apakah kalian akan mengajarkan Allah mengenai Sistem Hidup kalian ? “ (jangan mengarang ngarang sendiri agama kalian) Dan Allah Maha Mengetahui apa yang dilangit dan apa yang dibumi. Dan Allah atas segala sesuatu Maha Mengetahui.  Al Hujurat (49) : 16

Kalau Rasulullah dikatakan sebagai Qur’an yang berjalan, artinya semua perbuatan Rasulullah akalnya, tindakannya, perasaan hatinya di kendalikan oleh Al Qur’an, dengan demikian kita tak pernah mendengar sedikitpun perbuatan, pemikiran, perasaan Rasululah yang bertentangan dengan firman firman Allah.

Tapi kalau orang partai Islam ini teramat sombong dia, akal dia yang ngatur Allah, akal dia yang ngatur berjuang begini lho menurut gua, dan kalaupun terpaksa dan terus terusan berbenturan dengan firman firman Allah dan Sunnah Rasul mereka cueek terus, kagak mempan di nasehatin, manusia macam gitu ngaku di jalan yang lurus?.

“Ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan, fitnah paling besar yang menimpa ummatku adalah munculnya kalangan yang menimbang berbagai perkara dengan mengunakan logika mereka (akal, bukan apa kata Allah apa kata Rasulullah, tapi apa kata akal mereka), mereka mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram “(Al Bukhari)

Di Dunia ini Hanya Ada Satu Golongan yang Benar.

Auf bin Malik ra berkata, Rasulullah bersabda, “Demi jiwa Muhammad yang ada ditanganNya, ummatku (para pengaku Islam) ini akan terpecah menjadi 73 golongan, satu golongan masuk syurga dan 72 golongan pengaku Islam lainnya masuk neraka”, para sahabat bertanya, “ya Rasulullah, siapakah mereka yang selamat itu?, Rasulullah bersabda Al jama’ah. Yaitu orang orang yang menempuh jalan yang pernah aku lalui dan jalan jalan para sahabatku (al Bukhari) lihat, al I ‘tisham

“Kalian pasti akan mengikuti jejak orang orang sebelum kalian secara perlahan lahan hingga akan sama dengan mereka, sejengkal demi sejengkal, sehasta dan sedepa pasti mengambil apa yang telah mereka ambil, sehingga jika mereka masuk ke lubang biawak kalianpun pasti akan memasukinya. Lihat-Fathul bari.

Dari sabda Rasulullah tersebut hendaklah para pengaku Islam berfikir dan meniti dirinya kembali, jangan cuek cuek saja dan jangan masa bodoh. Perkara yang Rasulullah sampaikan bukan masalah adab masuk jamban keluar jamban, tapi sesat atau tidaknya perjalanan hidup kalian. Boleh boleh saja orang orang artai Islam meng klaim golongannya benar, tapi merasa berada di jalan yang benar tanpa pembuktian, tanpa ilmu, adalah menipu diri sendiri. Dan buat apa menipu diri sendiri?, karena resiko yang akan menimpa kalian adalah diri diri kalian juga. Keliru mengambil jalan yang lurus didunia, adalah penyesalan yang tidak ada habis habisnya diakhirat.

Jalan Kehidupan Hanya ada Dua Jalan

(A matter of choice)

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

Artinya:” Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepadanya (manusia) dua jalan. Apakah dia mau menjadi orang yang bersyukur atau orang yang kufur.

Al Insan (76) : 3

Walau kita tahu aliran sesat dari pengaku Islam berjumlah 72 golongan, diantaranya syiah, ahmadiyah, islam jama’ah, nii, azzaitun, jil, ldk, pengusung democrazy, pengusung pancasila, pengusung nasionalisme dsbnya, pecahan yang sesat memang begitu banyak tapi itu dapat disatukan dalam satu kelompok jalan kekafiran, sedangkan jalan yang lurus hanya satu jalan, satu golongan, dan tak ada pecahan pecahan didalam jalan yang lurus tersebut.

Klasifikasi Manusia Juga Hanya ada Dua Macam

Klasifikasi manusia juga sebenarnya hanya ada dua macam, iman dan kafir, kaum munafik, penyembah dua tuhan atau lebih itu hanyalah turunan orang orang kafir,

{هُوَ الَّذِى خَلَقَكُمْ فَمِنْكُمْ كَافِرٌ وَمِنْكٌمْ مُؤْمِنٌ ، وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ}

Dia-lah yang menciptakan kamu maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang beriman. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. 64:2)

Jalan yang Lurus Hanya ada Satu Jalan

إِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (al-Fátihah; 1 : 6)

Tidak ada dua orang yang berbeda pandangan untuk satu masalah yang sama kedua duanya sesat atau kedua duanya benar, salah satu sesat yang lainnya benar.

فَذَلِكُمُ اللهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ ، فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلاَّ الضَّلاَلُ ، فَأَنَّى تُصْرَفُونَ

Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Rabb kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran) (QS. 10:32)

Kalau kelompok pengusung democrazyah benar, saya pasti sesat lantaran menolak democrazy, tapi sayangnya yang terjadi para pengusung democrazyah tidak punya dalil dalil untuk pembenaran diri mereka. Dari tingkat ustad kelas kakap sampai coro coronya, semua hanya mengandalkan akal jika membela diri. Pembelaan yang jauh dari petunjuk Allah dan Rasul.

Herannya saya terhadap mereka, umumnya mereka lulusan sekolah ugama, saya berfikir, apa yang mereka pelajari selama ini di universitas mereka?, bukankah yang sepantasnya mati matian membela jalan yang dititi Rasulullah saw dan para sahabatnya adalah mereka mereka lulusan lulusan sekolah ugama?. IAIN (UIN) malah menelorkan JIL, pesantren pesantren hanya sedikit yang terbebas dari virus democrazy, sebagian besar rusak berat akidahnya. MU-I melahirkan fatwa fatwa sesat untuk kepentingan ugama democrazyah dan tuhan tuhan mereka.

Tapi bersyukurlah orang orang yang berada dijalan yang lurus tidak pernah habis disepanjang kehidupan manusia, ia akan selalu ada walau jumlahnya sangat sedikit.

Rasulullah bersabda:”Akan senantiasa ada diantara ummatku sekelompok kaum yang tampil, sehingga datang kepada mereka ketetapan Allah, sedangkan mereka dalam keadaan unggul” (Bukhari, Muslim)

Korban Virus Kehilangan Identitas (linglung)

قُلْ يَاأَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Artinya:” Katakanlah olehmu :” Wahai Ahli Kitab marilah kita kepada suatu kalimat (platform) yang sama antara kami dengan kalian. (1) Tidaklah kita mengabdi kecuali kepada Allah saja. (2) Dan tidaklah kita menyekutukan Allah dengan sesuatupun.(3) Dan janganlah sebagian dari kita mengangkat sebagiannya sebagai Tuhan (Arbaab) selain dari pada Allah. Maka sekiranya mereka berpaling, maka katakanlah :” Saksikanlah bahwa kami adalah orang orang muslim !”   Ali Imran (3) : 64

Jika Allah memerintahkan kepada kita show up your identity, saksikan bahwa kami adalah orang orang orang muslim, dengan ciri ciri yang yang jelas, Tidaklah kita mengabdi kecuali kepada Allah saja. (2) Dan tidaklah kita menyekutukan Allah dengan sesuatupun.(3) Dan tidak mengangkat sebagian dari kita sebagai Tuhan (Arbaab) selain dari pada Allah, orang orang yang seperti inilah yang dikatakan sebagai orang muslim, kalau orang orang partai Islam identitasnya tidak jelas, mo dibilang kelompok kafir tidak, lantaran masih sholat puasa zakat haji, mereka juga tidak ke gereja, mo di bilang iman tidak, karena mereka tidak sama, tidak sesuai ayat 3:64, dan kalau kita lihat di TV, di poster poster, mereka mereka identitasnya sama dengan orang kufar tsb, contoh dalam berjudi memperebutkan jabatan (kampanye dsb).

مُذَبْذَبِينَ بَيْنَ ذَلِكَ لاَ إِلَى هَؤُلاَءِ وَلاَ إِلَى هَؤُلاَءِ ، وَمَنْ يُضْلِلِ اللهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلاً

Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman dan kafir); tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir). (orang linglung), Barangsiapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya. (QS. 4:143)

Bukti lain mereka telah menjadi linglung, mereka ngaku qur’an benar, tapi kita lihat apa pernyataannya, jika Allah katakan Qur’an sebagai cahaya yang dapat mengeluarkan ummat dari kegelapan kepada cahaya yang terang, mereka katakan ugama democrazy, system democrazy, sekaligus virus democarzy lah solusi yang mengeluarkan manusia dari kegelapan.

{يَهْدِى بِهِ اللهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلاَمِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ}

Dengan kitab itulah (Qur’an) Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (QS. 5:16)

Orang orang yahudi dari kalangan partai Islam malah berkata,

Abu Karim Fatullah menulis:

Jangan heran jika saat ini konsep demokrasi ibarat pelita digelapnya malam yang banyak didatangi laron, semua negara berlomba menuju ke arahnya karena ia dianggap sebagai salah satu system yang mampu mengeliminir semua bentuk ke tidak adilan dan penindasan penguasa terhadap rakyatnya”.(hal 38,baris 22, dari Buku bantahan terhadap Kekeliruan Abu Bakar Ba’asyir).

Anda bisa membayangkan hancurnya akidah ummat lantaran amat ganasnya virus tersebut, sampai sampai seorang oelama mampu berbicara dan menyatakan dalam bukunya, bukan lagi system Islam sebagai cahaya penerang yang dapat menyelamatkan manusia  keluar dari kegelapan, tetapi system ugama democrazylah yang mengajak manusia kepada jalan yang terang.

Korban Virus Tak Paham Bahwa Jabatan Adalah Amanah Bukan Hak

{قُلْ إِنِّى عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّى وَكَذَّبْتُمْ بِهِ ، مَا عِنْدِى مَا تَسْتَعْجِلُونَ بِهِ ، إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلَّهِ ، يَقُصُّ الْحَقَّ ، وَهُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِينَ}

Katakanlah: “Sesungguhnya aku (berada) di atas hujjah yang nyata (al-Qur’an) dari Rabbku sedang kamu mendustakannya. Bukanlah wewenangku (untuk menurunkan azab) yang kamu tuntut untuk disegerakan kedatangannya. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik. (QS. 6:57)

Umumnya korban virus democrazyah begitu mendapat jabatan wajahnya sumringah, pada sujud syukur, bangga benar mereka bisa jadi angota DPR, MPR, Menteri dsbnya. Terbayang kekayaan yang akan mereka peroleh jika beberapa tahun saja berkuasa atau punya jabatan.

Seorang ustad yang tadinya hanya dapat 300.000 ribuan dalam sekali ceramah, begitu lolos jadi anggota DPR, apalagi berhasil jadi ketua MPR, wow 90.000.000 an mereka akan terima. Padahal sebelumnya mereka hanya gembel saja yang hidupnya senin kemis. Dalam tempo berapa bulan saja mereka akan jadi orang yang kaya raya. Bagaimana mereka tidak jingkrak jingkrak begitu mendapat jabatan anggota DPR?.

Berbeda dengan orang orang di masa Rasulullah dan dimasa Khilafah Rasyidin, mereka malah takut mendapat jabatan apapun dalam kelembagaan negara, hatta itu dalam kelembagaan Khilafah Rasyidin. Mengapa? karena jabatan adalah amanah dan bukan hak. Resikonya berat, tapi kalau sesuai amanah Allah mereka pasti mendapat syurgaNya.

Manusia manusia dungu korban virus democrazyah memandang sebaliknya, jabatan adalah hak, sesuatu yang dihindarkan oleh orang orang beriman di masa Rasulullah malah sekarang diperebutkan, bahkan berjudi berat untuk mendapat kedudukan tersebut. Mau secara group, mau secara pribadi mereka bersaing keras untuk memperoleh jabatan tersebut dan berjudi, kenapa dikatakan berjudi, karena jabatan itu belum tentu mereka dapat walau beratus juta atau milyard amblas.

Mereka sungguh tak sadar, begitu mereka mendapat jabatan, terutama yang berkait dengan hukum hukum Allah, mereka wajib melaksanakan hukum hukum Allah tersebut.

Tentu saja jabatan ini untuk posisi yang berkait dengan hukum hukum Allah, misal Polisi, Jaksa, Hakim, Pengacara, Pembela, President dan anggota DPR MPR.

وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ = “Dan Dia Allah mengangkat sebagian atas bagian lainnya beberapa derajat.” Ini berarti adanya suatu bentuk struktural. لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلاً = Agar kalian diuji siapa diantara kalian yang baik  amalannya.” Mengapa ujian ? Karena jabatan itu bukanlah hak, melainkan amanah Allah yang dititipkan kepadanya.”

إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ = “sesungguhnya Tuhan kamu itu cepat sekali siksaanNya.” Artinya kalau kamu menyalah gunakan amanat itu, maka siksa Allah segera akan mengenai kamu.

Jika mereka tidak mampu dan tak bakalan mampu menerapkan hukum hukum Allah, tinggalkan jabatan tersebut, supaya anda tidak diminta pertanggung jawabnya oleh Allah. Anda dihadapan Allah tidak bisa berkatabelece kelak di akhirat, dalam Qur’an saja Allah sudah katakan, bukankah bumi Allah luas?. Ambil jabatan yang paling rendah, misal jadi tukang sapu jalanan walau masih bekerja dalam negara syrik. Maka amanah yang Allah tuntut hanya di bidang kebersihan yang kalian lakukan, bukan dalam masalah yang berkait dengan hukum hukum Allah. Kecuali, anda ikut pula nyontreng, atau jadi panitia pemilu, maka percuma juga jadi tukang sapu.

{إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلاَئِكَةُ ظَالِمِى أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيْمَا كُنْتُمْ ، قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِى اْلأَرْضِ ، قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا ، فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ، وَسَاءَتْ مَصِيرًا}

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya:”Dalam keadaan bagaimana kamu ini”. Mereka menjawab:”Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri ini”. Para malaikat berkata:”Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah dibumi itu?“. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali, (QS. 4:97)

يَا اَيُّهَا الرَّسثولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ ، وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ ، وَاللهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللهَ لاَ يَهْدِى اْلقَوْمَ الْكَافِرِينَ,  benar, tapi kita lihat apa pernyataannyaereka ngaku qur’

Hai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS. 5:67)

Jadi tidak ada istilah dalam Islam kalau negeri ini bukan negeri Islam maka dengan tanpa beban anda menerapkan hukum hukum thaghut. Memangnya anda pernah temukan rekomendasi tersebut dari Allah dan Rasul?, jawaban Allah SWT malah tak ada pilihan, bukan malah seenaknya saja menerapkan hukum hukum thaghut atau bahkan mencari cari jalan kompromi, dengan meminimizekan masalah sebagai mana kelakuan orang partai Islam di lembaga Paganisme MPR DPR.

{وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ، وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُبِينًا}

Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. 33:36)

Korban Virus, Berkesenjangan dengan Allah

مَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

Artinya:” Mereka tidak menilai Allah dengan sebenar benar Penilaian. Padahal Allah itu Maha Kuat dan Maha Perkasa (Yang mampu berbuat segalanya) Al Hajj (22) : 74

Korban Virus tidak Menghargai al Qur’an.

وَقَالَ الرَّسُولُ يَارَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

Artinya:” Dan berkata Rasul: “ Wahai Tuhanku sesungguhnya kaumku ini telah meninggalkan Al Qur’an. (Tidak lagi menjadikan Al Qur’an Buku Pintar mereka).

Al Furqon (25) : 30

Pengusung Partai Islam Penyebab Hancurnya Ekonomi Rakyat

Rakyat sekarang sekarang jadi idola, apa apa untuk rakyat, sejak dari tahun 1955 awal democrazy digulirkan sebenarnya temanya juga sama, berjuang untuk rakyat. Dan sampai kapan juga tema yang dipakai untuk memenangkan caleg atau capres adalah berjuang untuk rakyat. Mau pakai tema lain, pasti keoknya. Pakai tema rakyat saja belum tentu menang, apalagi pakai tema lain.

Dan sejarah membuktikan bahwa system democrazy yang telah berusia sekitar 65 tahun telah gagal mengangkat harga diri rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia telah memiliki trademark (cap, patent) didunia dikenal sebagai rakyat  babu, rakyat kacung, rakyat jongos. Itu pertanda system democrazy yang selalu dibangga banggakan telah gagal dan bahkan tak berdaya untuk menghilangkan harkat yang melekat tersebut. Cina yang tidak system democrazy dengan jumlah penduduk yang luar biasa besar tidak pernah terdengar rakyatnya disebut sebagai bangsa budak bangsa kacung. Rakyat Cina memiliki kehormatan diri. Rakyat Indonesia habis dipermalukan dimana mana.

Sudah 65 tahun terbukti gagal hanya orang orang bodohlah yang masih mau mempertahankan system iblis yang menghancurkan ummat horizontal vertical tersebut. Jika Negara mbahnya democrazy (Amrik) saja hancur lebur lantaran bertuhan kepada system democrazy, kita malah bangga disebut sebut Negara paling democrazy didunia.  Uuuuuuh benar benar mental bangsa kacung.

Sebenarnya jika sudah dinyatakan sempurna system Islam oleh Allah, tak perlu lagi orang orang yang mengaku Islam ragu atas pernyataan Allah. Kemelaratan atau kemakmuran rakyat koncinya ada pada Allah swt. Bukan lantaran negeri dengan hasil buminya yang kaya raya, bukan pula dari banyaknya pakar ekonom yang bergelar Proffesor, doctor di negeri ini. Amerika hancur padahal pakar ekonomnya dan ahli ahli keuangannya luar biasa banyak.

Indonesia terkenal dengan negeri yang kaya raya hasil buminya, penduduknya tidak sebanyak penduduk Cina, tapi negeri yang kaya raya ini malah memproduksi babu babu kacung kacung keluar negeri. Negeri kaya hasilnya babu menunjukkan ada yang tidak beres, boleh tuding systemnya boleh tuding orangnya. Untuk nuding orang tak usahlah diperpanjang, karena negeri ini pemegang record bangsa paling lama dijajah bangsa lain, kesimpulan jelas bangsa budak menghasikan budak.

Cobalah lirik kesystem yang digunakan, kemudian check and recheck pada buku pintar Al Qur’an dan As Sunnah. Penyebab azab dan siksa pada bangsa ini adalah orang orang partai Islam yang mendustakan ayat ayat Allah.

{وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٌ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. 7:96)

Pada ayat diatas jelas kemakmuran dan kemajuan ekonomi koncinya menurut Allah swt, pakar diatas pakar, bukan alam geografisnya, bukan hasil buminya yang kaya raya, atau banyaknya pakar ekonom dinegeri tersebut. Koncinya iman dan taqwa dari negeri yang sedang dilanda duka tsb, jika anda tidak syrik, dipastikan anda anda tidak sesat, maka perekonomian anda dari langit  dan bumi akan bersegeraan Allah datangkan. Tapi ingat untuk satu kaum, bukan perorangan. Lantaran yang terjadi pendustaan dari orang yang serupa orang orang mu’min, maka selain perekonomian menghasilkan babu babu yang ber arti fakta kemelaratan, ditambah lagi siksa dari Allah seperti kasus Situ Gintung, Tsunami dsbnya.

Tak ada pakar, tak ada Profesor, tak ada doctor ekonomi yang mampu mengangkat rakyat dari kemelaratan, melainkan sang pakar mengembalikan inti permasalahan kepada yang menciptakan manusia. Apa permasalahan yang terjadi selama ini, mengapa kerja keras para pakar ekonom dari sejak merdeka sampai 65 tahun kemudian hasilnya malah produksi babu babu. Ini sudah jelas masalah percaya pada firman firman Allah atau tidak, karena sang prof, doctor ekonomi yang tidak iman akan tersinggung berat atas pernyataan saya ini. Tapi saya yakin dan iman pada firman firman Allah, kita lihat ayat berikut,

{وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَاْلإِنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ مِنْ رَبِّهِمْ لأَكَلُوا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ ، مِنْهُمْ أُمَّةٌ مُقْتَصِدَةٌ ، وَكَثِيْرٌ مِنْهُمْ سَاءَ مَا يَعْمَلُونَ}

Artinya:” Dan kalau sekiranya mereka bersungguh-sungguh menegakkan (menjalankan perintah-perintah Allah dalam) Taurat dan Injil (pada saat Taurat dan Injil berlaku) dan apa yang diturunkan kepada mereka dari Tuhan mereka (Al-Quran), niscaya mereka akan makan dari atas mereka (langit) dan dari bawah kaki mereka (bumi). Diantara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka. (QS. 5:66)

Jika Dr. Maurice Buccaile menemukan jawaban atas keheranannya jasad Fir’aun sampai kini masih awet, sementara dia tidak menemukan bahan pengawet apa yang digunakan untuk jasad Fir’aun. Ternyata yang mengawetkan Firaun adalah Allah SWT.

{فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً ، وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ}

Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. (QS. 10:92)

Dr. Maurice Buccaile mencari solusi dari permasalahannya dari Qur’an dan menemukan jawaban, kenapa kita yang telah 65 tahun menghasilkan kegagalan, tetap saja cuek terhadap firman firman Allah tersebut, padahal katanya kita mengaku mayoritas muslim, berarti permasalahannya semakin jelas dan semakin terang benderang, bahwa kita sesunguhnya mayoritas negeri ini bukan orang orang muslim, anda khan tahu persyaratan yang dikatakan orang muslim, negeri ini dipenuhi kaum musyrikin, kaum penyembah banyak tuhan.

—oo0oo—

Jakarta, 18 Juni 2009

Tulisan ini bisa juga dilihat di www.darmenadios.wordpress.com

Pengakuan Pengusung Keranda Mayat Demokrasi


Oleh : Darmen Adios

Saya mendapat email dari sdr. Gandhi. Marilah kita simak pengakuan jujurnya yang kemudian saya akan jawab paragraph per paragraph, semoga bagi pencari kebenaran sejati akan menemukan apa yang selama ini terselubung, lantaran tertipu oleh tipuan syaitan yang memang ahlinya dalam menyesatkan manusia.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ ، فَلاَ تَغُرَّنَّكُمُ الْحَباَةُ الدُّنْيَا ، وَلاَ يَغُرَّنَّكُمْ بِاللهِ الْغَرُورُ

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. (QS. 35:5)

Assalamu ‘alaikum,

Mas Darmen,

Manusia merencanakan, Allah menentukan. Bukan begitu? Segala kesesatan adalah di tangan manusia, bukan Allah. Segala tindakan kita (manusia) haruslah diawali pertimbangan lebih banyak mudharatnya atau manfaatnya. Para sahabat Rasulullah juga melakukan hal yang sama.

Penggunaan Manfaat Mudharat tidak dalam area yang di Haramkan

Pertimbangan menggunakan kalimat manfaat mudharat bukan dalam masalah yang sudah terdapat dalam Qur’an atau Hadist, ia hanya untuk urusan dunia (horizontal) yang dalam persoalan tersebut keduniaan tsb tidak terdapat nash yang bakal berbentur dengan Qur’an maupun Hadist. Jika dalam perkara horizontal tersebut tidak terdapat nash, maka silahkan gunakan pertimbangan manfaat mudharat itu.

Contoh selama ini kita masuk sekolah jam 07.00 pagi, kemudian oleh Gubernur dirubah waktu masuknya menjadi pukul 06.30 pagi. Ada yang mendukung ada pula yang protes. Dalam urusan tersebut tidak terdapat nash Qur’an yang dilanggar atau yang diwajibkan, maka silahkan Gubernur melakukan perubahan jam masuk tersebut dengan mempertimbangkan mana lebih banyak manfaat atau mudharatnya (kebijakan).

Tetapi untuk masalah yang diharamkan Allah dan Rasul, tidak berlaku pertimbangan manfaat mudharat (kebijakan). Contoh, pernah baca koran kepala keluarga yang bunuh diri lantaran kesulitan hidup?, misal keluarga anda Gandhi lagi bokek berat, beras, uang, tidak ada, yang mau dimakan tidak ada, temanpun kalau diminta bantuan selalu mengatakan lagi sulit. Pokoknya semua buntu, seolah olah menjadi kasus darurat.

Istri anda menawarkan jalan keluarnya, papa Gandhi, sesuai ajaran Partai Islam yang membolehkan menentang ayat ayat Allah jika darurat, yang haram boleh menjadi wajib, maka saya mau ngesex ama ustad anu yang pernah main ama janda di hotel Millennium Tanah Abang, lumayanlah papi untuk mengatasi kesulitan kita ini, lagi pula itu ustad pimpinan Pesantren engganteng deh papi, bolehkan papi???. Apa mami bilaaaaanng!!!, anda terkaget kaget. Istri menjawab lagi:” papi, dari pada kita bunuh diri kan ngesex lebih sedikit mudharatnya, bagaimana sih papi kok tidak konsisten terhadap ajarannya sendiri?.

Gandhi, ini hanya contoh bahwa kata kata manfaat dan mudharat (kebijakan) tidak untuk hal hal yang diharamkan Allah. Kalau anda mau melanggar larangan Allah, bilang saja terus terang anda mau melangar, tidak perlu berkamuflase kata kata, mempertimbangkan manfaat mudharat dan dalam keadaan darurat maka yang harampun menjadi wajib. Tidak usah bersilat lidahlah. Oleh sebab, Ajaran Partai Islam ini sungguh berbahaya bagi masyarakat, dengan demikian masyarakat akan melakukan tindak pidana seenaknya saja kepada orang lain tanpa merasa berdosa sedikitpun hanya dengan menimbang darurat dan manfaat mudharatnya.

Kalian beranggapan dengan keberadaan kalian dilembaga paganisme, maka mudharat besar menjadi mudharat kecil walau kalian suka atau tidak suka harus melakukan pelanggaran pelanggaran Al Qur’an dan Sunnah Rasul. Sebab berdasarkan ajaran anda, pelanggaran itu telah patut untuk dilanggar dengan mengambil contoh makan daging babi menjadi halal jika darurat.

Apa yang kalian orang Partai Islam lakukan hanyalah sebuah logika akal yang tidak didukung nash Qur’an Sunnah. Karena tidaklah mungkin jika Allah melarang mencampurkan yang hak dengan yang batil dalam perjuangan kalian, sementara sabda Rasulullah tentang manfaat mudharat membolehkan perbuatan yang batil dalam perjuangan kalian, sebagaimana klaim kalian itu. Rasulullah tidak menyatakan demikian, Rasulullah malah melarang yang batil tidak boleh diatasi dengan yang batil pula, maka automatis, tidak ada pertentangan antara antara firman Allah dalam surat 2:42, وَلاَ

تَلْبِسُوا اْلحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا اْلحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan janganlah kamu campur-adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. (al-Baqarah; 2:42)

Dengan sabda Rasulllah saw, dari Sa’id Sa’d bin Malik bin Sinan Al-Khudri radhiallohu ‘anhu, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Dilarang segala yang bahaya dan menimpakan bahaya.” (Hadits hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Daruquthni, dan yang lainnya dengan disanadkan dan diriwayatkan oleh Malik dalam Al-Muwatha’ secara mursal, dari Amr bin Yahya, dari bapaknya, dari Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam dengan meniadakan Abu Sa’id. Hadits ini menguatkan satu dengan yang lainnya)

Anda Gandhi, mau memberantas perzinahan di kompleks pelacuran, anda masuk ke kompleks, mau menyadarkan, mau memperkecil perzinahan besar mereka (hubungan sex) menjadi perzinahan kecil (mendekati zina).. Tapi peraturan (system yang berlaku) dikompleks tersebut menyatakan, siapa saja yang masuk ruangan ini harus berzina, kalau tidak mau berzina silahkan keluar. Jangan masuk. Anda Gandhi lantaran mau memperkecil mudharat besar mereka, anda patuhi peraturan itu, maka sebelum anda membuang mudharat besar mereka menjadi mudharat kecil, anda terlebih dahulu telah melakukan mudharat besar.

Bagaimana kita mau memberantas perzinahan besar diperkecil menjadi mendekati zina (perzinahan kecil), sementara kita telah ikuti, taati perzinahan besarnya itu. Contoh masalah sederhana seperti diatas saja jika jika qolbu manusia diberi sekat oleh Allah, tidak pernah bisa dimengerti.

قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ قُلِ اللهُ ، قُلْ أَفَاتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ لاَ يَمْلِكُونَ ِلأَنْفُسِهِمْ نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا ،

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى اْلأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِى الظُّلُماَتُ وَالنُّورُ ، أَمْ جَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ ، قُلِ اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَىْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

Katakanlah: “Siapakah Rabb langit dan bumi” Jawabnya: “Allah”. (orang partai Islam akan menjawab seperti itu, sebab mereka sholat, puasa, zakat, haji juga) Katakanlah: “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah (mereka patuh taat pada pimpinan dan syariat toghut juga), padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri”, (Sok merasa ahli dalam bicara manfaat mudharat, tapi tak ada ilmunya). Katakanlah:”Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka”.Katakanlah:”Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Rabb Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”. (QS. 13:16)

Sudah jelas Anda Gandhi berbicara dari lorong kegelapan, dari ilmu ilmu sesat yang telah mendarah daging meresap qolbu anda, maka produk anda akan selalu saja bertentangan dengan Islam, tapi anda selalu pandang baik perbuatan anda, karena anda merasa sebagai orang orang yang selalu berjuang di jalan Allah, walau aplikasinya selalu mengamalkan yang hak dengan yang batil dalam perjalanan hidup anda.

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمُ اْلأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya” (QS. 18:103)

الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya. (QS. 18:104)

Jangan Sembarangan Mengatas Namakan Rasulullah Atau Sahabat

Pada kalimat berikutnya lagi, Gandhi menulis, Para sahabat Rasulullah juga melakukan hal yang sama. Dari alenia yang lain juga anda cantumkan Tapi kehendak para sahabat ini dihentikan oleh Rasul. Tampaknya anda orang yang sembrono, karena kalimat tersebut mengandung resiko berat buat anda.

Anda Gandhi, hendak menyatakan kepada ummat, bahwa apa yang kalian lakukan orang partai Islam ini dalam era democrazy sama dengan apa yang dilakukan sahabat Rasulllah dengan mengambil contoh kisah makan daging babi jika darurat. Belum tentu shahih kisah anda itu, dan belum juga anda uji, apakah cocok sejarah Rasulullah dan para sahabatnya dengan apa yang dilakukan orang orang partai Islam, anda telah mengklaim bahwa jalan anda benar, atas dasar pemahaman dan kisah yang masih mentah itu.

Alasan kisah anda yang anda jadikan sebagai dalil (tempat berhujjah), menunjukkan tak pahamnya anda terhadap kaidah kaidah hukum Islam, tetapi anda telah berani dan lancang menyatakan Rasulullah dan para sahabatnya melakukan hal yang sama.

“Barangsiapa yang telah berdusta terhadapku secara sengaja, maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya di api neraka.” (Hadits Shahih Mutawatir)

Mungkin anda tidak menyengaja berdusta, namun sebagai imbasnya anda tetap berdosa karena telah menyebar luaskan cerita bohong mengatas namakan Rasulullah dan para sahabat Rasulullah dalam konteks pembenaran perjuangan orang partai Islam dalam system democrazy.

“Cukuplah seseorang itu dikatakan berdusta manakala ia menceritakan semua apa yang didengarnya (tanpa di saring lagi-red.,).”(HR.Muslim)

Imam Ibn Hibban berkata di dalam kitab Shahihnya, “Pasal: Mengenai dipastikannya masuk neraka, orang yang menisbatkan sesuatu kepada Rasulullah SAW, padahal ia tidak mengetahui keshahihannya,” setelah itu, beliau mengetengahkan hadits Abu Hurairah dengan sanadnya secara marfu’, “Barangsiapa yang berkata dengan mengatas namakanku padahal aku tidak pernah mengatakannya, maka hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” Kualitas sanad hadits ini Hasan dan makna asalnya terdapat di dalam kitab ash-Shahiihain dan kitab lainnya.

Isi surat Gandhi selanjutnya:

Satu kisah menceritakan tentang seorang sahabat yang sangat handal di setiap pertempuran sehingga ketika dia tertangkap maka lawan tidak membunuhnya melainkan menawarkan untuk bergabung. Si sahabat menolak, maka kemudian dia dikurung. Dalam kurungannya dia diberikan makanan2 yang haram seperti babi dan anggur. Makanan2 tersebut tidak pernah dia sentuh meski dia kelaparan. Pada akhirnya karena kagum akan keteguhan hati beliau, maka dia dibebaskan. Ketika kembali dan menceritakan kisahnya, dia ditanya bukankah dalam keadaan terdesak makanan yang haram pun bahkan bisa menjadi wajib? Jawabnya, dia tidak ingin perbuatannya ditiru oleh umat muslim lain dan menimbulkan salah persepsi.

Kisah lain menceritakan ketika seorang sahabat yang juga handal dalam setiap pertempuran tertangkap dan diberi sua pilihan: mencela Rasul dan bebas, atau mati dipancung. Dia mengambil pilihan pertama, yaitu mencela Rasul. Bebaslah dia. Ketika kembali ke markas dan menceritakan kisahnya, beliau hampir dikeroyok oleh para sahabat lain yang sangat marah dan menganggapnya pengecut dan murtad. Tapi kehendak para sahabat ini dihentikan oleh Rasul dengan alasan perbuatan yang dilakukan si sahabat adalah demi Islam karena dengan begitu dia dapat kembali dan ikut berjuang disisi Rasulullah. Lagipula celaannya itu adalah bukan kehendaknya melainkan karena paksaan.

Cerita diatas, memang merupakan menu khusus yang diberikan oelama partai untuk pendukungnya (liqonya) agar tidak menyebrang ke kelompok orang orang mu’min dan untuk melindungi legalitas diri para ustadnya. Tak ada bedanya sebenarnya Ahmadiyah, Syiah dengan kesesatan partai2 Islam, sama sama membela diri tetapi tidak memahami kaidah kaidah hukum Islam, implikasinya membuat cerita cerita karangan untuk pembenaran kesesatannya. Bagi yang tidak memahami kaidah kaidah hukum Islam sudah pasti akan termakan cerita karangan diatas, karena tak mampu menelaah masalah secara benar lantaran kekurangan ilmu.

بَلِ اتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَهْوَاءَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَمَنْ يَهْدِى مَنْ أَضَلَّ اللهُ ، وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

Tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan; maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah? Dan tiadalah bagi mereka seorang penolongpun. (QS. 30:29)

Cerita Manusia Tidak Memiliki Kekuatan Hukum.

Dalam teknik pengambilan hukum Islam, suatu kisah yang dibuat oleh manusia tidak punya kekuatan hukum untuk dijadikan sandaran menetapkan suatu hukum. Kisah yang benar hanya untuk mendukung suatu ayat seperti asbabunnuzul, tapi kisah itu sendiri bukan pasal dari suatu hukum. Kecuali kisah yang terdapat dalam Qur’an maupun hadist yang shoheh, maka dengan sendirinya kisah itu memiliki kekuatan hukum. Kisah anda jelas bukan kisah dari Qur’an maupun Hadist, maka tidak bisa dijadikan hujjah. Kekuatan hukum yang anda mau tampilkan adalah kebolehan makan daging babi dalam keadaan darurat. Saya tampilkan dulu ayatnya.

{قُلْ لاَ أَجِدث فِى مَا أُوْحِىَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيْرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللهِ بِهِ ، فَمَنِ اضْظُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَ عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ}

Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Rabbmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. 6:145)

Darurat dalam Kaidah Fikih menyangkut kondisi nyawa seseorang pada saat dan kondisi tertentu.

Contoh, pesawat yang anda tumpangi jatuh dipegunungan salju Alpen, pertolongan berhari hari tak kunjung datang, makanan yang halal telah anda habiskan, tinggal tersisa makanan kaleng berisi daging babi, kalau anda tidak makan, anda bisa semakin lemah dan malah untuk makan saja tak memiliki kekuatan lagi, maka darurat dalam kaidah fikih, adalah darurat yang menyangkut nyawa manusia pada saat genting seperti kisah diatas. Boleh anda makan daging babi tersebut, tapi masih ada tapinya lagi, jangan rakus, sekedarnya saja, sekedar anda tidak keburu mati. Jadi tidak semudah anda ucapkan ini darurat ini darurat. Darurat menurut kaidah fikih menyangkut keselamatan jiwa anda pada saat tertentu saja lantaran benar benar pada saat dan tempat yang sama tak ada pilihan lain untuk sekedar memperpanjang nafas anda.

Tidak dikatakan darurat, jika pilihan lain masih banyak dan nyawa anda juga tidak dalam krisis, misal anda tinggal didaerah nasrani, atau katakanlah di Amerika yang mayoritas nasrani, daging yang halal katakanlah tidak ada, lantaran daerah nasrani. Lantas anda makan daging babi dengan alasan darurat karena tak ada lagi daging yang halal, maka anda telah keliru berat mengunakan kata kata darurat. Anda masih bisa makan kentang, telor, ikan dll untuk kehidupan anda sehari hari.

Darurat menurut orang partai, semua masalah yang belum bisa diatasi secara Islam dikatakan darurat. Kaidah salah kaprah produk partai ini tadi telah saya kemukakan amat berbahaya, maka kejahatan akan muncul dimana mana mengatas namakan darurat.

Dalam system democrazy dimana daruratnya?, adakah kepala manusia yang dipenggal oleh penguasa kalau tidak menyontreng?, dilarang sholat saja di masjid misal oleh penguasa kafir belum dikatagorikan darurat, karena kita bisa sholat ditempat lain secara sembunyi sembunyi. Apakah kalau kita dilarang sholat jum’at di Masjid misalkan oleh penguasa lantas kita mengatakan wah lagi darurat nih, marilah kita tidak sholat. Bukankah begitu logika terbalik jika kita berpegang pada asas darurat global? yang haram jadi wajib yang wajib jadi haram. Sama seperti pandangan NII, sekarang periode Makah, maka tidak mengapa tidak sholat. Kenapa anda tidak pakai jilbab wahai orang orang NII?, khan sekarang periode Makah. Otak lu dimana, sekarang ini periode SBY tau.

Dalam system democrazy dimana daruratnya buat anda?, kok orang yang mengatakan lagi darurat malah dapat gaji gede, tunjangan aduhai, fasilitas ehem, pokoknya tahta harta dan wanita terpenuhi. Orang yang darurat adalah orang yang lagi kritis dan sedang tak ada pilihan lain, berarti anda punya definisi dan pengertian bahasa yang baru tentang darurat, jika anda dapat tahta, harta dan wanita, berarti anda sedang dalam keadaan darurat. Amin, amin…

Kalau lembaga paganisme itu suatu hari di bom orang lantaran pusat penyembahan berhala, banyak orang yang sekarat lantaran kekurangan darah, maka itu baru keadaan darurat, nyawa mereka dalam keadaan kritis, bolehlah anda di transfusi darah babi, agar nyawa anda yang tersengal sengal itu bisa agak lebih berkurang ketersengalannya. Kok pakai darah babi? lah kan lagi darurat boleh boleh saja dan itu telah menimbang manfaat mudharatnya, stok darah yang halal telah habis dipakai korban2 yang masih hidup lantaran bencana Situ Gintung, Tsunami, Gempa Jogya, mati diurug sampah di Bandung dllnya, kesemua bencana dan derita itu akibat dusta oelama, murobbi murobbi terhadap Allah terhadap ummat.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٌ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

(QS. 7:96) بَلَى قَدْ جَاءَتْكَ آيَاتِى فَكَذَّبْتَ بِهَا وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ

Sebenarnya telah datang ketetapan-ketetapan-Ku kepadamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri dan kamu adalah termasuk orang-orang yang kafir”. (QS. 39:59)

Pernyataan Kemunafikan.

Orang kafir tidak berdusta, tapi dia jantan menolak ayat ayat Allah, yang berdusta itu justru dari kalangan pengaku Islam, Allah katakan haram memilih pemimpin yang berkecenderungan kepada kekafiran, oelama bilang wajib. Allah katakan jangan kalian berpegang kepada suara terbanyak, kalian orang partai malah memuji muji system democrazy. Tulisan dibawah ini buktinya.

Abu Karim Fatullah menulis:  “Jangan heran jika saat ini konsep demokrasi ibarat pelita digelapnya malam yang banyak didatangi laron, semua negara berlomba menuju ke arahnya karena ia dianggap sebagai salah satu system yang mampu mengeliminir semua bentuk ke tidak adilan dan penindasan penguasa terhadap rakyatnya”.(hal 38,baris 22, dari Buku bantahan terhadap Kekeliruan Abu Bakar Ba’asyir).

Zuber Safawi dari Partai Keadilan Sejahtera menulis,  Demokrasi dewasa ini menjadi kehendak dan arus umum di dunia. Gagasan ini telah menjadi idealisme publik dalam merekonstruksi negara modern. Disepanjang dua abad, terminologi ini menjadi telah wacana utama sehingga tidak ada satupun ideologi dunia yang tidak memuat terminologi ini dalam content ideologinya

Semua kalimat diatas adalah kalimat dusta, dan dusta itu muncul dari orang orang Partai Islam dan para pendukungnya, maka tak heranlah kelakuan orang partai itulah yang sebenarnya mengundang azab Allah yang tiada henti hentinya.

Ketahuilah Gandhi, yang membuat rusak ugama ini bukan orang orang awam, orang awam itu hanya kerbau kerbau yang tinggal ditarik bagaimana maunya majikan, tapi pastor pastor, oelama oelama, orang orang yang katanya tahu ugama itulah yang sebenarnya “biang kerok” rusaknya suatu ugama. Seperti nasib tertipunya anda sekarang ini.

إِتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُم أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ ، سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah, dan (juga mereka menjadikan Rabb ) Al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (at-Tawbah; 9:31)

Cerita yang tidak logis.

Pada kisah yang pertama terdapat sesuatu yang tidak logis (tidak masuk akal), dalam suasana perang seorang tawanan Islam dimasa Rasulullah dibebaskan hanya lantaran tidak mau makan yang haram, keteguhanya menyebabkan pembebasannya?. apalagi yang membebaskan orang kafir, rupanya kalian tidak memahami tabiat orang kafir dalam perang dan tentara Islam dalam perang.

Pada kisah yang kedua, juga terjadi kejanggalan. Saya sudah membaca karakter manusia yang disebut sahabat sahabat Rasulullah, bukunya juga ada dijual dipasaran, tak ada kisah yang menceritakan seperti kisah anda itu, yang namanya sahabat sahabat Rasulullah adalah karakter karakter yang istimewa. Telah terbebas dari virus virus syirik. Dan untuk anda ketahui, orang yang mencari syahid tak akan ada yang mencari hidup, mengharap dibebaskan untuk mencerca Rasulullah.

Saya saja memilih dipenggal dari pada harus mencerca Rasulullah, apalagi sahabat Rasulullah yang di gembleng selama 23 tahun yang amat mengenal Rasulullah dalam suka dan duka, dalam kancah peperangan kepeperangan yang lain. Khalid bin Walid, si Pedang Allah yang terkenal itu amat merindukan syahid, tapi malah matinya ditempat tidur. Kok ada sahabat Rasulullah ketika diancam dipenggal, malah memilih kebebasan, syahid sudah didepan mata malah dibuang kesempatan itu. Ini tak masuk akal.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa mati, sedang ia tidak pernah berjihad dan tidak mempunyai keinginan untuk jihad, ia mati dalam satu cabang kemunafikan.” Muttafaq Alaihi.

Perhatikan, tidak berniat mati syahid saja sudah merupakan cabang kemunafikan. Tanya diri anda, pernahkan anda berdoa, ya Allah matikanlah aku sebagaimana orang yang mati mendapatkan syahid?, kalau tidak pernah, Allahkan tahu kualitas anda. Maka anda belum pantas untuk mendapat petunjuk dari Allah. Abubakar ra, berkata, carilah kematian niscaya ia akan memberimu kehidupan. Sejarah bangsa budak adalah dijajah selama 350 tahun, kenapa bisa ? kenapa tidak? Mereka mencari hidup bukan mencari mati, lantaran takut mati, cinta dunia, maka penjajahan abadi. Berjuang itu cirinya seperti ayat 2:214. Kalau memperdagangkan ayat ayat Allah cirinya ya dapat mobil mewah, rumah bagus, status keren, istri berambah.

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا صُمٌّ وَبُكْمٌ فِى الظُّلُمَاتِ ، مَنْ يَشَإِ اللهُ يُضْلِلْهُ وَمَنْ يَشَأْ يَجْعَلْهُ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah pekak, bisu dan bereda dalam gelap gulita. Barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk mendapat petunjuk), Niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus. (QS. 6:39)

Paragraf berikutnya dari surat Gandhi,

Nah, di kedua cerita ini ada pertaruhan juga kan? Dan keduanya benar untuk dilakukan. Anda menitikberatkan jika kita KALAH, tapi lupa menitikberatkan jika kita MENANG! Sekali lagi Anda berlindung di balik nama Allah yang nyata2 adalah yang Mahatahu dan Mahabenar. Anda menandang apakah kita dapat bertanya kepada Allah bahwa Dia mau dipertaruhkan? Suatu hal yang mustahil dilakukan dan karenanya Anda berlindung di baliknya. Jika dilakukan pun Allah akan menjawab dari hati kita masing2 dan tidak mungkin dapat dipublikasikan kan? Jika kita memang maka hasilnya insya Allah akan tampak jelas. Jika kita kalah dan harus kehilangan taruhan sekalipun, paling tidak Allah tahu niat kita! Paling tidak kita sudah bertindak dan tidak berdiam diri dan kemudian menyerahkan semuanya pasrah kepada Allah karena kita percaya Allah Mahatahu apa yang terbaik buat kita. Berdiam diri adalah sikap kafir “jika ditampar pipi kiri maka berikanlah pipi kanan” sedangkan dalam Islam, “jika ditampar pipi kiri maka tamparlah balik pipi kirinya”. Lihat surat An Nahl. Islam itu selayaknya lebah yang bermanfaat tetapi jika diganggu bisa menyengat dengan sangat sakit meski kemudian harus mati. Disini pertaruhannya adalah nasib umat muslim Indonesia, itu yang nyata2 bisa dilihat dan dipublikasikan. Bukan pernyataan Allah! Saya tidak pernah bilang bahwa democrazy itu benar! Tapi dimasa edan sekarang ini bukannya kita ngikut edan tapi secara bertahap kita buat mereka yang edan menjadi waras kembali. Coba Anda PAKSA seorang edan untuk berubah, akan susah sekali jika tidak mustahil! Tapi coba Anda dekati pelan2, hati ke hati maka insya Allah dia akan cepat untuk berubah. Saya paling tidak suka jika kita berlindung di balik Al Quran atau Allah tapi melupakan nasib umat dimana Rasulullah SAW dimasa sakaratul maut pun yang diucapkan adalah “ummatii, ummatii, ummatii…” Tolong, Mas Darmen. Jangan sesatkan umat muslim Indonesia dengan pernyataan Anda. Anda ini seperti Gus Dur yang menyatakan agar umat muslim Golput dan membiarkan kekuasaan jatuh ke tangan laknatullah. Dengan begitu nasib umat muslim Indonesia makin tidak jelas! Perjuangan Islam sekarang ini haruslah melalui gerakan reformasi, bukan revolusi. Perlahan tapi pasti. Insya Allah! Amin.

Wassalam,

Gandhi

Saya jawab lanjutannya dari paragraph Gandhi ini, Nah, di kedua cerita ini ada pertaruhan juga kan? Dan keduanya benar untuk dilakukan. Jika kisah pertama shahih, sahabat tersebut tidak bertaruh, dia seorang tawanan yang ditawarkan bergabung. Menurut saya sahabat tersebut juga orang yang tahu batas batas hukum Islam, sehingga ia tidak menyentuh makanan haram tersebut. Dia tahu, kasusnya belum darurat, ngapain pula gua sentuh tuh barang haram itu, dia masih bisa minum air zamzam, dan kue kue kecil dari alfamart. (cerita ngarang dilawan cerita ngarang). Kalau benar kagak ada makanan lagi, dan gua engga sentuh tu babi, gua dah jadi bangke dari kemaren kemaren, nah gua diboikot makanan halal dah tiga bulan, bagaimana gua masih bisa idup dan terus menghirup udara bebas lantaran lulus test keimanan kalo engga makan babi selagi darurat?. Bisa aja Gandhi bikin karangan.

Kalau orang partai jelas berjudi. Orang partai tidak sedang dalam tawanan orang. Mereka malah mendatangi lembaga perjudian KPU (Komisi Perjudian Ummat) dengan ikhlas tanpa ada tekanan dari siapapun (bukan orang tawanan), wajah tersenyum riang, angkat tangan tinggi tinggi ketika dapat nomor urut. Mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk memperoleh kemenangan, pasang iklan di TV dan surat kabar, pamflet2, kartu nama poster poster, jual tampang dan gelar untuk sebuah jabatan yang menggiurkan. Semua permainan kafir yang dikemas atas nama jihad.

Namanya judi ada yang kalah ada yang menang, yang kalah banyak yang masuk rumah sakit jiwa, dan bahkan ada yang bunuh diri. Suatu perjudian yang dampaknya mengerikan lantaran aturan mainya Manusia ditempatkan sebagai Penguasa Alam Semesta, sementara Penguasa Alam Semesta yang sesungguhnya ditempatkan sebagai object pelengkap penderita. Suatu aturan main yang amat amat kurang ajar terhadap penguasa alam semesta, dan disitulah Partai Islam menjadi peserta yang turut serta menghujat Allah SWT.

Ketika saya masih kecil pernah terfikir, enak juga kalau menang dalam perjudian Nalo (nasional lottre) misalnya, uangnya selain untuk pribadi yang akan bikin kaya, juga bisa impact (bukan infaq) ke Masjid, untuk bangun Masjid sebagai ngaamalin (uangnya mbok) jariah. Pemikiran orang partai ini persis seperti pemikiran saya ketika masih kecil. Berjudinya saja sudah haram, pakai angan angan pula kalau menang, aku akan sumbang masjid seperti membuat masjid kubah emas.

Anda menitikberatkan jika kita KALAH, tapi lupa menitikberatkan jika kita MENANG!

Berjudi atau bertaruh diharamkan dalam Islam, yang dipertaruhkan bisa uang, benda manusia dllnya. Jika menang dapat kursi (jabatan), jika kalah, uang, tenaga, waktu, pemikiran yang telah dikorbankan begitu rupa raib tanpa ada hasil apapun. Itu the Real Gambling & Betting. Ada beberapa partai yang kalah telak, padahal pengorbanan yang dikeluarkan telah begitu besar, kekalahan ini menimbulkan stress, gila dan terberat bunuh diri. Inilah konsekwensi logis dari perjudian. Jadi pesta democrazy sebenarnya pesta perjudian dalam skala besar dan melibatkan jutaan manusia.

Dari sudut perjudian ini saja sudah terdapat ke haramannya. Kalau bukan judi anda mau sebut apa Gandhi?, jihad fiesabilillah?. Dikatakan tidak berjudi, kalau semua partai yang ikut serta beserta keseluruhan calegnya diberi kursi, sehinga pengorbanan mereka yang begitu besar tidak sia. Kalau yang begini ini, semua caleg dapat korsi, saya jamin tidak akan ada yang stress, sakit jiwa, apalagi bunuh diri. Mau taruhan, berjudi sama saya ?, hehe..

Anda katakan jihad dijalan Allah?, anda mengatakan anda berjihad di jalan Allah?, tapi anda ikuti, anda tunduk patuh pada syariat, pada aturan yang mentuhankan Manusia dan menjadikan Tuhan yang sesungguhnya hanya sebagai object pelengkap penderita. Jihad fiesabilillah artinya membuang aturan itu, menghancur leburkan syariat thogut itu, bukan malah mendukung daan menumbuh suburkan. Kalau anda mendukung dan menumbuh suburkan itu namanya Sabili toghut. Jadi kalau tulisan Anis Malta yang memuji muji democrazy, wajah wanita jilbab doctor ekonomi dimuat, itu namanya majalah Sabili Toghut. Tidak menuju mardhatilah tapi mengundang azab Allah.

Bahkan terlebih parahnya anda mengatakan kepada saya, Berdiam diri adalah sikap kafir “jika ditampar pipi kiri maka berikanlah pipi kanan” sedangkan dalam Islam, “jika ditampar pipi kiri maka tamparlah balik pipi kirinya”. Kaidah hukum Islam mana pula yang menyatakan kalau anda ikut serta dalam pesta penghujatan Allah dan Rasul (democrazy), anda telah berbuat, sementara yang tidak mau ikut dalam penghujatan Allah dan Rasul anda katakan berdiam diri?.

Anda Gandhi, kalau bicara sesuaikan dengan fakta, supaya tidak gampang di balikkan oleh lawan, dalam aturan democrazy Allah dan Rasul dihujjat (ditampar), saya tidak melihat orang partai Islam yang menampar balik mereka. Kalau itu yang terjadi anda pantas menyandang Arizal. Laki laki yang punya harga diri. Yang terjadi malah kebalikan dari pernyataan anda. Coba lihat di TV, anda peluk pelukan, rangkul rangkulan, salam salaman, jalan bareng, foto bareng, gandengan tangan, makan bareng, dapat duit pula dari mereka yang tidak mencerminkan anda marah besar atas penghujatan Allah dan Rasul.

لاَ تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيْرَتَهُمْ ، أُولَئِكَ كَتَبَ فِى قُلُوبِهِمُ اْلإِيْمَانِ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ ، وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِى مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ، رَضِىَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ، أُولَئِكَ حِزْبَ اللهِ ، أَلاَ إِنَّ حِزْبَ اللهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung. (QS. 58:22)

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللهِ كَذِبًا أَوْ كَذّّبَ بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُ ، ألَيْسَ فِى جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْكَافِرِينَ

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang hak tatkala yang hak itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir? (QS. 29:68)

Selanjutnya dari tulisan Gandhi, Anda menandang apakah kita dapat bertanya kepada Allah bahwa Dia mau dipertaruhkan? Suatu hal yang mustahil dilakukan dan karenanya Anda berlindung di baliknya. Jika dilakukan pun Allah akan menjawab dari hati kita masing2 dan tidak mungkin dapat dipublikasikan kan?.

Anda ini orang yang kurang mampu membaca apa yang tersirat, firman Allah menyangkut hal hal yang pokok telah komplit, anda mau bicara apa saja dari A sampai Z telah komplit. Bahkan kerangka penggunaan logika, otak, akal anda saja sudah diatur dalam Bangunan Struktur Islam. Begitu sempurnanya, jadi suatu bentuk kejahatan baru jenis apapun, sampai zaman kapanpun, akan selalu terdeksi oleh Al Qur’an dan Sunnah Rasul.

Bertanya kepada Allah maksudnya anda periksa wahyu wahyu Allah itu dalam AlQur’an, karena wahyu Allah itu datang dariNya dan tak akan pernah usang informasinya sampai zaman kapanpun. Ibarat Google Search, anda mencari Tokoh Pengrusak Bangsa yang bernama Soeharto yang mau dijadikan pahlawan nasional oleh PKS, anda ketik Soeharto, langsung anda dapatkan keterangan tentangnya.

Adakah Allah akan kasih izin, jika Allah dan Rasul dijadikan object dalam perjuanganku?. Sudahkah engkau bertanya pada istrimu, maukah ia sebagai object perjudianmu, jika engkau menang dapat rumah, mobil mewah jika engkau kalah istrimu disetubuhi oleh laki laki lain. Disini hati nuranimu akan menjawab sendiri sebelum engkau mendatangi istrimu untuk bertanya. Gila luh, mosok yang beginian gua tanya istri, mampuslah aku nanti di kemplang. Mengapa terhadap Allah engkau tidak mumpunyai hati sebagaimana ketika engkau mau bertanya kepada istrimu?.

Disini pertaruhannya adalah nasib umat muslim Indonesia, itu yang nyata2 bisa dilihat dan dipublikasikan. Bukan pernyataan Allah! Saya tidak pernah bilang bahwa democrazy itu benar!

Anda Gandhi kok berani beraninya bilang democrazy tidak benar, itu namanya anda telah murtad dari liqo anda atau dari partai anda. Anis Malta, Zuber Safawi, Sarwad Lc, Abu Karim Fatullah dan masih banyak lagi data data ustad ustad, atau oelama oelama yang memuji muji democrazy ada pada data saya. Kalau jadi murid mbok ya jangan melawan guru, jangan melawan arus, nanti kamu nduk, kualat. Walau ustad kamu zina di hotel Millenium, di Bali, korupsi di Padang, ketangkep basah ditempat mesum, kamu harus tetap hormat, cium tangan dan harus selalu mendukung mereka. Itu lho nduk ajaran nenek moyang kita yang telah turun menurun.

Tapi dimasa edan sekarang ini bukannya kita ngikut edan tapi secara bertahap kita buat mereka yang edan menjadi waras kembali. Coba Anda PAKSA seorang edan untuk berubah, akan susah sekali jika tidak mustahil! Tapi coba Anda dekati pelan2, hati ke hati maka insya Allah dia akan cepat untuk berubah.

Anda ini cerita apa sih Gandhi, yang edan dan tidak waras ini siapa?, contohnya saja anda murtad dari liqo dan partai anda. Padahal ustad anda tidak bilang democrazy sesat, Gandhi katakan democarzy sesat. Itu pertanda keedanan dan ketidak warasan ada dari kalangan anda. Dari awal anda telah edan dan tak waras kepada Allah, dengan menjadikan Allah Swt sebagai object permainan anda, sementara Manusia anda jadikan Tuhan anda. Anda mau menjadi dokter jiwa dirumah sakit jiwa, padahal anda lah justru yang harus terlebih dulu dilakukan terapi perawatan jiwa secara perlahan bertahap. Anda saja telah berkali kali saya sampaikan tulisan yang serupa tentang bahayanya democrazy bagi peradaban manusia tetap bangor, boro boro mereka yang telah duduk di kursi empuk Lembaga Penghujatan Allah itu.

Gandhi, mau membersihkan lubang tinja cukup dari luar sebagaimana Rasulullah SAW membersihkan lubang tinja dari luar. Rasulullah tolak itu sesuatu yang sekarang malah kalian buru dan berjudi dengannya yaitu tahta harta dan wanita. Begitu anda nyemplung ke lubang tinja dengan maksud membersihkan semua tu ee yang ada dilubang tinja, eh kesucian tubuh anda, air wudhu anda, baju anda telah berlepotan tinja tinja mereka. Mula mula anda teriak ih jijiy…, lama lama anda terbiasa dengan kejijian itu, anda betah karena uangnya besar, saya kan sudah bilang kalau uangnya cuma 2 juta perbulan, kalian tak akan ada yang mau nyemplung ke lubang tinja itu. Siapa pula yang mau berjudi dengan modal besar hadiahnya cuma permen?.

Dari ‘Aidz Ibnu Umar dan al-Muzanny RA bahwa Nabi SAW bersabda: “Islam itu tinggi dan tidak ada yang mengalahkan ketinggiannya.” Riwayat Daruquthni. Lantara Islam begitu tinggi dan mulia ia tak akan pernah muncul dari tempat rendah lubang tinja yang kotor dan menjijikan itu. Lihat sejarah, kekhalifahan tegak oleh orang orang bersih dari perbuatan syirik, dari orang orang yang dibina Rasulullah selama 23 tahun. Bukan dari orang orang musyrik. Sejarah juga membuktikan, manakala sedikit saja mereka melanggar titah Rasulullah untuk tidak turun dari bukit bukit lantaran nafsu kepada pampasan perang, mereka dibantai oleh tentara Khalid Bin Walid yang ketika itu belum masuk Islam. Dipeperangan yang lain juga terjadi hal yang sama (perang Hunain), berbangga bangga saja dengan jumlah yang banyak, malah kaum muslimin tercerai berai dibantai musuh, dan kisah ini diabadikan dalam Al Qur’an yang menandakan, tegaknya Islam hanya bisa dilakukan oleh kebersihan jiwa dan aplikasi aplikasi bersih pengikut pengikutnya, tidak akan pernah lahir Islam dari manusia manusia yang mentuhankan manusia dan menghalalkan segala cara.

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللهُ فِى مَوَاطِنَ كَثِيْرَةٍ ، وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ اْلأَرْضَ بِمضا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ

Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai orang-orang mu’minin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu ketika kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dan bercerai-berai. (at-Tawbah; 9:25)

Jangan anda pernah bermimpi lagi Gandhi akan muncul Islam dari lembaga Paganisme itu. Segeralah bertaubat, kemas koper anda, hijrah dan kembalilah kejalan Allah dan Rasul, sebelum jatuh talak Allah anda disesatkan Allah, sehingga anda semakin tak tahu lagi membedakan mana yang hak mana yang batil.

قُلْ أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ ، فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ ، وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا ، وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلاَّ الْبَلاَغُ الْمُبِينُ

Katakanlah: “Ta’atlah kepada Allah dan ta’atlah kepada Rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul hanyalah apa yang dibebankan kepadanya, kewajiban kamu adalah apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu ta’at kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tiada lain kewajiban rasul hanya menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”. (QS. 24:54)

Selanjutnya, Saya paling tidak suka jika kita berlindung di balik Al Quran atau Allah tapi melupakan nasib umat dimana Rasulullah SAW dimasa sakaratul maut pun yang diucapkan adalah “ummatii, ummatii, ummatii…”

Saya tidak berlindung, memangnya Qur’an tameng alat perang, saya hanya mencoba taat sesuai 24:54. Anda dan kelompok anda hanya taat pada Allah hanya untuk urusan sholat, puasa zakat haji, selebihnya sebagaimana yang telah berali kali kita bahas, anda dan kelompok anda telah menjadi pecundang.

Tolong, Mas Darmen. Jangan sesatkan umat muslim Indonesia dengan pernyataan Anda. Anda ini seperti Gus Dur yang menyatakan agar umat muslim Golput dan membiarkan kekuasaan jatuh ke tangan laknatullah. Dengan begitu nasib umat muslim Indonesia makin tidak jelas! Perjuangan Islam sekarang ini haruslah melalui gerakan reformasi, bukan revolusi. Perlahan tapi pasti. Insya Allah! Amin.

Saya tidak menyesatkan ummat, saya malah mau menyelamatkan ummat. Silahkan anda bandingkan tulisan saya tentang democrazy dan tulisan yang mendukung democarzy. Dari isi surat anda saja jika dibaca oleh orang awam, pastilah tertipu dia. Tadinya dah ragu ragu mau kembali ke Islam, lantaran surat anda, balik lagi mereka menjadi jahiliah. Untuk menguji siapa yang menipu ummat, silahkan serahkan kepada masyarakat untuk menilainya.

Saya tidak menganjurkan Golput walaupun orang orang beriman wajib golput, tapi masalahnya kan jadi bias, karena Golputnya saya tidak sama dengan Golputnya Gus Dur, kalau Gusdur Golput lantaran sakit hati di ketiaki keponakannya Muhaimin. Ntar orang bilang sebagaimana anda bilang Gusdur dan saya sama dong tingkat keimanannya lantaran sama sama golput. Saya beserta orang orang mu’min, orang orang beriman bermaksud merubuhkan lembaga paganism itu sehancur hancurnya termasuk siapa saja orang yang berada didalamnya. Paham?. Semoga Allah membuka pintu hidayah bagimu Gandhi.

أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ، إِنْ هُمْ إِلاَّ كَاْلأَنْعَامِ ، بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلاً

atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya dari binatang ternak itu). (QS. 25:44)

مُذَبْذَبِينَ بَيْنَ ذَلِكَ لاَ إِلَى هَؤُلاَءِ وَلاَ إِلَى هَؤُلاَءِ ، وَمَنْ يُضْلِلِ اللهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلاً

Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman dan kafir); tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir). Barangsiapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya. (QS. 4:143)

Jakarta, 26 April 2009.

darmenadios@yahoo.com, tulisan bisa dilihat juga di http://www.darmenadios.wordpress.com

Dari Abu Sa’id Al-Khudri rodhiallohu ‘anhu dia berkata: Aku mendengar Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika ia masih tidak mampu, maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Dari Anas bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Berjihadlah melawan kaum musyrikin dengan hartamu, jiwamu dan lidahmu.” Riwayat Ahmad dan Nasa’i. Hadits shahih menurut Hakim.

Sesungguhnya bermula datangnya Islam dianggap asing (aneh) dan akan datang kembali asing. Namun berbahagialah orang-orang asing itu. Para sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud orang asing (aneh) itu?” Lalu Rasulullah menjawab, “Orang yang menyatakan begini begitu (ajakan kebenaran) di saat orang-orang melakukan pengrusakan.”, tapi dirasakan aneh oleh orang orang pada saat itu/red (HR. Muslim)

Ka’ab bin ‘Iyadh Ra bertanya, “Ya Rasulullah, apabila seorang mencintai kaumnya, apakah itu tergolong fanatisme?” Nabi Saw menjawab, “Tidak, fanatisme (Ashabiyah) ialah bila seorang mendukung (membantu) kaumnya atas suatu kezaliman.” (HR. Ahmad).

—ooOoo—

Asyuro, Demokrasi & Permainan Poker

Oleh :

Darmen Adios

Kaum pria Syiah setiap tahun di hari Asyuro melakukan penganiayaan terhadap diri sendiri. Punggung mereka di cacah-cacah dengan  benda tumpul, tajam, rantai dan sebagainya sampai berdarah-darah, suatu tontonan yang membuat bergidik. Tetapi perbuatan yang telah membudaya tersebut menurut mereka merupakan “ibadah” sebagai hari peringatan atas meninggalnya cucu Rasulullah SAW. Ber embel-embel memperingati, adakah benar jalan hidup yang mereka tempuh jika kita melihat buku pintar Al Qur’an?

وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

dan janganlah kamu mencampakkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (al-Baqarah;  2:195)

Kalimat larangan seperti contoh diatas yaitu “janganlah kamu mencampakkan diri dalam kebinasaan”, dalam undang-undang hukum Islam jatuh hukumnya haram (berdosa, kena sanksi) jika dilaksanakan. Semaksud ayat di atas janganlah kamu bunuh diri, janganlah konsumsi narkoba dst. Janganlah mencelakakan diri sendiri, apalagi orang lain, akan  berdosa.

HARI PELANGGARAN RUTIN

Pesta demokrasi seperti pesta hari Assyuronya Syiah juga merupakan hari pelanggaran rutin terhadap Al Qur’an maupun al Hadist. Di Indonesia setiap lima tahun. Pesta demokrasi mengambil judul memilih anggota DPR, MPR dan Presiden. Sekilas pesta demokrasi itu perbuatan yang mulia, tetapi ternyata pesta demokrasi bisa dikatakan juga sebagai hari kemusyrikan.

ISLAM SYSTEM YANG SEMPURNA

Islam merupakan sistem (Dien) yang telah sempurna, mengatur problem apa saja bagi kepentingan manusia dari hal berjuang, masuk WC, keluar WC sampai urusan memilih kepala Negara. Tetapi kelengkapan dan kesempurnaan Islam itu tidak dihiraukan oleh aliran demokrasi. Pernyataan Allah SWT tentang kesempurnaan system (dien) islam tertuang dalam surat 5:3

اَلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu dien mu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu sebagai dien mu. (QS. 5:3).

Karena sempurna, maka ajaran Islam tidak mengenal kata kata kuno, ketinggalan zaman, tidak modern, orthodok atau istilah-istilah lainnya. Di zaman Rasulullah tidak ada pesta demokrasi, bukan berarti kesempurnaan Islam menjadi sirna, justru manusia muslim masa kini harus mampu berfikir, apa yang kita saksikan tentang demokrasi ini, sesuaikah dengan Al Qur’an atau tidak?.

Sepatutnya kita melakukan penelitian tentang  demokrasi dari  sumber yang sempurna itu (Al Qur’an). Tulisan ini muncul karena telah sering terlihat akibat buruk yang ditimbulkan dari pesta demokrasi. Dari sejak mahasiswa perasaan ingin mengetahui itu sudah ada, karena pernah didepan hidung, banyak hamba Allah ditembak ABRI di zaman Soeharto, kematian orang yang tak bersalah itu seolah sah sah saja, tanpa ada pengadilan. Dan tentunya selalu banyak korban setiap pesta demokrasi datang,

Begitu banyak korban,  pasti dari rakyat kecil, setelah suara terhitung, hasilnya sudah didapat siapa pemenangnya, pemuka partai masing masing membuat acara syukuran diatas bangkai bangkai jenazah. Banyak korban bergelimpangan, mereka syukuran mengatakan pemilu berjalan lancar, kemudian merekalah yang menikmati manisnya pesta demokrasi, jadi anggota DPR, MPR, Menteri atau Presiden dan bukan dari keluarga korban. Keluarga korban ditinggal dan hanya sebagai tumbal kepentingan pihak yang berambisi kepada kursi.

IKUTI PRINSIP BERJUANG RASULULLAH.

Rasulullah sebagai penutup para nabi, “Khataman nabiyin”, juga sebagai penyempurna ajaran nabi-nabi sebelumnya. Sebagai utusan Allah yang menyempurnakan dan melengkapi, maka tiada lagi contoh dalam hal apa saja, termasuk dalam memperjuangkan Islam yang patut kita ikuti selain cara Rasulullah SAW. Muhammadurrasulullah bukan saja berarti Muhammad utusan Allah, tapi bermakna pula, tidak akan berkah perjuangan tanpa mengindahkan prinsip prinsip perjuangan Rasulullah SAW dan tanpa peduli larangan larangan Allah SWT.

ALIRAN DEMOKRASI TIDAK PERCAYA PADA KESEMPURNAAN ISLAM

Kaum demokrasi tidak percaya diri (PD) kepada kesempurnaan system Islam, dalam perjalanannya selama ini berjuang asal menempel, baik kepada system yang ada atau penguasa yang sedang berkuasa. Seperti kutu luncat.  Entah system yang ditempel benar atau tidak, dan tak pernah mau berfikir cara yang mereka lakukan itu benar atau tidak, tempel terus, sekalipun yang ditempel menuju neraka. Tabiat kutu luncat itu terlihat, hari ini mendukung calon presiden A, ternyata A kalah, besok sudah mendukung calon presiden B. Kemarin musuh politik, kalah dan posisi politik melemah, besoknya sudah teman politik. Kenapa harus bermental seperti kutu luncat?. Sungguh karakater yang tidak enak untuk dicontoh dan pertanda mental kutu luncat muncul dari sikap kepribadian yang ganda.

MENGHINDAR DARI AL QUR’AN

Bagi kaum demokrasi Al Qur’an itu dipakai kalau perlu, jika bakal merugikan kepentingan perjuangan mereka, tinggalkan dulu Qur’an nya. Qur’an hanya dipakai untuk hal yang tidak merugikan kelompoknya. Jika masalah yang dibicarakan aman, maka keluarlah ayat ayat Allah dari lidah mereka dengan lancar membuat terpukau ummat. Tapi jika ada ayat yang menyentuh kekeliruan jalan yang mereka tempuh, mereka peti es kan. Tabiat seperti ini dikatagorikan menyepelekan Al Qur’an lantaran mereka menghindar jika disampaikan keterangan yang datang padanya. Tutup mata, terhadap pandangan lain selain dari pandangan golongannya.

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِى آتَيْنَاهُ فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى اْلأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ ، فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَجْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ، ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآياَتِنَا ، فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Dan bacakanlah kepada mereka

berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami,

kemudian dia menghindar dari padanya,

lalu dia diikuti oleh syaitan,

maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. (QS. 7:175)

Kenapa harus menghindar dari Al Qur’an? Jika kaum demokrasi yakin jalan yang ditempuh adalah benar, way of life mereka yakini benar, bahkan harus menunjukkan kepada ummat untuk mengungkapkan kebenaran, tulislah ini lho demokrasi ciptaan pemikir barat, Pluto, Aristoteles, Monsteque, John Lock, Perruso dsbnya, OK benar dengan Islam, cari ayat dan  hadistnya. Cocokkan dengan Qur’an atau hadist. Tulislah pernyataan partai kepada masyarakat bahwa demokrasi cocok benar dengan Islam, bukan malah menutupinya supaya ummat dan pengikut tidak tahu. Masalah ini sangat penting karena menyangkut keselamatan akhirat bagi manusia yang tidak tahu akan tipuan syeitan dalam pesta hura huranya demokrasi.

وَلاَ تَلْبِسُوا اْلحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا اْلحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ.

Dan janganlah kamu campur-adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. (al-Baqarah;  2:42)

ISLAM LENGKAP UNTUK  SEMUA PRINSIP PRINSIP KEHIDUPAN

Dalam kehidupan kita sekarang ini banyak kerap muncul istilah istilah baru yang teks terjemahnya maupun teks arabnya tidak terdapat, seperti demokrasi, asas, liberal, komunis, ideology dsbnya. Istilah baru ini kerap di gunakan ulama Suu’, misal tidak mengapa asas Pancasila asal akidah Islam, nah bagi manusia yang tidak mau meneliti, ucapan itu sebenarnya punya pengaruh besar bagi perjalan hidup manusia menuju akhirat. Tersesat di perdaya ulama suu’.

Jangan kita mengira Allah SWT tidak memahami munculnya istilah istilah baru yang tulisan teks Arabnya tidak terdapat dalam Al Qur’an, Allah mengetahui semua hal, bahkan dengan tegas Allah SWT nyatakan tidak satupun prinsip prinsip dalam kehidupan manusia yang Allah lupa. Menyangkut demokrasi atau apapun istilah baru yang mungkin muncul lagi.

مَا فَرَّطْنَا فِى الْكِتَابِ مِنْ شَىْءٍ َ

Kami tidak tinggalkan satu pun perkara, ( prinsip prinsip pokok) dalam Al Qur’an (QS. 6:38)

JALAN LURUS MENUJU ALLAH HANYA ADA SATU JALAN.

Ketika kaum demokrasi ditanya dalam acara TV, kenapa kalian sesama pencinta demokrasi dari aliran yang sama tidak mau bersatu?, mereka jawab, banyak jalan menuju pasar pak. Kaum demokrasi memang seperti itu, mengajak manusia untuk ikut pesta demokrasi hanya untuk sampai pasar, tapi tidak jalan menuju Allah. Jalan menuju Allah hanya satu jalan, tidak banyak jalan seperti menuju pasar, dimana setiap hari minimal 5 kali sholat kita meminta petunjuk, agar jika kita terkilir dari jalan Allah, Allah tunjuki lagi jalan yang lurus itu. Itu kalau kita mau kembali kejalan Allah.

إِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (al-Fátihah; 1 : 6)

Karena jalan lurus menuju Allah hanya satu jalan, tidakkan terjadi dalam hal hal prinsip, untuk masalah yang sama ada dua jalan lurus yang bersamaan. Pendukung demokrasi berpegang kepada satu jalan, Pendukung khilafah berada dalam jalan yang lain, tapi silahkan saja merasa bagi siapa saja, bahwa mereka berada di jalan yang lurus walau jalannya berbeda nyata. Ahmadiah, syiah, katolik, hindu, budha dsbnya juga punya perasaan berada di jalan yang lurus. Kehidupan memang seperti itu, pergulatan perjalanan perjalanan yang ditempuh manusia sampai hari kiamat.

Tetapi sesuatu yang harus kita pahami untuk masalah prinsip, tidak masuk dalam katagori beda pendapat, beda pendapat diperbolehkan dalam Islam, dalam beda prinsip tinggal masuk dalam katagori tersesat atau di jalan yang lurus. Beda pendapat hanya untuk masalah masalah yang tidak terdapat keterangan syar’iah didalamnya. Misal mau ke Bogor, ada yang pilih jalan Parung, ada yang pilih jalan tol, ada yang pilih jalan Cibinong, contoh ini dikatagorikan beda pendapat.

فَذَلِكُمُ اللهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ ، فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلاَّ الضَّلاَلُ ، فَأَنَّى تُصْرَفُونَ

Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Rabb kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran) (QS. 10:32)

Kawin mut’ah (kawin kontrak), satu kaum menyatakan halal, kaum yang lain menyatakan perzinaan, jika diperiksa Al Qur’an maupun hadistnya, terdapat hal yang menyinggung masalah ini, maka manusia harus waspada, karena ini bukan masalah beda pendapat, tapi beda prinsip, jadi tak akan ada kedua dua nya kaum itu benar, dan tak akan ada pula kedua dua kaum itu sesat, yang terjadi salah satu dari kaum itu tersesat yang lainnya berada di jalan yang lurus. Dibalik kebenaran pasti sesat, masalah demokrasi terdapat benturannya dengan Qur’an maupun hadist, jadi bukan katagori beda pendapat, tapi beda prinsip.

Masalah demokrasi tidak terdapat teksnya dalam Al Quran, tapi kita paham bahwa demokrasi adalah suatu system kenegaraan yang berpegang kepada suara terbanyak, apa kehendak orang banyak titik. Tidak ada tanda kutipnya. Dalam demokrasi tidak berbicara benar atau tidak masalah yang dihadapi, tapi suara terbanyak itu sudah “kebenaran”, paham baku dan sampai kini dipakai banyak dibanyak negara Negara termasuk Indonesia dan merupakan misinya negara adikuasa dalam menekan Negara berkembang terutama yang berbasis Islam. Demokrasi datang dari dunia barat dan bukan datang apalagi bersumber dari AlQur’an maupun As Sunnah Nabi.

ISLAM PELOPOR ZAMAN

System kenegaraan berdasar prinsip demokrasi adalah masalah baru didalam kehidupan modern sekarang ini, dimasa Rasulullah tidak ada. Sementara pilar pilar, pondasi pondasi, kerangka kerangka kehidupan bernegara telah sempurna, lengkap, bahkan dalam Islam bukan saja system kehidupan bernegara tetapi system kehidupan menyeluruh telah dinyatakan sempurna.

Peneliti dari barat menulis :”Islam is not merely a religion, but it is a complete system of life, of how to manage men and nature according to the will of Allah”

“Islam itu bukan sekedar agama seperti pemahaman kebanyakan orang, tapi suatu system kehidupan yang komplit untuk mengatur manusia sesuai kehendak Allah”.

Sekarang muncul pilar baru, pondasi baru, kehidupan bernegara, bermasyarakat, dengan wajah baru bernama demokrasi. Bisakah pendatang baru ini Islam menerimanya dan bukan pertanyaannya bisakah kaum muslimin menerimanya?. Masalah ini tidak ditanyakan kepada kaum muslimin, karena kerap kaum muslimin disebut kaum musingin, tapi pertanyaan ini ditanyakan kepada Islam, bisakah Islam menerimanya?.

Sebelum di jawab secara detail, telah ada jawaban secara umum, tidak bisa!!!, karena Islam telah sempurna sesuai pernyataan Allah dari keterangan firman Allah diatas. Muncul pertanyaan baru, dimana tidak bisanya? Padahal aliran demokrasi begitu banyak penganutnya termasuk yang katanya dari “pihak Islam” dan ummat telah begitu ke asyikan tenggelam dalam kenikmatan system demokrasi puluhan tahun, sudah hampir tak ada lagi yang mempermasalahkan bahwa demokrasi itu adalah system batil yang meyebabkan hamba Allah menjadi musyrik.

Buat apa dipermasalahkan sementara banyak ulama ulama, kiyai kiyai, ustad ustad yang berkecimpung sangat dalam, dalam system demokrasi dan bahkan sebagai pendukung sehidup semati, cukup lihat apa kata ustadnya sajalah, tidak usah didiperhatikan bagaimana Qur’an menjawab, jika ada yang bicara lain dan bukan ustad pula, bukan ulama pula, sapa pula mau dengar???.

Islam itu mulanya asing, dikenal orang, kemudian kembali menjadi asing, maka beruntunglah orang yang berada dalam keasingannya itu. Sahabat bertanya :”Siapakah mereka itu ya Rasulullah?” “Yang dinyatakan seseorang tentang Islam kepada ummat itu terasa asing ditelinga mereka” Beginilah keadaan ummat, semakin tidak mengenal apa yang mereka miliki, termasuk sebagaian besar ulamanya.

Tidak percaya bahwa “ulama” semakin tak mengenal Islam?, kita contohkan. Ketika tsunami datang dengan korban yang luar biasa banyak, ulama besar mengatakan korban tsunami mati syahid, jadi tidak mengapa korban tidak di sholatkan. Maka TV latah mengatakan mereka mati syahid. Saya pikir enak benar si fulan dan fulanah pada jam tsunami menyerbu sedang berzina, si fulan baru merampok bank, si fulan baru membunuh orang tanpa hak, tsunami menyerbu membuat mereka mati, para korban ini tersenyum, alhamdulillah saya masuk syurga, baik juga tu ulama.

PESTA DEMOKRASI PERMAINAN POKER

Keabsahan menentukan hukum hukum Allah atau memilih Presiden, anggota DPR MPR yang akan mengatur Negara ini tidak bisa tidak berdasar suara terbanyak. Inilah fakta legal demokrasi yang berlaku didunia ini, dimana saja termasuk di Indonesia.  Tidak peduli calon presidennya ulama pezina, pembantai ummat muslim di Iraq, Afghan, koruptor, cewek atau apalah. Jika si calon menang jadilah dia penguasa atas rakyat yang dikuasainya.

Bisakah kita menerima, bahkan mendukung, kemudian mempopulerkan aturan main  ini?. Artinya kalau Al Qur’an harus ditendang keluar dan dimasukan tong sampah, lantaran telah menjadi sah suara terbanyak menendang Al Qur’an, masih bisakah kita duduk duduk, bersalaman, bergaji yang sama lantaran menendang  Al Qur’an keluar arena telah menjadi absah?. Manjadi di sahkan, menjadi di halal kan, menjadi di legal kan?

Keabsahan itu berdasar persetujuan yang telah disepakati, karena nafas demokrasi memang demikian. Jadi sesuatu yang bisa merugikan itu para sang demokrat pasti ikhlasnya atau ridhonya kalau qur’an harus ditendang dari arena, masuk tong sampah. Tidak ada orang yang memakan gaji dan berbagai fasilitas lain menyatakan tidak ikhlas, kehadiran dan menerima segala macam services itu tanda ridho tanda ikhlas terhadap aturan yang mengerikan itu. Perjudian yang membuat ummat menjadi musyrik, kaum demokrasi malah menerimanya.

Para demokrat mengatakan bahwa demokrasi itu cuma muamalah, jadi tak bermasalah dengan aturan main itu. Tak bertentangan dengan Islam. Disinilah tampak lemahnya pemahaman mereka terhadap pokok pokok ajaran Islam. Permainan poker juga masalah keduniaan, bagi yang menang silahkan dengungkan ayat ayat Allah, silahkan tegakkan ayat ayat Allah, tapi kalau anda kalah, anda harus mau buka baju sampai bugil, inikan suatu permaianan yang kalian sudah tahu konsekwensinya. Kesimpulannya jika anda kalah, anda berarti ikhlas qur’an di tendang ke tong sampah dan anda menganggap ini permainan fair.

Dalam Islam penjelasan istilah “itu khan cuma muamalah” lebih tegas lagi, bahwa  dasar segala urusan dunia termasuk muamalah dasar hukumnya semua boleh boleh saja, halal, sah, absah. Sex bebas, dasar hukumnya boleh, silakan kalau ulama suu’ ngebet mau ke hotel Milenium, minum vodka, makan marus, makan daging babi dasar hukumnya boleh saja, tetapi semua yang berdasar hukum boleh menjadi haram jika ada tulisan dari Al Qur’an atau Hadist yang melarangnya. Kita periksa, ternyata makan daging babi, sex bebas, kawin mut’ah, makan marus dsbnya itu jatuh hukumnya haram, sebab ada teks dari qur’an dan hadist yang  mengharamkannya.

Sesuatu perbuatan dinyatakan haram, jika sudah ada tulisan tegas (mirip dalam masalah yg dihadapi) yang mengharamkannya dari qur’an atau hadist, jika tidak ada keterangan yang mengharamkannya, atau jauh tungku dari api, kembali keperkara asal, segala perkara dunia, urusan dunia dasar hukumnya boleh boleh saja.

Pesta demokrasi, berpegang kepada suara terbanyak, tanpa tanda kutip lagi, tapi titik dan memang sudah kita sama sama tahu bahwa demokrasi dengan pengertian yang kita pahami sekarang memang demikian, tinggal kita periksa pokok pokok prinsip ajaran Islam, ternyata Allah SWT mengharamkan berpegang kepada suara terbanyak. Kita kaji ayat dibawah ini:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِى اْلأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللهِ ، إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَ إِنْ هُمْ إِلاَّ يَخْرُصُونَ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 6:116)

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ

Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman – walaupun kamu (Muhammad SAW) sangat menginginkannya (QS. 12:103)

Pasti sesatnya suara terbanyak itu, Allah SWT menfirmankan tanpa pengecualian, begitupun keterangan dari hadist tak ada pengecualiannya terhadap pernyataan Allah tersebut. misal kecuali mereka yang banyak itu sudah di kader ke Islamannya, tidak ada keterangan ditentang itu, baik dari Allah maupun dari Rasulullah, padahal ayat Qur’an tak akan pernah berubah sampai kapanpun. Andaikan semua orang telah terbina ke Islamannya, malah kita patut curiga, Al Qur’an ini benar tidak sih, kok bilang pasti kebanyakan manusia itu sesat, nyatanya sensus penduduk manusia beriman semua, gimana sih qur’an kok pernyataannya bolak balik.

Islam intinya tidak boleh mengabsahkan segala kebijakan, mengabsahkan segala keputusan atas suara terbanyak titik, tidak ada cerita, tidak ada kompromi dalam masalah ini. Karena ayat tersebut begitu jelas tanpa menjelaskan lagi berapa banyak jumlah suara yang di maksud. Jangan seperti kaum Yahudi bertanya terus sapinya warna apa, kelaminnya apa dst, akhirnya keleweran mencari sapi yang dimaksud susah amat. Tetapi segala keputusan, segala kebijakan menjadi absah jika dan hanya jika tidak bertentangan dengan prinsip prinsip Islam kalaupun pendukung keabsahan itu sedikit, apalagi banyak.

Pahamkah? dengan demikian otomatis prinsip prinsip Islam akan tegak terus. Kalimah Allah kesudahannya selalu diatas kalimah manusia. Bicara ke Bogor mau tamasya dari Jakarta dimusyawarahkan, ada yang mau  jalan Cibinong, ada yang mau jalan Parung, ada yang mau jalan Tol, ini bukan masalah syar’i,  diputuskan oleh pimpinan melalui jalan Tol, absah walau peminatnya sedikit, tapi mungkin sang pemimpin  tidak disukai peserta musyawarah. absah pula walau peminatnya banyak, dan ini mungkin sang pimpinan akan disukai peserta musyawarah.

Mau berzina bersama ke daerah pelacuran di Bogor, mereka bermusyawarah, mau melalui jalan tol, Parung, Cibinong?, mengambil keputusan dari jumlah yang sedikit tidak absah, apalagi dari jumlah yang banyak. Tetapi dalam system demokrasi, jika yang menyatakan banyak setuju yaa, maka perzinaan di Bogor telah menjadi absah. Tidak pandang Kalimah Allah melarangnya atau tidak. Itulah aturan permainan poker system demokrasi.

Saat pemilihan presiden, wakil dan anggota DPR MPR, (orang orang yang bakal menentukan kebijakan dikemudian hari) ditentukan ke absahannya oleh rakyat titik. Maka inti masalah kita persempit lagi, sebelum presiden ada maka kekuasaan dalam genggaman rakyat. Padahal dalam Islam kekuasaan itu ditangan Allah, bukan ditangan rakyat, manusia hanya menjalankan, mengaplikasikan kekuasaan Allah.

Sekarang kita melirik ke rakyat, jika kita sebut rakyat, rakyat itu ber arti kumpulan banyak manusia, karena Allah mengatakan kebanyak manusia pasti sesatnya, berarti dan pasti kita berhadapan dengan kumpulan orang orang yang sesat, dalam Islam satu dua orang yang saleh tidak dihitung dalam sekumpulan orang banyak, dianggap tidak ada. Dalam system demokrasi berarti tinggal Allah SWT berhadapan dengan sekumpulan orang sesat. Allah SWT disatu sisi, yang kehendakNya supaya dijalankan manusia, orang orang sesat disisi lain yang juga punya mau.

Allah SWT punya mau supaya hukum Allah tegak disatu sisi, rakyat juga punya mau disisi yang lain. Maka rakyat telah menjadi saingan Allah, atau sekutu Allah. Jika rakyat ternyata tidak mau apa maunya Allah, maka Allah SWT kalah. Silahkan Allah “gigit jari”. Maka rakyat telah menjadi TUHAN, karena bisa menolak apa mau nya Allah. Karena posisinya di sejajarkan bersama Allah secara resmi oleh kaum demokrat.

وَقَالَ اللهُ لاَ تَتَّخِذُوا إِلَهَيْنِ اثْنَيْنِ ، إِنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ ، فَإِيَّاىَ فَارْهَبُونِ

Allah berfirman: “Janganlah kamu menyembah dua ilah; sesungguhnya Dialah Rabb Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada Aku saja kamu takut”. (QS. 16:51)

Kejadian ini jelas kemusyrikan tulen. Para demokrat bergantung kepada Allah bergantung pula  pada apa maunya rakyat untuk tegaknya hukum Allah, suara rakyat suara tuhan (Volks Populi Volks Dei), itu benar sekali karena rakyat memang telah menjadi tuhan. Menjadi pesaing Allah. Ada yang memberi komentar, inikan hanya permaian demokrasi?, benar anda bahkan akan mengatakan bahwa rakyat hanya memilih wakilnya dan bukan bersaing langsung dengan Allah, bukan begitu?.

Kita ambil lagi contoh konkrit, supaya semakin jelas. Cukup banyak nurani manusia meringis atas kekejaman penguasa Negara adi daya di Iraq, Afghan dst, sepatutnya orang seperti itu tidak terpilih lagi, karena kekejamannya terhadap peradaban. Ternyata logika sehat tertelungkup, Monster yang merampok dan membunuh manusia dibanyak anak benua terpilih lagi. Jadi kita tidak bisa mengatakan, rakyat hanya memilih wakil atau kepala Negara, tapi yang terjadi faktanya Allah bersaing dengan Rakyat. Allah berkehendak, rakyat berkehendak, kehendak rakyat yang di absahkan para demokrat ini dalam system demokrasi untuk menentukan bagaimana bagaimananya nasib kalimah Allah, merupakan perbuatan mempersekutukan Allah.

Mungkin masih ada lagi yang masih panasaran membela diri, jangan main tuduh musyrik dulu dong, bagaimana jika rakyat (kumpulan orang orang sesat) berkehendak menuruti kehendak Allah dalam system demokrasi, sebagai mana Rasulullah yang menerapkan hukum hukum Allah. Dijawab, misi manusia, atau bisa juga saya katakan “rakyat” adalah sebagai khalifah Allah, khalifah dalam system kenegaraan sekuler, persis perannya seperti duta besar. Duta besar dalam aplikasi kenegaraan sekuler tinggal menjalankan apa maunya presiden, jadi duta besar tidak pernah lagi sampai kapanpun di beri wewenang, punya wewenang masuk dalam wewenang ke presidenan.

Itu wilayah yang amat terlarang, khalifah Allah tidak akan pernah sampai kapanpun masuk dalam kekuasaan Allah, misal merancang hukum tandingan Allah, menetapkan “kita pakai tidak ni ya hukum hukum Allah”, sama sekali itu bukan wilayah wewenang khalifah, sama seperti duta besar yang haram masuk dalam wilayah kekuasaan presiden.

إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلَّهِ ، يَقُصُّ الْحَقَّ ، وَهُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِينَ

Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik. (QS. 6:57)

أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَ اْلأَمْرُ ، تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam. (QS. 7:54)

إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ  لِلَّهِ ، عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ، وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ

. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakal berserah diri”. (QS. 12:67)

Dalam system demokrasi ternyata rakyat bisa berperan sebagai tandingan Allah, memang bisa tidak, jika rakyat berkehendak hukum Allah tegak, tapi pada saat rakyat, atau suara terbanyak sebagai tandingan Allah, siapa yang bertanggung jawab?, tentunya mereka mereka yang menyetujui system demokrasi ditegakkan., dan mereka yang setuju system demokrasi ini disebut kaum musyrikin. Kalau cuma masih bodo saja, zalim atau fasik, tapi jika sudah diberi tahu, tapi bondo nekat, kafir tulen, munafikin tulen.

Belum lagi jika membahas kata rakyat, apa pernah ada contoh sejarahnya system demokrasi memunculkan khilafah?, rakyat yang nota bene artinya kumpulan manusia manusia sesat, mau berhukum kepada hukum Allah? Seperti pertanyaan orang yang membela diri tadi, ntar dulu jangan bilang musyrik dulu, bagaimana jika rakyat berkehendak hukum hukum Allah tegak?, seperti di Aljazair, kok pertanyaan ini terasa memunculkan kebodohan, apa tidak percaya kepada Allah, bahwa kebanyakan manusia (rakyat) pasti sesat, karena menyesatkanmu.

Kita ringkas kesalahan fatal kaum demokrat yang menyebabkan mereka menjadi musyrik.

  1. Kenapa setuju kepada aturan permainan yang menyebabkan rakyat sebagai penentu hukum Allah, padahal rakyat itu adalah kebanyakan manusia yang menyesatkan, rakyat identik dengan kesesatan, maka tidak akan menemukan yang di harap dengan mengandalkan suara terbanyak. Seperti menemukan fatamorgana, sampai kapanpun diburu, akhirnya yang akan ditemukan kekecewaan selalu, karena airnya tak akan pernah didapat. Apa masih mau menentang ayat ayat Allah tentang suara terbanyak?.
  2. Karena di absahkan aturan main yang berbahaya itu, maka para demokrat juga bertanggung jawab atas setiap bertambahnya manusia yang tersesat ke jalan demokrasi. Ingat bagaimana Yesus yang semula hamba Allah kemudian menjadi Tuhan dalam sidang Konsili Nicea, lantaran kesepakatan Yesus menjadi Tuhan, membludaklah manusia yang tersesat. Paham demokrasi juga membuat kaum muslimin terseret seret menuju neraka Allah?, siapa yang bertanggung jawab? Mereka yang duduk di MPR DPR dan para pencintanya.

Syeitan memang ahli menipu, dengan sedikit kalimat “kehidupan yang kekal jika makan buah quldi”, Nabi Adam AS, tertipu, hanya dengan se dikit kata kata “demokrasi” telah ratusan juta manusia tergiring menuju neraka, sangat mengagumkan tipuan syeitan. Sampai sampai ulama ulamanya juga tertipu.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ ، فَلاَ تَغُرَّنَّكُمُ الْحَباَةُ الدُّنْيَا ، وَلاَ يَغُرَّنَّكُمْ بِاللهِ الْغَرُورُ

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. (QS. 35:5)

MENINJAU PERJUANGAN RASULULLAH SAW.

Belum apa apa sudah kepincut kepada kekuasaan, akhirnya berpegang pada konsep dari pada dari pada. Dan bukan berpegang kepada benar atau tidaknya langkah perjuangan mereka menurut Qur’an Sunnah. Jika berpegang kepada kebenaran maka ukurannya AlQur’an dan AsSunnah, karena kebenaran datang dari Allah.

اَلْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ ، فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ اْلمُمْتَرِينَ

Kebenaran itu adalah dari Rabb-mu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (al-Baqarah; 2:147)

Berpegang kepada dari pada dari pada, terjatuh kepada permainan menghalalkan segala cara (Machiavelli), dari pada tidak dapat dokumen penting musuh, terpaksa kita korbankan istri seseorang anu untuk ditiduri musuh. Masjid atau yayasan yang tidak ada sejarahnya dalam penguasaan partai, langsung dipasang plank partai mana kala satu dua pengurusnya masuk partai tersebut. Dan ustad ustad yang tidak mendukung partai langsung coret dari daftar pengkutbah yang sebelumnya rutin mengisi kutbah di Masjid tersebut. Kebijakan tersebut menyuburkan permusuhan dikalangan ”para ustad”

Ini repotnya jika berkonsep kepada dari pada dari pada dan bukan berpegang kepada benar atau tidak? Mungkin para dai demokrat ini merasa karena mereka orang orang yang berilmu sangat dalam tentang Islam berfikir, nanti dari dalam gedung MPR/DPR bisa kita dakwahkan mereka, begitu kata hati nurani mereka sampai-sampai mereka memproklamasikan diri sebagai dai-dai di legislatif. Betapa mulianya proklamasi para dai itu.

Rasulullah saja tidak bisa memberi hidayah kepada pamannya yang kafir, kok jadi bingung ya kita, apa bisa dai, ulama yang setuju konsep permainan poker mampu mencerahkan kalam illahi kepada manusia di majelis yang serba berpedoman kepada suara terbanyak?.

Bukankah yang telah terjadi dai di parlemen telah ikut, setuju, millah yahudi tersebut. Masuk sarang biawaknya Yahudi dan Nasrani, dan para dai merasa nyaman didalamnya, pakai AC, pakai Jas dan dasi, Fulus 15 jt/bln, rumah di Kalibata, mobil cakep dan baru, belum lagi kehormatan diri yang meningkat karena banyak yang bilang wah, si Entong hebat ya sekarang.

Sebenarnya fasilitas yang wah ini, jika di tinjau ciri ciri hamba Allah yang berjuang di zaman Rasulullah sangat lah berbeda, di masa Rasulullah pejuang Islam itu penuh derita dengan segala macam cobaan, sampai-sampai para pejuang itu berkata, kapankah pertolongan Allah datang, Allah SWT pun langsung merespon, sesungguhnya pertolongan AKU dekat.

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللهِ أَلآ إِنَّ نَصْرَ اللهِ قَرِيبٌ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya:”Bilakah datangnya pertolongan Allah”. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (al-Baqarah;  2:214)

Aku merasa pilu membaca ayat tersebut, 3 tahun di boikot makanan, dijemur terik matahari, tubuh yang di tarik kuda sehingga terbelah dua, ada pula yang di cemplung kuali besar mendidih, di Afghan, di Iraq, di Palestina, keluarga keluarga yang harus kehilangan anak, kehilangan istri, kehilangan ayah, harta benda, pekerjaan, karena setiap hari hujan bom meluluh lantakkan tanah kelahiran mereka, tapi mereka tetap gigih di medan juang, tapi pejuang di Indonesia, dapat 15 jt/bln karena ho oh terima system kufar, rumah keren, mobil keren, nama kesohor, tapi perasaannya pejuang juga. Perbedaan ini yang yang seharusnya menimbulkan pertanyaan balik, benarkah aku berjuang dengan pijakan milah Yahudi ini?

Jadi mau mendakwahkan siapa?, bukankah orang orang yang masuk di MPR dan DPR adalah orang orang yang sudah mantap “ketaqwaan” pesanan partainya?. Masuk kegedung dengan misi yang jelas pesanan partai, kalau mbalelo dari partai pasti di recall, kok dai di parlemen begitu semangat yaa. Mau mencerahkan sarang biawak?. Tapi masuk sarang biawak. Sudah kena penyakit wahan yaa. Apa jumlah mereka sedikit ya Rasulullah. wow jumlah mereka banyak memerahkan Jakarta, tapi seperti buih dilaut. Kenapa bisa begitu?, biasalah cinta dunia takut mati, jadi apa apa diukur dari fulus dan bukan kebenaran Al Qur’an. Tuhan mereka fulus.

Rasulullah SAW menolak tawaran manis duduk dalam kabinet mereka, walau Rasulullah di nobatkan jadi presiden. Golqur (golongan Quraisy) dimasa lalu juga cerdas cerdas dalam upaya menjebak Rasulullah dengan konsep KOMPROMI. Datang utusan golqur, kami tawarkan engkau Muhammad Tahta, siapa tahu engkau katakan demokrasi tidak benar ini lantaran mau jadi presiden atau mau jadi anggota DPR. Kami tawarkan pula harta, bilang saja engkau kepingin kaya, engga usah iri lah pada posisi kami yang telah terhormat ini, atau wanita, mungkin mau wanita secantik istri Abu Lahab?, kami carikan, yang penting hentikan provokasi antum bilang demokrasi tidak betul, duh maaf ni cerita kok terpeleset terus.

Tawaran sangat manis tersebut di tolak secara halus, yang terjadi bukan Rasulullah ditarik menerima kompromi mereka, malah sang utusan golqur tersebut menyatakan ke Islamannya dihadapan Rasulullah.

Golqur tak jera jera merayu dengan KOMPROMI, memang benar kata pepatah anak-anak kampus, “Tiada kata jera dalam perjuangan” berdasar petuah anak kampus tersebut Golqur kirim lagi utusan, soalnya mereka melihat Rasulullah dan pengikut Rasulullah semakin kuat dan mantap. Rasulullah ditawarkan konsep sharing, jadi jangan kita mengira sharing itu untuk zaman kini saja. Tentunya kalau sharing harus merger dulu.

Bergantian ikut majelis, berbagi rasa dan saling pengertian, hebat sekali konsepnya, sekali waktu Rasulullah diundang dalam acara ritual latta uzza mereka dan diwaktu lain mereka menerima undangan Rasulullah untuk mendengar kutbah kutbah Rasulullah. Mungkin semula Rasulullah mengira pada saat mereka ikut majelis Rasulullah, mereka akan mendengar ayat ayat Allah, lantas dapat hidayah, lantas masuk Islam. Tapi atas petunjuk Allah, Rasulullah menolaknya. Bayangkan konsep semua agama sama telah diterapkan pada zaman Rasulullah sehingga banyak tokoh “Islam” yang bernatalan bersama di Balai Sidang, dan Rasulullah diminta menghadiri “natalan” bersamanya itu. Kejadian ini di abadikan dalam Al Qur’an sbb:

وَإِنْ كَادُوا لِيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِى أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ لِتَفْتَرِىَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ ، وَإِذًا لاَتَّخَذُوكَ خَلِيلاً

Dan sesungguhnya mereka hampir mamalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. (QS. 17:73)

وَلَوْلاَ أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلاً

Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka. (QS. 17:74)

إِذًا لأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لاَ تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيرًا

kalau terjadi demikian, benar-benarlah, Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami. (QS. 17:75)

Kalau Rasulullah terima kompromi itu, dua kali siksaannya, tapi kita yang mengaku muslimin ini jika terima konsep kompromi itu, cukup satu tingkat siksaannya di bawah Rasulullah, masuk neraka dengan tingkat siksaan satu kelas dibawah Raslullah jika terima kompromi tidak terlalu berat kok. Kecil…

Kalau di kaji kita jadi kerap bingung, gedung MPR DPR itu tempatnya orang berjuang atau kantor umum bisnis suara PT. MPR DPR. Kalau kantor umum, boleh  boleh saja campur aduk dari berbagai agama, tak ada yang larang asal tak bekerja yang merugikan Islam. Tapi kalau tempat wadah kaum muslimin berjuang, sang dai mau bicara apa? Mau bilang mari saudara saudara lantaran koruptor itu merugikan Negara, kita tetapkan hukum potong tangan, bicara di hadapan Yahudi, Nasrani, Hindu, Budha, Katolik, Kristen, ah mengapa lemah sekali pijakannya.

Rasulullah berjuang di sepanjang hidupnya memperjuangkan nilai perjuangannya, buktinya Rasulullah sebagai Presiden tidak punya gunung, tanah luas, ranch, emas pun nol tidak diwarisi anak istri beliau. Tingkatan presiden lho, Rasulullah tidak melakukan pembenaran diri, kemudian menjadi kaya karena mengambil kesempatan dari kesempitan, mumpung orang belum tau demokrasi itu apa. Apa yang terjadi bagi yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, harta yang banyak iman yang mabur. Betapa besar pengorbanan itu, padahal jika kita mati, kemudian masuk neraka, ternyata mercy baby, rumah, ranch, yang kita kumpul kumpulkan itu hakikatnya cuma sampah, kenapa sampah? Karena benda benda itu tak bisa menolong keselamatan kita dari neraka Allah. Karena tak bisa menolong ber arti sampahlah barang barang itu.

BAGAIMANA DENGAN NABI YUSUF AS?

Nabi Yusuf as. menerima jabatan bendahara pada pemerintahan kerajaan di waktu itu. Masalah ini kerap dipakai sebagai  alasan pembenaran aliran demokrasi atas apa yang telah mereka lakukan di Majelis MPR/DPR. Jika Rasulullah tolak jabatan, tetapi nabi Yusuf menerima, jadi karena nabi Yusuf menerima, tidak jadi apa sebagai anggota MPR DPR, tanpa orang orang partai ini mau mengkaji lebih jauh masalah apa yang sebenar benarnya dihadapi secara hukum Islam.

Perlu diketahui pertama, bahwa pedoman kita setelah Al Qur’an adalah Sunnah Rasulullah dan bukan sunnah nabi nabi selain Rasulullah. Kedua, jabatan Nabi Yusuf adalah pemberian,  tidak melalui suatu proses dimana Nabi Yusuf akan melanggar larangan atau warning dari Allah SWT. Kalau bakal melanggar larangan Allah tetap saja tidak dibenarkan. Anggota DPR/MPR mendapat jabatannya melalui proses panjang dan terdapat pelanggaran atau pengabaian warning dari Allah SWT, menerima konsep millah Yahudi, belum lagi pelanggaran pelanggaran lain.

Ketiga, Nabi Yusuf tidak pernah menjual akidahnya dengan menerima konsep konsep keagamaan kafir. Nabi Yusuf seorang bendaharawan hebat yang di pakai Raja kafir. Jika anda bekerja di perusahaan selular, bisnis selular Motorola yang nota bene punya Yahudi, apakah anda akan mengatakan bekerja di Motorola Haram?. Jawabnya dengan berupa pertanyaan lagi, pernahkah anda menanda tangani konsep konsep yang bertentangan dengan Islam dalam bidang pekerjaan anda, misal tugas anda sebagai drafter yang cuma menggambar handphone dengan Autocad?, tetapi disuruh mengerjakan sesuatu yang bertentangan dengan Islam diluar itu, jika tidak, anda bisa bekerja seperti Nabi Yusuf.

Lebih jelasnya, jika mau berjuang masuk dalam system Islam, jangan nempel di system kufar, kalau cuma mau cari nafkah buat makan anak istri, mau kerja dikantor, boleh boleh saja kerja di Nokia, Motorola, tapi hati hati, yang dikerjakan itu apa, jika harus nyerempet yang dimurkai Allah, tinggalkan. Mengundurkan diri sajalah, memangnya rahmat Allah kehabisan?. Karena itu setiap hamba Allah yang mau beraktivitas dimana saja harus selalu meninjau ada bahaya nya atau tidak di bidang pekerjaannya terhadap akhiratnya, jika ada tinggalkan, jika aman silahkan jalan terus, jangan bermental pak turut hanya lantas lihat ustadnya lantas perasaannya langsung aman.

Harus selalu diingat dalam kita bertindak MOA. MOA adalah Motivasi, Orientasi dan Aplikasi manusia. Dalam Islam sangat berkait-kait dan tidak bisa dilepas antara Motivasi (dorongan, niat), Orientasi (tujuan) dan Aplikasi (cara). Dorongan, niat karena Allah, tujuan agar negeri Indonesia aman makmur dan tegaknya hukum hukum Allah, tapi cara yang dipakai menghalalkan segala cara, wah ini berabe. Cara pun harus memakai cara Islam. Jika Motivasi, Orientasi dan Aplikasi telah bersesuaian dengan prinsip prinsip Islam, hukum hukum Islam, barulah perbuatan manusia itu di nilai ibadah. Di jamin masuk syurganya jika MOA nya sesuai Islam.

Didalam kehidupan ini kerap aneh, ada orang yang aplikasinya, perilakunya cocok dengan ajaran atau prinsip prinsip Islam,  tapi Motivasinya bukan karena Allah, mereka penyembah matahari tulen. Atau penyembah “anak Tuhan” seperti Ibu Theresia. Siapa yang mau bantah ibu Theresia tidak baik bagi kaum miskin di India?. Ada yang Motivasi dan Orientasinya karena Allah dan katanya untuk perjuangan Islam, tapi aplikasinya menghalalkan segala cara, main bunuh sembarangan orang, tidak dalam situasi dan kondisi membunuh itu bisa diterima akal sehat atau syar’i. Factor keikhlasan orang orang yang di bantai tidak di hiraukan oleh para pembunuh.

Jadi jika mau membunuhpun harus melihat dulu Qur’an sunnahnya, jangan main bablas, karena satu jiwa yang di bunuh secara serampangan berharga seluruh manusia yang hidup dimuka bumi ini. Itu dosa yang kelewat besar. Lain di Indonesia, lain lagi di Iraq, Afghan atau Palestina, disana bercokol penjajah yang merampok minyak dengan antek anteknya, berarti si antek atau si penjajah adalah orang orang yang sudah ikhlas untuk menerima segala konsekwensi kehadirannya di negeri Iraq. Mereka sudah maklum dan menerima jika harus mati terkapar di jalan jalan.

Akibatnya sering salah menerapkan hukum Islam, orang orang yang saleh malah di tuding teroris, padahal ajaran Islam sangat cocok kepada fitrah manusia dimanapun manusia itu berada. Lantaran orang Islam banyak yang tak paham terhadap apa yang dibawa Rasulullah dan sahabatnya, akhirnya lebih mencuat nilai negatipnya, padahal munculnya negatip itu bukan lantaran ajarannya tapi orangnya. Yang sangat berbahaya adalah kalau ajarannya yang sesat keliru, bagaimana penganutnya?. Kalau ajarannya sudah keliru, atau sesat, apa yang bisa diharap dari ajaran sesat untuk kemanusiaan?.

SISI BURUK LAIN DEMOKRASI

Berapa triliun habis uang amanah Allah dan kaum muslimin, untuk pemilihan caleg, capres satu, capres dua, ummat lagi sangat melaratnya, tapi uang di hambur hamburkan untuk bikin poster segede gede gajah, kaus oblong, dsbnya.

Begitu juga dari partai partai keluar uang untuk pesta pora itu dengan jumlah yang tidak sedikit. Ada yang korban kan mobilnya, ada yang sawahnya, ada tanahnya dengan nilai ratusan juta sampai milyard an, supaya lolos di terima jadi caleg,  memang ada yang hasil, perjudiannya kena, gembira seperti baru dapat undian, tapi tak sedikit yang gagal, apes tidak terpilih, ratusan juta melayang, langsung cekak lantaran permainan pokernya gagal.

Apakah ada nilai dari permainan yang penuh dengan pemborosan ini?, apakah kira kira Islam mengajarkan permainan yang memang itu biasa terjadi di kalangan kafir?. Rasulullah melarang  manusia tonjol tonjolkan diri, agar dipilih jadi pemimpin, tetapi aliran demokrasi pasang diri, memunculkan ribuan gelar yang disandang agar terkesan keren dan angker, larangan dari Rasulullah dianggap sepi.

Ulama A lawan ulama B, ustad A lawan Ustad B, wajah posternya di buat segede gajah, anak orok yang baru lahirpun tak bakal lupa pada tu wajah yang posternya segede gajah. Mereka tak mampu lagi berfikir, ini ria apa tidak sih, Ini apa apaan sih, ustadzah A lawan ustadzah B, pakai jilbab agar terkesan orang beriman, tapi saling menjatuhkan.

Seorang pemimpin atau calon pemimpin, mengeluarkan fulus dari koceknya dari jutaan sampai milyard atau triliun dalam setiap muncul pesta demokrasi agar terpilih lagi, apakah kira kira perbuatan ini cocok dengan nafas Islam?. Kalau dia sukses, dengan berbagai cara, menghalalkan segala cara, dia sedapat dapatnya akan rebut lagi biaya yang telah ia keluar itu. Proyek proyek besar keluarganya yang pegang, mengulangi sejarah nenek moyangnya di negeri ini, aparat pemerintahan sampai cucu cicitnya kaya lantaran keahlian mempermainkan uang amanah Allah dan kaum muslimin. Bagi yang kalah berjudi, siap siap menuju kebangkrutan.

Calon atau pemimpin yang benar tidak boleh keluar seperserpun fulus untuk promosi dirinya, dia tidak mencari jabatan tapi dia di cari untuk jabatan lantaran ummat tahu ketaqwaannya dan prestasinya yang brilian, benar, lurus untuk ummat manusia. Kalaulah yang terjadi sebaliknya, bagaimana mungkin muncul  keimanan dan ketaqwaan dari permainan kotor?.

PERPECAHAN UMMAT AKIBAT IKUT JALAN LAIN

Meninjau ayat dibawah, ternyata timbulnya perpecahan dikalangan ummat, jika ada yang sudah mengikuti jalan selain jalan yang ditempuh Rasulullah dan para sahabat nya.

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِى مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ، وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ، ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa. (QS. 6:153)

Jalan menuju Allah hanya satu jalan. Jadi tidak usah saling menyalahkan atau merasa paling benar, check and re check saja diri kita, jama’ah kita, kita ini ikuti jalan lain (milah Yahudi) atau tidak, jika ya, nah kitalah si biang keladi perpecahan di kalangan kaum Muslimin. Gampang saja cara mengujinya.

ASHABIYAH ITU MUSYRIK

Islam samudra luas, dengan system demokrasi ciptaan pemikir-pemikir barat ummat dimasukan dalam aquarium aquarium, maka munculah partai serupa Islam ini, partai serupa Islam itu, masing masing partai katanya berjuang untuk Islam, tapi emoh bersatu. Namanya juga ashabiyah. Masing masing bangga pada kehebatan partainya, sampai sampai dari celana dalam, kaos kaki sampai topi berlambang partai, di bawa ke Masjid, di bawa ke kantor, tidak peduli ada orang selain partainya yang di Masjid itu, atau di kantor itu, yang belum tentu suka dengan atribut atribut ashabiyah itu.

مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَلاَ تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertaqwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, (QS. 30:31)

مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِيْنَهُمْ كَانُوا شِيَعًا ، كُلُّ جِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (QS. 30:32)

Bangga itu boleh, bahkan harus, tapi bangga itu hanya kepada Allah dan Rasul Allah, bukan kepada partai, apalagi kepada atribut partai. Bangga aku sebagai hamba Allah yang mu’min, betapa sedih jika aku dalam kekafiran. Bangga aku menjadi pengikut setia Rasulullah, aku bukan pembuat ajaran baru, atau pengikut ajaran baru,  aku bukan pengikut ajaran demokrasi, tapi pengikut setia Rasulullah. Ini bangga yang di bolehkan dan bahkan di haruskan.

Ini yang terjadi semua atribut partai ditempel, dipasang dirumahnya, tapi tidak mau pasang atribut partai serupa Islam lainnya yang juga katanya memperjuangkan Islam, jadi kapan ya mau bersatu partai aliran demokrasi serupa Islam A dengan partai aliran demokrasi serupa Islam B? Kalau masing masing partai fanatik (ashabiyah) pada atributnya saja begitu rupa, kapan mau bersatunya?. Mau pakai ayat Allah yang mempersatukan ya?, ayat tersebut tak akan ketemu untuk orang orang partai. Ayat itu hanya untuk hamba Allah yang tidak memakai jalan lain selain jalan yang ditempuh Rasulullah dan para sahabatnya.

Bersatu adalah perintah wajib bagi kaum muslimin yang sangat tidak boleh di abaikan para pemuka pemuka agama, tokoh tokoh agama, karena di pundak nyalah persatuan itu bisa terwujud. Jama’ah sih tinggal OK saja jika persatuan itu terwujud, tapi kita lihat apa mereka para tokoh tokoh tersebut pada peduli atas perintah wajib dari Allah tersebut?,  yang terjadi malah memper kekeh ashabiyahannya, jadi bersatu bagi orang partai adalah omong kosong.

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا ، وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ، كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهِ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. 3:103)

Maka semakin terkuaklah penyebab kebobrokan kita kaum muslimin dimana saja, ternyata kebobrokan itu muncul dari diri kita sendiri, kita di suguhi kue demokrasi yang tampak begitu manis, begitu indah langsung telan tanpa mau di periksa dulu ada bahan bahan yang haram atau tidak pada kue tersebut. Kita disuguhi kue pancasila,  juga langsung santap tanpa mau berfikir, tanpa mau merenung, tanpa mau mengkaji qur’an haram atau tidak kue itu, mirip kue Islam nikh, ternyata bukan kue Islam. Begitulah penguasa dan ulama suu’nya berlomba lomba mengeluarkan ummat dari jalan Allah, sunnah Rasulullah.

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهَا الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ، وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya. dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali. (QS. 4:115)

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ، وَلاَ تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ، وَلاَ تُطِعْ مِنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. 18:28)

فَلاَ تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيراً

Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan al-Qur’an dengan jihad yang besar. (QS. 25:52)

MEMBINA BUKAN MEMBURU

Akan capek, letih, lelah dan yang juga tidak kepalang uang jutaan sampai milyaran, bahkan sampai triliunan di hambur hamburkan untuk memburu suara, baik itu dari pemerintah maupun dari partai. Anehnya pada saat seperti itu, semua memaklumi. Jadi ikhlas dalam membenarkan. Ada yang pinjam sana sini dengan janji jika menang kelak di bayar, ada yang palak sana sini, jika tidak mau sumbang dana, bisnisnya akan di ganggu, ada yang bilang ini jihad ini jihad, maka jama’ah yang taklid buta menyerahkan sepuluh persen penghasilannya tiap bulan, ada yang korbankan mobilnya, rumahnya, tanahnya dsbnya. Padahal uang yang digunakan itu, untuk poster, kaos oblong, untuk biaya promosi ria yang intinya untuk memburu suara dan bukan untuk membantu kaum dhuafa yang bergeletakan di sana sini..

Cobalah jika semua uang mubazir itu dikumpulkan, betapa banyak kaum miskin akan tertolong dengan memberi mereka modal, menghidupkan lahan lahan potensi tapi belum di garap, membantu pendidikan anak sekolah yang miskin, memberikan mesin jahit dan bahan bahan pakaian untuk di bisniskan kepada pelacur yang mau tobat dan berusaha halal, dan pasti banyak lagi kaum miskin tertolong dengan uang mubazir itu.

Anehnya seorang capres, caleg, aktivis partai mampu keluarkan jutaan, ratusan juta, milyard bahkan sampai triliunan, agar ia terpilih, tapi untuk orang miskin, tidak pernah dia berikan infaq sebesar itu, supaya orang miskin itu mampu berdiri sendiri. Paling tidak seribu dua ribu perak untuk si miskin, sang caleg, sang capres, sudah merasa fiesabilillah. Ini keanehan yang memang kenyataan.

Andaikan calon presiden A, untuk pencalonan dirinya dia keluarkan uang koceknya 1 M, mau tidak dia bilang, wahai ummat, saya sadar, saya tidak perlu bersaing untuk jadi presiden, 1 M ini saya infakkan untuk kaum miskin, saya mundur jadi capres, uang yang semula untuk kampanye untuk kaum dhuafa sajalah. Sayangnya belum ada contoh satupun dan dari partai manapun yang melakukan itu. Artinya dana untuk kebesaran diri dan hura hura ada, tapi untuk sesuatu yang bernilai disisi Allah, pasti bernilainya, nanti dulu, itu sudah ada pos posnya, untuk kaum dhuafa cukup dua, tiga ribu rupiah, yang penting sudah memberi dan tampak memberi.

Apa tidak letih memburu suara?, ciri khilafah walau cuma 300 orang mampu kalahkan 1000 orang, dimana istimewanya?. Yang seribu orang dipimpin satu orang, sang peminpin 1000 orang ini mati, pasukan berantakan. Kalau khilafah, 1 orang mati, masih ada 299 pemimpin, karena ke tiga ratus orang itu adalah khalifah Allah semua, orang orang yang berkwalitas, mereka terbina dengan baik ke Islamannya. Jadi tidak berpengaruh kematian seseorang walau yang mati itu pemimpin.

Jadi mengapa harus memburu suara?, jika dipadukan kepada ayat Allah juga tidak akan bertemu. Allah sudah katakan kebanyakan manusia tidak mau beriman, dan jangan ikuti kebanyakan manusia, karena kebanyakan manusia pasti sesatnya, lantas mengapa harus memburu kebanyakan orang?.

Kemenangan Islam tidak ditentukan atas banyaknya, tapi dari kwalitasnya, ini pasti, karena Allah SWT yang telah memberi tahu jumlah yang banyak juga bisa kalah:

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللهُ فِى مَوَاطِنَ كَثِيْرَةٍ ، وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ اْلأَرْضَ بِمضا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ

Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai orang-orang mu’minin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu ketika kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dan bercerai-berai. (at-Tawbah; 9:25)

Jadi sangat keliru memburu suara tanpa juntrungannya yang penting banyak. Binalah ummat menjadi ummat yang berkualitas, khalifah Allah, bukan ummat yang di didik jadi fanatik atribut partai, tapi didiklah agar mereka jadi fanatik persatuan kaum Muslimin, jangan mereka di didik jadi bermental pak turut, macam kerbau, kasih mereka (murid) pedang, wahai murid kalau saya salah tegur saya dengan pedang yang barusan saya kasih ya.

Ustad ustad kalian jika masuk sarang biawak nunut Yahudi Nashara, kalian jangan turut turutan masuk sarang biawak, tarik tangan ustad kalian, gampar yang keras, elu mau masuk sarang biawak ya!!!, kalau sang ustad berzina di Hotel Melinium di tanah abang, rajam sampai mati jangan kasihan sedikitpun dan  eh ini malah dibiarkan memimpin terus pesantren, pesantren macam apa pula itu kalau ulamanya pezina?.

Kalau murid mau nikah pendapat pertama yang diminta tentu orang tua atau keluarga yang selama ini membiaya pendidikan dan segala macamnya, tiba tiba ikut liqo, sang Murobi perannya lebih dari peran orang tua, dan banyak lagi yang kesemuanya bisa kacau balau jika doktrin doktrin ashabiyah ditanamkan kepada murid muridnya. Ngakunya ngajarin islam, tapi yang muncul malah sikap ashabiyah terhadap sesama muslim yang tidak sepaham atau tidak mau dalam payung demokrasinya.

Nah kalau sudah guru dan murid tegas dalam masalah kebenaran, yang diajarkan juga kebenaran, bukan doktrin, (seperti doktrin “awas kamu kualat melawan ustad, sebenarnya berisi tipuan syeitan supaya kebatilan yang disuarakan ustad suu’ tidak ada yang berani utak atik/protes), bukan ilmu pelet, bisanya memelet ummat tapi tidak mengajarkan ummat supaya berani bicara benar, itulah murid murid Rasulullah yang sebenar benarnya, khalifah Allah. Manusia manusia yang berkualitas baik jasmani, rohani, pengetahuan, kecerdasannya, kejujurannya, ketaqwaannya, keberaniannya dsbnya.

Manusia kualitas khalifah Allah lah yang harus kita didik kita bina. Bukankah yang 300 orang itu khalifah Allah binaan Rasulullah, Jika kita mendidik manusia untuk menjadi khalifah Allah, walau Rasulullah SAW telah lama tiada, dan kita tak pernah bersua dengan beliau, cintanya beliau akan terasa didekat kita  sepanjang zaman.

TUJUAN PERJUANGAN ADALAH KHILAFAH

Tujuan perjuangan adalah khilafah, menjadikan pemerintahan berdasar khilafah, menjadikan system berdasar khilafah, menjadikan manusia berkwalitas khalifah Allah, bukan manusia yang sudah dikader lima tahun atau lebih, ujung ujungnya korupsi. Jadi anggota pilihan rakyat kok korupsi. Pemerintahan Khilafah tak akan muncul dari system kufar. Siapa yang menanam bibit kufar akan tumbuh besar dan lebat pohon serta buah kufar. Akar nya akan mencengkeram segala lapisan bumi yang akan semakin sulit untuk di cabut. Menjadi budaya dan kadung yang batil itu di pandang benar karena sudah tak ada manusia lagi yang mempermasalahkan. Seperti sex bebasnya di Eropa dan Amerika, anak anak gadis umur 12 tahun yang belum pernah merasakan hubungan sex, malah ditertawakan teman teman sebaya, dianggap sebagai manusia antic. Begitulah jika kebatilan telah membudaya.

Hasil dan buah dari bibit yang engkau tanam. Buah dari tanaman demokrasi kadang kadang lucu, menggelikan, mencengangkan, menakutkan dan sekaligus sangat memilukan. Seorang doctor, sehat phisik, katanya sehat mental, katanya cerdas, menobatkan orang buta menjadi presiden, ini sungguh suatu kenyataan yang membingungkan, silahkan anda menilai apa yang terjadi, kemuliaan atau keedanan?. Masih keistimewaan buah demokrasi, Monster pembunuh manusia yang terkenal dengan ratusan ribu korbannya sampai jutaan manusia, dimana keluarga keluarga habis dijatuhi hujan bom sepanjang hari sepanjang tahun, macam di sapu tsunami terpilih lagi jadi penguasa?, sudah tahu begitu buruknya buah demokrasi, masih bangga terus dengan bendera partai?, dan masih terus memilih milah Yahudi?.

Saya pernah membaca tulisan bahwa khilafah akan muncul sekali lagi, dimasa Rasulullah kemunculan pertama, dan kemunculan kedua pasti datangnya, setelah kemunculan pemerintahan khilafah yang kedua konon Yahudi di buru, sampai batu pun memberi tahu letak persembunyian yahudi, saya pikir ini baru pemburuan yang benar, karena keterangan hadistnya memang ada.

DEMOKRASI RUKUN KAFIR

Banyak dari kaum muslimin yang tidak mau menyadari bahwa demokrasi adalah rukun kafir yang memang dirancang untuk memecah belah ummat Islam agar pecah belah terus sampai akhir zaman sehingga tak akan pernah untuk bersatu. Demokrasi adalah jargonnya politik belah bambu, ditanamkan pada diri manusia rasa kesukuan, rasa kewilayahan, rasa kebangsaan. Ujung ujungnya pecah belah terus. Khilafah justru menyatukan berbagai suku, ras, bangsa, wilayah dalam satu konsep yang tiada tandingan “Lailahaillallah”. Persatuan berbagai ras, suku, wilayah berdasar konsep keimanan, bahwa tiada yang patut disembah atau diikuti atau diimani, melainkan Allah. Campur aduk berarti musyrik.

Pilar pilar kesukuan,  kebangsaan yang di gembar gemborkan menyebabkan ummat Islam tegak atas dasar kebangsaan, atau kesukuan dan bukan atas dasar bahwa ummat Islam adalah ummat yang satu, yang menelikung mahzab mahzab kesukuan tersebut. Cobalah jika saja Rasulullah dalam dakwahnya, dalam misi yang di embannya membawa pilar persatuan Arab, sudah pasti Bilal bin Rabah, Salman Al Farisi tidak akan masuk Islam lantaran mereka bukan orang Arab.

Ini penting dipahami karena Islam system yang sempurna dan tidak memecah belah atas ras, suku, tapi justru menyatukan ras suku dalam satu bendera perjuangan Lailahaillallah. Bersatunya Jawa dan Sumatra seharusnya bukan karena satu bahasa, atau sama sama kulit coklat hidung pesek, tapi satu keimanan kepada Allah pencipta.

Demokrasi menyebabkan manusia keluar dari pilar pilar Islam, karena demokrasi menyebabkan ummat terpecah terus sampai se kecil kecilnya yang menyebabkan ummat menjadi lemah. Satu dua lidi di patahkan, gampang, tapi jika seratus lidi dipatahkan susah, apalagi 200 juta lidi, dipatahkan semakin susah, apalagi bersatunya ummat Islam dalam persatuan Islam didunia ini dan bukan atas persatuan wilayah, kesukuan, kebangsaan akan semakin susah kaum kufar untuk memporak porandakan.

Kasus Ambalat, dalam Islam jika dua muslim berselisih damaikanlah, tapi dalam prinsip nasionalisme, demokrasi, hajar aja tuh Malaysia, sok belagu amat. Jadi karena telah terbiasa termakan prinsip prinsip nasionalisme (anaknya demokrasi), maka ummat benar benar jadi terkotak kotak. Jika saudara kita berperang di Afghan, Iraq, perasaan yang muncul pada diri kita lantaran terkontaminasi racun kebangsaan, ah mereka kan orang Afghan, kita tidak merasa bahwa itu wilayah kita yang diserbu, kita merasa wilayah kita ini hanya di jawa saja. Coba jika kita merasa negeri kita yang diserbu, muncullah jutaan sukarelawan siap mati melawan kaum muslimin Malaysia, ngeri,  maka semakin hancurlah persaudaraan muslim, pilar pilar yang ditanamkan Rasulullah, dan pasti yang akan mengambil keuntungannya lagi lagi Yahudi Nashara.

Aceh dibikin perang terus, karena dasarnya suku isme yang digembar gemborkan, akhirnya lupa bahwa sesama muslim itu bersaudara, akhirnya ummat lemah terus karena peperangan saudara sesama muslim yang tiada kunjung henti. Kekayaan alam begitu besar tapi ummat kere, sibuk perang terus, sementara yang ambil keuntungan lagi lagi pihak luar. Kapankah kebodohan ummat ini  berakhir?.

Ketika saya ke Irian jaya dan Aceh, mereka katakan orang jawa itu penjajah atas wilayah mereka, padahal di Aceh mayoritas muslim dan di Irian juga banyak kaum musliminnya. Jadi mereka melihat “Jawa”nya (sukunya) dan bukan melihat “muslimnya”. Inilah racun racun nasionalisme, racun demokrasi yang telah mendarah daging tumbuh dan mengalir deras dalam tubuh ummat Islam, padahal datangnya Islam membasmi habis racun racun ashabiyah tersebut. Maka pantas bukan bagi yang ashabiyah terhadap partai adalah musyrik tulen, itu Allah SWT yang menyatakan dan bukan penulis.

Rukun kafir yang lain adalah Hedonisme, Materialisme, Nasionalisme, Sekularisme, Kapitalisme dan masih banyak lagi isme isme sesat yang ummat sudah terbiasa hidup didalamnya (kita kaji dalam kesempatan lain). Ngakunya muslim, tapi menggaji karyawan berdasar prinsip capital, ini salah satu rukun kafir yang sudah terbiasa kaum muslimin lakukan, akibatnya kemelaratan tak kunjung teratasi. Biar kata aktivis masjid, giliran punya perusahaan menerapkan system kapitalis kepada karyawannya, padahal sang pemilik pak haji yang kerap mondar mandir pergi haji. Jadi memang amat susah membersihkan racun ini, jika kaum muslimin itu sendiri tidak mau mengkaji ulang apa masalah yang sedang kita hadapi, dan bagaimana Al Qur’an dan Al hadist menjawab, jika tidak peduli juga terhadap masalah ini, bablaslah ummat berduyun duyun menuju neraka.

BENCANA ITU IBROH

Bencana yang terus menerus dalam jangka waktu yang berdekatan melanda negeri ini sebenarnya sangat baik bagi manusia. Artinya bencana itu paling tidak akan mengurangi sedikit orang yang tadinya berduyun duyun bakal masuk neraka. Dikasih bencana, sadar tidak?, ada sedikit, kebanyakan tidak, tidak apa apa, yang sedikit itu jika selamat kan sudah bagus. Kasih lagi azab, sadar tidak?, ada sedikit, tidak apa apa, tambah lagi sedikit orang yang sadar bahwa selama ini jalan hidupnya telah menyimpang dari jalan Allah. Kasih lagi azab, ada lagi yang taubat, jadi sebenarnya azab itu bukan tanda murka Allah, justru sayangnya Allah kepada hamba hambanya yang kira kira jika di azab, dia mikir, kemudian bertaubat. Kalau yang bilang bencana itu cuma kejadian alam, habisin aja. Supaya muncul generasi baru yang mereka tidak takut kepada celaan manusia yang mencela.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهِ فَسَوْفَ يَأْتِى اللهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِى سَبِيلِ اللهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لآئِمٍ ، ذَلِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ، وَ اللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang mutad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siap yang dihendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. 5:54)

Aceh ngakunya serambi Mekah, tapi ganja yang Rasulullah sabdakan, yang memabukkan itu, sedikitnya pun haram, tapi kota serambi Mekah memproduksi terus ganja, sapu bersih aja. Suu’ dalam bahasa arab artinya jahat, ulama tsu ulama jahat, tsunami berarti air bah jahat, kok Jakarta yang katanya lebih maksiat tidak kena, harap diketahui dan disadari bahwa hak memberi azab, cobaan atau apalah ada pada Allah, tidak usah protes, yang pasti azab tidak akan muncul pada kaum, puak yang ber iman dengan sebenarnya iman.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٌ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. 7:96)

Jadi kalau suatu kaum ber-iman, yang akan muncul berkah dari langit, dari mana saja datangnya, dan tidak mungkin perpecahan, korupsi, pembunuhan, pemerkosaan, pelacuran, perampokan, pencurian, bencana alam dst. Azab itu dari kesalahan diri kaum atau puak itu.

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْيَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِوقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ ، انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ اْلآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ

Katakanlah: “Dia yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu (hujan, badai, topan) atau dari bawah kakimu (gempa, tsunami, tanah longsor)atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan-partai) dan merasakan kepada sebahagian) kamu kepada keganasan sebahagian yang lain (perang saudara). Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya). (QS. 6:65)

Perhatikanlah ayat 6:65 diatas, ternyata bencana bencana yang datang silih berganti itu merupakan tanda tanda kebesaran Allah. Tsunami itu tanda tanda kebesaran kekuasaan Allah, agar kita memahami, mau kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasul atau tidak?. Semua bangunan habis disapu tsunami, tapi banyak Masjid yang bertengger teguh hanya mengalami kerusakan sedikit, padahal dahsyatnya tsunami, bisa menyeret mobil mobil macam gabus, dan bahkan kapal laut seberat 2000 ton, bisa pindah sejauh +/- 5 km kedarat.

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ، وَلاَ تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ، وَلاَ تُطِعْ مِنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. 18:28)

وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللهِ لَهُمُ الْبُشْرَى ، فَبَشِّرْ عِبَادِ

Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, (QS. 39:17)

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ، أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللهُ ، وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُوا اْلأَلْبَابِ

yang mendengarkan perkataan lalu dipilih yang terbaik, terbenar (sesuai kebenaran Al Qur’an). Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang- orang yang cerdas. (QS. 39:18)

PENUTUP DAN DOA UMAR BIN KHATAB RA

Wahai ummat Muhammad SAW, masuklah Islam secara keseluruhan dan ingatlah selemah lemahnya iman adalah diam, bukan ikut ikutan, bukan pendukung kebatilan itu. Tingkat iman yang lebih baik lagi berani bicara tegas terhadap kesesatan jalan hidup yang ditempuh manusia, yang lebih baik lagi gunakan tangan jika mampu. Jika mendukung kesesatan jalan hidup yang ditempuh manusia, itu sudah keluar dari jalur keimanan, karena itu kaum muslimin harus pandai membaca setiap persoalan persoalan yang dihadapinya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِى السِّلْمِ كَافَّةً وَلاَ تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu. (al-Baqarah; 2:208)

Umar bin Khatab berdoa “ya Allah, masukkanlah aku dalam kelompok orang yang sedikit”, dan marilah kita berdoa Ya Allah, tolonglah ummat Islam, agar mereka menemukan kembali jalan lurus sebagaimana jalan yang ditempuh Rasulullah SAW dan para sahabat sahabat Rasulullah tercinta. Amin ya robbal alamin.

Jakarta, 18 April 2005

Mencari Kebenaran

Oleh :

Darmen Adios

Tulisan ini pernah saya edarkan melalui email dengan judul “wahai kemenakanku”, artikel tersebut saya angkat lagi mengingat cukup penting dipahami bagi kabilah partai atau bagi siapa saja yang ingin mencari kebenaran. Selalu saja kita melihat kekeliruan ummat dalam menyikapi sesuatu kebenaran. Mereka masih saja menganggap ulamanya sebagai manusia yang pasti selalu benar, walaupun terkadang pandangan atau prinsip ulama tersebut jelas jelas telah bertentangan dengan ketetapan Allah dan Rasulullah SAW.

Padahal jika kita berbicara tentang Islam, kita tidak bicara apa kata ulama, tapi kita bicara apa kata Allah dan RasulNYA, kata kata ulama hanya terpakai jika kata katanya sesuai dengan ketetapan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah.

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ، وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُبِينًا

Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. 33:36)

Dari firman Allah diatas, jika Allah telah menetapkan sesuatu, tidak ada lagi fatwa ulama, ijtihad ulama, yang patut didengar, dipatuhi, kalau ijtihad, fatwa tersebut telah menyimpang atau bertentangan dengan pokok pokok ajaran Islam, bertentangan dengan firman firman Allah maupun sunnah Rasulullah, walau sebelumnya ulama tersebut telah dikenal sebagai ulama yang “lurus”, terkenal kesholehannya dan namanya telah mencuat dijagad ini.

Al Ghazali mengatakan jika ummat menganggap ulamanya selalu benar, pada saat itulah ummat mulai tersesat. Tetapi kita memang tidak perlu heran, oe-lama memang punya tampilan mempesona, punya kharisma tersendiri, saya pernah menghadiri majelis pengajian kaum Ahmadiah di kuningan jaksel, begitu meyakinkan sang ustad menyampaikan ayat ayat Allah untuk membenarkan kenabian Mirza Ghulam Ahmad, dipelesetkan ayat ayat tersebut oleh oe-lamanya, dengan ke fasihan membaca firman firman Alllah,  jama’ah Ahmadiyah tak sadar ditipu oe-lama nya.

Saya pernah juga didatangi ustad NII, yang mempunyai prinsip sekarang periode Mekah, jadi pada masa sekarang ini dimana syariat Islam belum ditegakkan tidak sholat tidak mengapa, pembantu rumah tangga yang pasti miskinnya dipalak gajinya dalam jumlah yang tak masuk akal untuk kemampuannya yang sebatas pembantu rumah tangga, mosok untuk pembentukan Negara Islam infaqnya cuma segini?, begitu kata ustadnya untuk menekan jamaahnya, anehnya para pemimpin mereka punya hubungan erat dengan pemuka pemuka Negara yang katanya “diperanginya”.

Ustad NII ini menyampaikan ayat ayat qur’an dengan lidah yang fasih, saya terpana, karena tidak bisa seperti dia, tapi begitu saya tanya, adakah anda tau pedoman mencari kebenaran?, dia tidak bisa menjawab, lantas saya katakan, bagaimana anda akan tahu diri anda tersesat atau tidak, jika pedoman mencari kebenaran anda tidak tahu. Sang ustad yang bermaksud menarik keluarga saya ke NII, terpaksa pulang dengan kekecewaan, mau ngajari tapi malah diajari, tapi sang ustad tidak rugi karena ia memperoleh pengetahuan baru. Prinsip prinsip dalam mencari kebenaran, semoga ia mengkaji ulang perjalanan hidupnya, agar tidak tesesat dari jalan Allah.

Kaum Ahmadiah dan Syi’ah juga pernah bertandang kerumah saya untuk berdebat secara resmi, pada akhir debat  tak satupun dari mereka yang berani ditantang untuk bermubahalah. Padahal Rasulullah menantang pemuka agama nasrani yang menganggap Isa putra Maryam sebagai anak Allah. Ketidak beranian mereka bermubahallah sebenarnya membuktikan di qolbu mereka ada penyakit (jiwa), mereka tidak pernah mantap dalam beriman kepada Allah SWT. Jika mereka meyakini 100% Isa benar anak Allah, Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, Kawin mut’ah halal, kenapa mereka harus takut ditantang bermubahalah??.

فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَ أَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَةَ اللهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ

Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya):”Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. (Ál ‘Imrán; 3:61)

Dari kerapnya menghadapi kesesatan manusia, terfikir oleh saya bahwa seyogianya ada hal hal yang harus jadi pedoman bagi manusia agar tidak mudah terseret paham, asas, ideologi, isme atau apalah namanya yang menyimpang dari Islam. Sebab tanpa memahami prinsip prinsip mencari kebenaran, ternyata manusia memang gampang ditipu mentah mentah oleh para oe-lamanya. Mereka melihat oe-lama nya sebagai mahluk suci, “mahluk penuntun ke jalan lurus” “mahluk pembebas manusia dari jalan sesat”. Persis seperti ummat nasrani memandang Paus Paulus dari Vatikan. Suatu kecintaan yang sangat memprihatinkan, walau Allah SWT dan Rasulullah menyatakan A, oe-lama menyatakan B, maka ummat turut patuh ikut sang oe-lama berpegang kepada B, ummat terkena sihir penampilan suci sang oe-lamanya.

Memang tidak mudah berhadapan dengan oe-lama jika ternyata membawa ajaran sesat, melapor polisi minta bantuan tapi sebenarnya sang polisilah yang perampok, menyeru hidup sederhana kepada rakyat, tapi pakaian pengantin anaknya presiden Rp. 100.000.000,- anggota DPR tapi sebenarnya Dewan Perwakilan Pemerintah, berjuang untuk rakyat memerangi kemiskinan, tapi hartanya (mobilnya, rumahnya, ranchnya, koceknya di bank) terus bertambah dari hari kehari, menyeru semua agama sama tapi tidak mau pindah agama ketika ditawarkan kepada agama yang paling ringan syariatnya. Beginilah gambaran nyata manusia manusia sakit jiwa didalam kehidupan kita sehari hari, mereka berpenampilan normal, tampak terpandang dihadapan orang banyak, berdasi, ber jas, bermobil selalu keren, tampak sebagai manusia manusia terhormat, tetapi justru dari mereka sinyal sinyal menyesatkan terus di produksi untuk kebutuhan rohani masyarakat banyak, maka bagaimana negeri ini tidak babak belur???. Sebab kalau masyarakat bangsa ini benar benar ber –iman adalah janji Allah SWT menjadikan Indonesia negeri yang aman makmur penuh berkah dan bahagia.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٌ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. 7:96)

TYPICAL MANUSIA DALAM MENYIKAPI KEBENARAN

Dalam menyikapi suatu ajakan ke jalan Allah, Al Ghazali mengkelompokan manusia dalam beberapa bagian.

  1. Karakter manusia yang sama sekali tidak peduli terhadap suatu peringatan yang datang pada dirinya, mungkin karena begitu sibuk dalam memburu kekayaan dunia, atau memang sudah sangat alergi terhadap apa yang namanya agama, ketika misal diberi peringatan Mirza Ghulam Ahmad bukan nabi, kawin mut’ah haram, Yesus bukan tuhan, demokrasi asas suara terbanyak adalah sesat, dia tidak selintaspun mau berfikir terhadap peringatan yang datang padanya. “Bodo!! emangnya gua pikirin!!”.  Orang partai jika dikatakan demokrasi asas suara terbanyak sesat akan berang, apalagi jika ia telah masuk papan atas dalam partainya, “elu tau apa, dari dulu juga ulama ulama top kita telah terbiasa berjuang di parlermen”(ukurannya oe-lama). Maka, jika anda berkarakter seperti ini, anda adalah tipe manusia numpang lewat dikehidupan dunia ini. Seperti tercermin di ayat berikut :

{أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَبَأُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَالَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ ، لاَ يَعْلَمُهُمْ إِلاَّ اللهُ ، جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَرَدُّوا أَيْدِيَهُمْ فِى أَفْوَ1`اهِهِمْ وَقَالُوا إِنَّا كَفَرْنَا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ وَإِنَّا لَفِى شَكٍّ مِمَّا تَدْعُونَنَا إِلَيْهِ مُرِيبٍ}

Belumkah sampai kepada kamu berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud dan orang-orang sesudah mereka.Tidak ada yang mengetahui mereka selain Allah.Telah datang rasul-rasul kepada mereka (membawa) bukti-bukti yang nyata lalu mereka menutupkan tangannya ke mulutnya (karena kebencian), dan berkata: “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu disuruh menyampaikannya (kepada kami), dan sesungguhnya kami benar-benar dalam keragu-raguan yang menggelisahkan terhadap apa yang kamu ajak kami kepadanya”. (QS. 14:9)

  1. 2. Karakter manusia yang masih ada perhatian terhadap peringatan yang datang padanya, wahai fulan, demokrasi suara terbanyak itu sesat. Dia cukup tanggap, dia tanya pada ustadnya, jawaban ustadnya ya atau tidak. Setelah mendapat jawaban ya atau tidak dari ustadnya, puaslah dia. Karakter manusia seperti ini beriman dengan gaya tipe penjudi. Kalau kebetulan jawaban ustadnya sesuai Qur’an Sunnah, maka ia akan selamat, tapi jika tidak, maka ia akan terseret ke neraka bersama ustadnya, pendeta nya. Manusia seperti ini hanya bersandar kepada kemuliaan seseorang, dan bukan kepada kebenaran yang hakiki dari sumbernya yang asli (Al Qur’an). Semoga saja guru gurunya memang manusia yang sebenarnya taqwa. Tapi kalau bertemu guru sesat macam Ahmadiyah, Syiah, pendeta, bikhsu dan semacamnya, dia akan celaka dan akan saling tuding dengan ustadnya kelak didalam api neraka.

{قَالَ ادْخُلُوا فِى أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ مِنَ الْجِنِّ وَاْلإِنْسِ فِى النَّارِ ، كُلَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَعَنَتْ أُخْتَهَا ، حَتَّى إِذَا ادَّارَكُوا فِيَها جَمِيعًا قَالَتْ أُخْرَاهُمْ ِلأُولاَهُمْ رَبَّنَا هَؤُلاَءِ أَضَلُّوناَ فَآتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِنَ النَّار ، قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَكِنْ لاَ تَعْلَمُونَ}

Allah berfirman: “Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk (kedalam neraka), dia mengutuk kawannya (yang menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk kemudian diantara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu: “Ya Rabb kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka”. Allah berfirman: “Masing-masing mendapat (siksaan), yang berlipat ganda akan tetapi kamu tidak mengetahui”. (QS. 7:38)

  1. Karakter manusia yang peduli, meneliti, tapi kurang mendalam penelitiannya, (masih ceroboh dalam memberi kesimpulan) wahai fulan, demokrasi suara terbanyak itu sesat, dia tanya ustadnya, dia periksa juga kata kata demokrasi dalam qur’an, ternyata tidak ada, bahasa arab atau bahasa latin dalam terjemahan Qur’an tidak ada. Ah, demokrasi itu pasti ayat mustasyabihat, begitu pikirnya.

هُوَ الَّذِى أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ، فَأَمَّا الَّذِينَ فِى قُلُوبِهِمْ زِيَغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللهُ وَالرَّاسِخُونَ فِى الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَرُ إِلاَّ أُولُوا اْلأَلْبَابِ

Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (al-Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yg berakal. (Ál ‘Imrán; 3:7)

Maka untuk membela kehormatan kabilahnya, sebut saja demokrasi berdasar suara terbanyak itu sebagai ayat mutasyabihat, padahal kata demokrasi suatu kata yang amat mudah dimengerti bagi kebanyakan manusia dimuka bumi ini, orang yang tinggal di-ujung ujung gunung sekalipun paham arti kemenangan demokrasi, adalah arti kemenangan suara terbanyak, bukan arti kemenangan suara kebenaran yang datang dari Allah SWT, hanya lantaran sudah ditipu syaitan, manusia selalu menganggap atau merasa kemenangan suara terbanyak adalah kemenangan dari “tuhan”.

Ada lagi yang membela diri untuk menjaga kehormatan kabilahnya, wah demokrasi itukan masalah fikih, wajar dong beda pendapat. Kok bilang demokrasi sesat sih. Pendek kata, membela diri tanpa menguasai ilmu terhadap apa yang telah menjadi pernyataannya.

Fikih itu suatu ketetapan ugama yang muncul dari masalah ugama pula, tetapi sabda dari Rasulullah tidak ada. misal air yang mau dipakai wudhu satu bak mandi terciprat air kencing setitik, sah tidak dipakai wudhu?. Ulama Indonesia yang negerinya air tidak bermasalah akan memberi fatwa, buang saja tuh air, tidak sah, ganti air baru, tinggal buka keran saja, tuntas sudah masalah air wudhu. Kalau ulama padang pasir, yang hujan datang cuma satu dua kali dalam setahun, air di oase oase terciprat sedikit kencing, mereka tetapkan hukum, kalau jumlah air sekian kulah sah, kalau segitu kulah tak sah, wajar ulama Indonesia beda dengan ulama padang pasir, perbedaan dari kedua duanya ini sah, karena merupakan ranting dalam masalah ugama, dimana penetapan ukuran berapa banyaknya air bersih yang diizinkan jika terciprat air kencing tidak terdapat dalam sabda Rasulullah.

Demokrasi bukan masalah yang muncul dari masalah fikih Islam (seperti soal qunut atau contoh air yang terkena air kencing setitik untuk wudhu). Tapi demokrasi suatu olah pikir pemikir barat untuk mengatur kehidupan bermasyarakat, bernegara yang terbaik menurut olah otak mereka. bagaimana olahan pemikir barat yang tidak menjadikan Qur’an sebagai pedoman bahkan menendangnya kita katakan ini masalah fikih?. Ayat ayat Allah, dan contoh perjuangan Rasulullah sudah sangat jelas bertentangan  dengan syar’i-nya demokrasi. bagaimana kita mengatakan demokrasi masalah fikih, masalah ranting?, sesuatu yang datang dari luar pohon Islam kita katakan rantingnya dalam masalah Islam?

  • Akhirnya karakter tipe tiga ini kembali kepada status quo, sesuatu yang selama ini berjalan, bahkan dia balik serang penyeru, “yang benar aja, selama ini ane ama temen temen memperjuangkan Islam di bilang berbuat musyrik, gelo apa elu” Tapi si fulan memang batas penelitiannya masih kurang sempurna, selain ilmu pokok pokok Islam dia banyak yang belum menguasai, maka dia memberi kesimpulan dari pemahamannya yang terbatas dan dia cuma tunduk patuh kepada oe-lamanya yang selama ini membinanya. “Mosok sih oe-lama gua sesat?”. Maka si penyeru dibanding bandingkan oleh ulama kesohor di manca negara, ah sipenyeru dianggap tidak  ada apa apanya dibandingkan oe-lama top yang tidak pernah mempermasalahkan demokrasi. Lagi lagi yang dijadikan pegangan oe-lamanya dan bukan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Jadi ketetapan Allah dan Rasulullah bagaimana kata ulamanyalah, hebatnya oe-lama sekarang!!!.

  1. Karakter manusia yang selalu mencari kebenaran, apapun masalahnya, dimanapun dan kapanpun. Setiap masalah yang timbul difikirkan dan dicari jawabnya. Ketika ada yang mengatakan demokrasi suara terbanyak itu system sesat, dia pelajari seperti Salman al Farisi mencari kebenaran dengan pembuktian, bagaimana Salman meminta ciri khas yang dia ketahui tentang kenabian Rasulullah, setelah Rasulullah memberikan bukti ciri kenabiannya, yakinlah ia 100%, maka bersyahadatlah beliau di hadapan Rasulullah. Maka manusia yang bersungguh sungguh mencari kebenaran seperti Salman Al Farisi, seperti nabi Ibrahim AS, Insya Allah yang akan menemukan kebenaran.
  • Kenapa?, Pertama dia mencoba memahami makna sebenarnya dari demokrasi yang berlaku, memang terbukti demokrasi yang berlaku semata mata atas putusan suara terbanyak (dalam keputusan apapun), tanpa menghiraukan firman Allah benar atau tidaknya, Kedua dia lihat dari ilmu ushul, demokrasi masuk katagori perkara dunia, dasar hukumnya serba boleh, OK OK saja, kecuali yang diharamkan, ternyata dalam Islam bukan berdasar terbanyak tetapi ber asas terbaik terbenar yang harus klop dengan Qur’an Sunnah, peduli keputusan tersebut atas pandangan satu orang, dia akan menjadi keputusan, jika sesuai dengan firman Allah dan Sunnah Rasulullah, kita lihat firman Allah:

وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللهِ لَهُمُ الْبُشْرَى ، فَبَشِّرْ عِبَادِ

Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, (QS. 39:17)

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ، أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللهُ ، وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُوا اْلأَلْبَابِ

yang mendengarkan perkataan lalu dipilih yang terbaik, terbenar (sesuai kebenaran Al Qur’an). Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang- orang yang cerdas. (QS. 39:18)

  • Nah, dengan penelitian yang mendalam itulah, karakter tipe 4, yang lebih berpeluang selamat dihari pembalasan, karena dialah pencari kebenaran sejati. Tipe tipe yang lain belum pantas untuk dikatakan sebagai pencari kebenaran, karena dia tidak berusaha menemukan kebenaran dengan sungguh sungguh. Cintanya kepada kursi melebihi cintanya kepada keputusan Allah dan Rasulnya (9:24), kehidupan didunia ini memang tidak mudah, banyak celah celah yang dapat menjungkir balikkan manusia ke neraka, padahal jalan lurus menuju Allah hanya satu jalan.

SYARAT UTAMA PENCARI KEBENARAN

Menjadi pencari kebenaran ada syaratnya, tentu saja, sebab tanpa memenuhi syarat syarat, mereka adalah pencari kebenaran palsu.

SYARAT PERTAMA :

Hendaklah ia jujur terhadap kebenaran itu sendiri. Jika selama ini ia telah di doktrin oleh oe-lama nya, pastornya, orang tuanya, pendetanya, bikhsunya, 2+2=5, datang seorang anak jelek compang camping, mengatakan 2+2=4 disertai pembuktian yang ilmiah, akurat dan rasional (masuk akal). Jika ia menolak kebenaran yang telah sampai padanya walau telah disertai bukti bukti yang kongkrit, lantaran kebenaran itu sangat menyinggung kepercayaannya selama ini, ibadahnya selama ini, mempermalukan kemuliaan pastornya, pendetanya, kabilahnya, yang ternyata mereka salah jalan, telah menyimpang dari jalan Allah, ditolaknya kebenaran dari si compang camping tadi, ah dia kan cuma sicompang camping, maka orang tersebut adalah pencari kebenaran palsu. Manusia seperti ini akan masuk neraka, karena ada kesombongan (menolak kebenaran) pada qolbunya.

Rasulullah mensabdakan tidak akan masuk syurga pada diri seseorang yang sombong walau sebesar biji zarah. Walau kesombongan itu begitu kecil pasti masuk nerakanya. Sombong itu bukan berpakaian bagus dan bermobil mewah, sombong itu menolak kebenaran, walau terhadap masalah yang dianggap kecil. Jadi jangan takabur terhadap kebenaran yang disampaikan manusia lain kepada kita, konsekwensi dari menolak atau mengabaikan kebenaran yang disampaikan manusia lain kepada diri kita sangat serius, bukan main main, tidak senilai dengan harta dunia yang kita buru sebagai tukarannya.

Kebenaran itu dari Allah (Q 2:147), manusia di ciptakan oleh Allah, qolbu manusia adalah ciptaan Allah, maka manusia sebenarnya tidak bisa berbohong terhadap kebenaran yang datang padanya, kita lihat bahwa hati nurani secara fitrah tidak bisa mendustai kebenaran (yang datang dari Allah tersebut), karena telah ada pengakuan diawal kehidupan manusia terhadap keesaan Allah SWT (sebagai sumber kebenaran) dalam surat :

{وَإِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِى آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ، قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا ، أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ}

Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):”Bukankah Aku ini Rabbmu”. Mereka menjawab:”Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:”Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb)”. (QS. 7:172)

Dari kajian ayat diatas, secara fitrah, ternyata manusia tidak bisa mendustai nuraninya sendiri. Hanya saja pada saat kebenaran itu telah sampai pada dirinya, syeitan, iblis merusak nuraninya, dia merasa  berasal dari api seperti syeitan, sementara lawan bicaranya cuma preman pinggir jalan (dari tanah) yang dianggapnya sok sok an bicara Islam. Gile gua dikalahin bicara ama anak kemaren sore, munculah tabiat iblisnya, karena anda bukan ulama maka anda tak pantas bicara Islam, khususnya demokrasi, belajar dululah. Jadilah ia abdi syetan, karena dirasa berat meninggalkan kenikmatan dunia yang telah diraihnya.  Berat bo ninggalin kursi yang telah tahunan diperjuangkan. Tidak apalah sekali kali melawan hati nurani, mumpung belum banyak orang yang paham apa itu demokrasi suara terbanyak. Taubat nanti nanti saja masih bisa kalau dah tidak duduk dikursi empuk.

Sebenarnya banyak contoh yang bisa memberi gambaran bahwa hati nurani benar benar tidak bisa didustai. Prof Osman Raliby, dalam kuliah Islamnya menceritakan pernah bertanya kepada kaula muda Amerika yang telah terbiasa sex bebas, ketika ditanya lebih suka kehidupan sex bebas atau pernikahan ? ternyata mereka menyatakan pernikahan itu lebih baik, walau sex bebas jalan terus. Sama saja korupsi itu sesat lho mas, tapi diri tetap saja konsisten dalam berkorupsi. Suatu pertanda hati nurani tetap tidak bisa didustai.

SYARAT KEDUA :

Janganlah ada pada diri seorang pencari kebenaran suatu sikap mental belum apa sudah apriori (belum apa apa sudah menolak, padahal belum di kaji kebenaran yang datang pada diri kita tsb). Sikap belum apa apa sudah apriori menjadikan diri semakin sulit untuk menerima kebenaran berikutnya. Bahkan mungkin tak akan datang lagi orang orang, atau sinyal sinyal kebenaran pada diri kita lantaran yang sudah sudah kita begitu sombong terhadap diri sendiri, orang  berikutnya jadi enggan untuk amar ma’ruf nahi munkar. Kalau terjadi demikian tentu yang rugi manusia yang bermental mudah apriori itu.

Orang orang Nasrani Yahudi kebanyakan bersikap mental seperti ini, mereka enggan untuk mengkaji Al Qur’an melainkan untuk mencari cari titik lemah yang tentunya tak akan mereka temukan, tapi dicari juga hanya dengan tujuan untuk menyesatkan ummat, sampai sampai mereka telah terbiasa dengan kata alhamdulilah, assalamualaikum, pakai busana wanita muslim kegereja, pakai sarung dan sorban, yang tujuannya untuk menipu ummat Islam yang bodoh agar tereseret kedalam ugama mereka.

Dicari cari hadist atau ayat untuk membenarkan kenabian Mirza Ghulam Ahmad, padahal ayat Qur’an yang digunakan dan ditafsirkan jauh panggang dari api, ayat dibawah adalah salah satu contoh ayat Al Qur’an yang dipakai kaum ahmadiyah untuk membenarkan kenabian Mirza Ghulam Ahmad.

{وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِى إِسْرَائِيلَ إِنِّى رَسُولُ اللهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَىَّ مِنَ التَّوْرَاةِ  وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِى مِنْ بَعْدِى اسْمُهُ أَحْمَدُ ، فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ}

Dan (ingatlah) ketika Isa putera Maryam berkata: “Hai bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)”. Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”. (QS. 61:6)

Sayangnya walau kaum ahmadiyah ini tingkatan pendidikannya sarjana waktu terjadi debat, tapi tidak mampu berpikir untuk memahami ayat 61:6 tersebut. Ayat tersebut menceritakan zaman di masa Isa AS, yang Allah menginformasikan akan datang nabi lagi sesudah Isa AS bernama ahmad (nama panggilan Rasulullah dimasa kanak kanak), bagaimana mungkin Mirza Ghulam Ahmad kedatangannya di informasikan Allah SWT melalui Isa AS dan tertulis pula dalam Al Qur’an, sementara Nabi Muhammad SAW yang terbukti menerima wahyu kedatangannya tidak Allah informasikan (karena ayat itu diklaim untuk si Mirza)?, klaim ahmadi ini adalah klaim terbodoh sepanjang sejarah kehidupan manusia, tapi pengikutnya ada terus “enggada habisnye”, inilah realitas kehidupan, begitu menarik.

Karena itu marilah kita mengkaji setiap peringatan (sinyal sinyal) yang datang pada diri kita, siapa tau kita memang yang tersesat, kita pelajari dengan seksama, jangan katakan ah dasar mereka syirik aja (iri hati) pada kesuksesan kabilah kita. Ketika terucap kata kata tersebut, syeitan telah bercokol di qolbunya, yah bagaimana dia akan menemukan kebenaran yang datang dari Allah?, karena mereka sendirilah yang sudah menutup diri ketika sinyal sinyal itu datang?. Gue engga mau tau, pokoke kabilah gue pasti benarnya. kebenaran yang datang dari luar no way.

Saya menerima email yang kutipannya sbb:

Seorang Imam tsiqah, Ayub As-Sakhtiyaniy pernah berkata : “Jika engkau ingin mengerti kesalahan gurumu, maka duduklah engkau untuk belajar kepada orang lain” (Diriwayatkan oleh Ad-Darimi dalam Sunannya (1/153). Justru karena inilah, maka kaum hizbiyun (aktifis fanatik terhadap golongan) melarang pengikut-pengikutnya untuk menimba ilmu dari orang-orang selain golongan atau simpatisannya. Kalaupun sikap mereka menjadi lunak, namun mereka akan memberikan kelonggaran dengan banyak syarat serta ikatan-ikatan yang njelimet, supaya akal-akal pikiran para pengikutnya tetap tertutup bila mendengar hal-hal yang bertentangan dengan jalan mereka atau mendengar bantahan terhadap bid’ah mereka.

Oleh sebab itu Allah SWT melarang kepada hambaNYA supaya jangan bermental seperti orang kafir, belum apa apa sudah menolak, terjemahan depak (departemen agama) kurang tepat {(yang pertama kafir (kafir = ingkar, menolak)}, kalau diterjemahkan yang pertama, maka yang kedua boleh, tentu tidak begitu, maka yang tepat belum apa apa sudah menolak, belum di baca tu artikel, sudah katakan gua dah tau isinya, dibaca juga belum?, jangan bermental seperti itu.

وَآمِنُوا بِمَا أَنْزَلْتُ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ وَلاَ تَكُونُوا أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ ، وَلاَ تَشْتَرُوا بِآيَاتِى ثَمَناً قَلِيْلاً ، وَ إِيَّاىَ فَاتَّقُونِ

Dan berimanlah kamu kepada apa ang telah Aku turunkan (al-Qur’an) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang belum apa apa ingkar  kepadanya (kepada Qur’an), dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertaqwa. (al-Baqarah; 2:41)

Terbukalah, tawadu lah dalam mencari kebenaran, dari sejak bayi kita harus terus mencari kebenaran sampai kita mati, jika ada yang memberi sinyal kepada kita didalam perjalanan hidup kita ini, dan sinyal itu benar dari Allah, tapi tidak kita ikuti sinyal tersebut, maka kita pasti akan berhadapan dengan Allah SWT yang siksaNYA begitu dahsyat, suatu pertemuan yang pasti akan begitu pahit.

SYARAT KE TIGA :

Janganlah ada pada diri seseorang pencari kebenaran sikap mental taklid buta (mengikuti doktrin oe-lamanya tanpa di kaji lagi). Menurut saja apa kata gurunya tanpa mencoba meneliti benar atau tidak yang diucapkan guru. Mengikuti membabi buta apa yang diajarkan gurunya justru membahayakan bagi masa depan sang murid dan justru merusak system pendidikan ditempat itu. Akan muncul karakter karakter munafik pada diri sang murid, akhirnya manakala sang murid menjadi guru pula,  dia akan sama kebangetannya seperti gurunya. Dia pikir tak bakal ada murid yang berani intropeksi dia.

Sikap mental taklid buta seperti ini adalah seperti mental kerbau, sehingga jika diseret ke tepi jurang nerakapun kerbau tak pernah menolak, moooo…moooo, diajak kesyurga nikh yee, begitu kata kerbau, manusia bermental seperti ini juga mencerminkan nilai kepribadiannya, bisa juga tingkat kecerdasannya. Walau tidak selalu, karena banyak juga manusia yang cerdas keblinger jika sudah mempertuhankan hawa nafsunya.

Kita lihat mantan biarawati Irene Handono, dalam pendidikan super sesat yang begitu ketat, dari kecil sampai dewasa di didik kristiani katolik, ia akhirnya memperoleh hidayah Allah jua, terciri pada dirinya sikap mental yang tidak mau menerima begitu saja kata romonya (pastornya). Siapa menyangka puluhan tahun sampai dewasa dicocoki ajaran kristiani malah hasilnya menjadi muslimah berkualitas???, banyak akhwat kita yang terus belajar Islam masih gampang ditipu oe-lamanya atau kalau tidak tertipu tapi belum juga berkualitas seperti Irene Handono.

Pada organisasi “keagamaan yang besar” umum terjadi oe-lamanya mendidik muridnya agar taklid buta pada sang guru dengan berbagai ancaman kualat dan semacamnya jika berani mendebat guru. Karena itu  sang murid pun tak pernah punya keberanian untuk menentang gurunya jika ia merasakan sesuatu yang salah pada gurunya. Akibatnya mental feodal dan mental perbudakan tumbuh subur dalam system seperti ini,  baik guru atau muridnya berkembang menuju kerusakan. Kita bisa melihat seorang oe-lama yang berzina masih memimpin pesantren atau organisasi besar, suatu cermin kehancuran dari berkembangnya taklid buta yang telah menjadi budaya dimasyarakat kita ini, tapi lebih herannya lagi organisasi seperti itu tetap dianggap “pedoman kebenaran” bagi surat kabar, radio TV .

Dalam surat 17:36 Allah SWT melarang hambaNYA mengikuti suatu ajaran atau aktivitas tanpa ia tahu kandungan aktivitas yang ia lakukan.

{وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ، إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كاَنَ عَنْهُ مَسْئُولاً}

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. 17:36)

Khalifah Umar bin Khatab RA dengan tegas berkata, tegurlah aku jika aku tersalah, Khalifah Abu Bakar RA juga berkata kalian tidak perlu patuh kepadaku jika aku tidak patuh kepada Allah dan Rasulullah. Jadi di awal awal kepemimpinannya mental taklid buta telah di hancurkan terlebih dahulu, sehingga bawahan atau murid tidak perlu merasa gentar akan segala macam konsekwensi untuk mengatakan yang benar dimana saja dan kapan saja serta bagi siapa saja.

Berbeda bukan dengan sikap mental oe-lama masa kini? Maka hasilnya dari pembinaan ummat juga berbeda, ummat Islam masa kini cuma bagai buih dipermukaan laut. Jumlahnya banyak tapi tidak berkualitas. Dan kesenangan actor aktor politik justru inginnya ummat Islam ini bodoh terus agar dapat dimanfaatkan selamanya dalam system demokrasi yang jelas jelas memanfaatkan kebodohan mereka.

SYARAT KE EMPAT :

Bacalah Al Qur’an dengan sebenar benarnya baca (iqro). Jika membaca Al Qur’an tanpa mau mengkaji mengapa begini mengapa begitu, bagaimana ia akan menemukan kebenaran?. itu namanya hanya melihat lihat bagusnya tulisan Al Qur’an dan bukan untuk mencoba memahami isinya. Orang orang “Rawabelong” beriman kepada Al Qur’an, tapi tidak memahami isinya. Kaki tangan kaum orientalis seperti Mirza Ghulam Ahmad, Snouck Hugronye, htisaB ludbA mempelajari dan memahami Al qur’an dengan baik, tapi tidaklah  beriman. Mana yang lebih baik?, tentu tak ada yang lebih baik, karena membaca Al Qur’an dengan sebenarnya baca adalah perintah Allah SWT dalam surat 2:121

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلاَوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Orang-orang yang telah kami beri Al-kitab kepadanya, mereka membacanya dengan sebenarnya baca, mereka itu beriman kepadanya. Dan barang siapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (al-Baqarah; 2:121)

Dan bagi ummat Islam yang tidak mau mencoba untuk memahami maksud dan tujuan apa yang terkandung didalam Al Qur’an Allah umpamakan seperti keledai.

{مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا ، بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللهِ ، وَ اللُه لاَ يَهْدِى الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ}

Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (QS. 62:5)

Hai keledai apa yang kamu bawa di punggungmu itu? Engga tau… Hai ummat Islam, apa yang terkandung dalam Al Qur’an dan As Sunnah? Yang kitabnya kamu simpan di rumah? Engga tau…Lah, kamu bawa barang tapi kamu tidak tau yang kamu bawa, kamu punya kitab tapi kamu tidak tau apa isinya? Macam apa pula kamu!!!, horass bah…biar tampan begini tapi aku keledai tho mas.

Jika ustad kita mengatakan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi setelah Rasulullah SAW, pelajari dasarnya apa, jika dikatakan berdasar ayat tertentu, pelajari pula ayat yang dimaksud dengan seksama, jangan lantas dilahap tanpa di iqro kan terlebih dahulu, jika belum paham juga pending (tahan dulu, cari pembanding yang kontra, atau pelajari lagi ilmu ilmu lain untuk menunjang pemahaman Al Qur’an seperti : Ilmu Lughat (philology), Ilmu Nahwu (Syntax), Ilmu Sharaf (Ethymology), Ilmu Isytigaq (derivatives), Ilmu Ma’ani (semantik), Ilmu Bayan (speech), Ilmu Badi’ (rhetoric), Ilmu Qira’atI lmu Agaid; ilmu Usul Fiqih; Ilmu Nasikh Mansukh; Ilmu Fiqih; Ilmu Hadits dan tentunya saya kira masih ada lagi.

Dalam tiap disiplin ilmu pasti ada ilmu ilmu inti yang harus dikuasai, misal seorang sarjana sipil, materi pokok yang harus sangat dikuasainya adalah Ilmu mekanika teknik, ilmu konstruksi baja, ilmu konstruksi beton, ilmu konstruksi kayu, dengan demikian jika dia berbicara masalah sipil konstruksi, semua sarjana sipil dari seluruh dunia akan paham apa yang dibicarakannya. Karena tak akan ada yang aneh (tak masuk akal) dari yang dibicarakannya. Mosok bikin beton bertulang campurannya kacang goreng diulek, air mateng, cabe, gula jawa plus toge, memangnya mau bikin pecel?. Ketika dikatakan campurannya pasir, batu koral, semen, air dan besi atau baja sebagai tulangan, maka semua sarjana sipil diseluruh dunia akan memahaminya.

Begitu juga dalam ilmu Kedokteran, Kimia, Hukum dstnya pastilah ada prinsip prinsip ilmu yang baku yang mewakili dari ilmu yang dipelajarinya itu. Tanpa ilmu baku (sunatullah) itu manusia tak akan pernah bisa kebulan. Dalam Islam ilmu baku tersebut bagian dari hukum Allah yang disebut akli nakli, cause and effect, sebab akibat, atau hukum logika.

Begitu juga dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah tentu saja ada ilmu ilmu yang yang harus dikuasai ummat (seperti diantaranya yang saya sebut diatas), agar memahami qur’an dan Sunnah dengan pas sehingga tidak menjadi over tapi tidak pula dikurang kurangi.

Karena itu bagaimana kita bisa terbebas dari tipuan ulama syiah, ahmadiah dan dari penyeru penyeru kesesatan lain jika ilmu pokok pokok untuk menunjang pemahaman kita tentang Islam kita buta?. Membela mati matian Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, membela mati matian kawin mut’ah (kawin kontrak) halal, tapi kita tidak menguasai ilmu pokok pokok ugama Islam, ketahuan deh ketika kita berdebat “bodohnya kita dipamerkan”, dengan lawan bicara. Dan karena kebodohan kita jua, kita membantah manusia yang menyadarkan kita tanpa ilmu (sok tau). Sesuatu yang diharamkan Allah.

{بَلِ اتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَهْوَاءَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَمَنْ يَهْدِى مَنْ أَضَلَّ اللهُ ، وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ}

Tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan; maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah? Dan tiadalah bagi mereka seorang penolongpun. (QS. 30:29)

Kalau anda ahli membuat asinan bogor, saya yang tak pernah tau soal masak memasak, bicara masalah asinan bogor yang sedap, bumbu bumbunya dari bahan apa saja, pastilah anda akan mentertawakan saya. Anda pasti tau pada point point tertentu dimana saya menipu anda ditentang asinan bogor. Begitu juga dalam masalah ugama, pastilah suatu ketika anda akan tahu siapa menipu siapa jika anda serius dalam mempelajari Islam dengan sungguh sungguh, dan ini sudah merupakan janji Allah, petunjuk dan hidayah Allah akan sampai juga bagi yang sungguh sungguh belajar Islam untuk mencari kebenaran.

{وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ، وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ} 69/ العنكبوت .

Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh sungguh) untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. 29:69).

Kalau tidak datang juga hidayah itu kepada kita, berarti kita sudah masuk dalam kelompok manusia yang sudah disesatkan Allah, karena Allah SWT tidak pernah ingkar janji kepada hambaNya. Tersesat juga walau telah ”belajar Islam”, itu tandanya kita bukan pencari kebenaran sejati, tetapi mencari pembenaran sejati untuk ke eksis- an kabilah kita, macam kelompok Jaringan Islam Liberal, Syiah, Ahmadiyah dstnya. Dimantapkan sajalah kesesatannya oleh Allah, memang pantasnya manusia yang tidak mencari kebenaran dalam hidupnya, tetapi mencari pembenaran diri, mencari pembenaran kabilahnya, golongannya, dibakukan sekalian saja kesesatannya.

{فَمَا لَكُمْ فِى الْمُنَافِقِينَ فِئَتَيْنِ وَ اللهُ أَرْكَسَهُمْ بِمَا كَسَبُوا ، أَتُرِيدُونَ أَنْ تَهْدُوا مَنْ أَضَلَّ اللهُ ، وَمَنْ يُضْلِلِ اللهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلاً}

Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka pada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri. Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah?, Barangsiapa yang telah disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya. (QS. 4:88)

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللهَ يَهْدشى مَنْ يَشَاءُ ، وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلأَنْفُسِكُمْ ، وَمَا تُنْفِقُونَ إِلاَّ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ ، وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لاَ تُظْلَمُونَ

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siap yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya. (al-Baqarah;  2:272)

SYARAT KELIMA :

Jangan sembunyikan kebenaran jika kita kita telah mengetahuinya. Jangan belagak pilon, jangan pura pura tidak tahu terhadap masalah yang ada dihadapan kita. Ciri seorang pencari kebenaran sejati justru begitu gembira menemukan kebenaran baru yang datang padanya dan tak akan mempeti es kan apa yang ia telah temui. Karena tanggung jawabnya langsung kepada Allah SWT. Tidak ada KONGKALIKONG dalam masalah kebenaran. Karena manusia hanya tunduk patuh kepada Allah SWT. Begitu telah ia sampaikan kepada orang lain apa yang ia telah ketahui, maka terlepaslah ia dari pertanyaan Allah SWT kelak di yaumil akhir.

وَلاَ تَلْبِسُوا اْلحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا اْلحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ.

Dan janganlah kamu campur-adukkan yang hak (yang benar) dengan yang bathil (yang sesat) dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu (yang benar itu), sedang kamu mengetahui. (al-Baqarah;  2:42)

Problem yang paling berat dihadapi manusia adalah bagaimana menyampaikan kepada ummat bahwa perjalanan hidup yang dilaluinya selama ini telah tersesat, sementara ia telah menjadi figure public  yang menjadi panutan ummat.  Pamor akan jatuh?. Pada phase ini andil iblis amat berperan. Karena itu ia tetap mempertahankan kesesatannya lantaran gengsi seperti paman Rasulullah Abdul Mutholib, hidup dimakan gengsi, maka Allah akan bikin sesat sekalian kelompok manusia tersebut macam organisasi organisasi sesat terdahulu.

Betapa menyedihkan mantan ketua Muhamadiyah yang namanya amat kesohor berpeluk pelukan mencium kening khalifatulmesihnya Ahmadiyah, tokoh yang kalau dimasa Khalifah Abubakar RA sudah pasti di basmi habis. Tokoh muhammadiyah malah memeluknya dengan mesra.

Nabi palsu dan pengikutnya dimasa kekhalifahan di perangi (dibunuh habis), zaman sekarang cuma didemo dan sedikit perang batu, pendemo inipun masih dikomentari oleh JIL (Ulil Abshar Abdala), Adnan Buyung Nasution sebagai tindakan yang anarkis dan pelanggaran HAM. MUI mau dituntut pula, wah. Begitulah kalau keledai tidak paham apa yang dibawa. Contoh lain peristiwa tanjung Priok dimana kaum muslimin di bantai, setelah itu Benny Moerdany mengunjung pesantren pesantren (ceritanya ishlah neh), ternyata para ulama berpelukan mesra dengan manusia yang patut mendapat qishas tersebut. Ironis dan itulah fakta, kualitas dan mentalitas oe-lama organisasi organisasi Islam terbesar di Indonesia telah amburadul, bagaimana ummat juga tidak kacau jika ulamanya Mr. Bean?(oe-lama yang mentertawakan karena akhlaknya).

Berpeluk pelukan berkasih sayang terhadap manusia yang jelas jelas mencederai Al Qur’an bukanlah cermin dari manusia taqwa. Akhlak Islam adalah berkasih sayang kepada sesama mereka yang ber-iman, tapi bersikap keras dan tegas terhadap kaum kufar yang jelas jelas mencoba menggerogoti wahyu wahyu Allah SWT(Q 48:29). Jika yang dilakukan berpelukan mesra dan saling mencium, bukankah itu pertanda  Muhammadiyah dengan Ahmadiyah, organisasi kakak beradik ?

Jadi jelas mengapa Allah SWT mempatenkan  mereka sesat sekalian? Karena sombongnya mereka terhadap kebenaran yang datang dari Allah. Masa bodoh terhadap peringatan peringatan yang datang padanya, cuek, merasa organisasi Islam tapi menjadikan perasaannya, akalnya, ghodob dan syahwat sebagai tuhannya, sementara Al Qur’an dan As Sunnah ditelikung didalam ketiaknya. Al Qur’an cuma dipakai buat musabaqoh, nujuh hari-an, pembukaan acara acara keagamaan, setelah itu Qur’an cuma dipajang dan dibangga banggakan sebagai kitab yang hebat, tapi bukan untuk di aplikasikan dalam kehidupan masyarakat. Maka secara hakikat masyarakat kita memang bukan masyarakat Islam, tapi masyarakat yang serupa Islam. Masyarakat yang ragu terhadap Al Qur’an, hanya mau pakai yang ringan ringan saja, ayat ayat yang lain peti es kan. Sempit dada saya pakai baju Islam, begitu kata tokoh Ahmadiyah, eh …Muhammadiyah. Indah nian itu pernyataan.

Al Ghazali mengatakan bahwa justru manusia yang paling dalam tercampak kedalam jahanam adalah dari kelompok manusia yang menyembunyikan kebenaran padahal dia amat mengetahui. Tampilan mereka 100% berwajah Islam, tapi manakala ditawarkan syariat Islam sebagai jalan satu satunya dan tidak ada pilihan lain untuk mengatur kehidupan manusia, maka justru dari organisasi yang mengatas namakan Muhammad, mengatas namakan Ulama sangat menentang syariat Islam ditegakkan.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِى اْلحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللهَ عَلَى مَا فِى قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ

Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. (al-Baqarah; 2:204)

Maka terjatuhlah manusia pada nilai kemanusiaan yang paling rendah, aspal. (tempat yang serendah rendahnya) Kata orang betawi mereka enggada ape apenye. Enggade nilainye. Oe-lama ame preman sama aje, enggada bedanye. Gawat kan tuh kalau pandangan masyarakat sudah demikian.

{لَقَدْ خَلَقْنَا اْلإِنْسَانَ فِى أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ}

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (QS. 95:4)

{ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ}

Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), (QS. 95:5)

TINGKATAN SUMBER KEBENARAN :

I. Kebenaran dari Allah SWT :

Bersifat mutlak benarnya. Kebenaran yang sebenar benarnya benar. Berlaku bagi siapapun, kapanpun dan dimanapun.

اَلْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ ، فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ اْلمُمْتَرِينَ

Kebenaran itu adalah dari Rabb-mu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.(mutlak benarnya) (al-Baqarah; 2:147)

Bagaimana kebenaran dari Rasulullah?.  Sunnah Rasulullah itupun sebenarnya sumber utamanya dari Allah jua. Jadi tak seorangpun berhak, punya hak, mengklaim sebagai sumber atau creator kebenaran. Tak ada kalimat dalam Al Qur’an yang menyatakan Rasulullah sebagai sumber kebenaran, maka Rasulullahpun bukan creator kebenaran, Rasulullah hanya utusan Allah, pesuruh Allah untuk menyampaikan pesan pesanNYA kepada manusia, agar manusia hidup sesuai petunjuk Allah semata. Karena Allah SWT memerintahkan hambaNYA mentaati Rasulullah, maka kita sebagai ummat Muhammad wajib pula berpegang kepada Sunnah Rasulullah SAW.

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهَا الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ، وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya. dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali. (QS. 4:115)

Karena kebenaran itu hanya datangnya dari Allah, maka jika ada seseorang Yahudi, Nashara, atau Majusi, berbicara benar yang ternyata sesuai dengan prinsip prinsip Qur’an, Sunnah, kita harus berani menyatakan bahwa apa yang dikatakannya itu benar, tapi sebatas menerima apa yang dikatakannya dan bukan lantas mengikuti jejak ugamanya atau gerak hidupnya yang jauh dari konsep hidup Islam. Mungkin saja suatu ketika walau seorang pendosa sekalipun (pelacur), berbicara, diantara kata katanya ada yang benar, manusia lain harus siap menerimanya untuk kata kata yang benarnya.  Jadi kita tak boleh mengatakan lantaran anda bukan ulama, anda tak pantas bicara Islam, pernyataan tokoh anggota DPR itu memprihatinkan, padahal Ali Bin Abi Talib berkata, jangan lihat siapa yang bicara tapi lihatlah apa yang dibicarakan.

II. Kebenaran bersumber dari Akal:

Bersifat bisa benar bisa salah. Jika semata mata hanya mengandalkan akal tanpa mengacu kepada Al Qur’an dan As Sunnah, maka akal bisa keliru, akal bisa salah dan bahkan malah kerap membikin manusia jadi pusing, bersikap ekstrim atau tersesat lantaran hanya mengandalkan akal.

Contoh:

Seorang sopir membawa kendaraan se kencang kencangnya, teman disebelahnya berkata, kenapa kamu bawa mobil gila gilaan?, jawab sopir, sabodo amat bukan mobil gue ini. Benar juga pikir temannya, karena bukan mobilnya maka sang sopir bawa mobil gila gilaan, kalau mobilnya sendiri tentu dia akan hati hati dan nyantai, begitu pikir temannya. Di hari berikut sang sopir pakai mobil lain, ngebut lagi, temannya berkata lagi, tentunya ini mobil orang lain lagi?, jawab sang sopir tidak, ini mobil gua. Sabodo amat, mau gue kebut kek, mau engga kek, mobil gue ini. Temannya berfikir lagi, benar juga soalnya mobil sendiri dia bebas ngebut se kencang kencangnya. Disini terlihat kebenaran akal yang tidak berkait dengan qur’an langsung bersifat relative.

Seorang pengendara motor di malam hari ngebut dan menabrak pengendara sepeda yang sedang menyeberang jalan. Dua duanya terjatuh. Pengendara motor marah, mate elu kemana, tau ada motor lewat pakai lampu, elu nyebrang aja. Kemane mate lu…Pengendara sepeda tidak mau kalah ngotot, mate elu yang kemane, tau ada orang nyeberang jalan pakai lampu, eh main tabrak aja.

Mana yang benar?, dua duanya merasa benar, tapi jika mau diteliti pasti ada yang lebih benar dari yang benar, harus ada solusi lain dalam menilai kasus diatas, yaitu peraturan untuk umum dalam penggunaan jalan. jika tanpa aturan, dunia semakin ruwet. Begitupun dalam memahami Al Qur’an, ada ilmunya, jika tidak mengunakan ilmu tersebut, banyaklah manusia menafsir Al Qur’an seenak hati, akibatnya muncullah aliran ini itu, disebabkan menyatakan suatu “kebenaran” tanpa didukung ilmu yang memadai.

Dari contoh kisah diatas, ternyata kebenaran akal, yang tidak berkait langsung dengan Al Qur’an dan As Sunnnah, ada tingkatannya. Maka Allah SWT meminta untuk manusia, memilih yang terbaik dan terbenar (Q 39:17,18) tentunya dengan melihat situasi dan kondisi, ideal dan realistisnya, aturannya dan kebijakannya. Tidak terlalu serba aturan sehingga orang menjadi stress dalam menghadapi kehidupan (manusia diplot seperti mesin, kaku), tidak pula begitu nyantai lunak sehingga segala sesuatu menjadi acak acakan, karena tidak ada disiplin.  Tidak main hakim sendiri (hantam kromo), karena merasa power ada padanya, tidak pula membiarkan sehingga manusia nekad.

Keseimbangan ini (balance) perlu di jaga karena kebenaran akal yang tidak terkait Al Qur’an bersifat relative sementara kebenaran Al Qur’an bersifat mutlak.  Ugama Islam adalah ugama yang sangat seimbang diantara ugama ugama lain yang ekstrim kanan atau ekstrim kiri. Ugama Islam tidak pernah menjadi ekstrim kanan atau ekstrim kiri. Jika manusianya atau pengikutnya bisa saja menjadi ekstrim kiri, ekstrim kanan, bahkan teroris sekalipun. Jangan sekali kali menyamakan pengikut suatu agama dengan agamanya, pengikut ajaran adalah manusia, bisa saja melenceng, tapi Islam terjamin keasliannya.

ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ

Kitab (al-Qurán) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (al-Baqarah; 2:2)

III. Kebenaran dari Penglihatan :

Sumber kebenaran bisa juga berasal dari penglihatan, tetapi jika hanya mengandalkan penglihatan, ternyata penglihatan mata juga bisa keliru. Misal kita dihadapkan seorang kembar yang salah satunya melakukan pembunuhan, begitu sikembar di pajang, kita menjadi bingung, mana yang sesungguhnya pembunuh yang sesungguhnya, mau tidak mau harus ada perangkat lain untuk menentukan dari sikembar yang salah satunya melakukan pembunuhan tersebut.

Karena itu kita tidak boleh 100% percaya pada kebenaran pandangan mata, contoh, jika kita amati rel kereta api, ternyata disukai atau tidak, mata kita mengatakan bahwa pada ujungnya rel tersebut menyempit dan menyatu, padahal kalau kita dekati, tak akan pernah kita jumpai rel kereta api yang menyatu. Contoh lain, ada air didepan pandangan kita digurun ditengah hari. Kita katakan fatamorgana, ternyata setiap kita dekati daerah yang kita anggap ada air tersebut, air tidak pernah kita jumpai. (jadi fatamorgana adalah hasil pandangan mata yang menipu).

Mata kita sering mengukur kebahagiaan manusia dari kekayaan yang diperoleh, betapa bahagianya mereka yang punya rumah mewah dan mobil wah, ranch luas ber hektar hektar. Itulah ukuran mata kita yang kemudian diolah akal. Ternyata Allah SWT justru menyatakan yang sebaliknya.

{اِعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى اْلأَمْوَالِ وَ اْلأَوْلاَدِ ، كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَمًا ، وَفِى اْلآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللهِ وَرِضْوَانٌ ، وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ}

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu (fatamorgana). (QS. 57:20)

Tapi anehnya walau kemewahan dunia tersebut adalah kesenangan yang menipu, tetap saja manusia doyan dan amat senang untuk ditipu. Orang orang KPU korupsi, mantan menteri agama hafiz Qur’an korupsi, Gubernur daerah tegaknya syariat Islam korupsi, anggota DPR semua partai Islam juga korupsi, maling teriak maling, maling teriak maling, maling teriak maling, lantas kapan kita ketemu yang bukan maling jika yang nangkap maling pun maling.

IV. Kebenaran dari Perasaan :

Betapa menyeramkannya hidup dalam kemelaratan, begitulah yang dirasakan kebanyakan manusia, maka mereka berusaha keras untuk keluar dari kemelaratan, siang malam, pagi sore kerja keras tanpa mengenal lelah walau kerap telah kelelahan, tetap genjot terus untuk mendapat hasil yang optimal, resiko lever atau penyakit lain bagi orang yang memforsir dirinya kurang diperdulikan. Padahal Allah SWT telah mengatur yang baiknya menurut manusia dalam pengaturan waktu sbb:

{هُوَ الَّذِى جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا ، إِنَّ فِى ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ}

Dialah yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya dan (menjadikan) siang terang benderang (supaya kamu mencari karunia Allah). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar. (QS. 10:67)

Padahal sesungguhnya kesenangan dan kesusahan itu hanya permainan perasaan. Tidak sedikit orang yang kaya raya karena takut menjadi miskin menjadi sangat kikir dan selalu menghitung hitung. Sementara ada orang yang serba kekurangan harta hidupnya always happy. Wajahnya cerah, senyumnya murah, biar umur tua, tapi wajah segar, ada pula orang yang masih muda wajah tampak tua menggambarkan perjuangan hidup yang keras dalam pemburuan harta yang tak pernah cukup cukupnya.

Seorang ibu bertanya kepada seorang arif, pak, rumah saya kecil, adik sayapun tinggal dirumah saya, pusing saya dengan sumpeknya rumah dan dengan kemiskinan ini, apa yang harus saya lakukan dari tekanan perasaan kesumpekan seperti ini?, sang arif menjawab, besok ibu masukkan ayam 5 ekor dan kandangnya dalam rumah, setelah seminggu balik lagi kesini. Seminggu kemudian sang ibu balik, waduh pak saya tambah bingung dan sumpek dengan adanya ayam dalam rumah, saya harus lakukan apalagi supaya kesemrawutan ini berakhir?, sekarang masukkan kambing 5 ekor dalam rumah, dan ibu kembali lagi kesini seminggu lagi, sang ibu menurut dan datang lagi kepada sang Arif, semakin meluaplah kekesalannya karena terhimpit beban yang semakin berat dan semakin semrawut, sang Arif kemudian memberi nasihat final, coba sekarang ibu keluarkan semua hewan didalam rumah tersebut semuanya, dan datang lagi seminggu lagi kesini, Sepekan kemudian sang ibu datang lagi dengan wajah cerah, wah pak, sekarang lega perasaan saya, rumah terasa lapang dengan tidak adanya hewan hewan tersebut.

Begitulah manusia jika hanya mengandalkan perasaan. Pandangannya tentang kebenaran yang menjadi fokusnya bisa berubah ubah, sekarang keluh kesah, besok semakin keluh kesah, besoknya lagi merasa nyaman, padahal tidak ada perubahan dalam kasus yang pertama. Hanya saja setelah beban ditambah, ditambah lagi,ditambah lagi, kemudian di hilangkan beban baru tersebut, perasaan sang ibu menjadi lega. Padahal isinya tetap sama sejak awal ia datang. Sang ibu telah ditipu perasaannya.

Karena itu kita harus berhati hati menyikapi sesuatu kebenaran hanya berdasarkan perasaan, bahkan bisa bablas jika tidak mengindahkan syariat. Tidak enakkan pi dia bicarakan nikah kontrak yang jadi kemelut papi, mami setuju pemikiran papi, tapi dia kan masih anak kita juga. biar sajalah dia nikah kontrak dalam sehari 12 wanita ditiduri jika masa kontraknya hanya 2 jam,  jangan singgung perasaannya lho pi. Itukan keyakinan mereka yang harus kita hargai. Pokoknya mami tidak mau ada ribut ribut dalam keluarga kita, biar kata anak mami udel di tontonin, yang penting anak kita enjoy, merasa PD dengan penampilannya. Zaman sudah dimana mana anak gadisnya begitu pi, jadi papi tidak usah mencampuri ham mereka. Ya to pi.. ihhh.. gue gecek luh..

Mengandalkan kebenaran akan sesuatu berdasar perasaan tanpa dukungan wahyu Allah akan repot. Dan hebatnya perasaan itu sendiri merupakan tempat mangkalnya syeitan seperti ayat sbb:

{وَقَالَ إِنَّمَا اتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِ اللهِ أَوْثَانًا مَوَدَّةً بَيْنِكُمْ فِى الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ، ثُمَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُو بَعْضُكُمْ بِبَعْضٍ وَيَلْعَنُ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَمَأْوَاكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَاصِرِينَ}

Dan berkata Ibrahim: “Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini kemudian di hari kiamat sebagian kamu mengingkari sebagian (yang lain) dan sebagian kamu melaknati sebagian (yang lain); dan tempat kembalimu adalah neraka, dan sekali-kali tidak ada bagimu para penolongpun. (QS. 29:25)

Karena perasaan kasih sayangnya begitu rupa terhadap istrinya yang cantik tapi beda ugama, anaknya yang cantik, sexy dan manja, maka dibiarkannya ia tetap dalam ugama yang beda, dibiarkannya udel terbuka, dibiarkannya tidak sholat dst, padahal secara syariat dia tidak sebenarnya kasih kepada istrinya, istrinya bakal masuk neraka dibiarkan saja, anaknya bakal masuk neraka dibiarkan saja, bahkan di support pakaian pakaian makin merangsang dan itulah yang terjadi. Takut menyinggung perasaan hatinya jika aku bicara ugama, “Takut”nya itu sebenarnya hanya bisikan syeitan yang merasuk didalam perasaannya.

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَ اللهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلاً  وَ اللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (al-Baqarah; 2:268)

Nah, jika sudah begitu bunyi ayatnya, semakin parahlah jika kita mencari kebenaran semata mata mengandalkan perasaan, Kita harus berusaha membuangnya dan mampu berkata, bodo miskin, emang gue pikirin…..Sebab kalau dituruti perasaan takut itu, maka jelas kita termakan syeitan.

V. Kebenaran dari Pendengaran :

Pendengaran merupakan alat penerima dalam panca indra kita, tapi itupun jangan di percaya seratus persen. Karena pendengaran juga bisa tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Contoh, ada sekumpulan pemusik bermain band, dengan perangkat yang begitu hebat mereka memainkan alat alat musiknya, penonton terpukau oleh aksi panggung mereka memainkan alat musik, eh tidak taunya mereka hanya berpura pura memainkan musik, padahal sound musiknya sendiri bukan dari instrument yang mereka pakai, tapi dari sound system lain berkwalitas baik yang diputar keras keras.

Katakanlah untuk ayam berkokok saja, tiap tiap negara atau daerah ada yang beda beda dalam pengucapannya, ada yang kuk ku ruyuk ada yang kong ko rongok. Mana yang dijadikan dasar?. Jadi berpegang kebenaran dengan mengandalkan pendengaran, juga harus diwaspadai, semua alat panca indra tersebut hanya sebagai alat bantu untuk mencernakan qur’an dan sunnah dengan baik. Bukan untuk yang sebaliknya. Tidak boleh, penglihatan, perasaan, pendengaran, pemikiran (akal) diatas kebenaran Al Qur’an dan As Sunnah, jika itu yang terjadi sesatlah manusia itu se sesat sesatnya.

Bisa menerima Kebenaran adalah Hidayah :

Al Ghazali mengatakan bahwa kebenaran tidak bisa dijelaskan dengan kata kata, kata kata adalah bahasa kesepakatan, kebenaran tidak mengenal kesepakatan. Kebenaran adalah hidayah. Orang non muslim mengatakan yesus tuhan, dan itu mereka yakini benar, walau kita ummat Islam mengatakan bahwa yesus itu hanya manusia biasa. Walau kita katakan, mosok tuhan berak, kentut, kencing dan nafsu lihat wanita telanjang, mereka tetap saja tidak hiraukan apa yang menjadi keberatan kita. Jadi apakah mereka bodoh? sama sekali tidak, cuma soal hidayah, (paman Rasulullah orang yang pintar melindungi dan mempergauli kemenakannya), mereka belum pantas menerima hidayah Allah karena jiwanya memang belum pantas untuk menerimanya. Hebatnya mereka juga akan mengatakan kepada kita bahwa kita belum dapat hidayah untuk memahami tuhan Yesus, nah, berarti hidayah itu sesuatu yang sangat istimewa bukan?,  Hidayah hanya bisa dimengerti hanya bagi yang mereka memperoleh hidayah pula. Jadi semacam bahasa isyarat.

Jika ada kesalahan mohon dikoreksi, yang benar dari Allah yang keliru dari penulis.

Jakarta, 21 Juli 2005.

-ooOoo–

Fatally Kelirumologi Democrazyyah

Oleh :

Darmen Adios

Teman saya, anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Kaltim bertamu kerumah saya, ia seorang khatib jum’at di Kaltim, kantor usahanya dikawasan Tebet Jakarta dan pabriknya dikawasan Bogor, posisinya sebagai komisaris. Ia yang istrinya saya yang menjodohkan, berangkat ke Kaltim sebagai pegawai negeri Meteorology  Geofisika, bertugas di bandara Sepinggan mengawas cuaca. Rupanya kehidupan partai dan sebagai anggota Dewan telah merubah kehidupan ekonominya, pegawai negeri ditinggalkannya karena mungkin sudah tidak lagi menjanjikan.

Setelah terjadi dialog panjang dengan teman saya yang anggota dewan terhormat ini, saya akan beberkan kepada anda pemikiran pemikiran partai mereka, kenapa mereka menjadi supporter democrazy. Ia mengakui system democrazy batil, hanya saja mereka mau mencemplungkan diri kedalam lubang tinja democrazy, dengan alasan mau membuang tinja tinja itu, walau dengan konsekwensi harus berlepotan tinja disekujur tubuhnya.

Tetapi teman saya membantah, mereka bilang mereka ikan, bukan manusia pembersih tinja yang nyemplung kelubang tinja, biar dilaut tetap tidak asin, biar didalam kubangan tinja tidak tersentuh tinja tinja itu, begitu katanya. Saya katakan dia dusta, tokoh partainya saja, ketua MPR, men sholatkan jenazah Nurcholis Madjid.

Di tambah lagi si taghut Nurcholis Madjid, oleh para tokoh partai apa ya Islam ini, didoakan agar arwahnya ditempatkan oleh Allah sejajar dengan Rasulullah dan para sahabat Rasul. Sama saja seperti mendoakan pekerja komersial sex yang meninggal sehabis transaksi sex, agar arwah pekerja komersial sex tersebut ditempatkan bersama Siti Khadijah, Istri Rasulullah saw. Padahal sesungguhnya perbuatan Nurcholis Madjid tersebut bahkan lebih buruk lagi dari pekerja komersial sex tsb, oleh sebab ia (Nurcholis) telah mensejajarkan diri, merasa punya wewenang untuk melawan ketetapan hukum hukum Allah dengan menikahkan wanita Muslimah dengan laki laki kafir.

Perbuatan tokoh partai itu menunjukkan mereka belepotan tinja lantaran mereka memang harus pandai menyesuaikan diri dengan budaya lingkungan. Kalau orang banyak memuliakan Nurcholis Madjid, maka “ikan” harus bisa sesuaikan diri thd apa maunya arus masyarakat banyak. Airnya tawar, jadilah ikan tawar, airnya asin, jadilah ikan asin, airnya payau, jadilah ikan payau dstnya. Agar mereka dari pandangan lingkungan tak begitu tampak tampil beda, walau dengan resiko menentang firman Allah dalam larangan mensholatkan dan mendoakan manusia manusia taghut, kafir semacam Nurcholis Madijd tsb.

وَلاَ تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلاَ تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ ، إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ

Dan janganlah sekali-kali kamu menshalati (jenazah) seseorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendo’akan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. (at-Tawbah; 9:84)

Banyak lagi contoh lain yang merupakan bukti, ikan partai menjadi asin, seperti kasus korupsi partai apaya Islam oleh anggota dewan di sumbar. Secara rombongan anggota dewan dari partai apaya Islam korupsi. Bahkan sebenarnya sejak kontrak pertama ikut system democrazy, mereka telah menjual akidah mereka, meng-asinkan diri dari awal langkah mereka yang akan kita bahas kemudian.

Rasulullah pernah bersabda bahwa ummat pengaku Islam ini akan ikut saja kemauan Yahudi Nasrani, sekalipun mereka masuk kesarang biawak (mereka bikin system democrazy, ummat Islam ikut system tersebut macam kerbau dicocok hidung), padahal ikuti syariahnya orang kafir terlarang, belum lagi malunya itu, kalau orang kafir ikuti penampilan kaum muslimin dengan pakai sorban, pici dst itu biasa, itupun mereka lakukan untuk menipu ummat.  Tapi ummat Islam ikuti ajaran mereka, ini namanya melampoi batas.

Umumnya orang partai tidak hiraukan sabda Rasulullah tsb, walau mereka tahu hadist tersebut. Dalam banyak hal saya perhatikan juga demikian, lantaran mereka mungkin merasa lebih pintar, lebih tau dari Rasulullah saw dalam hal “memperjuangkan diin Allah.

Untuk kita jadikan referensi bagaimana sebenarnya kualitas bangsa BBM, kita lihat fakta sejarah yang sangat sangat memalukan dimana bangsa BBM dijajah Belanda 3,5 abad. Jika seorang benar keimanannya kepada Allah, 1 hari saja mereka tidak tahan dijajah dan pasti melawan. Melawan berarti punya peluang mati syahid. Itu kematian yang selalu diimpikan pejuang pejuang Islam, dari dahulu sampai sekarang dan sampai kapanpun.

Kalau sudah sampai 3,5 abad dijajah, ber arti bangsa BBM bangsa yang sangat takut menghadapi kematian, lebih baik jadi budak bangsa Belanda dari pada mengorbankan nyawa untuk suatu kemerdekaan yang hakiki, begitu kira kira pemikiran bangsa BBM.

Khalifah Abu Bakar Shiddiq berkata, carilah kematian, niscaya dia memberimu kehidupan. Lantaran bangsa BBM tidak mencari kematian, tetapi mencari kehidupan, malah kehidupannya menjadi sengsara dijajah selama 3,5 abad. Waktu 3,5 abad adalah waktu yang lebih dari cukup untuk membentuk bangsa BBM menjadi bangsa berbudaya penjilat terhadap penguasa Belanda, asal bapak senang, cari selamat, cari muka, hypocrite, cari asal untung.

Kita dengar nasihat nenek yang merupakan rintisan gen bangsa jajahan berapa abad silam,  nduk, kowe jangan melawan arus yaa, nanti hidup kowe susah. Dan nasihat sang nenek ternyata “lebih manjur”, dari kalau ikuti sabda Rasulullah, bukti menjadi kaya itu karena ikuti nasihat nenek, coba ikuti sabda Rasulullah, beraaaat, harus siap mental jadi orang susah.… Rasulullah biasanya cuma sekedar dipuji sebagai manusia teladan dalam setiap kutbah oleh ulama ulama democrazy, tapi bukan untuk diikuti sabda sabdanya.

Faktanya bangsa BBM memang ber ugama (diin) menurut apa yang disukainya dan bukan apa yang dikehendaki ugama. kita lihat, tak satupun “muslimah” kita keluar rumah dengan berpakaian tapi telanjang punya perasaan berdosa terhadap pakaian liarnya tersebut. Saya yakin wanitanya sebagian besar tahu pakaian yang diperintahkan ugama itu apa,  tapi tidak mudeng terhadap perintah Allah tersebut. Kalau mayoritas wanitanya seperti itu, bukankah itu gambaran prianya juga ber ugamanya menurut kehendaknya dan bukan menurut apa yang dikehendaki Allah.

Jama’ah liqo orang partai juga telah punya syariat tersendiri, apapun sabda Rasulullah atau firman Allah yang menentang kekeliruan mereka dalam berjuang, kalau pimpinan partai (syuro, yang katanya ahli ahli agama), belum koor bareng meng amini apa yang terdapat dalam Qur’an Sunnah, maka jama’ah liqo tunduk patuh kepada ulamanya, persis keimanan ummat nasrani yang mensandarkan keimanannya kepada rahib rahibnya.

Pandangan Ustadz Abu Karim Fatullah

Berbeda dengan Ustadz dari Partai, Ustadz Abu Karim Fatullah dalam bukunya Kekeliruan Pemikiran Abu Bakar Ba’asyir, malah menyatakan democrazy sesuai dengan Islam, walau dia sendiri mengakui democrazy berasal dari dubur orang non muslim peranakan barat. democrazy memang anak kandung peradaban barat hal 35, baris 18,19.

Abu Karim Fatullah menganggap democrazy sebagai system yang menerangi, kita baca cuplikannya, Jangan heran jika saat ini konsep demokrasi ibarat pelita digelapnya malam yang banyak didatangi laron, semua negara berlomba menuju ke arahnya karena ia dianggap sebagai salah satu system yang mampu mengeliminir semua bentuk ke tidak adilan dan penindasan penguasa terhadap rakyatnya.(hal 38,baris 22). Abu Karim rupanya hendak memberi gambaran system Islam penindasan penguasa atas rakyatnya karena itu tidak didatangi laron.

Maka dari kelompok mereka ada pendukung mutlak system democrazy seperti ustadz Abu Karim Fatullah, ada pula kelompok dari ustadz partai dakwah yang tahu democrazy itu menyesatkan, mereka katanya berusaha memperbaiki bagian dalam. Kalau tidak ada mereka, kata mereka keadaan negeri BBM akan lebih parah. Benarkah?

Prinsip berjuang Islam bukan dari pada dari pada, bukan pula menang atau kalah, tapi benar atau salah langkah mereka dalam berjuang. Islam telah sempurna, jadi tinggal check and re check, kalau kedapatan langkah bertentangan dengan firman Allah, kudu harus ditinggalkan langkah tersebut. Begitulah komitment orang yang berjuangnya benar. Tidak berharap keuntungan dunia, bahkan nyawapun kalau diperlukan akan diberikan untuk perjuangan itu.

Saya kurang percaya jika para “pejuang” ini di gaji 2 juta perbulan akan mau berjuang dari dalam itu. Kalaulah tidak menjanjikan, pasti tu “tempat berjuang” ditinggal, lantaran para “pejuang” penghasilannya menjanjikan, maka teman saya dari Pertamina saja ada yang rela tinggalkan jabatannya di Pertamina. Wong berjuang dengan cara enak, cuma omong omong doang, perasaan tetap sabilillah, dapat uang banyak, bodohlah tidak mau masuk, laron saja menyerbu.

Yah itulah manusia, tetapi apapun sikap yang dipilih yang pasti semua pilihan tersebut ada konsekwensi logisnya kelak di hari pembalasan, siapapun orangnya, dimana didunia ini mereka sebenarnya juga sedang menanti nanti keputusan Allah yang maha dahsyat. Q 9:24.

فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللهُ بِأَمْرِهِ

maka tunggulah, sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya (at-Tawbah; 9:24)

Apa Itu Democrazy ?

Kata Democrazy berasal dari Yunani, ringkasan gabungan dari dua kata Demos = yang ber arti rakyat dan Kratos = yang ber arti hukum. Lengkapnya menjadi, kekuasaan membuat hukum, wewenang membuat hukum, wewenang membuat aturan berada ditangan rakyat. Dan bahasa baku yang diakui semua pihak dinegeri BBM, democrazy artinya kedaulatan ditangan rakyat. Suara rakyat, suara terbanyak, menentukan kepastian suatu hukum menjadi sah, legal, absah, berlaku untuk dijalankan.

Sepintas kata, kata democrazy (kedaulatan ditangan rakyat) ini membuat hidung rakyat membesar, gile, gue dihargai oleh system, dari mulai tukang beca, mbok mbok tukang sayur, sopir oject, pelacur, preman sampai orang orang kaya, pedagang, aparat, punya perasaan dihargai yang sama, suara anda, pilihan anda menentukan nasib bangsa, begitulah pesan pesan indah system thagut ini.

Masalahnya tentu tidak terhenti sampai pada kebanggaan orang banyak untuk memilih siapa wakilnya di DPR, President atau Gubernurnya, tetapi democrazy adalah suatu system horizontal dengan syariat (aturan) tertentu, dalam democrazy jika terjadi pertikaian, urusan tidak dikembalikan kepada Qur’an Sunnah sebagaimana diperintahkan Allah SWT, karena kaidah hukumnya suara terbanyak, maka penyelesaiannya kembali apa kehendak suara terbanyak. Tidak perduli bertentangan dengan Qur’an atau tidak.

Karena kedudukan aturan syariatnya demikian, system democrazy malah menjadikan manusia sebagai tuhan tandingan Allah, oleh karena system membentuk manusia menjadi penentu hukum menurut kehendak manusia banyak itu. Dalam system Islam, hak manusia dalam soal hukum, hanyalah membuat hukum keduniaan yang tidak terdapat dalam Qur’an Sunnah, misalnya masuk sekolah jam 7 pagi pulang jam 12 siang. Hukum berlalu lintas dll. Dalam system democrazy,  jika terpaksa berbentur dengan Qur’an Sunnah, maka Qur’an Sunnah dicampakkan. karena kaidah yang berlaku, bagaimana suara terbanyak sajalah. Anggota DPR tunduk patuh terhadap syariat iblis tersebut.

Islam suatu system, system horizontal dan vertical (terpadu) dengan syariat (aturan) tertentu dan telah sempurna. Sempurna dalam pengaturan urusan vertical maupun pengaturan hukum keduniaan (horizontal). Kerangkanya telah tersusun rapi sejak Allah menyatakan kesempurnaannya belasan abad yang silam. Dengan menyodoknya system horizontal democrazy kedalam kehidupan ummat pengaku Islam, terjadilah bentrokan system dan bentrokan pendukung antara pendukung system kafir melawan pendukung system Islam yang datang dari Allah SWT. Mengutip kata kata Abul A’la Al Maududi, “Selama system ini masih ada (democrazy), kami menganggap bahwa Islam itu tidak ada dan jika Islam itu ada maka tidak ada tempat bagi system ini”.

Kesalahan Fatal Memahami Makna “Agama”

Sejauh ini masyarakat awam memandang agama itu dengan ciri khas peribadatan khusus seperti sholat, puasa, haji, zakat. Kalau tidak sholat, tidak mantap ber agamanya, tidak merasa beragama, ada perasaan tersalah jika tidak sholat, itu bagi yang sholat. Yang tidak sholat ampun, lebih banyak lagi. Pandangan agama terciri dari peribadatan khusus saja, lantaran juga melihat contoh agama lain seperti Katolik, Budha, Hindu yang memang bagi mereka agama untuk hal hal yang khusus demikian, apalagi dalam ajaran Nasrani terbiasa kita mendengar, berikan hak tuhan untuk tuhan, hak raja untuk raja.

Kalimat hak tuhan untuk tuhan, hak raja untuk raja adalah gambaran pemisahan mutlak antara urusan horizontal dan urusan vertical, tidak ada keterpaduan atau berdiri sendiri. Masing masing raja atau tuhan punya kuasa dan punya wewenang dalam bidangnya masing masing. Tetapi apapun namanya dan apapun systemnya, segala macam bentuk system kehidupan, apakah itu untuk urusan horizontal atau vertical, selain system Islam (ad diin Islam) adalah system kufar.

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرِ اْلإِسْلاَمِ دِيْنًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِى اْلآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari system kehidupan (diin) selain dari system (diin) Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (system itu = misal democrazy) dari padanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Ál ‘Imrán; 3:85)

Adanya departemen agama di negeri BBM, membuktikan bahwa agama memang dikenal sebagai urusan vertical. Padahal dalam pemahaman Islam, agama, atau diin Islam adalah kesemuanya, salah kaprah yang telah berlarut larut ini dan tak ada upaya penguasa  untuk merubahnya mengakibatnya ummat pengaku Islam menerima ajaran horizontal dari system diluar Islam tanpa protes dan tanpa proteksi, kesalahan fatal yang dilakukan ummat, kebodohannya atas Islam, membuat democrazy malah dianggap seperti pucuk dicinta ulam tiba, sebagai mana bela dirinya ustadz Abu Karim Fatullah membela ajaran sesat democrazy ini.

Tetapi karena Allah SWT tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, akan selalu saja ada hamba hamba Allah yang diberi petunjukNYA, disadarkan akan bahayanya system democrazy yang datang dari dubur peranakan barat itu.

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللهُ إِلاَّ أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (diin) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai. (at-Tawbah;  9:32)

Walau begitu gencar dan gegap gempitanya promosi agama democrazy ini, dan telah memakan banyak korban, lama kelamaan pasti akan terbongkar juga. Yang busuk kelak akan tercium juga. Sesungguhnya yang batil walau sekarang sangat kokohnya kelak akan roboh jua. Karena Allah yang berkehendak menyempurnakan cahayaNya, sapa mo lawan?.

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ، إِنَّ الْبَاطِلَ كاَنَ زَهُوقًا

Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (QS. 17:81)

Memang dalam system democrazy, walau memberi juga ruang “agama” untuk urusan vertical, misal seperti untuk urusan haji itu, atau membolehkan membangun masjid, dan ada juga sedikit urusan horizontalnya, misal dalam hal perkawinan dan perceraian, tapi kerangka dari apa yang dibolehkan itu tetap saja dalam kerangka system democrazy,

Dengan ada yang dibolehkan itu juga merupakan tipuan kepada ummat bahwa democrazy “tidak menentang agama”. Bahwa democrazy “memperhatikan pula agama”. Tetapi manakala hukum yang lain hendak ditegakkan, terbentur lagi kepada syariat system democrazy, bagaimana suara terbanyak sajalah. Rakyat donk yang menentukan pakai atau tidaknya hukum hukum Allah. Jadi kalau hamba Allah tidak mawas diri, akan mudah diplintir, dikecoh ulama ulama pendukung democrazy. Baca saja karangan Abu Karim Fatullah, buat yang bodoh terhadap pemahaman agamanya, pasti termakan. Atau kalau ulama partai membela diri, kita bodoh ugama?, kita pasti termakan, dilahap “ulama” seperti kita ini layaknya pizza.

Dalam system Islam (diin Islam), ketentuan Allah dan Rasulnyalah yang mengatur semua kehidupan pokok pokok manusia baik itu dalam urusan vertical maupun horizontal, mulai dari masuk WC, ke Masjid sampai urusan kenegaraan, jadi undang undang ummat dalam urusan vertical atau horizontal adalah Qur’an Sunnah. Peran penguasa dalam system Islam hanyalah sebagai duta besar Allah di bumi Allah, penguasa dunia tidak punya wewenang apapun untuk menolak kehendak Allah, apalagi berani membuat syariat yang menentang syariat yang telah Allah dan Rasulullah tetapkan.

Melihat ratusan juta sampai milyard manusia pengaku Islam mendukung system democrazy sebagaimana dikatakan ustadz Abu Karim Fatullah, diserbu laron, saya malah terkagum kagumnya akan ke jenius-an iblis dalam menjalankan misinya agar manusia berduyun duyun tercemplung kedalam neraka jahannam.

Iblis amat paham bahwa dosa musyrik menghapus semua amalan, maka dari titik ini iblis mengupayakan segenap tipu dayanya untuk menipu ummat manusia. Dicarilah jalan oleh iblis agar ummat yang mengaku Islam ini menjadi sia sia semua amalannya walau telah semaksimal mungkin “berjuang untuk Islam”,  walau ummat telah ribuan kali pergi haji, jutaan kali bersedekah ikuti ustadz Mansyur, triliunan kali ikuti zikir akbar, zikir nasionalnya ustadz Arifin Ilham dengan pakaian suci yang serba putih, ditambah lagi qolbu anda di cuci shamponya ustadz AA Gym, semua yang telah manusia upayakan itu tak akan pernah ber arti jika mereka tetap saja mempersekutukan Allah.

ذَلِكَ هُدَى اللهِ يَهْدِى بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ، وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Itulah petunjuk Allah yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. (QS. 6:88)

Hebatnya lagi iblis memberi gambaran musyrik itu hanya dalam bentuk perdukunan, permistikkan seperti bakar kemenyan, jampi jampi, pelet, sesajen dan semacamnya. Bahkan musyrik yang seperti itulah yang kerap digembar gemborkan mayoritas ulama yang dikatakan terlarang, padahal kalau hanya musyrik dalam bentuk perdukunan, korban iblis dalam kemusyrikan hanya sedikit!.  Iblis tidak mau rugi, dicarinya tipuan yang sangat sempurna agar manusia tergiring dalam perbuatan mempersekutukan Allah, tetapi tidak merasa sedang mempersekutukan Allah. Tidak terasa tidak terlihat, itu baru tipuan cemerlang.

Jika anda pernah nonton film the Sting, dengan actor Paul Newman, tipuan iblis lebih matang lagi dari keahlian Paul Newman menipu mangsanya. Karena korban iblis ini juga tidak tanggung tanggung, Doctor ahlinya agama, Lc, Ulama, jama’ah liqo dstnya yang katanya dari sejak sekolah Diniyah belajar Islam. Mungkin anda sendiri pembaca tulisan ini merasa tidak percaya akan tipu daya permainan Iblis ini. Karena anda tidak pernah mau percaya bahwa ustadz anda bisa saja salah dan anda tidak pernah mau menjadi pencari kebenaran sejati.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ ، فَلاَ تَغُرَّنَّكُمُ الْحَباَةُ الدُّنْيَا ، وَلاَ يَغُرَّنَّكُمْ بِاللهِ الْغَرُورُ

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. (QS. 35:5)

Anda membela ustadz anda seperti ustadz Abu Karim Fatullah bukan atas dasar analisa kebenaran dengan membeberkan kebenaran Al Qur’an dan Sunnah Rasul, tapi anda menolak kebenaran lantaran kebenaran itu datangnya dari preman pinggir jalan yang doyan nyentil kelakuan ulama, ustadz yang sesat jalan. Sama persis penolakan Yahudi atas Muhammad lantaran pembawa Risalah Muhammad bukan dari bangsanya tapi dari bangsa Arab atau bukan dari golongan mereka yang bisa baca tulis, kok malah dari orang yang buta huruf.

Saya pernah ditohok langsung atas pertanyaan tersebut oleh tamu saya, anda menulis atas pendapat atau rekayasa berfikir anda sendiri bukan?, Pertanyaan itu muncul lantaran dia tahu saya tak ada sejarahnya sekolah Diniyah, Tsanawiyah, Aliyah, juga tidak dari Al Ahzar Mesir atau IAIN. Padahal manusia yang saya serang justru mereka yang menggondol ijasah Lc, Doctor, Drs. lulusan sekolah ugama terkemuka. Sopo mo percaya preman?.

أَوَ عَجِبْتُمْ أَنْ جَاءَكُمْ ذِكْرٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَلَى رَجُلٍ مِنْكُمْ لِيُنْذِرَكُمْ وَلِتَتَّقُوْا وَلَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Rabbmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu dan mudah-mudahan kamu bertaqwa dan supaya kamu mendapat rahmat? (QS. 7:63)

Saya sendiri bukannya tidak pernah tertipu permainan iblis ini, tapi lantaran saya punya tabiat suka memperhatikan keadaan di masyarakat, selalu kritis melihat apa yang terjadi di masyarakat, dan jiwa saya juga belum terlalu dalam terkotori racun democrazy, baru masuk partai , kemudian saya lihat keanehan keanehan yang banyak bertentangan dengan pandangan ke Islaman yang saya tahu didalam partai itu, saya menyatakan keluar, itu kira kira dimasa pemerintahannya Habibi. Silahkan tanya pada sesepuh pendiri partai dakwah terkenal, yang istrinya mantan jama’ah saya, diwaktu sahur saya menelephone dia hampir satu jam, tapi jawabannya tak masuk dalam nurani saya yang juga pernah belajar Islam darinya.

Belum lagi keanehan keanehan lain dari partai apaya Islam yang lain yang saya perhatikan, dimana ashobiyahnya sangat kental dan itu terbaca oleh saya, saya berfikir, partai politik dibawah naungan bendera democrazy bukan jalan Allah, Organisasi, kumpulan, partai, kelompok atau apalah namanya hanya benar jika mereka ber organisasi dibawah naungan bendera kalimat tauhid Laa ilaaha illallah.

Kalau dahulu kita merasa bangga bahwa asas partai kita Islam, sekarang kita harus koreksi diri, takkan pernah benar seseorang yang setuju dan ikut syariat kafir sebagai landasan berhukum, landasan berjuang, menyatakan pula kepada ummat bahwa asas mereka Islam. Itu penipuan yang nyata, karena ketika ia menerima dan setuju asas kafir, berarti dia pada saat yang sama ia telah menolak Islam dalam hatinya.

مَا جَعَلَ اللهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِى جَوْفِهِ

Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya (QS. 33:4)

Kemusyrikan Yang Luput Dari Perhatian Ulama

Pembahasan tentang kemusyrikan yang luput dari kutbahnya ulama adalah kemusyrikan dibidang politik, yaitu dengan cara menerima, mengikuti, serta menjalankan (tunduk patuh) dan bahkan menyebar luaskan syariat , mempopulerkan syariat democrazy tersebut yang jelas jelas bertentangan dengan ke tauhid-an kalimat Lailahaillallah, tiada Tuhan yang patut diikuti syariatnya kecuali hanya syariat Allah. Tiada aturan main yang patut diikuti melainkan aturan main dari Allah dan Rasul Allah.

Saya tegaskan, agama menurut Islam (ad diin Islam) adalah keterpaduan urusan vertical dan horizontal. Jika orang mengatakan apa agamamu? Saya mengatakan apa system kamu ?, saya tidak mengatakan apa agama kamu?, dan saya tidak “beragama Islam”, bulshit itu “beragama Islam”, tapi saya bersistem Islam. Atau ber diin Islam. Barang siapa yang “beragama Islam” dengan pemahaman agama itu vertical pasti masuk neraka, karena mereka orang orang musyrik, barang siapa yang ber diin Islam, Insya Allah, Allah lapangkan jalan menujuNya, walau belum tentu juga masuk syurga, memangnya masuk syurga gampang. Masuk perguruan tinggi favourit saja tidak mudah, apalagi syurga.

Karena salah kaprah berat memahami agama inilah, pengaku Islam di negeri BBM dengan enteng mengambil dan menggunakan system democrazy tanpa beban, seperti anak kecil yang bermain api dan bensin tanpa tahu bahayanya api dan bensin itu bagi dirinya. Mereka pikir dalam urusan horizontal mereka merasa bebas pakai system apa saja yang disukai. Karena itu mereka bisa berjingkrak jingkrak sebebas bebasnya dalam pesta judi democrazy. (dianggap bukan agama, kok mau pusing wae?), mau ria-ria an kek, mau mejeng tampang segede gede gajah kek, mau niru niru kafir kafirin diseluruh dunia kek, mau judi rebutan jabatan kek, mau nampangin gelar kek, sabodo teuinglah, bukan agama eneh, begitulah anggapan mereka.

Kasihan Marissa “Batil” eh Haq, kalah judi dalam pilkada Banten, (udah maen curang dalam permainan judi, kalah pula), duit dah keluar ratusan juta atau milyard an rupiah, raib bagai layangan putus, eh engga menang. Tapi gimana mau menang yaa, lawannya ratu nya ©Atut, yang mungkin ahli nya’tut, lantaran mungkin pernah belajar sama Bu’ Tut, anak encing Ato tertua bernama Tu-tut, yang mendapat gelar di Aceh ketika berkuasa dengan gelar Cut Nya’, maka Tutut dipanggil  warga Aceh menjadi Cut Nya’ Tut, Cut Nya’ Tut ngadu ama babenya cing Ato nyang orang jawa tulen lantaran gelarnya terasa aneh, cing Ato memberi nasihat, biarken Tut, kamu ajari saja ratu Atut cara cara nya’ Tut, walau itu perbuatan tak pa”tut” dan aromanya bau ken”tut” yang bisa di tun”tut” di pengadilan bu”tut” ..….tat tut tat tut, prreet!!! walaaah….

Begitulah, disebabkan ummat pengaku Islam ini tidak memandang urusan horizontal sebagai bagian dari ad diin Islam, kita lihat di TV misalnya sehabis sholat idul fitri di masjid masjid Diror yang jumlahnya luar biasa banyak itu, tak satupun dari mereka yang usai sholat, dari penguasa nya sampai rakyatnya, merasa sedang berbuat kedurhakaan massal dan akbar kepada Allah SWT. Wajah mereka tersenyum gembira karena telah penuhi puasa satu bulan ramadhan, padahal amanah untuk menerapkan urusan horizontal ada pada tanggung jawab mereka, mereka enteng saja, bercengkrama dengan sohibnya tanpa punya perasaan berdosa, mereka merasa bakal masuk masuk syurga, kasihan ane melihat wajah wajah suci yang tertipu syeitan itu.

Biasanya orang yang terbukti berbuat salah, wajahnya selalu pucat pasi. Air mukanya buram, tapi orang yang tunduk patuh kepada system syariat democrazy ini dengan mengkandangkan Qur’an Sunnah untuk urusan urusan horizontal, dari pejabat sampai kroconya kroconya, dari ulama ulamanya sampai murid murid liqonya, wajah mereka sumringah, padahal mereka para pakar mempersekutukan Allah, suatu perbuatan yang menghapus semua amalan manusia, menjadikan apa saja semua kebaikan yang pernah mereka lakukan didunia ini menjadi tiada artinya sama sekali, ludes tanpa bekas, dosapun tiada berampun. (Q 6:88).

Hebatnya lagi orang zulumat ini berdoa kepada Allah, mohon kebaikan negeri BBM ini, kebaikan negeri yang bebas dari azab tak berkesudahan. Sungguh doa mereka adalah sikap, kelakuan  orang bodoh tak bermalu. Mereka seperti seorang karyawan yang membakar gedung kantor tempat dia bekerja, setelah dia kurang ajar dengan merugikan perusahaan dalam jumlah yang besar, dia meminta kepada pemilik perusahaan agar dia dipromosikan naik pangkat, naik gaji. Mereka kaum musyrikin minta kepada Allah kebaikan macam macam, disisi lain mereka mempersekutukan Allah dengan tuhan tuhan yang lain tanpa merasa bersalah kepada Allah, mereka tunduk patuh kepada syariat democrazy, walau mereka sholat juga. Haiiyaaa… olang olang wodoh wemang wikin wusing…weeeetul engga?

Saudaraku, Islam bukan agama (seperti pemahaman mereka), Islam adalah ad diin, system kehidupan yang menyeluruh dan sempurna, yang datang, dirancang oleh Allah SWT dan diaplikasikan oleh Rasulnya Muhammad SAW.

اَلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu dien mu (system kehidupan) dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu sebagai dien mu. (QS. 5:3).

Tidak ada pemisahan antara urusan vertical dan urusan horizontal dalam system Islam, barang siapa yang dengan sengaja atau ikut ikutan memisahkan keterpaduan urusan horizontal dan vertical ini, ia nyata nyata telah menjadi murtad, dan karena ia masih menyembah Allah jua dalam urusan vertical, jadilah ia manusia yang disebut kaum musyrikin, disadari atau tidak oleh pendukung system democrazy itu sendiri.

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ، فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلاَّ خِزْىٌ فِى اْلحَيَاةِ الدُّنْيَا ، وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ ، وَمَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Apakah kamu beriman kepada sebagian dari Al-Kitab (Qur’an) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. (al-Baqarah; 2:85)

Kasus Al Ustadz Abu Karim Fatullah melawan ulama Abu Bakar Ba’asyir, contoh nyata memuncaknya pertikaian antara orang tersesat, zulumat, bodoh sok pinter, melawan orang ikhlas yang telah beroleh hidayah Allah.

Kata Abu Karim Fatullah lainnya yang lebih parah, malah system democrazy sesuai Islam, (hal 31, baris 2). Kemudian lebih mempertegas lagi, Konsep democrazy mengajarkan bahwa pemerintahan haruslah di jalankan sesuai dengan kehendak dan keinginan rakyat. Hal 38, baris 6-8. membuktikan Abu Karim tidak paham apa itu ad diin Islam, atau dia sengaja menipu ummat. Jika Abu Karim penganut Islam, dia harus katakan, pemerintahan itu harus dijalankan sesuai dengan kehendak Allah, rakyat juga harus ikut kehendak Allah. Gitu lho Abu Karim, anda patutnya ngajar di sekolah Diniyah saja, ngajari anak anak baca Qur’an tajwid yang benar, itu lebih baik dari pada anda melawan Abul A’la Al Maududi, Abu Bakar Ba’asyir.

Sempurna Ber arti Tidak Memerlukan Yang Lain

System kehidupan yang sempurna (diin Islam), tidak memerlukan system lain, firman Allah menyatakan system kehidupan yang datang dari Allah sudah sempurna. Jika Abu Karim memasukkan system horizontal democrazy terhadap kehidupan manusia bernegara, bermasyarakat yang katanya mayoritas Islam ini, menjadi rusaklah aqidah ummat Islam.

Dan penerimaan system democrazy dalam kehidupan bermasyarakat pengaku muslim adalah kemenangan mutlak iblis laknatullah. Keberhasilan misinya, lantaran dengan penerimaan system democrazy, kedaulatan ditangan rakyat, keabsahan hukum ditangan suara mayoritas, bukan lagi ditangan Allah dan Rasul Allah. Maka terjatuhlah semua pendukung system democrazy dari kalangan pengaku muslim ini kepada kemusyrikan. Sukses besar tuh buat iblis. Selamat yaa blis. Salam buat doctor doctor. Lc Lc pengikut ente itu…

Dan akhirnya kita harus mengakui dan menyadari, bahwa manusia yang hanya berpegang kepada Qur’an dan Sunnah Rasul (hadist) jumlahnya memang amatlah sedikit, perbandingannya 1:1000.  jika ada kelompok 1000 orang berkumpul, hanya satu orang yang ber-iman, jadi kalau 200.000.000 orang negeri BBM berkumpul, orang orang yang ber-iman hanya 200.000 orang, hanya seperlima dari satu juta orang, (perbandingan ini datang dari Rasulullah sendiri), ciri-ciri orang yang sedikit ini seperti surat QS 5:54.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهِ فَسَوْفَ يَأْتِى اللهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِى سَبِيلِ اللهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لآئِمٍ ، ذَلِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ، وَ اللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari diin Islam (system kehidupan Islam), maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siap yang dihendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. 5:54)

Dan ciri perjuangannya juga jelas, bukan malah dapat duit  35 sampai 90 jutaan rupiah dari “musuh” yang katanya mau dihancurkannya. Berjuang kok malah dapat kucuran uang dari system yang katanya mau dirobohkannya. Ini perjuangan aneh bin ajaib. Ciri orang berjuang digoncangkan dengan berbagai cobaan dalam berjuang, sebagai mana firman Allah (2:214), bukan cobaan temen temennya anggota DPR pada korupsi di Sumatra Barat dari semua partai pengaku Islam, atau cobaan kepada partai Golqur kasus Yahya Zaini dengan video assoynya, memang manusia salah jalan cobaannya sekelas kasus Yahya Zaini itu, manusia ber-iman cobaannya harus serupa surat 2:214 itu.

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللهِ أَلآ إِنَّ نَصْرَ اللهِ قَرِيبٌ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam – macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah”. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (al-Baqarah;  2:214)

Menipu ummat dalam urusan ugama bukanlah soalan baru, dari sejak nabi Adam as, penipu penipu ugama selalu bermunculan. Penipu yah tentunya dari orang orang yang semula ahli ahli ugama. Kalau sipenipu tidak ahli ugama, bagaimana ummat bisa tertipu. karena itu agar ummat tidak mudah tertipu, hendaklah ummat menjadi pencari kebenaran sejati, oleh sebab penipu penipu ugama dengan kedok ulama, hidup begitu dekat dalam lingkungan kita dan bahkan orang yang kita harapkan menjadi pembimbing kita menuju hari keselamatan, yang kita pandang baik dan sholeh, malah bisa  jadi dedengkotnya abdi abdi iblis. Cilaka 13 khan, jika anda jadi murid sekelas Abu Karim Fatullah, pakai ayat ayat Allah tapi untuk menipu umat. Berat memang tantangan hidup ini.

Jika tidak menjadi pencari kebenaran, akan sulit untuk mendapatkan keselamatan dinegeri akhir. Syariat democrazy ini telah begitu populer dan telah mendunia, hampir hampir tak ada manusia yang mau percaya jika dikatakan syariat democrazy amat menyesatkan manusia, khususnya pengaku muslim. Program pemusyrikan massalnya pun berjalan gegap gempita dibawah komando Negara adidaya. Setiap ada pesta democrazy di negeri BBM, diundanglah utusan utusan dari negeri asal democrazy, wahai utusan tuhan democrazy, wahai tuhan democrazy, lihatlah kami tunduk patuh bukan terhadap syariat syariatmu?. Dan Negara adidayapun dengan semangat seperti arek arek Suroboyo waktu perang melawan Belanda, menyebar luaskan terus menerus ajaran democrazy ini. Bahkan memberi gambaran buruk bagi setiap Negara yang belum ber asas democrazy.

Jadi sulit, jika manusia tidak mau mencari kebenaran. Otomatis akan dengan mudah tunduk patuh kepada syariat batil itu dan bahkan memujinya sebagai ajaran yang bagai diserbu laron, lantaran akan “keindahan tipuannya”.

Tak heran jika Amrik ngebaeein negeri BBM terus, dipujinya negeri BBM sebagai negeri democrazy terbesar  nomor 3 didunia, sebab mereka yahudi nashrani ini sangat tahu dengan menebar konsep agama democrazynya, ummat pengaku Islam diseluruh dunia ini tidak lagi berpegang kepada mutlak Qur’an Sunnah, jika sudah ragu terhadap kemampuan ugamanya sendiri itulah yang mereka harapkan. Tak perlu di pukul stick macam di Afghanistan atau Iraq, jika pentolan negaranya sudah demen ama carrot, mereka siap kok untuk jadi boneka. Maka kehidupan dunia ini berjalan sesuai misi iblis. Misi iblis modern, silahkan berpakaian memperlihat kan udel, belahan pantat, itu so sexy, kita tidak boleh larang karena jika kita larang itu tidak sesuai dengan human right. Yang penting sholat jalan terus. (modern khan?).

Teman saya yang anggota dewan ini juga tidak menyadari dan tidak pernah mau belajar dari pendahulunya partai FIS di Aljazair, bahwa democrazy sesungguhnya hanyalah bola mainan kekuatan kaum kufar dunia, manakala partai pengaku Islam ini katakanlah menang, lantas mau terapkan hukum hukum Allah, tunggu dulu, …mereka malah akan di hancurkan oleh orang orangnya polisi dunia, di buru layaknya partai FIS di Aldjazair.

Perhatikan saja di Palestina, begitu katanya Hamas menang, boikot dan segala macamnya datang dari dunia yang katanya pendiri dan penegak democrazy. Apakah kita belum juga jera terhadap pelajaran yang pernah datang?, tapi memang berat, jika harus meninggalkan penghasilan yang sangat besar itu. Beraaaaat itulah masalahnya.

Lantaran democrazy hanya bola mainan kekuatan zionis dunia, orang partai apaya Islam ini ruginya dua kali, sudah mereka terjatuh kepada kemusyrikan, nantipun siap siap di berangus seperti partai FIS, atau Hamas di Palestina. Penghancuran terhadap pemerintahan Taliban intinya pemerintahan tersebut mencoba menerapkan Islam, dinding besar berhala setinggi jurang  di dinamit Taliban dan terlalu cepatnya menerapkan perempuan dilarang bekerja diluar rumah tanpa melihat kasus perkasus mengapa wanita tersebut terpaksa harus bekerja keluar rumah. Akibatnya muncul kesan Islam mengkerangkeng wanita. Sudah suami tidak ada, anak banyak, dilarang pula kerja, jaminan social “misal” tidak ada, weleh weleh, jadi memancing polisi dunia turun tangan.

Disisi lain, tentu saja Taliban tidak mengenal apa itu democrazy, hal ini cukup membuat panas polisi dunia untuk menghancurkannya. Isu teroris yang ditujukan kepada Usamah sebagai “dalang” penghancur gedung kembar WTC hanya ikon, suatu alasan  yang memang harus mereka buat, agar mendapat dukungan dari dalam maupun dari luar negeri.

Intinya tetap satu, dunia ini harus tunduk patuh dengan pola hidup yang mereka inginkan. Dan tak akan dibiarkan system kehidupan lain berkembang, dan yang lain itu hanya system Islam, apalagi sampai menjadi establish dan menjadi kekuatan besar. Hantam sebelum besar, begitu misi kaum kufar. (Kita lihat bagaimana Iraq yang dihancurkan karena dituding memiliki senjata pemusnah masal, Iran yang mau dihantam juga karena project nuklirnya). Kalau ummat Islam mempersenjatai dirinya dengan ketepel dan batu itu boleh boleh saja. Jadi yang hanya boleh yang memiliki senjata nuklir atau senjata pemusnah masal hanya mereka yang non muslim, kalau “muslim” mereka takut, maka mereka bikin ikon, muslim identik dengan terorisme, supaya senjata kaum muslimin dan pengikut “fanatic”nya dapat dihancur leburkan.

Tapi kita tidak usah pesimis, kehidupan yah seperti apa yang kita lihat ini. Manusia hidup menurut apa yang dia ketahui dan dia pahami. Jika dia istiqomah dalam hidupnya mencari kebenaran Allah, niscaya Allah akan menuntunnya. Jika dia hanya sekedarnya dalam pencarian kebenaran, dia lebih suka kegemerlapan kehidupan dunia, mobil Innova rumah mentereng, itulah yang mungkin dia akan dia dapat, tetapi cahaya Allah, petunjuk Allah meninggalkan dia pula. Nilai kemanusiaannya tidak akan pernah meningkat bahkan akan terus merosot. Barang siapa menemukan cahaya kehidupan, kehidupannya akan berkembang tanpa batas, barang siapa tidak menemukan cahaya kehidupan, nilai kehidupannya akan semakin melorot dan tertelan kehidupan itu sendiri sampai matinya.

Khilafah akan muncul sekali lagi menguasai dunia sesuai sabda Rasulullah, suatu kata kata yang sering di ejek orang partai, bahwa khilafah itu kuno, orthodok, kembali ke zaman purba. Percayalah anda orang orang partai, kata kata Rasulullah tak akan pernah salah dan tak akan pernah menjadi kuno, kata kata anda kelak akan berbalik menohok anda, tinggal tunggu waktunya saja.

Berpaling, Malah Mendapat Keberuntungan Dunia

{فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كثلَّ شَىْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ}

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka gembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (QS. 6:44)

Ayat diatas aneh jika kita tidak paham hakikat rahasia Allah, orang yang berpaling kok malah dibukakan pintu pintu kesenangan?

Cursing In Disguise

Melupakan peringatan, malah dibukakan semua pintu pintu kesenangan, suatu kata kata yang tidak bisa dipahami, dimengerti bagi orang orang yang jauh dari hidayah Allah, karena logika manusia secara umum harusnya barang siapa yang semakin bertaqwa, pantes donk Allah buka pintu pintu kesenangan, eh eneh malah pintu pintu kesenangan dibukakan terhadap orang orang yang melupakan peringatan dari Allah. Akhirnya saya bisa memahami, anggota DPR gajinya gede gede, ternyata disana tempat kaum paganisme berkumpul, manusia yang mayoritas pengaku Islam di DPR, tapi dari sejak tahun 55 selalu mencampakkan hukum hukum Allah.

Akhirnya saya bisa paham lagi, pantaslah, karena platform dasar perjuangan mereka saja platform kemusyrikan, apa yang bisa diharap. Dikasih kesenangan dengan harta yang  berlimpah justru itulah cara Allah untuk membuat mereka semakin tersesat dari jalanNya. Mereka mengira kekayaan yang mereka peroleh rahmat dari Allah, padahal justru apa yang mereka terima merupakan kebencian Allah terhadap mereka. Cursing in disguise, kemurkaan Allah disembunyikan dalam kenikmatan yang diberikan kepada seseorang atau kaum.

Bela Diri Orang Partai

Orang partai dengan mencemplungkan diri dalam pesta democrazy dan pendukung hakiki agama democrazy, menyatakan kepada saya bahwa mereka tidak berbuat syirik (mempersekutukan Allah), karena mereka menganggap democrazy hanya kresek, besek, atau keranjang tempat makanan. Beli makanan di super market dengan kresek, sampai dirumah tinggal buang kreseknya nikmati makanannya. Artinya kalau mereka menang, mereka tinggal buang agama demokrasi itu dan tinggal makan ayamnya yaitu pemerintahan khilafah.

Betulkah bisa tinggal buang ?, bukankah apa yang engkau tanam itu yang akan tumbuh?. Apa yang engkau makan itu yang menjadi daging?. Apa yang engkau pelihara, itu yang akan tumbuh subur?. Jadi ada sunatullahnya. Tidak mungkin melenceng, tanam biji duren tumbuh pohon jeruk. Mereka tampaknya hanya cuap cuap tanpa memahami apa yang ia bicarakan. Suatu alasan bela diri yang tidak bertali dengan kebenaran dengan mengatakan democrazy hanya kresek..

Kita Jawab Soal Tidak Merasa Sebagai Orang Musyrik

Kata orang partai lagi, mempersekutukan Allah harus ada figure tuhannya dan menjalankan peribadatan terhadap yang dianggap tuhannya itu. Seperti penyembahan Latta Uzza. Ada patungnya, ada ritualnya. Bagaimana gue mempertuhankan democrazy padahal democrazy sendiri cuma gue anggap kresek, mosok sih gue nyembah sesuatu yang gue tidak suka, gue benci dan anggap kresek. Gue tidak mempersekutukan Allah, gue memanfaatkan system sebagaimana yang dilakukan Rasulullah terhadap kaum bani Adi.

Mematuhi Syariat Yang Menentang Syariat Allah Tanda Musyrik.

Pada awal mereka mencemplungkan diri dalam agama democrazy, mereka telah komitment awal, menerima, menyetujui, bersaksi, bersyahadat terhadap syariat agama democrazy itu. Bahwa ada suatu permainan dengan syariat, jika anda menang, silahkan hukum hukum Allah dipeti eskan, jika kami yang menang, kami tegakkan Islam. Kelihatannya permainannya Fair. Karena platform yang telah disetujui orang partai ditentang democrazy ini, adalah kaidah hukum suara terbanyak.

Kalau diambil contoh syariatnya dari platform suara terbanyak ini jadi mengerikan. Karena platform democrazy adalah platform permainan poker. Jika anda wanita kalah dalam permainan kartu ini, silahkan buka baju anda satu persatu sampai telanjang. Jika anda menang, silahkan pakai jilbab. Anda tegakkan Islam. Persamaannya, jika anda menang silahkan tiduri istri anggota dewan, jika anggota dewan dari partai apaya Islam menang, biarkan anggota dewan dari partai apaya Islam tegakkan Islam.

Saya yakin, qolbu anda menolak aturan main ini, walau punya peluang, “menegakan Islam”. Anehnya orang partai ini, kalau saya ambil contoh, silahkan tiduri istri ente yang jilbab-an itu, kalau kalah kepada lawan anda dan kalau menang silahkan tegakkan Islam, mereka nolak, mereka katakan itu lain. Tidak bisa ambil dari contoh itu. Akhirnya saya paham, dasar mereka ndablek hukum, pantaslah mereka ber main main dalam permainan yang amat berbahaya bagi akhirat mereka sediri, mereka cuek cuek saja. Persis balita yang bermain pisau tajam, tapi tak paham arti tajamnya pisau. Tak paham hukum mo diapain?

Absahkah Hukum Cuma Sekedar Mengatakan Benci?

Timbul pertanyaan, anda membenci majikan anda, tetapi anda tetap saja mematuhi segala titah majikan anda, siapapun manusia didunia ini akan mengatakan, tetap saja majikan anda masih orang atau system yang anda benci itu, karena anda tunduk patuh terhadap syariat majikan anda itu. Dipaksakah anda kalau tidak ikut system democrazy?, kalau tidak ikut pesta democrazy missal anda di dor, disiksa seperti Amr bin Yaser yang orang tuanya dibelah dua, ditarik oleh dua kuda yang berlawanan, Billal yang dijemur seharian dipanas terik padang pasir yang suhunya sekitar 54 derajat ceLcius?. Ternyata tidak, asas demokrasi juga terkadang mengambil prinsip Islam, agamamu agamaku. Boleh tidak milih, boleh tidak berpartai.

Ber arti orang partai ikut system horizontal democrazy bukan atas keterpaksaan yang berat, ringan saja tidak. Jadi memang mau mereka jadi budak budak democrazy dan mau tunduk patuh kepada syariatnya, karena ada yang menjanjikan dari system tersebut. Bagi yang berhasil masuk sebagai anggota dewan, ada nilai plusnya yang tidak kepalang tanggung, karena itu tak heran banyak calon yang anggota dewan yang telah korban ratusan juta atau milyard, agar dapat korsi. Tapi kalau kalah?,  apes banget, banyak harta benda melayang.

Saya dapat informasi untuk menjadi calon kuat partai democrat harus sediakan uang diatas satu milyard, untuk menjadi calon kuat daerah (DPC) sediakan uang diatas dua ratus juta rupiah, sudah terbayangkan bukan, bahwa dengan uang yang begitu besar itu berarti mereka akan merampok uang rakyat dengan nilai lebih besar lagi jika mereka berhasil mendapat kursi. Mereka mau bertaruh uang sampai milyard an, sebab kalau dapat kursi, rampokan mereka akan berlipat kali lebih besar dari yang mereka dapat. Sampai sampai pengeluaran daerah untuk anggota DPRDnya lebih besar untuk menggaji anggota dewan yang sangat tidak terhormat itu dari pemasukan daerahnya. Mau dibawa kemana ummat dengan system yang mengerikan itu???

Dua Contoh Penyebab Kemusyrikan

Mempersekutukan Allah tidak harus ditandai ada yang dijadikan tuhannya dan ada syariatnya  yang dipatuhi, jika terpenuhi hal tersebut baru bisa dikatakan mempersekutukan Allah, begitu hujahnya orang partai. Tapi apa begitu musyrik menurut Allah?, ternyata tidak. Islam itu tunduk patuh kepada Allah, jika ada manusia tunduk patuh pula kepada syariat lain yang bertentangan dengan syariat Allah, padahal ia menyembah Allah jua, itulah nyata nyata kemusyrikan.

Anda sholat, mau sampai merendahkan diri begitu rupa sampai sujud, anda mau berlapar puasa di Bulan ramadhan, anda mau berpayah payah tunaikan haji, dengan uang yang tidak sedikit pula, apakah perlu Allah berdiri dihadapan anda?. Kaum nasrani dikatakan Allah SWT menjadikan rahib rahibnya sebagai tuhan selain Allah, apakah orang partai menyaksikan ummat nasrani berdiri didepan rahibnya, lantas pada sujud, ruku, pada nungging di hadapan rahib rahibnya?, bahkan anda tak pernah menemukan kejadian tersebut didunia ini.

Tapi kaum nasrani dikatakan mempersekutukan Allah, atau bertuhan kepada rahib rahibnya lantaran ummat Nasrani tunduk patuh terhadap syariat yang dibuat rahib rahibnya. Tunduk patuh kepada syariat yang bertentangan dengan syariat Allah itulah penyebab kemusyrikan, itulah yang dikatakan menjadikan rahib rahibnya sebagai tuhan tandingan Allah.

إِتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُم أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ ، سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb (rab artinya tuhan) selain Allah, dan (juga mereka menjadikan Rabb ) Al-Masih putera Maryam; padahal  mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia (Allah). Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (at-Tawbah; 9:31)

Siapakah yang Menyatakan Anggota DPR dan Pendukungnya Orang Orang Musyrik?

Dalam kasus yang tampak sepele saja, ketika terjadi perdebatan antara kaum muslimin dengan kaum democrazy (kaum yang mempersekutukan Allah) soal bangkai kambing yang mati karena ketuaan dizaman Rasulullah masih hidup, Islam telah menyatakan keharamannya, lantaran kambing itu bangkai, pihak democrazy dimasa Rasulullah menyatakan dan mencoba meyakinkan ummat bahwa tidak ada perbedaan antara kambing yang disembelih dengan kambing yang mati lantaran ketuaan, alasan kaum democrazy matinya kambing itu adalah sembelihan Allah swt jua.

Karena jika Allah mau sembeleh kambing, tidak pakai pisau akan mati juga. Jadi pihak democrazy dimasa Rasulullah membuat syariat baru yang bertentangan dengan syariat Allah tentang bangkai kambing. Dalam Islam bangkai diharamkan dimakan, kecuali jenis ikan. Dalam “idjtihad” kaum democrazy dimasa Rasulullah, bangkai kambing tersebut boleh dimakan. Kaum democrazy merasa berhak untuk menentukan hukum sendiri, maklum anggota dewan terhormat yang merasa punya wewenang membuat undang undang. Samalah dengan Nurcholis Madjid yang bikin hukum sendiri dengan menikahkan wanita muslimah dengan laki laki kafir.

Maka bagaimana keputusan Allah SWT terhadap orang orang democrazy, yang merasa punya hak untuk mengubah ubah hukum Allah menurut versinya sendiri?

{وَلاَ تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ ، وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ ، وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ}

Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka (syariat yang mereka buat), sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. (QS. 6:121)

Dari ayat 6:121 dan 9:31 itu, tampak jelas bahwa Allahlah yang memposisikan orang orang yang taat, tunduk patuh menuruti suatu syariat yang bertentangan dengan syariat Allah sebagai orang musyrik, maaf yang mengatakan mereka musyrik, bukan saya, bukan Abu Bakar Ba’asyir, bukan pula Abul A’la Al Maududi.

Fitnah Orang Partai Terhadap Rasulullah Saw.

Orang partai anggota Dewan dari partai apaya Islam menyatakan bahwa apa yang mereka lakukan di Majelis Permusyawaratan Rakyat adalah memanfaatkan system, karena system itu sendiri sudah ada sebelum gue lahir, yah gue manfaatkanlah, dan itu sesuai kata anggota dewan ini dengan Rasulullah memanfaatkan system, ketika Rasulullah minta perlindungan kepada kaum kufar, bani Adi.

Kalau kita tidak paham sejarah, kata kata anggota dewan tersebut seperti suatu hujah yang benar, karena telah mencontoh Rasulullah. Tapi sesungguhnya anggota dewan tersebut telah memelintir kisah Rasulullah untuk pembenaran dirinya atau partainya atas keberadaannya dilembaga paganisme DPR MPR.

Apa yang di plintir? Rasulullah benar memanfaatkan system, tapi Rasulullah tidak masuk dalam system. Anggota Dewan tersebut tidak memanfaatkan system, tapi masuk kedalam system, berperan aktip dalam system. Ini sungguh suatu tipuan nyata seorang ustadz yang setiap jum’at jadi khotib di mimbar mimbar jum’at, mengambil suatu kisah yang tidak berkait dengan kesesatannya, tapi kisah tersebut digunakan untuk membenarkan kesesatannya.

Saya memang perlu jelaskan bahwa dimasa Rasulullah ada budaya Arab yang kaumnya sepakat memberikan perlindungan terhadap orang yang teraniaya, atau dikejar musuh, Jika yang memberikan perlindungan bersedia memberikan perlindungan, pihak lain tidak bisa berbuat apa apa, jika pihak lain tetap bersikeras terhadap orang yang teraniaya itu padahal yang memberi perlindungan sudah ada, maka terjadilah perang terhadap yang memberi perlindungan. Dan bagi yang memberikan perlindungan ini, merupakan kebanggaan tersendiri dengan memberi perlindungan terhadap orang yang meminta perlindungan kepadanya. Itulah budaya arab di masa Rasulullah.

Kasus Rasulullah minta perlindungan ini, kata orang partai bukti Rasulullah memanfaatkan system. Saya katakan anda jangan mengada ada. Jangan memanipulasi kebenaran. Jangan memfitnah. Rasulullah memanfaatkan system tetapi Rasulullah tidak pernah masuk dalam system. Saya kira itu sesuatu yang jauh berbeda.

Saya di negeri BBM ini memanfaatkan system, itu benar. pakai uang rupiah, kartu ATM, Internet, bahkan email saya milik situs Yahudi tulen, yahoo com, memanfaatkan telephone, listrik, air, KTP dll dari pemerintahan BBM.  Kalau keluar negeri pakai passport keluaran negeri BBM, tapi saya tidak pernah masuk dalam system, kasus anda sungguh sangat berlainan, anda masuk dalam system, anda membuat undang undang. Tentu tidak sama orang yang membuat KTP dengan orang yang tinggal menerima KTP.

Orang yang jadi pegawai negeri benar masuk system, misal jadi guru SDN, SMPN, SMAN sampai perguruan tinggi negeri. Tetapi sepanjang pekerjaannya misal hanya mengajar mathematic, dia tidak terkena sanksi dalam Islam, karena syariat masuk jadi anggota DPR tidak sama dengan syariat masuk jadi guru SD sampai perguruan tinggi.

Tidak ada persyaratan masuk jadi guru SD harus menerima syariat democrazy terlebih dahulu atau syariat syariat lain yang bakal menentang Allah dan Rasululah.

Tetapi kalau si guru SD ini ikut ikutan pesta democrazy, urusannya dibidang dia ikut pesta democrazy itulah yang menyebabkan kemusyrikannya. Hukum itu bagaimana bunyi teks larangannya atau bagaimana bunyi teks wajibnya dan bagaimana keterlibatan (aktivitas) seseorang dari bunyi teks yang termaktub dalam Qur’an atau Sunnah Rasul itu. Adakah mengajar mathematic sekalipun di Negara komunis Rusia atau komunis Cina, merupakan bentuk pelanggaran syariah mempersekutukan Allah?, mohon dijawab sendiri oleh orang partai.

Anggota partai dan pengikutnya kesalahannya jelas, mereka menerima dan ikut syariat democrazy, kemudian setelah terpilih, masuk dalam lembaga paganisme tersebut dan membuat undang undang. Dasar syariat dari lembaga ini dalam membuat undang undang jelas bukan Qur’an Sunnah, tapi suara terbanyak. Siapa saja yang masuk lembaga ini, sepakat akan syariat yang berlaku itu. Jadi pada pintu gerbang pertama saja anggota dewan telah menghianati Islam. Selanjutnya mereka punya rumus syariatnya sendiri, meminimalkan masalah. Bukan kembali kepada apa kehendak Allah dan Rasulullah. Tapi membuat rumusan syariat sendiri, dimana rumusan syariat itupun juga merupakan bentuk yang lain lagi dari pelanggaran terhadap syariat Allah. Bahkan menjadikan diri mereka thagut, karena mensejajarkan diri dengan Allah dan Rasul.

Anda orang DPR tidak perlu lagi buat undang undang pokok kehidupan bermasyarakat, buat apa? Karena dalam Islam sudah lengkap, yang boleh kalian buat adalah undang undang keduniaan yang tak menyentuh undang undak pokok tersebut. Seperti saya katakan pada paragraph awal, seperti undang undang lalu lintas, karena Rasulullah tidak membahasnya. Artinya sesuatu yang dibolehkan. Tapi seperti kasus korupsi (pencurian, mark up, penipuan), perzinahan, pembunuhan, jual beli, perjudian, minuman keras, narkoba, berpakaian dll, tidak bisa tidak harus menggunakan hukum ketentuan Allah. Karena semua yang saya katakan tersebut terdapat dalam Qur’an Sunnah.

Jadi adalah dusta besar, jika anggota DPR memperbaiki keadaan didalam kubangan tinja DPR MPR, bagaimana membersihkan kubangan tinja kalau flatformnya saja sesat. Bagaimana diterima sholat seseorang kalau tidak pernah mau ber wudhu?. Zinahin dulu baru nikahin, lho kok polanya gitu?. Nikah dulu, baru silahkan salurkan hasrat biologis anda kepada istri atau suami anda dengan cara yang halal. Jadi betulkan dulu flatform tempat berjuang anda, baru menyatakan berjuang dijalan Allah.

Mau membenahi pelacuran kok nyemplung ketempat pelacuran, lantas dengan alasan dakwah bil hikmah, tidak mau pakai cara FPI yang biasa frontal, kata orang partai cara FPI tidak bil hikmah, maka tu pelacur di elus elus dulu, rambutnya, pahanya, sambil disadarkan, sayaang jadi pelacur itukan pekerjaan yang tidak baik, sayang mau taubat khan?. Ya mas Yahya, tapi Eva minta dulu rumah yang keren yaaa, bujuuug, jika ibu ibu rumah tangga tau, suaminya yang anggota DPR membenahi pelacuran dengan nyemplung dulu ketempat pelacuran, pasti ngamuknya. Mau ngerasain apa mau bersihin?????

Memperbaiki kalau flatformnya sudah benar, setuju Qur’an Sunnah sebagai UUD yang utama, nah kalau ada orang orang yang tak paham, tapi komit terhadap Islam, diluruskan. Kalau flatformnya saja sesat, syahadatnya saja, aku bersaksi bahwa suara terbanyak adalah tuhanku dan aku ikhlas jika hukum Allah dilempar ke tong sampah jika aku kalah, tapi bayar mahal aku ya atas dasar kesaksianku ini, bagaimana ummat bisa mempercayai manusia manusia dengan kelas seperti itu?. Yang pasti terjadi adalah ummat ditipu terus oleh orang orang berdasi dari lembaga paganisme tersebut.

Yahya Zaini dan Maria Eva berzina seharusnya anda seret dengan undang undang yang berada dalam genggaman anda ketempat perajaman. Tapi anda anggota dewan yang katanya mayoritas Islam tidak mempermasalahkan perzinaannya, tapi malah mempermasalahkan penyebaran video mesumnya. Edannya lagi istri Yahyapun teriak lantang aku berjihad membela suami, saya jadi bingung sendiri, ada kata kata berjihad membela suami yang kedapatan berzina. Nanti ada lagi kata kata lain muncul, aku berjihad korupsi untuk membela anak istriku agar dapat hidup mewah. Benar benar dunia telah terbalik.

Tapi keterbalikan dunia itu hanyalah suatu side effect dari manusia bersyariat kepada suara terbanyak, jadi bukan manusianya saja yang sudah terbolak balik, alampun Allah jungkir balikkan terus menerus tiada henti, agar manusia kembali padaNya, dan selama manusia masih mempersekutukan Allah, azab dunia hanya bergiliran saja datangnya Allah timpakan kepada manusia. Aneh dan luar biasanya, manusia tetap saja tidak bisa membaca warning Allah yang maha dahsyat ini, sudah Jawa Timur secara bertahap tapi pasti tertelan lumpur, tetap saja para penguasa, anggota DPR MPR berkacak pinggang tidak mau kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah RasulNya.

Jika Mereka Tidak Ada di Lembaga Paganisme Keadaan Lebih parah.

Kalimat ini selalu digunakan anggota dewan untuk membenarkan langkah mereka. Padahal kalimat ini suatu sikap orang akal pendek yang tindakannya sembrono. Kenapa?, karena sikap mereka tersebut tidak didukung Qur’an Sunnah, atau tidak melihat bagaimana Rasulullah berjuang. Jadi tindakan mereka hanya akal akalan yang tidak didukung akal yang sehat, apalagi ayat Qur’an dan Sunnah nabi, tapi hanya didukung oleh hawa nafsu mereka semata.

Segala sesuatu menjadi rusak justru akibat adanya orang orang yang berjuangnya mencampurkan yang hak dengan yang batil. Jadi keberadaan mereka dilembaga DPR itulah yang malah merusak konsep perjuangan Rasulullah yang telah berabad silam ditanamkan kepada ummatnya. Rasulullah berjuang dengan flatform yang benar, kalimat tauhid Laailaahaillallah, maka yang terjadi perubahan secara bertahap hingga memperoleh kemenangan. Kalau flatformnya saja sesat, maka yang terjadi keluar dari lubang tikus, masuk sarang biawak, keluar dari sarang biawak, masuk sarang buaya dstnya, akhirnya nungsep dipangkuan paha Eva Maria, walau mas Yahya dari HMI lho. Maka siapapun penguasanya, hatta ia dari orang orang yang semula saudara anggap baik, akan terjerembab juga jika flatformnya suara terbanyak.

Kalau mereka benar, adakah contoh dari Rasulullah?, mengapa tidak dari sejak awal Rasulullah menyabet kesempatan, ketika kesempatan itu datang?. Rasulullah menolak masuk system, walau berkali kali ditawarkan (kompromi). Yang ditawarkan bahkan sesuatu yang menjadi incaran manusia zaman kini.

Rasulullah di tawarkan Harta, siapa tau Rasulullah bilang democrazy musyrik, lantaran dianggap iri kepada anggota dewan yang gajinya fantastis, karena itu  Gol Qur bersegera menawarkan harta yang besar kepada Rasulullah, agar bungkamlah Rasulullah bilang democrazy itu sesat. Rasulullah menolak. Tapi jika harta ditawarkan kepada anggota dewan, pasti langsung samber, sabet aja, kapan lagi, wong ini kesempatan yang tidak ada kesempatan keduanya. Kita berjuang kok, uang masuk gede banget. Ilmu sakti aji mumpungkan tak pernah sirna di qolbu bangsa BBM.

Rasulullah ditawari Tahta, jangan jangan Rasulullah bilang democrazy musyrik, Rasulullah ingin sekali jadi raja atas mereka. Maka atas pemikiran itu Gol Qur menawarkan jabatan, bahkan yang ditawarkan kepada Rasulullah tidak kepalang tanggung, jadi raja atas mereka?, pendukung partai yang belum kebagian jabatan empuk pasti air liurnya bertumpahan mendapat tawaran tersebut. Rasulullah tolak kompromi tersebut. Orang partai pasti sabet. Kapan lagi, itu diye nyang kita incer selama betaon taon.

Sayangnya orang partai lupa pada firman Allah dibawah ini, sekaligus menunjukkan siapa sesungguhnyab orang partai itu :

لاَ تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيْرَتَهُمْ ، أُولَئِكَ كَتَبَ فِى قُلُوبِهِمُ اْلإِيْمَانِ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ ، وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِى مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ، رَضِىَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ، أُولَئِكَ حِزْبَ اللهِ ، أَلاَ إِنَّ حِزْبَ اللهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Kamu tidak akan mendapati (temukan) sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya.Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya.Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya.Mereka itulah golongan Allah.Ketahuilah, bhwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung. (QS. 58:22)

Jadi mana mungkin Rasulullah memimpin Negara, orang orang kepercayaannya si kafir menhan, si musyrik mensos, si munafikun mensegneg, si gubernur Hindu dstnya, bagaimana mungkin itu dilakukan, larangannya saja ada, tak akan kalian temukan orang yang ber iman nyemplung dilembaga paganisme MPR DPR dstnya. Kalau ada, itu tandanya mereka bukan orang orang yang ber iman. Sekalipun ia orang tua kita sendiri, jadi berhati hatilah dalam hidup ini.

Nabi Yusuf Juga Difitnah Orang Partai

Nabi Yusuf yang bekerja dipemerintahan raja kafir juga selalu dijadikan alasan pembenaran anggota dewan bercokolnya dilembaga paganisme DPR MPR. Akhirnya saya semakin mengerti, anggota dewan ternyata tidak banyak memahami hakikat hukum, dan itu saya pelajari justru dari jawaban jawaban bela diri mereka.

Bekerja pada orang kafir, pemerintahan kafir, system kafir, kantor swasta kafir sah sah saja, yang perlu dipertanyakan adalah bagaimana persyaratan yang diminta sehingga anda diterima bekerja pada system kafir tersebut dan apa yang anda kerjakan pada system tersebut.

Hukum tidak sama dengan preventive (pencegahan), hukum adalah kepastian suatu masalah, misal kalau berbuat zina hukumnya rajam. Preventive adalah pencegahan terhadap kemungkinan suatu masalah. Dilarangnya anak kecil membawa pisau tajam oleh orang tua, bukan lantaran Qur’an maupun Sunnah mengharamkan anak kecil membawa pisau, kita lihat masalahnya, ternyata masalah anak kecil tersebut masalah keduniaan yang tidak ada hukumnya didalam Qur’an Sunnah, karena itu larangan orang tua bukan larangan menyaingi hukum hukum Allah. Kasusnya bukan masalah hukum, tapi masalah preventive. Pencegahan. Si Orang tua tidak membuat keputusan hukum yang baru.

Guru SD negeri bekerja pada system kafir, tapi dia masuk kerja tanpa mengisi isian persyaratan yang bisa memusyrikan dia, dan dia mengajar hanya mathematic. Sama saja nabi Yusuf yang bekerja pada raja yang kafir, tapi dia tidak diminta melakukan pekerjaan yang bakal menentang hukum hukum Allah. Nabi Yusuf hanya mengurus perekonomian tanpa campur tangan raja yang bisa menyebabkan nabi Yusuf menjadi Musyrik. Kita lihat nabi Yusuf berkuasa penuh terhadap pekerjaannya dalam Qur’an surat 12:56 ,

وَكَذَلِكَ مَكَنَّا لِيُوسُفَ فِى اْلأَرْضِ يَتَبَوَّأُ مِنْهَا حَيْثُ يَشَاءُ ، نُصِيبُ بِرَحْمَتِنَا مَنْ نَشَاءُ ، وَلاَ نُضِيعُ اَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. (QS. 12:56)

Dan nabi Yusufpun tidak berhukum kepada hukum yang menentang Allah:

فَبَدَأَ بِأَوْعِيَتِهِمْ قَبْلَ وِعَاءِ أَخِيهِ ثُمَّ اسْتَخْرَجَهَا مِنْ وِعَاءِ أَخِيهِ ، كَذَلِكَ كِدْنَا لِيُوسُفَ ، مَا كَانَ لِيَأْخُذَ أَخَاهُ فِى دِينِ الْمَلِكِ إِلاَّ أَنْ يَشَاءَ اللهُ ، نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ ، وَفَوْقَ كُلِّ ذِى عِلْمٍ عَلِيمٌ

Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah Kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendakinya. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki: dan diatas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui. (QS. 12:76)

Orang partai sebelum masuk kedalam lembaga paganisme DPR MPR, mereka telah setuju dengan syariat democrazy sebelum mereka bertempur memperebutkan kursi dalam pemilu, Jadi pada pintu gerbang pertama saja mereka telah melacurkan akidah mereka. Setelah dapat kursi, yang mereka kerjakanpun membuat undang undang yang terkadang menentang hukum hukum Allah. Atau hukum kafir yang telah berlaku, mereka tidak menghapusnya, melainkan mereka membuat syariat lagi meminimizekan masalah terhadap hukum hukum yang menentang Allah.

Atas fakta semua ini, adakah sama guru SD yang sama sama bekerja pada system kafir dalam kedudukan hukumnya dengan anggota DPR?. Yang satu masuk tanpa pelanggaran syariat, dan kerjanyapun tanpa pelangaran syariat, yang satu lagi masuk dengan pelanggaran syariat kerjanyapun penuh dengan pelangaran syariat yang kasusnya teramat berat, yaitu mempersekutukan Allah.

Dengan posisi membuat undang undang yang menentang hukum Allah itu, posisi anggota DPR ini telah menjadi thagut, karena bersaing dengan Allah dalam menentukan hukum dari yang telah Allah tentukan. Berat sungguh resiko yang ditanggung anggota dewan ini, tak heran jika Allah menyesatkan mereka, dan barang siapa yang disesatkan Allah, tidak seorang juapun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.

فَمَا لَكُمْ فِى الْمُنَافِقِينَ فِئَتَيْنِ وَ اللهُ أَرْكَسَهُمْ بِمَا كَسَبُوا ، أَتُرِيدُونَ أَنْ تَهْدُوا مَنْ أَضَلَّ اللهُ ، وَمَنْ يُضْلِلِ اللهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلاً

Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka pada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah Barangsiapa yang telah disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya. (QS. 4:88)

مُذَبْذَبِينَ بَيْنَ ذَلِكَ لاَ إِلَى هَؤُلاَءِ وَلاَ إِلَى هَؤُلاَءِ ، وَمَنْ يُضْلِلِ اللهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلاً

Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman dan kafir); tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir). Barangsiapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya. (QS. 4:143)

Pasal berikut, sebenarnya jika kita berbicara soal syariah, kita tidak bisa menjadikan mushaf para nabi sebelum Rasulullah digunakan lagi. Selain Rasulullah pernah marah terhadap seseorang yang masih memegang lembar lembar mushab para nabi yang lampau, syariat yang lama memang tidak bisa digunakan setelah kenabian Rasulullah SAW. Jadi alasan anggota dewan menjadikan keberadaan nabi Yusuf bekerja pada pemerintahan raja yang kafir, adalah alasan yang mengada ada dan alasan ini memang ampuh untuk menipu jama’ah liqonya, agar jama’ah liqonya selalu mendukungnya dalam setiap pemilu.

يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ ، وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ ، وَلاَ تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلاَّ قَلِيلاً مِنْهُمْ

…Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat)… (QS. 5:13)

Sungguh keadaan akan semakin kacau kalau setiap orang merasa punya haq untuk menjadikan misal syariah nabi Adam yang membolehkan kawin antar kakak beradik diterapkan pada masa sekarang. Kalau kita bilang kepada orang partai, hai orang partai, elo nikahin aja anak kandung elo yang laki laki dengan anak kandung elo yang perempuan, seperti contoh bela diri elo tentang nabi Yusuf, biar engga rugi disabet keluarga lain, apa jawab orang partai menurut anda atas pertanyaan ini??????. Jawabnya klise, itu itu aja dan sudah gampang ditebak, oooo itu sesuatu yang laiiiiiinnnnnn.

وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ ، وَجَعَلْنَاكَ عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِى آذَانِهِمْ وَقْرًا ، وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لاَ يُؤْمِنُوا بِهَا ، حَتَّى إِذَا جَاءُوكَ يُجَادِلُونَكَ يَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلاَّ أَسَاطِيرُ اْلأَوَّلِينَ

Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan (bacaan)mu, padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. Dan jika pun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata:”al-Qur’an ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu”. (QS. 6:25)

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللهَ يَهْدشى مَنْ يَشَاءُ

Bukanlah kewajibanmu (Rasulullah) menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siap yang dikehendaki-Nya. (al-Baqarah;  2:272)

أَفَأَنْتَ تُسْمِعُ الصُّمَّ أَوْ تَهْدِى الْعُمْىَ وَمَنْ كَانَ فِى ضَلاَلٍ مُبِينٍ

Maka apakah kamu dapat menjadikan orang yang pekak bisa mendengar atau (dapatkah) kamu memberi petunjuk kepada orang yang buta (hatinya) dan kepada orang yang tetap dalam kesesatan yang nyata? (QS. 43:40)

إِنْ تَحْرِصْ عَلَى هُدَاهُمْ فَإِنَّ اللهَ لاَ يَهْدِى مَنْ يُضِلُّ ، وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong. (QS. 16:37)

Jakarta, 16 Januari 2007

Bagi yang butuh file asli dengan ayat Qur’annya, email saja.

Forward lah jika benar, karena kebenaran dari Allah, dan anda dibalasi dengan baik oleh Allah SWT yang men

Pembenaran Memutlakkan Pendapat

Pembenaran

Memutlakkan Pendapat

Oleh :

Darmen Adios

Sukris Miyati (isme_hamasah@yahoo.com) mengirim Email kepada saya berisi paragraph sbb:

  1. Apakah Manusia Bisa MenManusia adalah relatif. Maka, kebenaran yang dicapainya pun bersifat relatif, tidak mutlak. Sebab itu, seseorang jangan memutlakkan pendapatnya. Seseorang tidak patut mengklaim pendapatnya benar sendiri, dan menyalahkan pendapat lain.Pendapat semacam itu secara sepintas tampak logis dan indah. Padahal, jika ditelaah secara mendalam, pendapat ini sangat keliru, bahkan berbahaya. Dengan pendapat itu, maka seolah-olah manusia tidak dapat sampai kepada keyakinan tertentu. Padahal, sebenarnya tidaklah demikian. Para cerdik cendekia sudah mendiskusikan masalah ini selama ribuan tahun. Di kalangan ulama Islam, sejak ratusan tahun lalu, sudah ramai diskusi tentang apa yang disebut sebagai sophist atau sufastaiyyah. Golongan ini berpaham skeptik, relativistik, yang sebenarnya adalah golongan anti-ilmu

Paragraph dari apa yang ditulis Sukris Miyati agak berantakan, tapi tidak mengapa, saya Insya Allah menjawabnya.

Sukris dengan latar belakang filsafatnya mengatakan bahwa manusia adalah relatif, maka atas dasar teori (relatifnya) itu, ia membuat rumusan bahwa seseorang jangan memutlakkan pendapatnya (mengklaim pendapatnya benar sendiri), menyalahkan pendapat yang lain…, pandangan manusia yang memutlakkan pendapatnya benar sendiri sangat keliru, berbahaya, skeptic, relativistic dan anti ilmu, begitu ulas Sukris.

Saya tidak akan membahas kerelatifan manusia menurut pandangan filsafat Sukris, itu tidak penting, karena menurut saya yang berhak menerangkan secara tepat siapa itu manusia, tentu yang menciptakan manusia, yaitu Allah Azzawajjala. Jika manusia mau menerangkan apa itu manusia, seyogianya ia mengambil sumber dari Al Qur’an dan Sunnah Rasul, agar ia mendapat pendefinisian yang tepat tentang manusia. Tanpa petunjuk wahyu Allah, sama saja ia seperti Darwin yang menerangkan manusia berasal dari monyet. Ilmuan Darwin,  sesuai teori ilmunya “memang” berasal dari monyet, tapi, saya mah ogah, saya cukup sebagai anak cucu keturunan nabi Adam as.

Kaidah Hukum Islam Mengajarkan Keteraturan Berpikir dalam Menentukan Hukum Sesuai Kehendak Allah Swt.

Jika seseorang tidak memahami kaidah kaidah hukum Islam, orang seperti Sukris dengan pandangan filsafatnya akan mendapat dukungan luas. Karena pandangan seperti Sukris ini bukan soal baru yang saya hadapi. Sangat umum mereka kalau kalah bicara melontarkan kata kata seperti Sukris, dengan mengatakan Islam selalu merasa dialah ugama yang paling benar dan agama yang lain salah, pandangan orang yang merasa ugamanya paling jempolan itu menyebabkan orang Islam ego sentris, tidak bisa bersosialisasi, tidak bisa bermasyarakat, mau menang sendiri dan akan menimbulkan kebencian pihak lain dstnya.

Dalam kaidah hukum Islam, pandangan filsafat Sukris boleh dicetuskan (perkataan yang menyatakan, jangan memutlakkan pendapat anda paling benar saja), dengan catatan perkataan tsb diposisikan untuk perkara keduniaan yang belum dibatasi Ilmu (aturan Ilmu), belum dibatasi peraturan yang telah di sepakati dari hasil musyawarah dan  hanya termasuk perkara keduniaan (bukan perkara peribadatan) yang juga problem tsb belum dibahas dalam Qur’an dan Sunah Rasul. Kita lihat contoh apa yang dimaksud dibolehkannya pandangan Sukris dilontarkan dari contoh 1,2 dan 3 dibawah ini.

Perkara Keduniaan Yang Kita Tidak Boleh Memutlakkan Pendapat Kita.

Contoh 1.

Seseorang pengendara sepeda motor menabrak pengendara sepeda yang melintas pada malam hari. Dua duanya terjungkal dijalan raya. Pengendara motor lantaran dirinya merasa benar dari sudut pandang akalnya berkata lantang, eh mata elu kemane, tau ada motor lewat, maen nyebrang aje, ape elu engga lihat ada lampu dari motor gue?. Sipengendara motor sedang memutlakkan kebenaran pendapat dan pikirannya kepada pengendara sepeda. Dia berpikir, itu pengendara sepeda bodoh sekali, melintas jalan tanpa hiraukan suasana lalu lintas, padahal ia dalam kecepatan tinggi di jalurnya.

Tapi rupanya pengendara sepeda tidak mau kalah gertak, ia juga melihat dari sudut “ benar” pandangan akalnya, mate elu yang kemane, udah tau motor ente pakai lampu dan ada sepeda yang menyeberang, eh… ente main tabrak saja. Pengendara sepeda juga sedang memutlakkan pendapat akalnya, ia juga merasa benar terhadap kasus tersebut.

Tidak mudah bukan bagi kita untuk menentukan siapa yang benar dalam menghadapi kasus seperti diatas. Kalau dilihat dari siapa yang ditabrak, tentu pengendara motor yang salah. Kalau dilihat pengendara sepeda yang menyebrang tanpa lihat kiri kanan, pengendara sepedalah yang salah. Kalau begitu yang benar yang mana?.

Disinilah pentingnya kaidah berfikir benar menurut Islam, niscaya kita akan dapat menyelesaikan berbagai masalah apapun didunia ini dengan cara yang benar dan dengan cara yang adil. Petunjuk bagaimana menentukan hukum itu sudah ada dalam Islam, jika anda tidak paham kaidah kaidah hukum Islam, justru orang orang yang sophist atau sufastaiyyah, berpaham skeptik, relativistik, anti-ilmu dll. akan muncul dari diri kelompok anti kaidah Islam, atau si bodo kaidah Islam. Akal yang tanpa mengenal wahyu Allah dan Sunnah Rasul, akan terperangkap dalam lingkaran anti ilmu dan semacamnya.

Solusi kaidah Islam terhadap dua pengendara tadi sbb, jika belum ada rambu rambu lalu lintas, saya katakan kedua duanya benar sekaligus kedua duanya salah. Jadi murni kecelakaan tanpa perlu saling menyalahkan. Dan jika masing masing memaksakan, memutlakkan kebenaran akalnya (pendapatnya), memang berakibat bisa berbahaya, bisa terjadi perkelahian. Tetapi jika perjanjian telah ada, peraturan lalu lintas telah ada, walau itu perkara keduniaan, sepanjang peraturan tersebut tidak menentang Qur’an Sunnah, maka peraturan itu jadi keputusan ugama juga yang harus ditaati bagi masyarakat.

Misalkan dilokasi kejadian terdapat rambu lalu lintas tertulis, hati hati, banyak anak anak (10 km/jam), sementara pengendara motor tancap gas (70 km/jam), pengendara sepeda berhak memutlakkan pendapatnya benar. Kalau orang yang telah benar ini, atas dasar rambu yang terpasang 10 km/jam, disalahkan pula bahwa anda jangan memutlakkan pendapat anda benar sendiri, tentu yang akan muncul kemudian adalah kekacauan bagi masyarakat itu, oleh karena ketetapan hukum yang telah disepakati tidak dihargai lagi.

Contoh 2.

Seseorang mengendarai mobil selalu dengan ugal ugalan, teman disebelahnya bertanya kepada sang pengendara, kenapa ente bawa mobil kerap ugal ugalan dan dengan kecepatan tinggi?, Sang pengendara mobil berucap, bodo amat, bukan mobil gue ini!. Benar juga pikir penumpang disebelahnya, lantaran bukan mobilnya dia tancap gas dan ugal ugalan. Kalau lah itu mobilnya, tentu dia akan hati hati, begitu analisa kebenaran akal menurut versi sang penumpang.

Pada kesempatan lain dengan kendaraan lain, sang pengemudi yang sama tancap gas lagi, penumpang disebelahnya bertanya lagi, apakah ini kendaraan orang lain lagi?, sang pengemudi dengan enteng menjawab, ini kendaran milik saya sendiri. Lho kenapa ente ugal ugalan lagi dan selalu dengan kecepatan tinggi?, jawab pengemudi, bodo amat, mobil punya gue ini. Benar juga pikir penumpang, dengan kendaraan sendiri, walau ugal ugalan, siapa mo protes???.

Dari contoh 2, kita melihat kebenaran yang bersifat relative, benar dari sudut mana kita melihat. Benar menurut saya, belum tentu benar menurut anda. Dalam contoh ini, tentu saja tidak terdapat teks Qur’an maupun Sunah Rasul yang menerangkan masalah tersebut. Lantaran itu benar pandangan Sukris, kita tidak boleh memutlakkan pendapat yang hanya bersandar pada kebenaran akal. Kita bilang A benar dari sudut pandang A, tapi B juga bisa benar dari sudut pandang B. Maka kita tidak boleh memutlakkan pendapat kita selalu benar, sementara orang lain salah dalam kasus kasus seperti ini.

Contoh 3.

Orang orang buta dikumpulkan dan disuruh sekali saja memegang seekor gajah, maka jawabnya akan beraneka ragam dan masing masing memutlakkan pendapatnya benar bahwa gajah itu seperti benda keras yang meruncing tajam karena memegang gadingnya, yang lain lagi mengatakan gajah seperti ular sawah yang besar, karena ia memegang belalai gajah dstnya.

Maka juga dalam kasus contoh diatas, pandangan Filsafat Sukris boleh dipakai, manusia tidak boleh memutlakkan pendapatnya benar sendiri atau merasa paling benar sementara pendapat orang lain salah. Karena ukuran kebenarannya pada contoh3 diatas hanya bersandar pada kebenaran akal dan perasaan. Sementara akal dan perasaan mempunyai keterbatasan.

Tetapi jika ada orang sehat mata dan akalnya melihat gajah secara utuh, dan menyatakan begini lho bentuk gajah, dengan pembuktian, dengan ilmu, Sukris masih berteriak kepada yang melihat gajah secara utuh itu, dengan teriakan, heh ente jangan mau merasa paling benar sendiri aja yaa, malah orang yang protes itu menunjukkan  sikap anti ilmunya, bagaimana orang melihat gajah secara utuh dan ia ceritakan ilmunya kepada ummat, kita tolak dengan penolakan yang justru tanpa ilmu.

Memahami Kaidah, Mempermudah Menangani Masalah

Dari tiga contoh keduniaan tersebut, manusia mendapat pelajaran, agar manusia dapat membedakan setiap masalah yang dihadapinya, kalau masalah keduniaan yang dihadapi manusia tersebut terdapat petunjuk Allah dan RasulNya, berarti mutlak kita ikut petunjuk Allah dan Rasul, tidak berlaku peraturan dunia apapun jika Qur’an dan Sunnah telah membahasnya.

Jika tidak terdapat qur’an Sunnah dalam masalah keduniaan yang kita hadapi dan masyarakat menghendaki suatu aturan, misal dalam menentukan peraturan lalu lintas, Islam memerintahkan untuk bermusyawarah agar terlahir peraturan, merah berhenti, hijau jalan, kuning  proses menuju berhenti dstnya. Maka dengan memahami sedikit saja kaidah hukum Islam ini, sebenarnya seluruh permasalahan kehidupan didunia ini akan selalu ada solusinya tanpa sedikitpun harus melanggar kehendak Allah dan contoh perilaku Rasulullah, mengingat aturan atau methode penentuan hukum telah diatur begitu sistematis, sesuatu system hukum yang tidak terdapat dalam agama lain.

Menentukan Urusan Dunia Dengan Musyawarah.

Komitment awal, perjanjian, peraturan, kontrak dsbnya lahir dari petunjuk ugama Islam, yaitu bermusyawarah (Q 42:38).

{وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ}]

Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Rabbnya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami b erikan kepada mereka. (QS. 42:38)

Tidak ada Musyawarah Terhadap Hukum Hukum Allah

Tetapi harus di ingat, tidak ada musyawarah untuk hal hal yang telah terdapat ketentuannya didalam qur’an maupun Sunnah Rasul. Disinilah ajaran Islam yang sulit diterima oleh orang orang kafir maupun orang munafik. “tampak ego dan mau menang sendiri ajaran Islam ini ya”. Tapi apa boleh buat, itulah keimanan kepada Allah dan hari akhirat. Allah yang menciptakan manusia, maka mutlak dari Allah pulalah semua aturan yang berlaku datang. Dan itu wajar. Majikan yang punya aturan terhadap badindenya adalah wajar. Badinde yang tidak patuh aturan majikan, wajar pula majikan marah. Peran manusia didunia sebagai khalifah Allah, jika ia tidak bersedia sebagai khalifah Allah, maunya ingkar, banyak tingkah, maka ia berarti telah siap terhadap konsekwensi logisnya.

Ketika anggota DPR menggodok Rancangan Undang Undang anti porno aksi, musyawarahnya anggota DPR dalam pembuatan undang undang anti porno aksi tsb masuk dalam katagori membuat hukum tandingan dari apa yang telah Allah tentukan. Kenapa tandingan?, Karena UU porno aksi telah ada dalam Islam, maka diharamkan  musyawarah untuk membuat undang undang yang berkait dengan pakaian wanita keluar rumah. Sudah tidak diperlukan musyawarah itu, petunjuk Allah dan Sunnah Rasul tidak pernah mengenal revisi atau up date terhadap kalimat kalimatnya, dari dahulu sampai sekarang dan sampai akhir zaman. Tidak mau mau pakai hukum Allah, konsekswensinya kelak di hari pembalasan, suatu hari dimana kaum munafikin dan kafirin kalah mutlak.

Kaidah Yang Konseptual dan Menyeluruh

Kita lihat keteraturan Islam, patuh dulu terhadap semua ketentuan didalam Qur’an Sunnah (syarat utama), barulah urusan yang tidak terdapat ketentuan Qur’an dan Sunnahnya, dilakukan musyawarah. Dengan demikian akan terjadi kesinambungan dan keharmonisan yang ideal didalam rumah tangga, maupun Negara yang menerapkan kepatuhan kepada Allah dan Rasul sebagai titik acuan (rujukan). Dalam kaidah ini pula kita mengerti bahwa ajaran Islam sempurna. Tidak ada satupun permasalahan didunia ini yang tidak terjawab. Mau bicara apa, mau diskusi masalah apa saja, Islam sebagai solusi.

Kenyataannya mayoritas pengaku Islam di negeri BBM, terutama mereka yang berada di lembaga lembaga kekuasaan Negara (para pengambil keputusan), ketentuan Allah dan Rasul tidak dianggap, mereka memutus mata rantai kepatuhan kepada Allah dan hanya mengambil musyawarahnya saja. Mereka pandang enteng Allah SWT yang menciptakan mereka. Mereka merasa sebagai pakar bahwa tanpa kepatuhan kepada Allah dan hanya mengandalkan musyawarah, mereka pikir mereka bisa mewujudkan negeri Baldatun Toyyibatun Warobbun Ghofur, Ehee, padahal kecerdasan mereka tidak lebih seperti kemampuan mantri suntik yang menangani pesakitan penyakit gatal. Yang bisa dilakukan penguasa ini hanya menggaruk garuk bagian yang gatal dan akan menggaruk terus tanpa bisa menyembuhkan penyakit gatalnya. Karena apa?

Karena inti atau penyebab utama sakitnya negara, munculnya penyelewengan dari tingkat president (yang terima uang panas non budgeter sampai prajurit menembak atasan), sekolah maut IPDN, bencana berkepanjangan, kemelaratan yang semakin meluas, kasus bunuh diri dsbnya, hanyalah akibat dari penolakan pemegang amanah yang bercokol dilembaga lembaga Negara, kepada kehendak Allah dan Rasul.

Sepanjang kepatuhan kepada Allah ini tidak ada, maka akan selalu marak penyakit gatal melanda seluruh permukaan kulit bangsa tidak beradab BBM. Side effectnya begitu besar, sampai sampai lantaran parahnya keadaan, tangan yang seharusnya digunakan untuk menggarukpun ikut kegatalan, tangan penggaruk malah yang paling pantas untuk digaruk. Tokoh Reformasi pun terkena wabah gatalnya penyakit. Reformasi belum pernah terjadi, eh sang tokoh sudah terkena reformasi pula. Weleh weleh weleh, begitu kata si Komo.

Maka, walau sampai kapanpun, setiap rotasi pergantian kepemimpinan dinegeri BBM, pergantian anggota DPR, pergantian aparat, sepanjang mayoritas pengaku muslim dilembaga pemerintahan tersebut tetap tidak mematuhi kehendak Allah, padahal keputusan kepatuhan kepada Allah ada ditangan mereka, tak akan pernah kita temukan negeri yang Baldatun Toyyibatun Warobbun Ghofur. Reformasi adalah kebohongan besar sepanjang Qur’an Sunnah tidak dijadikan undang undang dasar bagi bangsa Ingkar Allah Ingkar Nabi (IAIN). Reformasi yang terjadi hanya pindah sarang, keluar dari sarang penyamun kemudian masuk kesarang pelacuran. Cuma ganti muka baru, pelaku penguasanya tetap barang rongsokan.

Patuh kepada Allah merupakan ukuran penilaian, jika kepatuhan kepada Allah telah lenyap, maka yang akan muncul penipuan terhadap ummat, diketahui atau tidak oleh ummat. Dan ummat atau rakyat, memang juga pantas untuk ditipu, kebodohan mereka terhadap ugama mereka, menyebabkan mereka gampang ditipu, gampang diaduk aduk, gampang ditunggangi oleh calon calon penguasa mereka.

Tinggalkan Jabatan Jika Kita Tidak Bisa Amanah

Begitu seorang pria ijab kabul dalam pernikahannya, maka otomatis ia mendapat amanah untuk menafkahi istrinya lahir batin, begitupun akhiratnya. Begitu ia punya anak, otomatis pula ayah dan ibu menjalankan amanah Allah untuk mendidik anaknya dst. Jadi amanah Allah muncul sesuai jabatan atau posisi yang menjadi wewenangnya. Jika seorang muslim menjadi hakim, maka otomatis ia harus menghukum koruptor dengan hukuman potong tangan. Kalau dia pikir tidak mungkin untuk melaksanakan hukum hukum Allah dengan posisinya sebagai hakim, maka tinggalkan jabatan tersebut (hijrah), supaya tidak menjadi pertanyaan majelis akherat, tentang amanah yang ada pada diri seseorang itu.

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَخُونُوا اللهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُونَ}

Hai orang-orang beriman, janganlah kamu, mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (QS. 8:27)

Kenapa Tidak ? Bukankah Bumi Allah Luas?

Banyak wanita yang telah terpatri iman didalam jiwanya meninggalkan profesi karirnya yang dicintainya lantaran dia tidak mau menurut aturan atau syariat thoghut untuk meninggalkan jilbabnya. Penyiar TV, Sandrina dari Metro TV, dengan rendah hati mengatakan, bukan berarti aku lakukan ini karena aku lebih baik dari wanita muslimah lain. Banyak juga wanita yang tidak popular dan masih muda tidak mau jadi pagar ayu, penerima tamu dalam suatu pesta nikah akbar lantaran tidak mau melepas busana muslimahnya.

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلاَئِكَةُ ظَالِمِى أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيْمَا كُنْتُمْ ، قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِى اْلأَرْضِ ، قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا ، فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ، وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya:”Dalam keadaan bagaimana kamu ini”. Mereka menjawab:”Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata:”Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah dibumi itu”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali, (QS. 4:97)

وَمَنْ يُهَاجِرْ فِى سَبِيلِ اللهِ يَجِدْ فِى اْلأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أجْرُهُ عَلَى اللهِ ، وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَحَيْمًا

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya disisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 4:100)

يَا عِبَادِىَ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ أَرْضِى وَاسِعَةٌ فَإِيَّاىَ فَاعْبُدُونِ

Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja. (QS. 29:56)

Bukan Dari Pada Dari Pada

Dari ayat ayat diatas jelas Islam tidak mengajar konsep daripada daripada. Kalau lembaga paganisme DPR MPR tidak kita isi, maka keadaan akan lebih parah lagi. Sombong amat anda, apakah dengan keberadaan anda keadaan lebih baik?, buktinya lembaga MPR DPR adalah sarat dengan caci makian, ketika ditanya kenapa partai anda terima uang non budgeter?, enteng saja mereka katakan itukan ulah oknum. Suka sekali kalian bersilat lidah, dan itulah diri kalian yang Allah tunjukkan kepada ummat kualitas kalian yang sesungguhnya.

Ajaran Islam adalah amanah, jika memang tidak mungkin kalian tegakkan suariat Islam di lembaga tersebut, lantaran syariatnya apa kata suara terbanyak dan bukan apa kata Allah dan rasul, yah tingggalkan lembaga tersebut. Sudah kesalahan besar menerima syariat democrazy, bertahan pula dalam kemusyrikan dilembaga tersebut. Bukankah anda mengetahui bumi Allah itu luas dan anda paham sekali apa itu hijrah.

Kalau anda sebagai muslim dipilih untuk menjadi menteri atau anggota DPR pada negara yang Ingkar Allah Ingkar Nabi (IAIN), tanya dulu kepada sang president, bisa saya terapkan hukum hukum Allah pada kementrian saya?, jika kata sang president tidak bisa dan memang pasti tidak bisanya, maka tinggalkan kementrian tersebut. Bukan malah sujud syukur dan jingkrak jingkrak dalam luapan kegembiraan dengan jabatan tersebut, padahal besok besoknya anda sebagai menteri kehakiman menghukum terpidana koruptor, pembunuh, dengan hukum hukum buatan thoghut.  Kok mau Allah cemplungkan ke neraka jahanam, anda malah sujud syukur dan gembira ria. Benar  benar logika orang sakit jiwa.

Apa anda pernah baca Qur’an atau hadits yang intinya, tidak mengapa seseorang muslim dinegeri Ingkar Allah Ingkar Nabi (IAIN) dibenarkan mengeksekusi hukum thaghut kepada manusia dalam negara yang belum Islam dalam perannya ia sebagai polisi, jaksa, hakim, president, mahkamah agung dan semacamnya. Sepanjang penelitian saya tak pernah saya temukan satu ayatpun atau hadist yang membolehkan kita mengeksekusi hukum thagut diberlakukan kepada manusia walau itu dinegeri IAIN.

Bahkan marilah kita lihat beberapa ayat yang dikehendaki Allah terhadap mereka yang telah punya wewenang untuk mengeksekusi ayat ayat Allah seperti president, kejaksaan, kehakiman, polisi, mahkamah agung dll, yang tidak bergantung bagaimana negaranya, tapi bagaimana personelnya, mengaku muslim atau tidak. Jika kafir no problem, persoalan selesai, tapi jika mengaku muslim, tiada tempat lari bagi anda yang tidak  mau terapkan hukum hukum Allah. Memangnya nikmat jadi pejabat, jadi anggota DPR, jadi menteri, jadi president. Kalau anda khalifah Allah, anda tegakkan hukum hukum Allah, kalau anda khalifah iblis, maka otomatis hukum hukum iblislah yang anda eksekusikan untuk menghukum manusia.

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ اْلأَمْرِ فَاتَّبِعَهَا وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan agama itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (QS. 45:18)

{اِتَّبَعُوا مَا أَنْزَلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلاَ تَتَّبِعُوا مِنْ أَوْلِيَاءَ ، قَلِيلاً مَا تَذَكَّرُونَ}

Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya). (QS. 7:3)

اَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلاَلاً بَعِيدًا

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (QS. 4:60)

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاحْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ، فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلاَلَةُ ، فَسِيرُوا فِى اْلأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. 16:36)

Lantaran itu jangan suka menghibur diri dari pemahaman yang tidak ada dasar ilmunya. Masuk neraka itu perkara gampang dan itu tak perlu diajar bagaimana caranya masuk neraka, tak perlu ilmu tinggi tinggi agar dapat kecemplung neraka, tak perlu kerja keras atau usaha sungguh sungguh dalam seluruh perjalanan hidup kita untuk mendapat neraka sakar, tak perlu mencegah diri kita dari dosa musyrik atau dosa dosa besar lainnya.

Tak perlu semua itu, nyantai saja, ambil saja kesempatan jadi menteri kehakiman, jadi jaksa agung, jadi kapolda, jadi mahkamah agung, jadi president, jadi majelis mulia anggota DPR, nama harum, jabatan tinggi, uang berlimpah. Aha ringan dan nikmat bukan, kita kan masih sholat, maka kita tinggal omong pada Allah, ingat donk Allah, negeri kite belum Islam, jadi sah sah saja ane jalankan dan patuhi undang undang thoghut. Ya khan, ya khan, lagian  kite kite ini punya gelar haji seabrek abrek. kite punya pesantren dan sekolah Islam terpadu. Itu khan bukti kita pro Islam.

Yah lucu, orang kayak gini mo nyogok Allah dengan sekolah Islam terpadu, sementara ia sebagai menteri menghukum manusia dengan hukum thoghut. Apa dia kira Allah mempan disogok dan cukup senang dihibur manusia dengan sekolah Islam terpadu !!!.

{سُوْرَةٌ أَنْزَلْنَاهَا وَفَرَضْنَاهَا وَأَنْزَلْنَا فِيهَا آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ}1/ النور

(Ini adalah) satu surat yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalam)nya, dan Kami turunkan di dalamnya ayat-ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingatinya. (QS. 24:1)

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللهُ إِلَيْكَ ، فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ ، وَإِنَّ كَثِيْرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ

dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati  hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (QS. 5:49)

Nah, wajarkan jika negeri Benar Benar Mabok (BBM) sarat dengan musibah musibah. Memutuskan perkara (diantaranya sebagai hakim, pembuat UU (DPR)) harus menurut apa yang diturunkan Allah. Jika mereka berpaling, cuek, maka bersiaplah terhadap kehendak Allah untuk menimpakan musibah kepada bangsa ini.

Dan hebatnya musibah yang selama ini menerpa bangsa IAIN tidak ditarik keakar permasalahannya bagi pemegang tampuk kekuasaan, agar mereka memutar halauan kembali patuh taat terhadap apa yang menjadi kehendak Allah dan Rasul, mereka ternyata cuek terus terhadap musibah musibah itu dan cuma menganggap bencana alam sebagai kejadian biasa saja. Ruaaaar biasa.

Lebih Takut Kepada Lampu Merah dari Pada Azab Allah.

Herannya kita para legislatip ini, para yudikatip ini dan eksekutip yang mayoritas mengaku muslim ini, jika berkendaraan, akan menghentikan kendaraannya jika lampu merah menyala. Jadi ada rasa takut untuk melanggar trafight light. Dia takut berhadapan polisi, peraturan, pengadilan dsbnya. Rasa takut, tidak mau jadi repot jika melanggar, menyebabkan mereka tunduk patuh pada aturan lampu merah yang berlaku.

Tetapi kepada Allah SWT yang menciptakan mereka, yang menghidupkan mereka, yang memberi riski mereka dan yang akan mematikan mereka, selanjutnya menyiksa mereka jika mereka tidak patuh kepada aturan aturan yang Allah tetapkan, mereka tidak takut. Inilah pertanda bahwa mereka menderita sakit jiwa akut lantaran qur’an yang turun terhadapnya tidak membawa perubahan terhadap perilakunya.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِى الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ]

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit yang berada dalam dada (sakit jiwa) dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. 10:57)

Kalaulah kita takut terhadap sesuatu, itu harus hanya ditujukan kepada Allah, bukan kepada lampu merah, bukan kepada Amerika, bukan kepada penguasa atau kepada siapapun. Jika yang terjadi takut kepada Allah lenyap sementara takut kepada lampu merah besar, takut kepada Bush besar, manusia menjadi tidak waras (sakit jiwa) dan implikasinya sebagaimana yang kita lihat adalah lantaran memang itu maunya kita.

إِنمَّاَ ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلاَ تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ]

Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (Amerika, PBB, Nato), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah hanya kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (Ál ‘Imrán; 3:175)

Digertak dikit (belum digampar) ama Amrik soal nuklir Iran, buru buru dukung Amrik, ama lampu merah takut, pada Allah yang akan menghisab mereka dengan siksa yang teramat keras tidak takut, weleh weleh weleh. Maaf. Bukan berarti dukung syi’ah, dalam menyebut Iran. Beginilah gambaran, jika bukan keimanan kepada Allah yang jadi ukuran. Akibatnya Bush akan semakin sewenang wenang, hanya negeri Ingkar Allah Ingkar Nabi yang boleh memiliki senjata nuklir, negeri yang baru berbau Islam saja dihajar, apalagi jika negeri yang sebenarnya Islam.

Lembaga Musyawarah DPR Bukan Tempat Berjihad

Perang badar adalah tempat bertemunya dua kekuatan yang menghendaki hukum Allah tegak dan yang lainnya berusaha menghancurkan tegaknya hukum Allah. Perang badar memang harus terjadi karena bagi orang orang yang ber-iman tak ada kata kata kompromi, tak ada kata kata musyawarah, tak ada kata kata mengulur ulur waktu untuk tegaknya hukum hukum Allah. Jika tidak bisa sekarang, besok, jika tidak bisa besok lusa, tetapi kaum muslimin tidak mengenal istilah bersahabat, bermusyawarah, rembukan dalam satu wadah dengan orang orang yang menentang tegaknya hukum hukum Allah, sekalipun yang menentang itu orang tua kita sendiri.

Siapa saja yang menentang tegaknya hukum hukum Allah, mereka berarti musuh Allah yang harus dimusuhi pula oleh orang orang yang ber-iman.

لاَ تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيْرَتَهُمْ ، أُولَئِكَ كَتَبَ فِى قُلُوبِهِمُ اْلإِيْمَانِ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ ، وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِى مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ، رَضِىَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ، أُولَئِكَ حِزْبَ اللهِ ، أَلاَ إِنَّ حِزْبَ اللهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Kamu tidak akan mendapati (temukan) sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya.Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya.Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung. (QS. 58:22)

Dari ayat 58:22 ini jelas tidak ada medan jihad badar di lembaga musyawarah DPR, bagaimana mungkin kita satu rumah, satu wadah, satu organisasi, bahkan satu keluarga, foto bersama, rangkul rangkulan, kemudian bermusyawarah, mengatur negara, memberantas korupsi dengan undang undang yang dibuat oleh manusia, kita patuh menjalankan syariat buatan manusia itu, sementara undang undang dari Allah kita campakkan.

Ayat diatas jelas mengingkari keberadaan lembaga DPR sebagai medan jihad sebagaimana yang dianggap oleh partai apaya Islam bahwa mereka “berjuang” dilembaga musyawarah DPR. Tak akan anda dapati tak akan anda temukan, orang yang anti Islam dengan orang mu’min dalam satu wadah, berangkul rangkulan dalam mengamalkan syariat taghut, apalagi lembaga musyawarah untuk membuat undang undang. Bersahabat dengan orang ahli bid’ah saja tidak nyaman, apalagi dengan penentang penentang syariat Islam dari kalangan kufar maupun munafik.

وَذَرِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِيْنَهُمْ لَعِبًا وَلَهْوًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ، وَذَكِّرْ بِهِ ، أَنْ تُبْسَلَ نَفْسٌ بِمَا كَسَبَتْ لَيْسَ لَهَا مِنْ دُونِ اللهِ وَلِيٌّ وَلاَ شَفِيعٌ وَإِنْ تَعْدِلْ كُلَّ عَدْلٍ لاَ يُؤْخَذْ مِنْهَا ، اُولَئِكَ الَّذِينَ اُبْسِلُوا بِمَا كَسَبُوا ، لَهُمْ شَرَابٌ مِنْ حَمِيمٍ وَعَذَابٍ أَلِيمٍ بِمَا كَانُوا يَكْفُرُونَ

Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main main dan sendau gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan al-Qur’an itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak (pula) pemberi syafa’at selain daripada Allah. Dan jika ia menebus dengan segala macam tebusapun, niscaya tidak akan diterima itu daripadanya. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka, disebabkan perbuatan mereka sendiri. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu. (QS. 6:70)

الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِيْنَهُمْ لَهْوًا وَلَعِبًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ، فَالْيَوْمَ نَنْسَاهُمْ كَمَا نَسُوا لِقَاءَ يَوْمِهِمْ هَذَا وَمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ

(yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main atau senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka”. Maka pada hari itu (kiamat ini), Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami. (QS. 7:51)

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ، قُلْ أَبِاللهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِؤُونَ

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”. (at-Tawbah;  9:65)

Pendapat dari Akal Manusia, Menyampaikan Teks Qur’an Sunnah bukan katagori Pendapat.

Jika seseorang menerangkan Zina itu haram, kemudian disertakan firman Allah yang menerangkan keharaman perbuatan zina (Q 17:32), maka tak patutlah kita mengatakan, itukan pendapat anda?. Ini aneh, ayat tersebut begitu jelas, bukan ayat ayat mutasyabihat (seperti alif lam mim), lantaran kita kalah ilmu, terbiasa tunduk patuh kepada syariat kafir, kita melawan lawan bicara kita, itukan pendapat anda. Jangan memutlakkan pendapat anda benar sendiri aja donk.

Cobalah Sukris melatih cara berfikir, jika saya menerangkan teori Albert Einstein secara tepat, Einstein bilang A, saya bilang A pula, adalah mentertawakan jika orang lain berkata itukan pendapat saya, itu ide saya, padahal saya tidak menelorkan pendapat apapun dalam menerangkan teori Einstein tersebut.

Karena itu, jika seseorang menerangkan letak kebatilan democrazy, menyertakan firman Allah, tidaklah patut kita mengatakan itu pendapat orang tersebut. Dai tersebut hanya menerangkan ayat ayat Allah dan bukan pendapat orang tersebut, kecuali ia sama sekali tak ada berhujah dengan dalil, itu baru namanya pendapat orang tersebut, sebagaimana kelakuan orang partai apaya Islam, membenarkan democrazy, tapi tak satupun ayat Qur’an yang ia cantumkan. Ia hanya menceritakan bahwa democrazy ada sedikit Islamnya, dia gunakan ayat, tapi tidak ia menerangkan democarzynya, begitulah keahlian Yahudi, selalu ahli dalah hal hal pemelintiran.

Sekarang ini masalah tinggal dipisahkan, siapa yang beroleh hidayah Allah dan siapa yang disesatkan Allah. Walau Irene Handono berteriak teriak dikalangan nasrani, wahai ummat nasrani, tidak betul itu Jesus adalah tuhan dan anak Allah, coba anda jawab sendiri, berapa banyak dari ummat nasrani yang menjadi sadar atas seruan mantan biarawati tersebut?.

Qur’an Sunnah Kebenaran Mutlak

Siapa yang menyatakan? Tentu saja Allah yang menyatakan Qur’an dan Sunnah Rasul sebagai kebenaran mutlak. Kita lihat ayat ayat berikut:

اَلْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ ، فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ اْلمُمْتَرِينَ

Kebenaran itu adalah dari Rabb-mu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (al-Baqarah; 2:147)

Dari pernyataan Allah diatas berarti teks qur’an berupa kebenaran mutlak, bahkan manusia dilarang ragu ragu (menandakan kebenaran mutlaknya). Ragu terhadap kebenaran qur’an berarti kufur.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. 33:21)

Pernyataan Allah bahwa sabda sabda Rasulullah juga kebenaran mutlak, dengan demikian Qur’an Sunnah, bagi manusia manusia yang mengaku muslim sebagai undang undang dasar untuk mengatur kehidupan bermasyarakat, bernegara. Jika Undang Undang Qur’an Sunnah bagi pemegang kekuasaan tidak diterapkan, itulah yang dikatakan tidak taat tidak patuh kepada Allah, padahal mayoritas yang duduk dilembaga DPR, aparat kekuasaan mengaku dirinya Islam.

قُلْ أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ ، فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ ، وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا ، وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلاَّ الْبَلاَغُ الْمُبِينُ

Katakanlah: “Ta’atlah kepada Allah dan ta’atlah kepada Rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul hanyalah apa yang dibebankan kepadanya, kewajiban kamu adalah apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu ta’at kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tiada lain kewajiban rasul hanya menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”. (QS. 24:54)

Didakwahkan orang Kufar dan Bukan Bersepakat Menetapkan Hukum

Islam memberi izin berdakwah kepada siapa saja, baik kepada orang muslim atau kepada orang non muslim. Tapi tidak ada izin yang datang dari Allah untuk berembuk, bermusyawarah dalam mengurus rakyat terhadap mereka yang menolak syariat Allah tegak (58:22). Selamanya tak akan pernah menyatu minyak dengan air, selamanya tak akan pernah menyatu keimanan dengan kekafiran, lantas jika anda sekarang dalam suatu Negara yang sedang menerapkan syariat syariat kufar, anda tunduk patuh terhadap syariat2 tersebut, padahal Islam memerintahkan untuk mengingkari, bagaimana status anda ini?.

Kedudukan Akal (Pemikiran), Perasaan, Pendengaran, Penglihatan, Nafsu Syahwat dan Ghadab (amarah) harus Dibawah Al Qur’an dan Sunnah.

Inilah aturan main Islam dalam bersyariat yang begitu sempurna. Kedudukan akal tidak boleh diatas kedudukan wahyu. Allah bilang A, akal menerangkan dan memahami apa A itu. Bukan malah menjadikan firman Allah A menjadi B sebagaimana yang dilakukan DR Zainun Kamal yang rumahnya dikomplek perumahan IAIN sekarang UIN.

Jika Allah melarang wanita muslimah menikah dengan laki laki kafir (Q 2:221), maka kedudukan akal menerima dan mematuhi apa yang Allah perintahkan itu. Tapi DR Zainun Kamal yang satu turunan dengan DR Nurcholis Madjid, malah melegalkan perkawinan wanita muslimah dengan laki laki kafir. Sah nya hubungan sexual suami istri, yang mensahkannya, atau menghalalkannya datang dari Allah dengan cara mengikuti syarat yang datang dari Allah. Manusia tidak punya wewenang sedikitpun untuk menjadikan suatu pernikahan menjadi halal, jika ketentuan syahnya bertentangan dari yang telah Allah tetapkan.

Lantas punya wewenang apa Doktor Zainun Kamal untuk menghalalkan suatu perkawinan yang bertentangan dengan perintah Allah???, rupanya sang doctor ingin sekali dituhankan oleh manusia seperti Firaun, sehingga ia merasa berhak menetapkan hukum begini begitu sesuai kehendak jidadnya.

Kisah nyata DR Zainun Kamal ini, membuktikan bahwa ia menempatkan akal diatas wahyu Allah dan Sunnah Rasul, padahal dalam kaidah hukum Islam, akal harus ditempatkan dibawah Qur’an Sunnah dan tidak dibenarkan melampoi, barang siapa yang melampoi, maka ia telah menjadi kafir dan ia telah memposisikan dirinya sebagai tuhan tuhan tandingan Allah. Akal untuk menerangkan firman Allah sesuai firman Allah dan bukan memelintir ayat Allah sesuai kehendak hawa nafsu.

Maka sebagai penutup, saya memutlakkan  DR Zainun Kamal sesat serta berbahaya bagi ummat, lantaran ia berani menentang ketentuan ketentuan yang datang dari Allah dan Rasulnya, dia menipu jama’ahnya dengan menggunakan gelar dock-toy nya agar sang jama’ah percaya bahwa dia orang pintar yang padahal tak lebih dari dajal. Bagi kelompok filsafat yang protes terhadap pemutlakkan sesatnya DR Zainun Kamal, silahkan protes, Buktikan rame rame…

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى اْلأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ ، فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَجْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ، ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآياَتِنَا ، فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (QS. 7:176)

إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللهَ وَرَسُولَهُ كُبِتُوا كَمَا كُبِتَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ، وَقَدْ أَنْزَلْنَا آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ ، وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُهِينٌ

Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya pasti mendapat kehinaan sebagaimana orang-orang yang sebelum mereka telah mendapat kehinaan. Sesungguhnya Kami telah menurunkan bukti-bukti yang nyata. Dan bagi orang-orang yang kafir ada siksa yang menghinakan. (QS. 58:5)

Jakarta, 17 Juni 2007

Bagi yang butuh file asli dengan ayat Qur’annya, email saja.

Forward lah jika benar, karena kebenaran dari Allah, dan anda dibalasi dengan baik oleh Allah SWT yang menghidupi anda.

Socrates, Plato Penentang Demokrasi

Oleh :

Darmen Adios

Saya sungguh prihatin pada tulisan di bab mujadalah majalah Mujahidin dengan judul Kekafiran Demokrasi, dengan maksud mendudukan masalah secara proporsional dan mencoba meluruskan pola berfikir agar selaras dengan syariat Islam, tetapi lantaran yang disampaikan jauh panggang dari api, tidak proporsional, tidak sampai pada titik masalah, pandangan majalah Mujahidin tak beda dengan Pandangan sesat Ustadz Abu Karim Fatullah dalam bukunya Kekeliruan Pemikiran Abu Bakar Ba’asyir.

Teknology Tidak sama Dengan Dien (Ugama)

Mengambil sample contoh saja dewan redaksi tidak tepat, bagaimana kadar kemampuan seseorang seperti itu akan menempatkan sesuatu secara proporsional dalam meluruskan pola pikir ummat pada masalah democrazy agar menjadi selaras dengan syariat Islam?. Dewan redaksi menyatakan tidak setiap product orang kafir wajib ditolak, tapi mengambil sample teknologi buatan kafir, saya jadi malah bertanya, dewan redaksi ini sedang bicara apa?,

Bicara soal dien atau masalah teknologi?, jika bicara soal teknologi product kafir, bahkan saya ingin menambahkan, sejak kapan Islam melarang penggunaan teknologi kafir?, tak akan pernah kita temukan bukan?, tapi untuk menjadikan teknologi yang berasal dari barat sebagai contoh untuk menyatakan tidak semua product kafir ditolak, digandengan dengan masalah agama agar tidak ditolak juga, ini jelas kekeliruan berat. Atau dewan redaksi memang bermaksud mengelabui ummat, agar mereka yang dalam perjuangannya suka mencampur yang hak dengan yang batil (Niccolo Machiavelli) mendapat sokongan dari ummat.

Kita ini sedang bicara product kafir bukan dalam bentuk teknologi, tapi dalam bentuk ajaran, system mengatur masyarakat, system kehidupan. Islam system kehidupan yang sempurna dan itu dinyatakan sendiri oleh Allah swt dalam Q 5:3. Democrazy juga system kehidupan yang mengatur masyarakat, jadi sama sekali bukan bicara soal penggunaan teknologi kafir, tapi penggunaan ajaran kafir yang diterapkan kepada mayoritas pengaku muslim, dimana jantung dari ajaran tersebut adalah pemusyrikkan terhadap ummat.

Jika jantung masalahnya saja anda tidak paham, maka bahasan anda lainnya adalah rembetan ketidak pahaman anda sebagaimana anda katakan kata democrazy hanya istilah. Anda tidak bisa membedakan antara hanya sekedar istilah dengan kata yang punya hakikat, punya isi. Kalau kata kata “papa – mama” hanya istilah itu benar, begitu juga kata kata ayah ibu, nyokap bokap, abi ummi, emak bapak, dady mom dst, walau begitu banyak namanya, esensinya hanya satu, kata kata yang mewakili panggilan orang tua bagi anak anaknya, dan kata kata tersebut benar hanya istilah. Tidak ada pengaruh sedikitpun bagi masyarakat. Tidak menyebabkan manusia menjadi musyrik.

Tetapi kata democrazy yang diterapkan dinegeri Ingkar Allah Ingkar Nabi (IAIN) adalah system mengatur masyarakat yang diaplikasikan, berdampak masyarakat muslim menjadi masyarakat musyrik lantaran mereka menjadi pendukung nyata system atau ajaran democrazy tersebut. Pada pengertian ini anda tampak menulis asal ngomong tanpa memperhatikan kedalaman masalah yang sedang dihadapi ummat.

Jika saya katakan kata kata democrazy, itu yang saya maksud memang democrazy yang sekarang diterapkan, baik diterapkan di negeri IAIN atau dinegeri barat leluhur lahirnya democrazy. Lantaran itu buang buang energi dan waktu anda mencoba meluruskan tentang democrazy, penjelasan anda bukan membuat ummat semakin mengerti, tetapi semakin bingung, akibatnya ummat tetap dan akan selalu tertipu oleh permainan syeitan yang bernama democrazy ini.

Democrazy itu suatu Dien

Kita bahas hal yang mengecohkan ummat yang datang dari anda itu. Kita bicara bukan product teknologi, tapi product ajaran yang diterapkan (dien) dimasyarakat. Democrazy suatu ajaran yang telah diaplikasikan. Rasulullah adalah orang pertama yang paling murka ketika ada diantara sahabat yang masih memegang mushab kitab lama (kitab ajaran lama). Kita tahu kitab Zabur, Taurat, Injil yang original datang dari Allah dan merupakan kitab kebenaran, tapi kitab tersebut tetap tertolak untuk digunakan setelah datangnya Muhammad SAW sebagai utusan Allah yang terakhir.

Bagaimana kitab democrazy yang nyata diterapkan sebagai system kehidupan yang mengatur masyarakat di negeri IAIN, anda masih mau coba mempertahankan kebenarannya padahal anda sendiri mengaku system kehidupan itu datang dari dubur manusia kafir?. Rasulullah bukan penggagas atau pencetus suatu system kehidupan Islam, tetapi orang kafir, seperti halnya Karl Max ia pencetus ajaran komunis, democrazy dari Yunani juga gagasan manusia kafir, yang kini ajarannya amat popular dikalangan ummat, jauh lebih pouler dari ajaran Islam milik mereka sendiri.

Rasulullah tidak seperti Karl Max, beliau hanya utusan Allah yang menerapkan system kehidupan yang datang dari Allah (Islam) dan bukan sama sekali yang datang dari yang namanya manusia. Jika Rasulullah sendiri tidak lancang, orang kafir lancang, kenapa gagasan si lancang itu anda utak atik, mencari cari celah kepala siapa yang cocok dengan topi, ajaran kafir mau dicocok cocokkan dengan kesempurnaan ajaran Islam, yang berarti anda tidak percaya kepada kesempurnaan ajaran Islam. Kalau anda percaya 100% Islam telah sempurna, campakkan secuil ajaran sesat tersebut walau ada yang sesuai Islam.

Dan sebenarnya bukan hanya ajaran democrazy yang ada benarnya jika ditinjau dari Islam, kalau anda mau teliti ajaran hindu, budha dan yang lainnya, mungkin saja ada satu dua dari ajaran tersebut yang sesuai Islam, misal berbuat baiklah kepada orang tua. Apa ada ajaran Budha, Hindu yang mengajarkan, tempeleng saja kedua orang tuamu kalau kamu lagi bete.

Kalaupun ada orang yang mau mengatur suatu negeri hanya dengan selembar saja ayat qur’an, sementara ratusan halaman lainnya dicampakkan, tetap saja niat baik orang semacam itu tertolak, apalagi itu ajaran datang dari dubur orang kafir dan diaplikasikan secara nyata dalam masyarakat pengaku muslim, yang kata anda ada sedikit berbau Islamnya. Anda tampaknya tak perduli bagaimana halnya perkataan Rasulullah, yang marah ketika sahabat masih ada yang membawa (ingat hanya sekedar membawa, tidak diamalkan) kitab kebenaran original seperti Injil itu. Dan anda juga tak pernah mau meneliti apakah Rasulullah berjuangnya seperti pembenaran yang anda katakan.

Anda mengatakan democrazy secara prinsip harus ditinjau dari dua segi, sebagai ideology dan mekanisme meraih kekuasaan. Secara ideology anda mengatakan democrazy mutlak sesat tapi dalam mekanisme meraih kekuasaan anda katakan punya kesamaan sifat dengan system pemerintahan Islam. Pernyataan disatu sisi sesat disisi lain benar ini jelas membingungkan ummat. Tampaknya anda termasuk orang yang tertipu oleh kata kata asing (ideology) tanpa memahami makna hakikinya dari kata idelogy itu. Bagaimana suatu system kehidupan yang telah punya syariat sendiri untuk mengurus manusia anda katakan ideology dan anda anggap bukan dien, sehingga anda mengatakan disatu sisi dikatakan sesat disisi lain anda katakan benar.

Qur’an tidak mengenal kata kata ideology atau azas, bukan berarti Allah tidak memahami bahasa asing ini, ideology atau azas atau paham atau agama sama saja dalam pandangan Islam, semua azas, semua ideology, semua paham, semua agama selain ideology, azas, paham atau agama Islam tertolak. Q 3:19, 3:85. Jadi adalah logika aneh jika ideologinya anda katakan sesat, tapi ideologynya halal dipakai sebagai mekanisme untuk mem perjuangkan Islam. Atas dasar ilmu dari mana anda menerangkan logika logika aneh tesebut?.

Setiap Permainan Punya Syariat (Aturan)

Sebelum sampai kepada pembelaan diri anda dalam hal mekanisme seperti 1. rakyat memiliki hak mengontrol jalannya pemerintahan dan kebijakan pemerintah, 2. Rakyat memiliki hak memilih pemimpin eksekutip maupun legislative, 3. rakyat mempunyai hak musyawarah dalam mengelola pemerintahan dan Negara, dimana atas dasar 3 point ini, anda menjadikan pembenaran democrazy ditinjau dari sisi mekanisme. Maka kita bahas dulu apa benar syariat atau inti peraturan yang berlaku dalam system democrazy itu telah sesuai Islam, atau malah menentang dan menipu Islam?.

Setiap anda bermain apa saja, mau main catur, congklak, sepakbola, ludo, pingpong, tennis, golf atau apa sajalah pasti ada syariat atau peraturannya. Sebelum anda ikut pemilu, katakanlah untuk memenangkan partai apaiiiyaaa Islam, anda juga tahu dan sadar syariat yang berlaku dalam system democrazy tsb. Essensi utama syariat democrazy adalah suara terbanyak menentukan keabsahan, legalitas suatu hukum. Karena itu semua partai mati matian untuk memperoleh suara terbanyak.

Syariat ini ternyata tidak terhenti pada saat memilih anggota DPR saja, bukan saja sekedar untuk memilih orang, tapi dilembaga paganisme DPR MPR, syariat ini tetap merupakan syariat yang mutlak, baku, digunakan untuk semua urusan perundang undangan. Lantaran democrazy system, tentunya taut bertaut, tali menali, saling berhubungan dari memilih sampai menempatkan anggota DPRnya, membuat UU, menentukan, menolak UU didasari atas keputusan suara terbanyak dan bukan menurut apa kata Allah dan Rasulullah.

Namanya hidup, apa mungkin system democrazy yang telah diaplikasikan dimasyarakat tidak bakal bersintuhan dengan apa yang menjadi kehendak Allah (Qur’an) dalam mengurus yang namanya manusia ini?, jika anda katakan tidak, tentulah anda orang paling tuoolol didunia ini. Jika anda katakan yaa dan anda sebenarnya ber-iman kepada Allah dan hari akhirat, mengapa anda setuju kepada suatu permainan yang menyebabkan anda terjatuh kepada kemusyrikan ini. Sementara anda berteriak teriak hendak memperjuangkan Islam, disisi lain anda menginjak injak syahadat anda. Kalau begitu apa yang anda perjuangkan sementara kemusyrikan itu sendiri anda amalkan tanpa anda merasa takut sedikitpun kepada murka Allah?. Ingatlah, anda bisa menipu sebagian besar manusia, tapi ingat anda tidak bisa menipu semua manusia, apalagi menipu Allah.

Inti syariat Islam dalam system Islam adalah apa kata Allah apa kata Rasulullah, maka tuhannya Allah SWT. Syahadatnya Tiada tuhan selain Allah. Dalam system democrazy inti syariatnya apa kata suara terbanyak dan tak mengenal itu apa kata Allah dan apa kata Rasulullah, maka tuhannya adalah gerombolan manusia, syahadatnya tiada Allah melainkan suara terbanyak (gerombolan manusia). Sekarang cobalah anda bertanya kepada diri anda sendiri, anda ikut suatu permainan, dan anda setuju serta antusias dalam permainan tersebut, tapi pintu gerbang syariatnya telah nyata nyata menyingkirkan wewenang Allah dalam mengatur hamba hambaNya, diganti oleh wewenang gerombolan manusia. Bagaimana anda kok bisa menerima syariat seperti itu???, jadi tunda dulu pembahasan point point pembelaan diri anda dalam hal mekanisme itu. Dipintu gerbang pemilu saja anda telah membatalkan syahadat Islam anda.

Sama saja dalam permainan poker, antara wanita dan pria, jika kalah buka baju satu persatu dan bisa sampai telanjang bulat jika anda kalah terus dalam permainan, jika anda menang boleh anda berpakaian lengkap. Sinonimnya jika anda kalah, anda rela hukum dan wewenang Allah dipinggirkan, dihinakan, namanya juga kalah. karena begitu aturan permainan pokernya. Jika anda menang silahkan anda pakai baju terus, wewenang Allah anda tempatkan pada porsinya. Itulah aturan main system democrazy. Lucunya jika anda kalah, tetap saja anda bercokol dilembaga paganisme tersebut, mau ngapain, sudah jelas tak akan mungkin anda mewujudkan hukum hukum Allah, sebagaimana terbukti dari sejak tahun 1955 tidak pernah sekalipun syariat Islam tegak di bumi IAIN ini.

Oke jika anda menang, bisakah keinginan itu diaplikasikan pada kenyataannya? Tidak juga. Selain orang yang gampang berbuat syirik, gampang menghalalkan segala cara, ringan tangan untuk berzina, korupsi dsbnya, tidaklah mungkin mewujudkan Al Islam dalam kehidupan nyata sebagaimana yang dilakukan Rasulullah dan para sahabatnya yang bersih dari kemusyrikan dan dari menghalalkan segala cara. Di Aljazair dan Palestina merupakan bukti, bulshit saja berjuang dalam system democrazy, musyriknya sudah pasti, karena ketentuan permainannya menyepelekan Allah dan mentuhankan manusia, ketika menang andapun tetap diperdaya oleh mbahnya penebar ajaran democrazy, Amrik dan Israel.

Barang siapa yang bermain main dalam pesta democrazy, mereka sebenarnya cuma menjadi bola mainan Yahudi Nashrani. Namanya juga crazy, jadi orang orang yang setuju berjuang dengan syariat system democrazy, memang orang orang yang sebenarnya crazy pada kedudukan, harta dan keharuman nama, bukan orang orang yang mencari nilai nilai kebenaran. Tak ada kemiripan sedikitpun berjuang dengan cara patuh taat pada system musyrik, dengan berjuang sebagaimana perjuangan Rasulullah saw. Berhentilah kalian dari berdusta.

Kembali kepada aturan permainan, jika anda dalam hal permainan poker bugil tidak setuju akan aturan permainannya, lantas atas dasar apa anda menerima aturan permainan democrazy itu?, merebut kekuasaan?, itu cara yang susah butuh dana besar, cara yang mudah saja, Rasulullah ditawarkan Harta, Tahta, Wanita oleh golongan Qurays tidak menerima, kan gampang, begitu berkuasa jadi president tinggal terapkan hukum hukum Allah, nah kenapa Rasululllah menolak?, karena memang tidak mungkin nyampur orang kafir, musyrik mu’min dalam satu wadah.

لاَ تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيْرَتَهُمْ ، أُولَئِكَ كَتَبَ فِى قُلُوبِهِمُ اْلإِيْمَانِ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ ، وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِى مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ، رَضِىَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ، أُولَئِكَ حِزْبَ اللهِ ، أَلاَ إِنَّ حِزْبَ اللهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Kamu tidak akan mendapati (temukan) sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya.Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya.Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung. (QS. 58:22)

Karena anda pekak, tuli, bisu, tidak mau mencontoh bagaimana Rasululah berjuang, jadilah Islam sebagai barang dagangan ampuh yang takkan pernah basi untuk mengelabui ummat sampai kapanpun. Islam hanyalah alat bisnis, ujung ujung duit. Saya baru saja bertemu mantan anggota DPR, dia bilang sampai kapanpun dia tidak akan pernah mau masuk partai lagi, bohong kalau mereka memperjuangkan Islam, anda mau kenal? Bisa saya antarkan kerumahnya.

Socrates Dibunuh Lantaran Menentang Democrazy

Dalam buku karangan Dave Robinson dan Chris Garratt dengan judul mengenal Etika for Beginners, halaman 34, 35, Plato (428-354 SM) murid Socrates, tidak pernah memaafkan kaum democrat yang telah membunuh gurunya (Socrates), lantaran Socrates menentang democrazy. Democrazy menurut Plato berarti kericuhan dan berkuasanya sekelompok mafia ganas dan berdarah dingin yang mudah diperalat para poli-tikus.

Hal ini bisa dimaklumi, karena hanya orang orang kaya saja yang bisa bermain dalam permainan pesta democrazy ini, rakyat hanyalah tumbal dan pelengkap penderita, karena kebutuhan terhadap uang yang besar itu membuat munculnya mafia politik, uang kebutuhan kampanye selalu lebih besar dari yang ia miliki, maka yang support adalah bandar bandar judi dan semacamnya, (ini pengakuan mantan anggota DPR), jika ente menang jangan lupa ya beri ane project gas Sidoardjo. Begitu sang president menang, benar ternyata ada pejabat tinggi yang punya saham besar di project gas Sidoardjo yang sekarang bermasalah besar. Kericuhan kata Plato, ternyata benar juga, hampir disetiap pemilihan, muncul kecurangan dan tentunya kericuhan, Plato meninggalkan Athena dengan penuh kebencian, kemudian kembali pada saat kota tersebut dalam bahaya besar.

Jadi sebenarnya bukan ajaran Islam saja yang mutlak menentang syariat democrazy, ternyata ada juga orang kafir, bahkan para filsufnya menentang democrazy, cara befikir mereka sederhana saja, didalam masyarakat yang majemuk ini, tentu saja yang paling banyak kalangan orang orang bodoh, penjahat, pelacur, penjudi, pemalas, pencuri, preman dsbnya. Dengan system democrazy, dimana hak si bodoh dengan si pintar sama, sipenjahat dengan si orang baik baik sama, tapi jumlah pecundang mayoritas, maka tak heran orang buta hati buta mata jadi president. Bush yang begitu kejam, yang menurut akal sehat seharusnya habis kariernya, malah terpilih lagi.

Maka benar democrazy itu penuh dengan kegilaan, sampai sampai dewan redaksi Mujahidin yang selalu berterus terang terhadap kebenaran, turut menjadi crazy dengan mengatakan democrazy itu sesat democrazy itu betuullll. Crazy khan???.

Sangat memalukan memang, jika filsuf Yunani Socrates, Plato menentang democrazy, pengaku muslim belagak pinter mencoba mengurai democrazy sebagai landasan perjuangan sah dan cara yang benar menurut Islam. Sangat memalukan.

Mekanisme Democrazy Sarat Bertentangan Dengan Islam.

Sekarang kita bahas tentang mekanisme. Mekanisme democrazy begitu banyak dan tidak fair jika cuma tiga saja yang dibahas dewan redaksi. Pertama system pemilihan penggede dalam Islam tidak diserahkan kepada rakyat seperti system democrazy sekarang ini. Jadi masih dusta juga dewan redaksi jika diserahkan kepada rakyat sepenuhnya sesuai Islam. Pemilihan khalifah dilakukan oleh sahabat sahabat Rasulullah yang juga telah digembleng ke Islamannya oleh Rasulullah. Baca buku Khilafah dan Kerajaan karya Abul A’la Al Maududi. Kalau memilih khalifah dengan dasar yang penting seluruh rakyat, inikan democrazy, pasti ia bertentangan dengan firman Allah yang mengklasifikasikan kebanyakan orang (rakyat) adalah sesat sesesat sesatnya.

Kebanyakan Manusia Pasti Menyesatkan

2:243 Kebanyakan manusia tidak bersyukur, 3:110 Kebanyakan manusia fasik, 5:62 Kebanyakan manusia membuat dosa, 5:71 Kebanyakan manusia buta tuli, 5:103 Kebanyakan manusia tidak mengerti, 6:37 Kebanyakan manusia tidak mengetahui, 6:115 Kebanyakan manusia hendak menyesatkan manusia, 7:102 Kebanyakan manusia tidak memenuhi janji, 11:17, 26:121, 40:59, 26:8, 26:67 Kebanyakan manusia tidak beriman, 16:83 Kebanyakan manusia kafir, 21:24 Kebanyakan manusia tidak tahu yang hak, 23:70 Kebanyakan manusia benci terhadap kebenaran, 26:223 Kebanyakan manusia pendusta, 29:63 Kebanyakan manusia tidak memahami, 30:42 Kebanyakan manusia musyrik dst nya.

Allah telah memberi gambaran jika kebanyakan manusia jadi ukuran neraca penilaian, maka kualitas manusia kebanyakan seperti firman Allah diatas. Penguasa memang harus mengurus rakyatnya dengan amanah, itu wajib, walau rakyatnya penuh dengan perampok dan pelacur. Tapi bukan berarti diserahkan seluruh wewenang untuk memilih kepemimpinan dan bahkan semua kasus hukum bergantung keputusan suara rakyat (mayoritas).

Inilah bedanya system Islam dan dengan system democrazy. Dalam system Islam, hanya orang orang yang beriman dan bertaqwa yang diminta pandangannya untuk memilih khalifah yang paling tepat. Dari segi hukum, semua berdasar apa kata Allah dan apa kata Rasulullah, pandangan suara mayoritas (inti ajaran democrazy), hanya boleh untuk hal hal yang tidak terdapat dalam ketentuan Al Qur’an dan Sunah Rasul. Naik apa ke Bogor, naik Bushway, OK suara mayoritas boleh. Tapi tetap saja Islam menggunakan methode terbaik terbenar. Tidak mentang mentang terbanyak. Mayoritas bilang naik Bush reyot, lewat jalan berlubang lubang, minoritas bilang naik Bush sehat, lewat jalan aspal mulus, tentu terbaik terbenar tetap jadi ukuran.

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ، أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللهُ ، وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُوا اْلأَلْبَابِ

yang mendengarkan perkataan lalu dipilih yang terbaik, terbenar (sesuai kebenaran Al Qur’an). Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang- orang yang cerdas. (QS. 39:18)

Sekarang semakin jelas, fakta yang tidak terelakan, system democrazy mengingkari keberadaan Allah dan mentuhankan suara mayoritas, maka siapa saja yang mendukung system democrazy, ikut pemilu dalam system democrazy, mereka berada dalam status mempersekutukan Allah. Democrazy akan mati sendiri, jika pengaku Muslim ini tak satu orang juapun yang partisipasi dalam pemilu. Tanaman padi disawah akan mati sendiri jika tidak ada yang mengurusnya. Ada yang mengatakan, bukankah memilih pimpinan wajib?, yang wajib dipilih itu adalah pemimpin yang patuh pada Allah dan Rasul. Abu Bakar ra. Umar bin Khatab ra, Usman ra, Ali ra, semua menyatakan kalian diharamkan patuh pada penguasa yang tidak menerapkan syariat Islam atau ketentuan ketentuan Allah dan Rasulnya.

Abu Bakar as Shiddiq setelah dibaiat berpidato:”… Taatlah kepadaku selama aku taat kepada Allah dan RasulNya, bila aku tidak taat kepada Allah, tidak menerapkan hukum hukum Allah, maka tidak ada kewajiban atas kalian taat kepadaku, sebab aku hanyalah seorang yang akan selalu mengikuti jejak Rasulullah dan bukanlah aku seorang yang berbuat sesuatu yang menyimpang dari ajaran beliau.

Kalau khilafah Rasyidin saja berkata demikian, menyuruh haram patuh kepada penguasa yang IAIN, anehnya banyak ulama ulama sekarang yang katanya menentang democrazy dan mengaku dari kalangan ahlussunnah, menyuruh patuh kepada pemerintahan yang IAIN, democrazynya ditentang, tapi hasilnya dipatuhi, pesan pesan khilafah Rasyidin dilupakan, karena mungkin sudah tidak sesuai zaman. Inilah keanehan keanehan dari kualiatas ulama kita yang telah keracunan tipu daya iblis yang berhasil memplot gerombolan manusia menjadi tuhan. Karena manusia banyak yang dituhankan termasuk dirinya, maka manusia tidak merasakan kemusyrikan itu. Coba kalau batu yang dituhankan, pasti ulama kita pinter ngomongnya bahwa mentuhankan batu musyrik.

Menyerupai Suatu Kaum Juga Tanda Kesesatan

Rasulullah bersabda, barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk kaum tersebut. Pesta democrazy di negeri IAIN sama persis seperti yang diaplikasikan di Amerika atau Eropa dan belahan dunia kafir lainnya. Jika itu diterapkan dinegara mayoritas yang katanya pengaku muslim, maka pengaku muslim tersebut telah menyerupai orang orang kafir tersebut.

“Pilihlah Saya” Mekanisme yang bertentangan dengan Islam

Mekanisme sesat lainnya yang tentunya bertentangan dengan syariat Islam adalah Islam tidak pernah mengajarkan sesama kaum muslimin saling mengalahkan untuk kemenangan dirinya atau partainya. Bagaimana mau masuk kancah saling mengalahkan, mau mencoba untuk menunjuk nunjuk dirinya agar terpilih jadi pejabat saja terlarang.

Demi Allah, kami tidak akan menyerahkan salah satu jabatan pemerintahan kami ini kepada sesorang yang memintanya atau sangat antusias untuk mendudukinya” (Bukhari kitab al ahkam bab76, muslim kitab Imarah bab 3).

“Orang yang paling berkhianat disisi kami ialah orang yang mencari cari kedudukan” (Abu Daud Kitab al Imarah bab2)

Kami tidak akan memberikan suatu jabatan dalam pemerintahan kami ini kepada orang yang menginginkannya” (Kanzul Ummal jilid 6, hadist 206).

Disini terbukti lagi bahwa mekanisme democrazy adalah mekanisme sesat, dengan tampilnya manusia menunjuk nunjuk dirinya, atau partainya agar terpilih, maka muncul ria, pamer, ujub atau berbangga banga dengan gelarnya yang bertumpuk, yang pasti punya vested interest, bukan ikhlas karena Allah. Pasang tampang segede gede gajah, semua gelar yang dimiliki di cantumkan didepan dan dibelakang namanya, sampai pergi hajinya saja diberi tahu kepada ummat, pulang haji bergelar H. Tujuannya untuk promosi diri, biar dikatakan tetap pembela Islam. Selain promosi diri, promosi pula partainya, putih bersih, giliran partainya terima dana non budgeter tinggal ngomong Ooo itu khan oknum. (23:53), (30:32 ), (31:18), (57:23).

Calon Pemimpin di Datangi

Dalam Islam kepemimpinan itu didatangi, tidak ia berkampanye, tidak pula ia keluar uang sepeserpun. Dalam system democrazy calon pemimpin mencari cari dukungan agar terpilih dan dengan mencari dukungan itu tentulah ia harus siap uang yang tidak sedikit, begitu diumumkan kekayaan cagub, ternyata ada yang punya uang 203 milyard, kita terkejut, dapat dari mana tu duit?. Kalau menang tentu ia ingin uang nya balik, maka dia bikin project project besar milik Negara, yang ngerjakan dia punya PT atas nama keluarganya, lagu lama. Repotnya kalau kalah, namanya juga pemilihan berjudi, uang milyard’an raib.

Adakah si calon president, calon gubernur mau menolong orang miskin dengan uang milyardan sampai triliunan jika ia batal mencalonkan diri?, uang kampanyeku untuk rakyat miskin sajalah. Tak pernah ada dimanapun dan sekalipun, walau dia dari kalangan partai apa ya Islam. Kita lihat uang bertumpuk ditangan aparat atau mantan aparat, jumlahnya luar biasa, sangat tidak adil dengan keuangan rakyat yang buat makan saja susah. Bagaimana rakyat dapat hidup cukup, uangnya digasak terus aparat penguasa. Akhirnya rakyat menjadi mayoritas miskin, lima tahun sekali simiskin dimanfaatkan lagi oleh sang penguasa. Gitu terus, sampai sampai Plato muak.

Jika Islam memerintahkan untuk ummat bersatu padu dan tidak bercerai berai (Q 3:103, 3:105) ajaran democrazy malah menjadikan kalian berpecah belah, masing masing bangga pada partainya dan tidak sedikit pendukung partai dari santri atau pesantren geblek lawan partai bloon dari kalangan pengaku Islam lainnya, saling gontok gontokkan dilapangan. Dengan ajaran democrazy ummat dimasukkan kedalam aquarium aquarium, dipecah pecah semakin kecil semakin kecil agar mudah bagi kaum kufar untuk menghantamnya.

Diktator lain, Islam lain, Democrazy lain.

Jadi kalau kita gunakan system Islam, pasti tidak akan kita temui kediktatoran, karena banyak dari mereka yang tidak paham, kalau tidak kita gunakan system democrazy, pastilah akan muncul kediktatoran. Fasis dan semacamnya. Akhirnya mereka kembali lagi kesystem democrazy, karena itu yang dipandang yang terbaik. Padahal Allah memerintahkan kembali kepada system Islam, maka rahmat akan turun dimana mana.

Bagaimana Islam menghargai rakyat, kita lihat di masjid. Yang datang belakangan duduk dibelakang, walau dia pejabat harus duduk dibelakang. Tidak ada jabatan keagamaan dalam Islam seperti Pendeta Kardinal, Pastor, Paus. Masuk masjid mana saja silahkan, tidak perlu mendaftar dulu sebagaimana orang nasrani untuk ibadah di gereja harus terdaftar dalam gerejanya yang dia inginkan. Kalau kita lihat contoh gaya gereja, mereka yang katanya pendiri democrazy, malah tidak demokrasi dalam hal masuk tempat ibadah. Yang berlaku dalam gereja peraturan Paus, dalam Islam yang masuk Masjid yang berlaku peraturan Allah. Imam sholat dipilih yang ilmu ugamanya paling luas, bagus bacaannya dsbnya dan itu wajar wajar saja.

Jakarta, 28 Juni 2007

Bagi yang butuh file asli dengan ayat qur’annya, email saja.

Forward lah jika benar, karena kebenaran dari Allah, dan anda dibalasi dengan baik oleh Allah SWT yang menghidupi anda.

The Da Vinci Code Oelama

Oleh :

Darmen Adios

Kalaulah selebritis ganteng seperti Ari Wibowo yang mengiklankan Fatigon, Inneke yang mengiklankan shampoo, atau actor ganteng lainnya Primus yang mengiklankan Motor Honda, tidak ada reaksi ummat. Walau wajah aktris actor tersebut memenuhi ukuran full billboard yang dipasang di jalan jalan raya. Wajarlah…, mereka kan actor dan aktris yang memang dimanfaatkan ketenarannya, ke selebritisannya oleh produk dagang, agar produk produk tersebut cepat laku dimasyarakat.

Bagi actor itu juga selalu berusaha keras untuk menjadikan dirinya selalu populer, agar terpakai (laku) didunia hiburan, dunia bisnis. Sesuatu yang biasa biasa saja dalam dunia bisnis pekerjaan menjual tampang tersebut, terhadap selebritis.

Tetapi kalau ulama tenar, memanfaatkan ketenarannya sebagai ulama untuk produk iklan, dimana wajahnya terpampang penuh satu halaman koran tabloid, ummat tentu bertanya tanya, ini ulama atau selebritis?, ummat merasa ada sesuatu yang over (berlebih lebihan) pada tindakan ulama tersebut. Ia tidak menjual baju, sembako, sebagaimana khalifah Abu Bakaar Sidhiq ra dalam mencari nafkah, tetapi menjual kepopuleran keulamaannya untuk meraup pundi pundi dunia. Sesuatu yang baru dalam dunia dakwah, dunia penyeru penyeru manusia kejalan Allah. Seorang pewaris nabi. menceburkan diri kedalam dunia hedonisme, dunia selebritis dan datang dari kelompok ulama.

Saya berfikir keras, mengingat ulama adalah pewaris nabi, dan ini yang justru menggelitik qolbu ummat, artinya cerminan nabi ada pada ulama, maukah Rasulullah SAW jika hadir dalam kehidupan kita sekarang ini, menampilkan wajahnya untuk suatu produk barang, dimuat sebesar ukuran Koran tabloid, yang tidak tertutup kemungkinan akan dipasang pula sebesar ukuran billboard dipinggir jalan raya, seperti wajah cantik Inneke dengan iklan shamponya?. Maukah, ini suatu pertanyaan ???.

Bukankah setiap iklan membawa pesan? Bukankah wajah sang ulama yang dipasang begitu besar membawa pesan?. seseorang yang taqwa, ber-iman, dari hari kesehari menampilkan wajah duka dalam berdoa di TV, menunjuki ummat jalan yang lurus, jalan keimanan, tiba tiba, break!!, break!! Di session lain sang ulama berpesan, makanlah super mie dsbnya, dalam acara Super berkah. Tampil pula seperti actor Primus yang mengiklankan Honda Motornya lelaki,…dengan jaket hitam, didepan motor besar disebar luaskan penampilan ulama tersebut kemasyarakat luas.

Menjual tampang? apakah bagian dari ilmu management qolbu?, atau telah terjadi degradasi (penurunan) nilai dari para pembawa risalah? Atau pula, dari awal berkecimpung didunia pembawa risalah, niatnya itu memang memburu popularitas, sangat berharap wajahnya masuk Koran apalagi masuk TV, setelah popularitas didapat lantas mengambil keuntungan komersial dari kepopulerannya!. Gelagat menjual tampang populernya ini telah terlihat pada ulama pembawa risalah lainnya.

Bagi orang awam, memang mencita citakan cepat popular seperti selebritis, agar dapat cepat menjadi kaya dan itu memang itu salah satu tujuan hidupnya. Lihat saja antusiasnya mereka yang ikut Indonesian Idol, AFI, jika tidak terpilih, ada yang marah, menangis, sedih. Tetapi jika terpilih, wajahnya luar biasa gembira, menangis juga, tetapi menangis dalam luapan emosi kegembiraan. Tujuan populer memang jalan tol, jalan cepat menjadi kaya, dan kini jalan itu diambil pula oleh barisan sebagian ulama.

Dalam hadist qudsi, kualitas ulama semacam ini langsung di tohok Allah swt, kamu menyeru manusia kejalan Allah, padahal kamu berharap keuntungan dunia dari seruanmu, maka dunia yang engkau mau, aku berikan kepadamu, tetapi kamu tidak memperoleh bagianmu diakhirat. Kan sudah di dapat didunia. (teks bebas, hadist Qudsi).

Dalam kondisi dunia timpang dimana kemelaratan di negeri BBM (benar benar mabok) begitu menyedihkan, televisi malah selalu menampilkan kehidupan kenikmatan orang orang kaya, dengan rumah mereka yang megah, mobil yang selalu gonta ganti, orang orang kaya yang kongkow kongkow di mall mall, berhandphone, makan di café café, berpakaian yang sexy serta mahal, di tambah lagi sajian quiz quiz cara gampang dapat harta dunia, to be millioner dll, jingkrak jingkraknya dua orang ibu yang mendapat dua milyard dalam acara super deal, menjadi semakin mengkristal pada qolbu ummat, keinginan yang mendalam ingin kaya seperti ibu ibu yang mendapat dua milyard itu.

Kita harus kaya, kita harus kaya, kita haruuuuuuuuus kaya, lihatlah contoh ibu ibu itu, betapa nikmatnya jadi orang kaya. Begitulah semangat yang menggema di qolbu ummat. Apalagi seorang ulama besar juga telah menulis buku, Saya tak ingin kaya, tapi saya harus kaya. Ibarat rakyat yang sedang kehausan dipadang sahara kemelaratan, otak ummat tidak lagi mampu berfikir, bertujuan dalam perjalanan hidupnya menuju Allah, tetapi terlempar ke aspal menuju perburuan harta dunia yang tak pernah usai kecuali maut menjemput, sang tokoh ulama malah memperkokoh motivasi ummat agar …. Kalian harus kaya (imagenya duit, kesenangan, kemewahan)…Bukan kalian harus bertaqwa (imagenya keimanan, kemulian hati).

Kita lihat apa yang terjadi dimasyarakat dalam motivasi ummat yang telah mengkristal untuk memburu kekayaan dunia itu?, bagi yang tidak beruntung meraup kenikmatan dunia sebagaimana yang ia selalu lihat ditelevisi, ia mengambil jalan tol versinya sendiri, dengan merampok, membunuh korbannya atau memperkosa.

Atau bagi yang putus asa, tidak bisa kaya tapi tak mampu merampok, mengambil jalan tol pula dengan membunuh dirinya. Memeluk, mencium anaknya, lantas gantung diri, karena mencari pekerjaan susah, istri selalu marah karena dirinya menganggur, bertambah lagi korban korban bunuh diri, lantaran tak tahan hidup dalam kemelaratan, sementara tontonan nikmatnya jadi orang kaya, tak pernah lenyap dari layar kaca.

Mungkin dalam qolbunya sang korban berkecamuk kalimat, betapa hina dan rendahnya jadi orang miskin, dan betapa mulia, gagahnya, bahagianya jadi orang kaya. Sementara untuk hidup dalam kemiskinan saja, sudah sulit sekali, istri merongrong, dunia menghinakan, dunia tidak adil dan tak pernah adil, maka ia memilih membunuh dirinya, selamat tinggal anakku, selamat tinggal istriku, (romantis amat ya), aku mencintai kalian, tapi aku harus pergi karena aku tidak bisa mengharuskan diriku jadi orang kaya. Kalau keharusan pasti, mutlak menjadi kenyataan, mengapa pula harus bunuh diri. Gemparlah masyarakat.

Motivasi haruuuuuus kaya menyebabkan pola berfikir ummat terbelok dari tujuan hidupnya menuju Allah, dan manusia manusia yang berkilauan matanya terhadap harta dunia itu langsung di ingatkan Allah SWT dan dikatagorikan sebagai kelompok orang orang munafik:

لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لاَتَّبَعُوكَ وَلَكِنْ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ ، وَسَيَحْلِفُونَ باِللهِ لَوِاسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنْفُسَهُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu, keuntungan (dunia) yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: “Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu”. Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta. (at-Tawbah; 9:42)

Kalau gua ajak ngaji, belajar apa itu Islam, sulit amat gua dapet jama’ah, paling satu dua orang, tapi giliran ada quis super deal, nonton piala dunia, nonton idolanya tanding final Indonesia Idol di TV, tontonan dangdut berhadiah dilapangan, nyaksiin goyangan udel udel penyanyi dangdut, satu kampung datang dah ke tuh tempat.

Ini memang kejutan baru bagi ummat, seorang ulama mensejajarkan dirinya dengan penulis penulis barat dalam hal How to get money, How to be rich dengan tambahan penekanan harus kaya, berarti semua daya upaya dilakukan untuk memenuhi keharusan itu dan keharusan itu diajarkan kepada ummat. Apakah mengajarkan How to be rich dengan keharusan maqomnya pembawa risalah?, Jika ia Robert T. Kiyosaki dengan Rich Dad Poor Dad, itu memang maqomnya penulis dunia yang selalu mengimpikan kekayaan dunia dan dia dapatkan. Kalau Ulama? Ini kejutan berikut setelah ulama menjual tampang, membuat kita harus meneliti The Da Vinci Code. Dimanakah rahasia kunci kemakmuran rakyat secara global dan rahasia ulama selebritis?

Kaya, miskin (rezeki) seseorang rahasia Allah, Howard Hughes sebelumnya dari keluarga miskin, buta huruf pula, melamar kerja di bank untuk sekedar jadi tukang sapu, ditolak lantaran tidak bisa baca. Ia tidak pernah baca buku How to be rich. Bagaimana baca sedang ia buta huruf. Beberapa tahun kemudian ia kembali ke bank dimana ia pernah melamar kerja dengan membawa uang jutaan dollar, ia disuruh menuliskan daftar isian, ia katakan ia buta huruf. Petugas katakan kalau anda Howard bisa baca tulis, tentu engkau akan lebih kaya lagi dari yang sekarang ini. Howard Hughes menolak pernyataan karyawan bank tersebut. Justru jika aku bisa baca tulis, aku tetap kere seperti dirimu yang masih menjadi karyawan. Kekayaan Howard Hughes si buta huruf itu luar biasa besar.

Di negeri BBM bertumpuk sarjana ekonomi, pakar pakar keuangan, bahkan sampai tingkat Begawan Ekonomi, harusnya dengan ke ilmuan mereka yang luar biasa pintar itu, menguasai juga teori ilmiah dan teori aku harus kaya, ekonomi negeri BBM maju, nyatanya keilmuan mereka yang begitu hebat tidak ada apa apanya untuk rakyat BBM.

Dari sejak negeri BBM merdeka, Adil Makmur bagi rakyat, cuma seperti impian katak dalam tempurung yang merindukan bulan, yang melarat terus bertambah. Kemiskinan tergelar dimana mana. Jadi tidak ada kepastian kolerasi, bahwa tau ilmu mencari uang, pasti kaya nya. Apalagi harus, AKU HARUS KAYA (gaya ey abdina.., mentang mentang lagi kaya atuh, coba dalam kondisi melarat, abdina nulis judul bukunya bagaimana?, mau dipaksakan kata kata aku harus kayanya?, naah elu bilang harus kaya, buktinya melarat).

Qarun sombongkan diri, semua harta yang kudapat ini karena ilmuku, maka ilmuku ini aku tulis dalam buku, aku harus kaya, kalian bisa belajar dari ilmuku, dari bukuku, dan pasti kalian akan kaya karena aku adalah bukti kongkrit, begitulah kata kata Qarun.

{قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِى ، أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا ، وَلاَ يُسْئَلُ عَنْ ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ}

Karun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu tentang dosa-dosa mereka. (QS. 28:78)

{فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِى زِينَتِهِ ، قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِىَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عظِيمٍ}

Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. (QS. 28:79)

{وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلاَ يَلْقَاهَا إِلاَّ الصَّابِرُونَ}

Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar”. (QS. 28:80)

{فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ اْلأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ}

Maka Kami benamkan Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah, dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). (QS. 28:81)

{وَأَصْبَحَ الَّذِينَ تَمَنَّوْا مَكَانَهُ بِاْلأَمْسِ يَقُولُونَ وَيْكَأَنَّ اللهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ ، لَوْ لاَ أَنْ مَنَّ اللهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا ، وَيْكَأَنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ}

Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Karun itu, berkata: “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezki bagi siapa yang ia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita, benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah)”. (QS. 28:82)

Saudaraku, Allah SWT sendiri menyatakan dalam firmanNya, Dialah yang mengkayakan dan memiskinkan hamba hambaNya (biar kata anda sudah matang teori aku harus kaya, karangan ulama besar, kalau Allah belum mau anda kaya, tak bakalan terjadi, tidak ada korelasinya, tidak baca buku bisa kaya, baca buku belum tentu bisa kaya, baca buku bisa kaya, tidak baca buku …ah puyeng dah ane).

{وَ اللهُ فَضَّلَ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِى الرِّزْقِ ، فَمَا الَّذِينَ فُضِّلُوا بِرَادِّى رِزْقِهِمْ عَلَى مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَهُمْ فِيهِ سَوَاءٌ ، أَفَبِنِعْمَةِ اللهِ يَجْحَدُونَ}

Dan Allah melebihkan (mengkayakan) sebahagian kamu dari sebahagian yang lain (memiskinkan) dalam hal rezki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezkinya itu)(dikayakan) tidak mau memberikan rezki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah (QS. 16:71)

Jika ada satu juta pembaca buku “Saya tidak ingin kaya, tapi Saya harus kaya”, apakah sang ulama berani jamin satu juta orang itu akan kaya pula seperti tidak ingin kayanya sang ulama, tapi ia jadi kaya raya?. Kalau cuma satu dua orang yang jadi kaya lantaran membaca buku itu, itu seperti cerita orang yang pergi ke gunung Kidul minta kaya di kuburan kuburan yang di musyrikkan, dari satu juta pengunjung setelah dia minta kaya kapada “roh kubur” ia cerita kepada temannya, bahwa ia kaya setelah meminta kepada arwah “roh kobur” yang disucikan. Nyatanya jutaan pengunjung yang datang ketempat tersebut, tetap saja miskinnya, walau telah melakukan ritual yang sama.

Memang pembicaraan masalah kaya adalah persoalan yang sangat sensitive dalam Islam. Islam membolehkan ummatnya kaya, tapi manakala ia antusias memburu kekayaan, malah sesatlah manusia tersebut, pusing kan?, karena tujuan hidup dalam Islam bukan untuk memburu kekayaan. Dan kebanyakan manusia terjebak dalam proses ini.

Yang diperintahkan Allah adalah carilah kehidupan akhirat, bukan carilah kekayaan dunia, tumpuk tumpukilah hartamu di bank, sama sekali tidak. How to get Paradise not How to be rich. Karena itu tugas ulama mengarahkan ummat untuk memperoleh akhiratnya, walau keadaan ummat sedang amat sengsaranya dikehidupan dunia ini, bukan malah mengajarkan kalian harus kaya, kalian harus kaya, seperti aku gitu lho!!!.

{وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللهُ الدَّارَ اْلآخِرَةِ ، وَلاَ تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ، وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكَ ، وَلاَ تَبْغِ الْفَسَادَ فِى اْلأَرْضِ ، إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ} 77/ القصص

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. 28:77)

Yang terjadi dimasyarakat, ummat malah membalik kehendak Allah dalam surat 28:77 tersebut. Jadi qur’annya versi manusia adalah, carilah kehidupan dunia, rebutlah dunia, antusiaslah sesuai nasehat ulama kondang, tapi jangan lupakan akheratmu. Jadi kebolak balik yaah.

Akibat kesalahan persepsi ini, manusia siang malam, pagi sore, setiap hari dan bahkan sampai matinya disibukkan selalu dalam rangka mencari nafkah Allah, mulut mereka membela diri, ibadah nikh, ibadah nikh, cari nafkah kan ibadah, padahal ia tak lebih dari budak belian, mirip kambing, yang tahu cuma bekerja keras untuk makan dan makan untuk bekerja keras, hari sabtu Ahad dipakai untuk ke mall, café, panti pijat, tempat rekreasi, mengendurkan otot otot dalam konteks kaum hedonisme, begitu terus dilakukan sampai matinya.

{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا ماَ نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاَهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا}

Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. (QS. 17:18)

{وَمَنْ أَرَادَ اْلآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا}

Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mu’min, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. (QS. 17:19)

THE DA VINCI CODE

Kalau begitu bagaimana agar rakyat atau ummat bisa menikmati adil sungguhan, makmur (kaya) sebenarnya, aman (tidak ada perampokan, pembunuhan, perkosaan, bencana alam) disertai berkah Allah lagi, bukan berkah super (nisbi) versi ulama?, Da Vinci Code nya datang dari Allah jua.

Mau pastor2, pada protes kek, ulama ulama ngetop pada protes kek, jendral jendral pada protes kek, gubernur gubernur pada protes kek, anggota dewan pada protes kek, code The Da vinci nya sbb:

Kode pertama yang terkuak kata Allah, jangan musyrik, yaitu, penguasa negeri BBM jangan lagi musyrik massal atau musyrik pribadi, sholat juga, puasa ramadhan juga, haji juga, tapi menolak hukum hukum Allah yang lain, lantaran takut kepada tuhan saingan Allah, apa itu tuhannya? yaitu: buka code, ..on mesin,… display = jeglek ning neng… TTL@001.com (tuhan toleransi), Kita harus toleransi kepada minoritas non muslim; TTGR# 002$ (tuhan tenggang rasa), engga enak donk, negeri ini khan punya die juga, bukan punya Allah; TD all not Allah 003(tuhan Democrazy), semuanya kita serahkan pada apa maunya rakyat, bukan apa maunya Allah; TDPDP*.* all ok %004% (tuhan dari pada dari pada), dari pada mereka yang embat, lebih baik kita yang embat; TM )( 004 tuhan murobbi. Apa kata murobbi yes, walau si murobbi sesat tetap yes, Closed display success.

Kode kedua Da Vinci, jangan munafik masal atau pribadi, buka code,..on mesin, ..display =jeglek ning neng, NT001 nempelin terus siapa aja yang berkuasa, nasakom ? OK boss aku pendukungmu, Pantat Lisa yang bahenoul OK boss, aku bergairah terhadap bodymu yang seperti guitar, nanti kalau kaum muslimin menang, nempel juga, Islam OK Boss tuh lihat ike khan juga bikin pesantren?, pokoknya semuanya OK yang penting ahli dalam merekat. SKB002, Hobby Sembunyikan Kebenaran, tulalit tulalit, tidak berani berkata benar, tulalit tulalit, menghalakan segala cara. Tulalit tulalit, mencampur yang haq dengan yang batil, tulalit tulalit budayakan, perkokoh democrazy.

{الَّذِينَ يَتَرَبَّصُونَ بِكُمْ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ فَتْحٌ مِنَ اللهِ قَالُوا أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ وَإِنْ كَانَ لِلْكَافِرِينَ نَصِيبٌ قَالُوا أَلَمْ نَسْتَحْوِذْ عَلَيْكُمْ وَنَمْنَعْكُمْ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ ، فَاللهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، وَلَنْ يَجْعَلَ اللهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلاً}

(yaitu) orang-orang yang menunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mu’min). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata:”Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu” Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata:”Bukankah kami (turut berperang) bersama kamu” Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata:”Bukankah kami turut memenangkan kamu, dan membela kamu dari orang-orang mu’min”. Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman. (QS. 4:141)

No musyrik, no munafiq, no zhalim, no kufar = Iman. Amaliah konsisten qur’an = taqwa, yang memproses iman dan taqwa penguasa dan rakyat, maka terbukalah pintu pintu rezeki dari langit. (Bukan karena membaca buku Aku Harus Kaya). Maka ummat akan memperoleh Kemakmuran, Keadilan, Keamanan, dan Berkah. Masih juga musyrik dan munafik=azab berkepanjangan.

Sinyal Da Vinci Code yang dikirim dari Sidratul Muntaha Q 7:96

{وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٌ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa,(tidak musyrik, tidak munafik) pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi(negeri aman dan makmur), tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa (azab) mereka disebabkan perbuatannya. (QS. 7:96)

PEWARIS NABI

Habitat ulama telah Rasulullah katakan sebagai pewaris nabi, jadi ulama adalah cermin dari akhlak Rasulullah SAW. Namanya juga pewaris nabi, cermin, tentu harus beda dengan pewaris lain umumnya seperti pewaris bintang film Elvis Presley, pewaris putra mahkota Sultan Hamengku, pewaris keturunan darah biru, dsbnya.

Kalau sang ulama actionnya sama dengan selebritis, lambat laun hakikat ulama sebagai pewaris nabi sebagaimana yang disabdakan Rasulullah akan lenyap secara bertahap, karena ternyata “selebritis” lainnya dari habitat ulama juga telah bermunculan. Meraup keuntungan dunia dengan memanfaatkan ke tenarannya sebagai ulama disertai lidahnya yang tak pernah berhenti dari zikir, memuji muji Allah. Seperti inikah kesudahannya ulama pewaris nabi…? Alamaak.

Dalam Al Qur’an seorang ulama, da’i, atau yang juga popular disebut ustad, adalah mereka yang terikat memperjuangkan ugama Allah. Membawa misi Allah dan Rasul Allah. Kita perhatikan ayat sbb:

لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِى سَبِيلِ اللهِ لاَ يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِى اْلأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ اْلجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ سِيْمَاهُمْ لاَ يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللهَ بِهِ عَلِيمٌ

(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. (al-Baqarah; 2:273)

Konteks diatas adalah fukaro (orang miskin) yang terikat fiesabilillah (berjuang, berjihad) dijalan Allah. Ulama, ustad walau belum tentu sebagai fukaro, tidak bisa tidak masuk dalam kelompok orang orang dalam rangka keterikatannya berjuang dijalan Allah. Jadi ada nilai (value) yang memang harus dijaga oleh seorang ulama tersebut.

Ulama tidak seperti bintang sinetron wanita yang kesehariannya berpakaian tapi telanjang, memperlihatkan udel, memperlihatkan ketiak, belahan dada, tapi begitu main film untuk acara Ramadhan, tiba tiba saja ia menjadi wanita muslimah yang taqwa dengan jilbab yang menawan. Mengharu birukan masyarakat akan perannya sebagai wanita sholeh. Tetapi selepas acara Ramadhan, ditonjolkannya lagi belahan dadanya atau belahan pantatnya kepada ummat tanpa punya rasa malu, padahal baru kemarin ia berperan sebagai wanita salih yang menjadi teladan ummat.

MAMPU MEMPROYEKSIKAN CARA BERFIKIR RASULULLAH

Sebagaimana yang telah dijelaskan diawal, jika seorang pribadi telah mengikhlaskan dirinya sebagai ulama pewaris nabi, seyogianya cara berfikirnya mampu memproyeksikan cara berfikir Rasulullah pada masa sekarang ini kedalam qolbunya. Jadi walau Rasulullah SAW telah lama tiada, sang ulama mampu berfikir, seandainya Rasulullah hidup pada zaman sekarang ini, kira kira mau atau tidak melakoni sesuatu perbuatan yang aku lakoni sekarang ini?, misal jadi bintang iklan seperti actor Ari Wibowo?

Seandainya Rasulullah masih hidup, apakah kira kira Rasulullah mau berjuang seperti orang orang partai sekarang ini?, menjadi ketua partai Islam, dimana kalau partai Islamnya kalah, Rasulullah berkata, jangan putus asa, kita kampanye lagi lima tahun mendatang dengan kampanye lebih besar lagi, kita putihkan Jakarta, uang tidak masalah, Allah pasti drop dari langit, pasang poster tampang saya sebesar besarnya di jalan jalan agar rakyat tau saya ini Rasulullah.

Pamer wajah besar besar itu bukan ria, biar rakyat tau gue ganteng, gue jilbab dengan setumpuk gelar ini itu. Itu khan cuma informasi yang dibungkus jihad. Supaya rakyat pilih kita punya partai. Pokoknya sampai kapanpun kita budayakan, kita kokohkan democrazy dari barat itu, agar mendarah daging di jiwa, di qolbu rakyat kaum muslimin, sampai tidak mungkin lagi rakyat keluar atau mencampakkan demograzy ini. God luck kelompok putih !!!..

Coba jawab oleh qolbu anda sendiri, apakah kira kira Rasulullah mau jadi ketua partai seperti yang jadi rebutan dikalangan ummat yang mengaku berjuang untuk untuk Islam, sekarang ini?.

Bertanya lagi qolbu kita, maukah Rasulullah bermusyawarah untuk katanya menegakkan kalimat Lailahaillallah dimana teman teman musyawarah kita ada yang Katolik, Hindu, Budha, Kristen dstnya?. Saudara yth dari Hindu, saudara yth dari Katolik dst, sehubungan korupsi semakin mengganas macam wabah flu burung, Negara dalam keprihatinan yang amat sangat, maka kita tegakkan hukum potong tangan terhadap para koruptor tersebut. Tidak usah sampai minta jawaban dari para orang orang non muslim itu, duduk bersama mereka untuk membicarakan potong tangan saja, apakah menurut qolbu anda, Rasulullah akan bersedia?

Jika qolbu kita sendiri menjawab tidak, lantas apa yang kita lakukan selama ini ???, kita telah ditipu syeitan dan telah menipu qolbu kita sendiri, dan kita membuat alasan alasan yang tanpa ada kebenarannya, tanpa hujjah dari qur’an maupun Sunah Rasul (hadits), padahal qolbu kita juga menyadari, bahwa Allah maha tahu apa yang tersembunyi dalam jeroan qolbu kita.

{يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ ، فَلاَ تَغُرَّنَّكُمُ الْحَباَةُ الدُّنْيَا ، وَلاَ يَغُرَّنَّكُمْ بِاللهِ الْغَرُورُ}

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. (QS. 35:5)

ULAMA JUGA MANUSIA

Banyak kaum muslimin berkata, ulama kan juga manusia, bukan nabi yang terjamin dan terbebas dari dosa, tapi kita tidak pernah jujur dalam ucapan kita bahwa Ulama Abu Bakar Shiddiq ra, Ulama Umar bin Khatab ra, Ulama Ali bin Abi Thalib ra, Ulama Usman ra, Amar bin yasir, Aisah ra, Abu Hurairah dll juga manusia dan bukan nabi. Tetapi mereka konsisten menempatkan dirinya sebagai ulama. Dan pernahkah terdengar kritikan terhadap peran mereka sebagai ulama sampai detik kini?. Padahal ulama masa kini, ada yang ulama selebritis, ada yang ulama us’suu’u (ulama jahat), ada pula asli ulama pewaris nabi. Jadi yang original ulama masih ada.

Dengan mencoba kemampuan seorang hamba Allah untuk selalu memproyeksikan dirinya seolah olah Rasulullah hidup pada zaman sekarang ini, diproyeksikannya kedalam qolbunya, walau kita tidak banyak tahu tentang ribuan hadits shoheh, tidak tahu banyak semua yang termaktub dalam qur’an, kemampuan tersebut membantu banyak dalam mengerem langkah langkah kita yang kerap bablas dalam rangka mencapai tujuan.

Menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, bicara asal bunyi tanpa hujjah, democrazy itukan cuma kresek, seperti orang beli barang di indomaret, giant dst, nanti sampai rumah kresek itu dibuang, (kalau dah menang democrazy itu dibuang), padahal ia dan kawan kawan seperjuangannya dapat hidup nikmat, bermewah ria dari perahan air kresek yang dimasukkan dalam perut anak istri mereka dan kocek kocek mereka. Asal ngomong qolbu otomatis awarahum.

DIHARAMKAN KONTRAK DENGAN PEMBAYARAN

Karena telah menjadi orang populer, maka diburulah sang ulama oleh stasiun2 TV, Radio dstnya, kontrak sana, kontrak sini, mengisi kegiatan Ramadhan dengan pembayaran yang tertera di surat kontrak dan telah ditanda tangani kedua belah pihak. Kalau sang ulama belum terkenal, dan sang ulama punya ambisi agar dirinya lekas lekas top, maka justru pihak TV yang meminta bayaran kepada ulama tersebut.

Inilah yang disebut bisnis menjual ayat ayat Allah, dan sang ulama lantaran tergiur hopeng hedong ratusan juta bisa sampai M untuk satu bulan isi acara di TV, tanpa merasa bersalah menekan surat kontrak itu. Apa yang terjadi sesungguhnya setelah teken surat kontrak beserta jumlah pembayarannya?, Sesungguhnya misi Rasulullah dan para nabi, telah dibisniskan oleh para ulama itu. Telah diplesetkan bertolak belakang dari kehendak Allah dan rasulNya. Kita lihat bagaimana sikap semua nabi dalam menjalankan tugasnya, mereka semua tidak meminta bayaran atas dakwah dakwahnya. Kalau kontrak terjadi, artinya menyetujui kerjanya sang ulama dibayar.

Nabi Nuh tidak meminta upah :

{وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ نُوْحٍ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُمْ مَقَامِى وَتْذكِيرِى بِآيَاتِ اللهِ فَعَلَى اللهِ تَوَكَّلْتُ فَأَجْمِعُوا أَمْرَكُمْ وَشُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ لاَ يَكُنْ أَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُوا إِلَيَّ وَلاَ تُنْظِرُونَ}

Dan bacakanlah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah sajalah aku bertawakal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. (QS. 10:71)

{فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَمَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ ، إِنْ أَجْرِىَ إِلاَّ عَلَى اللهِ ، وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ}

Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun daripadamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya)”. (QS. 10:72)

{وَ يَا قَوْمِ لاَ أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالاً ، إِنْ أَجْرِىَ إِلاَّ عَلَى اللهِ ، وَمَا أَنَا بِطَارِدِ الَّذِينَ آمَنُوا ، إِنَّهُمْ مُلاَقُوا رَبِّهِمْ وَلَكِنِّى أَرَاكُمْ قَوْمًا تَجْهَلُونَ}

Dan (dia berkata): “Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Rabbnya akan tetapi aku memandangmu sebagai kaum yang tidak mengetahui”. (QS. 11:29)

Nabi Huudpun tidak minta upah atas jasa dakwahnya :

{وَ إِلَى عَادٍ اَخَاهُمْ هُودًا ، قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرِهِ ، إِنْ أَنْتُمْ إِلاَّ مُفْتَرُونَ}

Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) saudara mereka Huud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Ilah selain Dia. kamu hanyalah mengada-adakan saja. (QS. 11:50)

{يَا قَوْمِ لاَ أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا ، إِنْ أَجْرِىَ إِلاَّ عَلَى الَّذِينَ فَطَرَنِى ، أَفَلاَ تَعْقِلُونَ}

Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan(nya)?” (QS. 11:51)

Dan masih banyak lagi yang saya catat tentang para ulama tidak boleh teken kontrak pembayaran, tidak boleh minta amplop atas hasil ceramahnya. (QS. 26:109) (QS. 26:127), (QS. 26:145), (QS. 26:164), (QS. 26:180), (QS. 34:47), (QS. 10:72), (QS. 11:29), (QS. 11:51), (QS. 26:109), (QS. 26:127), (QS. 26:145) (QS. 26:164), (QS. 26:180), (QS. 34:47).

Dalam klausul kasus diatas, jelas tugas ulama, pendakwah, adalah mengajak manusia ke jalan Allah. Mosok mengajak manusia kejalan Allah, agar si preman tidak berzina, tidak bermabuk mabukan, tidak sholat, sang uztad minta bayaran atas nasehat nasehatnya?. Jika itu yang terjadi, kemudian hari yang terjadi adalah pelecehan terhadap diri sang ulama. Ketika sang Uztad datang untuk mendakwahkan Islam kepada si preman, si preman berkata, lagi butuh duit nikh yee.

Jadi sang ulama mulutnya tertutup dalam hal meminta minta pembayaran, apalagi pasang tarif sebagaimana dahulu terkenal dengan istilah ulama saloon. Kalau di kasih amplop? Bagaimana?. Boleh, dengan syarat ia fukaro. Jika ia secara pribadi telah kaya, ia tak berhak menerima amplop untuk kebutuhan hidupnya. Kecuali amplop itu untuk diteruskan kepada fakir miskin lainnya.

Firman Allah yang membolehkan ulama miskin menerima amplop adalah sbb:

لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِى سَبِيلِ اللهِ لاَ يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِى اْلأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ اْلجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ سِيْمَاهُمْ لاَ يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللهَ بِهِ عَلِيمٌ

(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak (jama’ah harus peka keadaan ustadnya). Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. (al-Baqarah; 2:273)

Ringkasnya ustad yang miskin yang boleh menerima amplop, tapi amplop itu datang dari pihak kedua tanpa ada permintaan sedikitpun dari ustad sebagai pihak pertama. Tidak ada omong omong mengenai pembayaran, tidak ada kontrak, dan kalau tidak diberikan serupiahpun dari pihak kedua, sang ulama tidak boleh bermuka masam dan berjanji tidak mau datang lagi. Itu konsekuensinya sang pembawa risalah, dan dia harus ikhlas dengan sesungguhnya. Jika wajahnya bermuka masam tidak diberi amplop, sang ustad telah menyalahi tugas mulia para nabi, yang berharap upahnya dari Allah semata. Berhenti saja jadi ustad, karena ustad model seperti ini merusak dakwah dan misi Rasulullah.

Sekarang ini telah terjadi penyimpangan besar besaran dalam masalah ini. Meminta mantan artis yang jadi muslimah berceramah ugama, sang artis menentukan tariff untuk kesediannya hadir tiga juta. Persis seperti selebritis dibayar kontrak shooting. Kini ada ulama TV tarif 8 juta, 10 juta dsbnya, makin popular ia, makin besar tarifnya. Muka muka mereka selalu tampil di TV atau surat kabar yang berkesan manusia suci yang mewakili ummat, padahal mereka tak lebih dari pecundang pecundang ugama.

Ya Allah betapa telah rusaknya keadaan, penyeru penyeru ugama engkaupun telah mengkomersialkan ugama engkau untuk kepentingan bisnisnya, menjual ugama engkau untuk kepentingan politiknya, bagaimana ummat tidak lebih rusak karena ulamanya saja sudah rusak. Sekarang orang orang yang hidup dilingkungan miskin semakin sulit untuk beroleh petunjuk engkau dari ulama, dari ustad ustad, karena mereka akan mengatakan uang dari mana untuk menghadirkan ulama datang ketempat masjid kami yang kumuh ini?.

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلَ اللهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلاً أُولَئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِى بُطُونِهِمْ إِلاَّ النَّارَ وَلاَ يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ ألِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa-apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (buat bisnis), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada Hari Kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih. (al-Baqarah; 2:174)

Karena itulah yang banyak muncul dipermukaan adalah ulama ulama us’suu’u (ulama jahat), ulama selebritis (walau mungkin tidak jahat, tapi motifnya duit), Rasulullah bersabda, sejahat jahat manusia dikolong langit adalah ulama us’suu’u, dari lidahnya keluar fitnah (H.R Baihaqi). Tidak mengapa tidak pakai jilbab, tidak mengapa pula pakai jilbab jika wanita muslimah keluar rumah dstnya, yang bicara ini doctor lulusan Al ahzar Mesir. Uztad, bagaimana nikh kita kok gini terus (zina), gampang ntar taubat. Gitu aja kok repot. Tapi muncul mengisi acara Ramadhan sebagai penceramah di setasiun TV. Wey…

Ulama selebritis ini umumnya mau tampil di TV setelah setuju dengan syarat syarat untuk tidak bicara ini, tidak bicara itu, padahal syarat itu suatu penghinaan atas alur dakwah, mengkebiri dakwah. Sang ulama setuju aturan itu karena ia cari populer, ia cari uang. Ah materi Islam bukan itu saja Al Wala, wal baro. Gampanglah. Ulama yang istiqomah menolak diatur, keimanannya tersinggung ketika ia dilarang bicara ini bicara itu. Karena ia tidak cari populer, ia usir wartawan TV tersebut.

Coba perhatikan, kita tidak pernah mendengar Ulama Ba’asyir, Irene Handono memberi ceramah rutin di TV, bahkan sekali saja untuk menerangkan pemurtadan nasrani kepada ummat Islam, liku liku nya jalannya pemurtadan sesuai keahliannya yang mantan biarawati, penerangannya tidak pernah di TVkan. Saya belum pernah melihat Irene Handono tampil untuk membahas Da Vinci Code dimana “tuhan beristri”. Masalah ini sangat penting diketahui ummat, tapi tidak satu stasiun TV pun yang mengundangnya.

Kita tidak pernah mendengar ulama di TV mengkupas apa itu kemusyrikan, siapa itu orang orang musyrik, kemunafikan, siapa itu orang orang munafik, kepada siapa loyalitas ummat diberikan dan ditujukan, yang muncul di TV hanyalah ugama akal, ugama budi pekerti, ugama logika yang arahannya tidak menyelamatkan kaum muslimin itu sendiri dari perjalanannya menuju neraka. Malah menghibur ummat yang dalam perjalanannya menuju neraka.

Jika memang sang ulama care terhadap ummatnya, bukan care terhadap duitnya, justru yang harus dibenahi ulama papan atas yang kerap muncul di TV itu adalah kemusyrikan masyarakatnya. Kemusyrikan adalah masalah paling urgen yang harus diberantas para ulama yang menguasai media TV. Karena media TV sangat ampuh untuk proses cepat sadarkan ummat. Rusaknya negeri BBM justru karena bercokolnya orang orang musyrik dan orang munafik di lembaga lembaga kekuasaan.

Seorang musyrik, yang tidak mau hukum hukum Allah ditegakkan di bumi Allah di negeri bbm, semua amal amalnya Allah lenyapkan. Orang orang munafik adalah pembudaya, pendukung kemusyrikan. Orang yang menempel seperti benalu. Kan kasihan kita jika sohib kita orang musyrik, ia rajin sholat, puasa, zakat, haji, dermawan yang amat sangat, jadi anggota thanks givingnya uztad Mansur, tapi tuhannya yang lain selain Allah adalah tuhan Toleransi, Tuhan Kebersamaan dstnya.

Kok ulama kita menyuruh ia sedekah, kok ulama kita menyuruh dia puasa, kok ulama kita menyuruh ia zakat, kok ulama kita menyuruh dia sholat, semua amal amal itu tidak ada gunanya bagi orang itu, selagi ia masih menyembah tuhan tuhan yang lain lagi(thogut), selain Allah. Dan tuhan di negeri BBM adalah tuhan toleransi. Manusia tunduk patuh pada apa maunya toleransi, Tuhan kebersamaan, manusia tunduk patuh pada kebersamaan dari pada tunduk patuh terhadap apa maunya Allah. Sikap beribadah banyak tuhan itu namanya musyrik.

Sang ulama TV, sang ulama selebritis ini tahu masalah ini, tapi tetap saja membiarkan kemusyrikan ummat, sementara sang ulama juga tahu semua amal mereka akan hangus, tapi dibiarkkannya ummat dalam kemusyrikan. Ini adalah kejahatan ulama yang nyata nyata terhadap ummatnya, atau sang ulama sendiri yang masuk dalam kelompok kaum musyrikin, wallahualam.

{ذَلِكَ هُدَى اللهِ يَهْدِى بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ، وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}

Itulah petunjuk Allah yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. (QS. 6:88)

Jakarta, 15 Oktober 2006

Bagi yang butuh file asli dengan ayat qur’annya, email saja.

Forward lah jika benar, karena kebenaran dari Allah, dan anda dibalasi dengan baik oleh Allah SWT yang menghidupi anda.