Oleh :
Darmen Adios
Kaum pria Syiah setiap tahun di hari Asyuro melakukan penganiayaan terhadap diri sendiri. Punggung mereka di cacah-cacah dengan benda tumpul, tajam, rantai dan sebagainya sampai berdarah-darah, suatu tontonan yang membuat bergidik. Tetapi perbuatan yang telah membudaya tersebut menurut mereka merupakan “ibadah” sebagai hari peringatan atas meninggalnya cucu Rasulullah SAW. Ber embel-embel memperingati, adakah benar jalan hidup yang mereka tempuh jika kita melihat buku pintar Al Qur’an?
وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
dan janganlah kamu mencampakkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (al-Baqarah; 2:195)
Kalimat larangan seperti contoh diatas yaitu “janganlah kamu mencampakkan diri dalam kebinasaan”, dalam undang-undang hukum Islam jatuh hukumnya haram (berdosa, kena sanksi) jika dilaksanakan. Semaksud ayat di atas janganlah kamu bunuh diri, janganlah konsumsi narkoba dst. Janganlah mencelakakan diri sendiri, apalagi orang lain, akan berdosa.
HARI PELANGGARAN RUTIN
Pesta demokrasi seperti pesta hari Assyuronya Syiah juga merupakan hari pelanggaran rutin terhadap Al Qur’an maupun al Hadist. Di Indonesia setiap lima tahun. Pesta demokrasi mengambil judul memilih anggota DPR, MPR dan Presiden. Sekilas pesta demokrasi itu perbuatan yang mulia, tetapi ternyata pesta demokrasi bisa dikatakan juga sebagai hari kemusyrikan.
ISLAM SYSTEM YANG SEMPURNA
Islam merupakan sistem (Dien) yang telah sempurna, mengatur problem apa saja bagi kepentingan manusia dari hal berjuang, masuk WC, keluar WC sampai urusan memilih kepala Negara. Tetapi kelengkapan dan kesempurnaan Islam itu tidak dihiraukan oleh aliran demokrasi. Pernyataan Allah SWT tentang kesempurnaan system (dien) islam tertuang dalam surat 5:3
اَلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu dien mu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu sebagai dien mu. (QS. 5:3).
Karena sempurna, maka ajaran Islam tidak mengenal kata kata kuno, ketinggalan zaman, tidak modern, orthodok atau istilah-istilah lainnya. Di zaman Rasulullah tidak ada pesta demokrasi, bukan berarti kesempurnaan Islam menjadi sirna, justru manusia muslim masa kini harus mampu berfikir, apa yang kita saksikan tentang demokrasi ini, sesuaikah dengan Al Qur’an atau tidak?.
Sepatutnya kita melakukan penelitian tentang demokrasi dari sumber yang sempurna itu (Al Qur’an). Tulisan ini muncul karena telah sering terlihat akibat buruk yang ditimbulkan dari pesta demokrasi. Dari sejak mahasiswa perasaan ingin mengetahui itu sudah ada, karena pernah didepan hidung, banyak hamba Allah ditembak ABRI di zaman Soeharto, kematian orang yang tak bersalah itu seolah sah sah saja, tanpa ada pengadilan. Dan tentunya selalu banyak korban setiap pesta demokrasi datang,
Begitu banyak korban, pasti dari rakyat kecil, setelah suara terhitung, hasilnya sudah didapat siapa pemenangnya, pemuka partai masing masing membuat acara syukuran diatas bangkai bangkai jenazah. Banyak korban bergelimpangan, mereka syukuran mengatakan pemilu berjalan lancar, kemudian merekalah yang menikmati manisnya pesta demokrasi, jadi anggota DPR, MPR, Menteri atau Presiden dan bukan dari keluarga korban. Keluarga korban ditinggal dan hanya sebagai tumbal kepentingan pihak yang berambisi kepada kursi.
IKUTI PRINSIP BERJUANG RASULULLAH.
Rasulullah sebagai penutup para nabi, “Khataman nabiyin”, juga sebagai penyempurna ajaran nabi-nabi sebelumnya. Sebagai utusan Allah yang menyempurnakan dan melengkapi, maka tiada lagi contoh dalam hal apa saja, termasuk dalam memperjuangkan Islam yang patut kita ikuti selain cara Rasulullah SAW. Muhammadurrasulullah bukan saja berarti Muhammad utusan Allah, tapi bermakna pula, tidak akan berkah perjuangan tanpa mengindahkan prinsip prinsip perjuangan Rasulullah SAW dan tanpa peduli larangan larangan Allah SWT.
ALIRAN DEMOKRASI TIDAK PERCAYA PADA KESEMPURNAAN ISLAM
Kaum demokrasi tidak percaya diri (PD) kepada kesempurnaan system Islam, dalam perjalanannya selama ini berjuang asal menempel, baik kepada system yang ada atau penguasa yang sedang berkuasa. Seperti kutu luncat. Entah system yang ditempel benar atau tidak, dan tak pernah mau berfikir cara yang mereka lakukan itu benar atau tidak, tempel terus, sekalipun yang ditempel menuju neraka. Tabiat kutu luncat itu terlihat, hari ini mendukung calon presiden A, ternyata A kalah, besok sudah mendukung calon presiden B. Kemarin musuh politik, kalah dan posisi politik melemah, besoknya sudah teman politik. Kenapa harus bermental seperti kutu luncat?. Sungguh karakater yang tidak enak untuk dicontoh dan pertanda mental kutu luncat muncul dari sikap kepribadian yang ganda.
MENGHINDAR DARI AL QUR’AN
Bagi kaum demokrasi Al Qur’an itu dipakai kalau perlu, jika bakal merugikan kepentingan perjuangan mereka, tinggalkan dulu Qur’an nya. Qur’an hanya dipakai untuk hal yang tidak merugikan kelompoknya. Jika masalah yang dibicarakan aman, maka keluarlah ayat ayat Allah dari lidah mereka dengan lancar membuat terpukau ummat. Tapi jika ada ayat yang menyentuh kekeliruan jalan yang mereka tempuh, mereka peti es kan. Tabiat seperti ini dikatagorikan menyepelekan Al Qur’an lantaran mereka menghindar jika disampaikan keterangan yang datang padanya. Tutup mata, terhadap pandangan lain selain dari pandangan golongannya.
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِى آتَيْنَاهُ فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ
وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى اْلأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ ، فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَجْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ، ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآياَتِنَا ، فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
Dan bacakanlah kepada mereka
berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami,
kemudian dia menghindar dari padanya,
lalu dia diikuti oleh syaitan,
maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. (QS. 7:175)
Kenapa harus menghindar dari Al Qur’an? Jika kaum demokrasi yakin jalan yang ditempuh adalah benar, way of life mereka yakini benar, bahkan harus menunjukkan kepada ummat untuk mengungkapkan kebenaran, tulislah ini lho demokrasi ciptaan pemikir barat, Pluto, Aristoteles, Monsteque, John Lock, Perruso dsbnya, OK benar dengan Islam, cari ayat dan hadistnya. Cocokkan dengan Qur’an atau hadist. Tulislah pernyataan partai kepada masyarakat bahwa demokrasi cocok benar dengan Islam, bukan malah menutupinya supaya ummat dan pengikut tidak tahu. Masalah ini sangat penting karena menyangkut keselamatan akhirat bagi manusia yang tidak tahu akan tipuan syeitan dalam pesta hura huranya demokrasi.
وَلاَ تَلْبِسُوا اْلحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا اْلحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ.
Dan janganlah kamu campur-adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. (al-Baqarah; 2:42)
ISLAM LENGKAP UNTUK SEMUA PRINSIP PRINSIP KEHIDUPAN
Dalam kehidupan kita sekarang ini banyak kerap muncul istilah istilah baru yang teks terjemahnya maupun teks arabnya tidak terdapat, seperti demokrasi, asas, liberal, komunis, ideology dsbnya. Istilah baru ini kerap di gunakan ulama Suu’, misal tidak mengapa asas Pancasila asal akidah Islam, nah bagi manusia yang tidak mau meneliti, ucapan itu sebenarnya punya pengaruh besar bagi perjalan hidup manusia menuju akhirat. Tersesat di perdaya ulama suu’.
Jangan kita mengira Allah SWT tidak memahami munculnya istilah istilah baru yang tulisan teks Arabnya tidak terdapat dalam Al Qur’an, Allah mengetahui semua hal, bahkan dengan tegas Allah SWT nyatakan tidak satupun prinsip prinsip dalam kehidupan manusia yang Allah lupa. Menyangkut demokrasi atau apapun istilah baru yang mungkin muncul lagi.
مَا فَرَّطْنَا فِى الْكِتَابِ مِنْ شَىْءٍ َ
Kami tidak tinggalkan satu pun perkara, ( prinsip prinsip pokok) dalam Al Qur’an (QS. 6:38)
JALAN LURUS MENUJU ALLAH HANYA ADA SATU JALAN.
Ketika kaum demokrasi ditanya dalam acara TV, kenapa kalian sesama pencinta demokrasi dari aliran yang sama tidak mau bersatu?, mereka jawab, banyak jalan menuju pasar pak. Kaum demokrasi memang seperti itu, mengajak manusia untuk ikut pesta demokrasi hanya untuk sampai pasar, tapi tidak jalan menuju Allah. Jalan menuju Allah hanya satu jalan, tidak banyak jalan seperti menuju pasar, dimana setiap hari minimal 5 kali sholat kita meminta petunjuk, agar jika kita terkilir dari jalan Allah, Allah tunjuki lagi jalan yang lurus itu. Itu kalau kita mau kembali kejalan Allah.
إِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ
Tunjukilah kami jalan yang lurus, (al-Fátihah; 1 : 6)
Karena jalan lurus menuju Allah hanya satu jalan, tidakkan terjadi dalam hal hal prinsip, untuk masalah yang sama ada dua jalan lurus yang bersamaan. Pendukung demokrasi berpegang kepada satu jalan, Pendukung khilafah berada dalam jalan yang lain, tapi silahkan saja merasa bagi siapa saja, bahwa mereka berada di jalan yang lurus walau jalannya berbeda nyata. Ahmadiah, syiah, katolik, hindu, budha dsbnya juga punya perasaan berada di jalan yang lurus. Kehidupan memang seperti itu, pergulatan perjalanan perjalanan yang ditempuh manusia sampai hari kiamat.
Tetapi sesuatu yang harus kita pahami untuk masalah prinsip, tidak masuk dalam katagori beda pendapat, beda pendapat diperbolehkan dalam Islam, dalam beda prinsip tinggal masuk dalam katagori tersesat atau di jalan yang lurus. Beda pendapat hanya untuk masalah masalah yang tidak terdapat keterangan syar’iah didalamnya. Misal mau ke Bogor, ada yang pilih jalan Parung, ada yang pilih jalan tol, ada yang pilih jalan Cibinong, contoh ini dikatagorikan beda pendapat.
فَذَلِكُمُ اللهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ ، فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلاَّ الضَّلاَلُ ، فَأَنَّى تُصْرَفُونَ
Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Rabb kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran) (QS. 10:32)
Kawin mut’ah (kawin kontrak), satu kaum menyatakan halal, kaum yang lain menyatakan perzinaan, jika diperiksa Al Qur’an maupun hadistnya, terdapat hal yang menyinggung masalah ini, maka manusia harus waspada, karena ini bukan masalah beda pendapat, tapi beda prinsip, jadi tak akan ada kedua dua nya kaum itu benar, dan tak akan ada pula kedua dua kaum itu sesat, yang terjadi salah satu dari kaum itu tersesat yang lainnya berada di jalan yang lurus. Dibalik kebenaran pasti sesat, masalah demokrasi terdapat benturannya dengan Qur’an maupun hadist, jadi bukan katagori beda pendapat, tapi beda prinsip.
Masalah demokrasi tidak terdapat teksnya dalam Al Quran, tapi kita paham bahwa demokrasi adalah suatu system kenegaraan yang berpegang kepada suara terbanyak, apa kehendak orang banyak titik. Tidak ada tanda kutipnya. Dalam demokrasi tidak berbicara benar atau tidak masalah yang dihadapi, tapi suara terbanyak itu sudah “kebenaran”, paham baku dan sampai kini dipakai banyak dibanyak negara Negara termasuk Indonesia dan merupakan misinya negara adikuasa dalam menekan Negara berkembang terutama yang berbasis Islam. Demokrasi datang dari dunia barat dan bukan datang apalagi bersumber dari AlQur’an maupun As Sunnah Nabi.
ISLAM PELOPOR ZAMAN
System kenegaraan berdasar prinsip demokrasi adalah masalah baru didalam kehidupan modern sekarang ini, dimasa Rasulullah tidak ada. Sementara pilar pilar, pondasi pondasi, kerangka kerangka kehidupan bernegara telah sempurna, lengkap, bahkan dalam Islam bukan saja system kehidupan bernegara tetapi system kehidupan menyeluruh telah dinyatakan sempurna.
Peneliti dari barat menulis :”Islam is not merely a religion, but it is a complete system of life, of how to manage men and nature according to the will of Allah”
“Islam itu bukan sekedar agama seperti pemahaman kebanyakan orang, tapi suatu system kehidupan yang komplit untuk mengatur manusia sesuai kehendak Allah”.
Sekarang muncul pilar baru, pondasi baru, kehidupan bernegara, bermasyarakat, dengan wajah baru bernama demokrasi. Bisakah pendatang baru ini Islam menerimanya dan bukan pertanyaannya bisakah kaum muslimin menerimanya?. Masalah ini tidak ditanyakan kepada kaum muslimin, karena kerap kaum muslimin disebut kaum musingin, tapi pertanyaan ini ditanyakan kepada Islam, bisakah Islam menerimanya?.
Sebelum di jawab secara detail, telah ada jawaban secara umum, tidak bisa!!!, karena Islam telah sempurna sesuai pernyataan Allah dari keterangan firman Allah diatas. Muncul pertanyaan baru, dimana tidak bisanya? Padahal aliran demokrasi begitu banyak penganutnya termasuk yang katanya dari “pihak Islam” dan ummat telah begitu ke asyikan tenggelam dalam kenikmatan system demokrasi puluhan tahun, sudah hampir tak ada lagi yang mempermasalahkan bahwa demokrasi itu adalah system batil yang meyebabkan hamba Allah menjadi musyrik.
Buat apa dipermasalahkan sementara banyak ulama ulama, kiyai kiyai, ustad ustad yang berkecimpung sangat dalam, dalam system demokrasi dan bahkan sebagai pendukung sehidup semati, cukup lihat apa kata ustadnya sajalah, tidak usah didiperhatikan bagaimana Qur’an menjawab, jika ada yang bicara lain dan bukan ustad pula, bukan ulama pula, sapa pula mau dengar???.
Islam itu mulanya asing, dikenal orang, kemudian kembali menjadi asing, maka beruntunglah orang yang berada dalam keasingannya itu. Sahabat bertanya :”Siapakah mereka itu ya Rasulullah?” “Yang dinyatakan seseorang tentang Islam kepada ummat itu terasa asing ditelinga mereka” Beginilah keadaan ummat, semakin tidak mengenal apa yang mereka miliki, termasuk sebagaian besar ulamanya.
Tidak percaya bahwa “ulama” semakin tak mengenal Islam?, kita contohkan. Ketika tsunami datang dengan korban yang luar biasa banyak, ulama besar mengatakan korban tsunami mati syahid, jadi tidak mengapa korban tidak di sholatkan. Maka TV latah mengatakan mereka mati syahid. Saya pikir enak benar si fulan dan fulanah pada jam tsunami menyerbu sedang berzina, si fulan baru merampok bank, si fulan baru membunuh orang tanpa hak, tsunami menyerbu membuat mereka mati, para korban ini tersenyum, alhamdulillah saya masuk syurga, baik juga tu ulama.
PESTA DEMOKRASI PERMAINAN POKER
Keabsahan menentukan hukum hukum Allah atau memilih Presiden, anggota DPR MPR yang akan mengatur Negara ini tidak bisa tidak berdasar suara terbanyak. Inilah fakta legal demokrasi yang berlaku didunia ini, dimana saja termasuk di Indonesia. Tidak peduli calon presidennya ulama pezina, pembantai ummat muslim di Iraq, Afghan, koruptor, cewek atau apalah. Jika si calon menang jadilah dia penguasa atas rakyat yang dikuasainya.
Bisakah kita menerima, bahkan mendukung, kemudian mempopulerkan aturan main ini?. Artinya kalau Al Qur’an harus ditendang keluar dan dimasukan tong sampah, lantaran telah menjadi sah suara terbanyak menendang Al Qur’an, masih bisakah kita duduk duduk, bersalaman, bergaji yang sama lantaran menendang Al Qur’an keluar arena telah menjadi absah?. Manjadi di sahkan, menjadi di halal kan, menjadi di legal kan?
Keabsahan itu berdasar persetujuan yang telah disepakati, karena nafas demokrasi memang demikian. Jadi sesuatu yang bisa merugikan itu para sang demokrat pasti ikhlasnya atau ridhonya kalau qur’an harus ditendang dari arena, masuk tong sampah. Tidak ada orang yang memakan gaji dan berbagai fasilitas lain menyatakan tidak ikhlas, kehadiran dan menerima segala macam services itu tanda ridho tanda ikhlas terhadap aturan yang mengerikan itu. Perjudian yang membuat ummat menjadi musyrik, kaum demokrasi malah menerimanya.
Para demokrat mengatakan bahwa demokrasi itu cuma muamalah, jadi tak bermasalah dengan aturan main itu. Tak bertentangan dengan Islam. Disinilah tampak lemahnya pemahaman mereka terhadap pokok pokok ajaran Islam. Permainan poker juga masalah keduniaan, bagi yang menang silahkan dengungkan ayat ayat Allah, silahkan tegakkan ayat ayat Allah, tapi kalau anda kalah, anda harus mau buka baju sampai bugil, inikan suatu permaianan yang kalian sudah tahu konsekwensinya. Kesimpulannya jika anda kalah, anda berarti ikhlas qur’an di tendang ke tong sampah dan anda menganggap ini permainan fair.
Dalam Islam penjelasan istilah “itu khan cuma muamalah” lebih tegas lagi, bahwa dasar segala urusan dunia termasuk muamalah dasar hukumnya semua boleh boleh saja, halal, sah, absah. Sex bebas, dasar hukumnya boleh, silakan kalau ulama suu’ ngebet mau ke hotel Milenium, minum vodka, makan marus, makan daging babi dasar hukumnya boleh saja, tetapi semua yang berdasar hukum boleh menjadi haram jika ada tulisan dari Al Qur’an atau Hadist yang melarangnya. Kita periksa, ternyata makan daging babi, sex bebas, kawin mut’ah, makan marus dsbnya itu jatuh hukumnya haram, sebab ada teks dari qur’an dan hadist yang mengharamkannya.
Sesuatu perbuatan dinyatakan haram, jika sudah ada tulisan tegas (mirip dalam masalah yg dihadapi) yang mengharamkannya dari qur’an atau hadist, jika tidak ada keterangan yang mengharamkannya, atau jauh tungku dari api, kembali keperkara asal, segala perkara dunia, urusan dunia dasar hukumnya boleh boleh saja.
Pesta demokrasi, berpegang kepada suara terbanyak, tanpa tanda kutip lagi, tapi titik dan memang sudah kita sama sama tahu bahwa demokrasi dengan pengertian yang kita pahami sekarang memang demikian, tinggal kita periksa pokok pokok prinsip ajaran Islam, ternyata Allah SWT mengharamkan berpegang kepada suara terbanyak. Kita kaji ayat dibawah ini:
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِى اْلأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللهِ ، إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَ إِنْ هُمْ إِلاَّ يَخْرُصُونَ
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 6:116)
وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ
Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman – walaupun kamu (Muhammad SAW) sangat menginginkannya (QS. 12:103)
Pasti sesatnya suara terbanyak itu, Allah SWT menfirmankan tanpa pengecualian, begitupun keterangan dari hadist tak ada pengecualiannya terhadap pernyataan Allah tersebut. misal kecuali mereka yang banyak itu sudah di kader ke Islamannya, tidak ada keterangan ditentang itu, baik dari Allah maupun dari Rasulullah, padahal ayat Qur’an tak akan pernah berubah sampai kapanpun. Andaikan semua orang telah terbina ke Islamannya, malah kita patut curiga, Al Qur’an ini benar tidak sih, kok bilang pasti kebanyakan manusia itu sesat, nyatanya sensus penduduk manusia beriman semua, gimana sih qur’an kok pernyataannya bolak balik.
Islam intinya tidak boleh mengabsahkan segala kebijakan, mengabsahkan segala keputusan atas suara terbanyak titik, tidak ada cerita, tidak ada kompromi dalam masalah ini. Karena ayat tersebut begitu jelas tanpa menjelaskan lagi berapa banyak jumlah suara yang di maksud. Jangan seperti kaum Yahudi bertanya terus sapinya warna apa, kelaminnya apa dst, akhirnya keleweran mencari sapi yang dimaksud susah amat. Tetapi segala keputusan, segala kebijakan menjadi absah jika dan hanya jika tidak bertentangan dengan prinsip prinsip Islam kalaupun pendukung keabsahan itu sedikit, apalagi banyak.
Pahamkah? dengan demikian otomatis prinsip prinsip Islam akan tegak terus. Kalimah Allah kesudahannya selalu diatas kalimah manusia. Bicara ke Bogor mau tamasya dari Jakarta dimusyawarahkan, ada yang mau jalan Cibinong, ada yang mau jalan Parung, ada yang mau jalan Tol, ini bukan masalah syar’i, diputuskan oleh pimpinan melalui jalan Tol, absah walau peminatnya sedikit, tapi mungkin sang pemimpin tidak disukai peserta musyawarah. absah pula walau peminatnya banyak, dan ini mungkin sang pimpinan akan disukai peserta musyawarah.
Mau berzina bersama ke daerah pelacuran di Bogor, mereka bermusyawarah, mau melalui jalan tol, Parung, Cibinong?, mengambil keputusan dari jumlah yang sedikit tidak absah, apalagi dari jumlah yang banyak. Tetapi dalam system demokrasi, jika yang menyatakan banyak setuju yaa, maka perzinaan di Bogor telah menjadi absah. Tidak pandang Kalimah Allah melarangnya atau tidak. Itulah aturan permainan poker system demokrasi.
Saat pemilihan presiden, wakil dan anggota DPR MPR, (orang orang yang bakal menentukan kebijakan dikemudian hari) ditentukan ke absahannya oleh rakyat titik. Maka inti masalah kita persempit lagi, sebelum presiden ada maka kekuasaan dalam genggaman rakyat. Padahal dalam Islam kekuasaan itu ditangan Allah, bukan ditangan rakyat, manusia hanya menjalankan, mengaplikasikan kekuasaan Allah.
Sekarang kita melirik ke rakyat, jika kita sebut rakyat, rakyat itu ber arti kumpulan banyak manusia, karena Allah mengatakan kebanyak manusia pasti sesatnya, berarti dan pasti kita berhadapan dengan kumpulan orang orang yang sesat, dalam Islam satu dua orang yang saleh tidak dihitung dalam sekumpulan orang banyak, dianggap tidak ada. Dalam system demokrasi berarti tinggal Allah SWT berhadapan dengan sekumpulan orang sesat. Allah SWT disatu sisi, yang kehendakNya supaya dijalankan manusia, orang orang sesat disisi lain yang juga punya mau.
Allah SWT punya mau supaya hukum Allah tegak disatu sisi, rakyat juga punya mau disisi yang lain. Maka rakyat telah menjadi saingan Allah, atau sekutu Allah. Jika rakyat ternyata tidak mau apa maunya Allah, maka Allah SWT kalah. Silahkan Allah “gigit jari”. Maka rakyat telah menjadi TUHAN, karena bisa menolak apa mau nya Allah. Karena posisinya di sejajarkan bersama Allah secara resmi oleh kaum demokrat.
وَقَالَ اللهُ لاَ تَتَّخِذُوا إِلَهَيْنِ اثْنَيْنِ ، إِنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ ، فَإِيَّاىَ فَارْهَبُونِ
Allah berfirman: “Janganlah kamu menyembah dua ilah; sesungguhnya Dialah Rabb Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada Aku saja kamu takut”. (QS. 16:51)
Kejadian ini jelas kemusyrikan tulen. Para demokrat bergantung kepada Allah bergantung pula pada apa maunya rakyat untuk tegaknya hukum Allah, suara rakyat suara tuhan (Volks Populi Volks Dei), itu benar sekali karena rakyat memang telah menjadi tuhan. Menjadi pesaing Allah. Ada yang memberi komentar, inikan hanya permaian demokrasi?, benar anda bahkan akan mengatakan bahwa rakyat hanya memilih wakilnya dan bukan bersaing langsung dengan Allah, bukan begitu?.
Kita ambil lagi contoh konkrit, supaya semakin jelas. Cukup banyak nurani manusia meringis atas kekejaman penguasa Negara adi daya di Iraq, Afghan dst, sepatutnya orang seperti itu tidak terpilih lagi, karena kekejamannya terhadap peradaban. Ternyata logika sehat tertelungkup, Monster yang merampok dan membunuh manusia dibanyak anak benua terpilih lagi. Jadi kita tidak bisa mengatakan, rakyat hanya memilih wakil atau kepala Negara, tapi yang terjadi faktanya Allah bersaing dengan Rakyat. Allah berkehendak, rakyat berkehendak, kehendak rakyat yang di absahkan para demokrat ini dalam system demokrasi untuk menentukan bagaimana bagaimananya nasib kalimah Allah, merupakan perbuatan mempersekutukan Allah.
Mungkin masih ada lagi yang masih panasaran membela diri, jangan main tuduh musyrik dulu dong, bagaimana jika rakyat (kumpulan orang orang sesat) berkehendak menuruti kehendak Allah dalam system demokrasi, sebagai mana Rasulullah yang menerapkan hukum hukum Allah. Dijawab, misi manusia, atau bisa juga saya katakan “rakyat” adalah sebagai khalifah Allah, khalifah dalam system kenegaraan sekuler, persis perannya seperti duta besar. Duta besar dalam aplikasi kenegaraan sekuler tinggal menjalankan apa maunya presiden, jadi duta besar tidak pernah lagi sampai kapanpun di beri wewenang, punya wewenang masuk dalam wewenang ke presidenan.
Itu wilayah yang amat terlarang, khalifah Allah tidak akan pernah sampai kapanpun masuk dalam kekuasaan Allah, misal merancang hukum tandingan Allah, menetapkan “kita pakai tidak ni ya hukum hukum Allah”, sama sekali itu bukan wilayah wewenang khalifah, sama seperti duta besar yang haram masuk dalam wilayah kekuasaan presiden.
إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلَّهِ ، يَقُصُّ الْحَقَّ ، وَهُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِينَ
Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik. (QS. 6:57)
أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَ اْلأَمْرُ ، تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam. (QS. 7:54)
إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلَّهِ ، عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ، وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ
. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakal berserah diri”. (QS. 12:67)
Dalam system demokrasi ternyata rakyat bisa berperan sebagai tandingan Allah, memang bisa tidak, jika rakyat berkehendak hukum Allah tegak, tapi pada saat rakyat, atau suara terbanyak sebagai tandingan Allah, siapa yang bertanggung jawab?, tentunya mereka mereka yang menyetujui system demokrasi ditegakkan., dan mereka yang setuju system demokrasi ini disebut kaum musyrikin. Kalau cuma masih bodo saja, zalim atau fasik, tapi jika sudah diberi tahu, tapi bondo nekat, kafir tulen, munafikin tulen.
Belum lagi jika membahas kata rakyat, apa pernah ada contoh sejarahnya system demokrasi memunculkan khilafah?, rakyat yang nota bene artinya kumpulan manusia manusia sesat, mau berhukum kepada hukum Allah? Seperti pertanyaan orang yang membela diri tadi, ntar dulu jangan bilang musyrik dulu, bagaimana jika rakyat berkehendak hukum hukum Allah tegak?, seperti di Aljazair, kok pertanyaan ini terasa memunculkan kebodohan, apa tidak percaya kepada Allah, bahwa kebanyakan manusia (rakyat) pasti sesat, karena menyesatkanmu.
Kita ringkas kesalahan fatal kaum demokrat yang menyebabkan mereka menjadi musyrik.
- Kenapa setuju kepada aturan permainan yang menyebabkan rakyat sebagai penentu hukum Allah, padahal rakyat itu adalah kebanyakan manusia yang menyesatkan, rakyat identik dengan kesesatan, maka tidak akan menemukan yang di harap dengan mengandalkan suara terbanyak. Seperti menemukan fatamorgana, sampai kapanpun diburu, akhirnya yang akan ditemukan kekecewaan selalu, karena airnya tak akan pernah didapat. Apa masih mau menentang ayat ayat Allah tentang suara terbanyak?.
- Karena di absahkan aturan main yang berbahaya itu, maka para demokrat juga bertanggung jawab atas setiap bertambahnya manusia yang tersesat ke jalan demokrasi. Ingat bagaimana Yesus yang semula hamba Allah kemudian menjadi Tuhan dalam sidang Konsili Nicea, lantaran kesepakatan Yesus menjadi Tuhan, membludaklah manusia yang tersesat. Paham demokrasi juga membuat kaum muslimin terseret seret menuju neraka Allah?, siapa yang bertanggung jawab? Mereka yang duduk di MPR DPR dan para pencintanya.
Syeitan memang ahli menipu, dengan sedikit kalimat “kehidupan yang kekal jika makan buah quldi”, Nabi Adam AS, tertipu, hanya dengan se dikit kata kata “demokrasi” telah ratusan juta manusia tergiring menuju neraka, sangat mengagumkan tipuan syeitan. Sampai sampai ulama ulamanya juga tertipu.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ ، فَلاَ تَغُرَّنَّكُمُ الْحَباَةُ الدُّنْيَا ، وَلاَ يَغُرَّنَّكُمْ بِاللهِ الْغَرُورُ
Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. (QS. 35:5)
MENINJAU PERJUANGAN RASULULLAH SAW.
Belum apa apa sudah kepincut kepada kekuasaan, akhirnya berpegang pada konsep dari pada dari pada. Dan bukan berpegang kepada benar atau tidaknya langkah perjuangan mereka menurut Qur’an Sunnah. Jika berpegang kepada kebenaran maka ukurannya AlQur’an dan AsSunnah, karena kebenaran datang dari Allah.
اَلْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ ، فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ اْلمُمْتَرِينَ
Kebenaran itu adalah dari Rabb-mu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (al-Baqarah; 2:147)
Berpegang kepada dari pada dari pada, terjatuh kepada permainan menghalalkan segala cara (Machiavelli), dari pada tidak dapat dokumen penting musuh, terpaksa kita korbankan istri seseorang anu untuk ditiduri musuh. Masjid atau yayasan yang tidak ada sejarahnya dalam penguasaan partai, langsung dipasang plank partai mana kala satu dua pengurusnya masuk partai tersebut. Dan ustad ustad yang tidak mendukung partai langsung coret dari daftar pengkutbah yang sebelumnya rutin mengisi kutbah di Masjid tersebut. Kebijakan tersebut menyuburkan permusuhan dikalangan ”para ustad”
Ini repotnya jika berkonsep kepada dari pada dari pada dan bukan berpegang kepada benar atau tidak? Mungkin para dai demokrat ini merasa karena mereka orang orang yang berilmu sangat dalam tentang Islam berfikir, nanti dari dalam gedung MPR/DPR bisa kita dakwahkan mereka, begitu kata hati nurani mereka sampai-sampai mereka memproklamasikan diri sebagai dai-dai di legislatif. Betapa mulianya proklamasi para dai itu.
Rasulullah saja tidak bisa memberi hidayah kepada pamannya yang kafir, kok jadi bingung ya kita, apa bisa dai, ulama yang setuju konsep permainan poker mampu mencerahkan kalam illahi kepada manusia di majelis yang serba berpedoman kepada suara terbanyak?.
Bukankah yang telah terjadi dai di parlemen telah ikut, setuju, millah yahudi tersebut. Masuk sarang biawaknya Yahudi dan Nasrani, dan para dai merasa nyaman didalamnya, pakai AC, pakai Jas dan dasi, Fulus 15 jt/bln, rumah di Kalibata, mobil cakep dan baru, belum lagi kehormatan diri yang meningkat karena banyak yang bilang wah, si Entong hebat ya sekarang.
Sebenarnya fasilitas yang wah ini, jika di tinjau ciri ciri hamba Allah yang berjuang di zaman Rasulullah sangat lah berbeda, di masa Rasulullah pejuang Islam itu penuh derita dengan segala macam cobaan, sampai-sampai para pejuang itu berkata, kapankah pertolongan Allah datang, Allah SWT pun langsung merespon, sesungguhnya pertolongan AKU dekat.
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللهِ أَلآ إِنَّ نَصْرَ اللهِ قَرِيبٌ
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya:”Bilakah datangnya pertolongan Allah”. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (al-Baqarah; 2:214)
Aku merasa pilu membaca ayat tersebut, 3 tahun di boikot makanan, dijemur terik matahari, tubuh yang di tarik kuda sehingga terbelah dua, ada pula yang di cemplung kuali besar mendidih, di Afghan, di Iraq, di Palestina, keluarga keluarga yang harus kehilangan anak, kehilangan istri, kehilangan ayah, harta benda, pekerjaan, karena setiap hari hujan bom meluluh lantakkan tanah kelahiran mereka, tapi mereka tetap gigih di medan juang, tapi pejuang di Indonesia, dapat 15 jt/bln karena ho oh terima system kufar, rumah keren, mobil keren, nama kesohor, tapi perasaannya pejuang juga. Perbedaan ini yang yang seharusnya menimbulkan pertanyaan balik, benarkah aku berjuang dengan pijakan milah Yahudi ini?
Jadi mau mendakwahkan siapa?, bukankah orang orang yang masuk di MPR dan DPR adalah orang orang yang sudah mantap “ketaqwaan” pesanan partainya?. Masuk kegedung dengan misi yang jelas pesanan partai, kalau mbalelo dari partai pasti di recall, kok dai di parlemen begitu semangat yaa. Mau mencerahkan sarang biawak?. Tapi masuk sarang biawak. Sudah kena penyakit wahan yaa. Apa jumlah mereka sedikit ya Rasulullah. wow jumlah mereka banyak memerahkan Jakarta, tapi seperti buih dilaut. Kenapa bisa begitu?, biasalah cinta dunia takut mati, jadi apa apa diukur dari fulus dan bukan kebenaran Al Qur’an. Tuhan mereka fulus.
Rasulullah SAW menolak tawaran manis duduk dalam kabinet mereka, walau Rasulullah di nobatkan jadi presiden. Golqur (golongan Quraisy) dimasa lalu juga cerdas cerdas dalam upaya menjebak Rasulullah dengan konsep KOMPROMI. Datang utusan golqur, kami tawarkan engkau Muhammad Tahta, siapa tahu engkau katakan demokrasi tidak benar ini lantaran mau jadi presiden atau mau jadi anggota DPR. Kami tawarkan pula harta, bilang saja engkau kepingin kaya, engga usah iri lah pada posisi kami yang telah terhormat ini, atau wanita, mungkin mau wanita secantik istri Abu Lahab?, kami carikan, yang penting hentikan provokasi antum bilang demokrasi tidak betul, duh maaf ni cerita kok terpeleset terus.
Tawaran sangat manis tersebut di tolak secara halus, yang terjadi bukan Rasulullah ditarik menerima kompromi mereka, malah sang utusan golqur tersebut menyatakan ke Islamannya dihadapan Rasulullah.
Golqur tak jera jera merayu dengan KOMPROMI, memang benar kata pepatah anak-anak kampus, “Tiada kata jera dalam perjuangan” berdasar petuah anak kampus tersebut Golqur kirim lagi utusan, soalnya mereka melihat Rasulullah dan pengikut Rasulullah semakin kuat dan mantap. Rasulullah ditawarkan konsep sharing, jadi jangan kita mengira sharing itu untuk zaman kini saja. Tentunya kalau sharing harus merger dulu.
Bergantian ikut majelis, berbagi rasa dan saling pengertian, hebat sekali konsepnya, sekali waktu Rasulullah diundang dalam acara ritual latta uzza mereka dan diwaktu lain mereka menerima undangan Rasulullah untuk mendengar kutbah kutbah Rasulullah. Mungkin semula Rasulullah mengira pada saat mereka ikut majelis Rasulullah, mereka akan mendengar ayat ayat Allah, lantas dapat hidayah, lantas masuk Islam. Tapi atas petunjuk Allah, Rasulullah menolaknya. Bayangkan konsep semua agama sama telah diterapkan pada zaman Rasulullah sehingga banyak tokoh “Islam” yang bernatalan bersama di Balai Sidang, dan Rasulullah diminta menghadiri “natalan” bersamanya itu. Kejadian ini di abadikan dalam Al Qur’an sbb:
وَإِنْ كَادُوا لِيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِى أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ لِتَفْتَرِىَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ ، وَإِذًا لاَتَّخَذُوكَ خَلِيلاً
Dan sesungguhnya mereka hampir mamalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. (QS. 17:73)
وَلَوْلاَ أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلاً
Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka. (QS. 17:74)
إِذًا لأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لاَ تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيرًا
kalau terjadi demikian, benar-benarlah, Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami. (QS. 17:75)
Kalau Rasulullah terima kompromi itu, dua kali siksaannya, tapi kita yang mengaku muslimin ini jika terima konsep kompromi itu, cukup satu tingkat siksaannya di bawah Rasulullah, masuk neraka dengan tingkat siksaan satu kelas dibawah Raslullah jika terima kompromi tidak terlalu berat kok. Kecil…
Kalau di kaji kita jadi kerap bingung, gedung MPR DPR itu tempatnya orang berjuang atau kantor umum bisnis suara PT. MPR DPR. Kalau kantor umum, boleh boleh saja campur aduk dari berbagai agama, tak ada yang larang asal tak bekerja yang merugikan Islam. Tapi kalau tempat wadah kaum muslimin berjuang, sang dai mau bicara apa? Mau bilang mari saudara saudara lantaran koruptor itu merugikan Negara, kita tetapkan hukum potong tangan, bicara di hadapan Yahudi, Nasrani, Hindu, Budha, Katolik, Kristen, ah mengapa lemah sekali pijakannya.
Rasulullah berjuang di sepanjang hidupnya memperjuangkan nilai perjuangannya, buktinya Rasulullah sebagai Presiden tidak punya gunung, tanah luas, ranch, emas pun nol tidak diwarisi anak istri beliau. Tingkatan presiden lho, Rasulullah tidak melakukan pembenaran diri, kemudian menjadi kaya karena mengambil kesempatan dari kesempitan, mumpung orang belum tau demokrasi itu apa. Apa yang terjadi bagi yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, harta yang banyak iman yang mabur. Betapa besar pengorbanan itu, padahal jika kita mati, kemudian masuk neraka, ternyata mercy baby, rumah, ranch, yang kita kumpul kumpulkan itu hakikatnya cuma sampah, kenapa sampah? Karena benda benda itu tak bisa menolong keselamatan kita dari neraka Allah. Karena tak bisa menolong ber arti sampahlah barang barang itu.
BAGAIMANA DENGAN NABI YUSUF AS?
Nabi Yusuf as. menerima jabatan bendahara pada pemerintahan kerajaan di waktu itu. Masalah ini kerap dipakai sebagai alasan pembenaran aliran demokrasi atas apa yang telah mereka lakukan di Majelis MPR/DPR. Jika Rasulullah tolak jabatan, tetapi nabi Yusuf menerima, jadi karena nabi Yusuf menerima, tidak jadi apa sebagai anggota MPR DPR, tanpa orang orang partai ini mau mengkaji lebih jauh masalah apa yang sebenar benarnya dihadapi secara hukum Islam.
Perlu diketahui pertama, bahwa pedoman kita setelah Al Qur’an adalah Sunnah Rasulullah dan bukan sunnah nabi nabi selain Rasulullah. Kedua, jabatan Nabi Yusuf adalah pemberian, tidak melalui suatu proses dimana Nabi Yusuf akan melanggar larangan atau warning dari Allah SWT. Kalau bakal melanggar larangan Allah tetap saja tidak dibenarkan. Anggota DPR/MPR mendapat jabatannya melalui proses panjang dan terdapat pelanggaran atau pengabaian warning dari Allah SWT, menerima konsep millah Yahudi, belum lagi pelanggaran pelanggaran lain.
Ketiga, Nabi Yusuf tidak pernah menjual akidahnya dengan menerima konsep konsep keagamaan kafir. Nabi Yusuf seorang bendaharawan hebat yang di pakai Raja kafir. Jika anda bekerja di perusahaan selular, bisnis selular Motorola yang nota bene punya Yahudi, apakah anda akan mengatakan bekerja di Motorola Haram?. Jawabnya dengan berupa pertanyaan lagi, pernahkah anda menanda tangani konsep konsep yang bertentangan dengan Islam dalam bidang pekerjaan anda, misal tugas anda sebagai drafter yang cuma menggambar handphone dengan Autocad?, tetapi disuruh mengerjakan sesuatu yang bertentangan dengan Islam diluar itu, jika tidak, anda bisa bekerja seperti Nabi Yusuf.
Lebih jelasnya, jika mau berjuang masuk dalam system Islam, jangan nempel di system kufar, kalau cuma mau cari nafkah buat makan anak istri, mau kerja dikantor, boleh boleh saja kerja di Nokia, Motorola, tapi hati hati, yang dikerjakan itu apa, jika harus nyerempet yang dimurkai Allah, tinggalkan. Mengundurkan diri sajalah, memangnya rahmat Allah kehabisan?. Karena itu setiap hamba Allah yang mau beraktivitas dimana saja harus selalu meninjau ada bahaya nya atau tidak di bidang pekerjaannya terhadap akhiratnya, jika ada tinggalkan, jika aman silahkan jalan terus, jangan bermental pak turut hanya lantas lihat ustadnya lantas perasaannya langsung aman.
Harus selalu diingat dalam kita bertindak MOA. MOA adalah Motivasi, Orientasi dan Aplikasi manusia. Dalam Islam sangat berkait-kait dan tidak bisa dilepas antara Motivasi (dorongan, niat), Orientasi (tujuan) dan Aplikasi (cara). Dorongan, niat karena Allah, tujuan agar negeri Indonesia aman makmur dan tegaknya hukum hukum Allah, tapi cara yang dipakai menghalalkan segala cara, wah ini berabe. Cara pun harus memakai cara Islam. Jika Motivasi, Orientasi dan Aplikasi telah bersesuaian dengan prinsip prinsip Islam, hukum hukum Islam, barulah perbuatan manusia itu di nilai ibadah. Di jamin masuk syurganya jika MOA nya sesuai Islam.
Didalam kehidupan ini kerap aneh, ada orang yang aplikasinya, perilakunya cocok dengan ajaran atau prinsip prinsip Islam, tapi Motivasinya bukan karena Allah, mereka penyembah matahari tulen. Atau penyembah “anak Tuhan” seperti Ibu Theresia. Siapa yang mau bantah ibu Theresia tidak baik bagi kaum miskin di India?. Ada yang Motivasi dan Orientasinya karena Allah dan katanya untuk perjuangan Islam, tapi aplikasinya menghalalkan segala cara, main bunuh sembarangan orang, tidak dalam situasi dan kondisi membunuh itu bisa diterima akal sehat atau syar’i. Factor keikhlasan orang orang yang di bantai tidak di hiraukan oleh para pembunuh.
Jadi jika mau membunuhpun harus melihat dulu Qur’an sunnahnya, jangan main bablas, karena satu jiwa yang di bunuh secara serampangan berharga seluruh manusia yang hidup dimuka bumi ini. Itu dosa yang kelewat besar. Lain di Indonesia, lain lagi di Iraq, Afghan atau Palestina, disana bercokol penjajah yang merampok minyak dengan antek anteknya, berarti si antek atau si penjajah adalah orang orang yang sudah ikhlas untuk menerima segala konsekwensi kehadirannya di negeri Iraq. Mereka sudah maklum dan menerima jika harus mati terkapar di jalan jalan.
Akibatnya sering salah menerapkan hukum Islam, orang orang yang saleh malah di tuding teroris, padahal ajaran Islam sangat cocok kepada fitrah manusia dimanapun manusia itu berada. Lantaran orang Islam banyak yang tak paham terhadap apa yang dibawa Rasulullah dan sahabatnya, akhirnya lebih mencuat nilai negatipnya, padahal munculnya negatip itu bukan lantaran ajarannya tapi orangnya. Yang sangat berbahaya adalah kalau ajarannya yang sesat keliru, bagaimana penganutnya?. Kalau ajarannya sudah keliru, atau sesat, apa yang bisa diharap dari ajaran sesat untuk kemanusiaan?.
SISI BURUK LAIN DEMOKRASI
Berapa triliun habis uang amanah Allah dan kaum muslimin, untuk pemilihan caleg, capres satu, capres dua, ummat lagi sangat melaratnya, tapi uang di hambur hamburkan untuk bikin poster segede gede gajah, kaus oblong, dsbnya.
Begitu juga dari partai partai keluar uang untuk pesta pora itu dengan jumlah yang tidak sedikit. Ada yang korban kan mobilnya, ada yang sawahnya, ada tanahnya dengan nilai ratusan juta sampai milyard an, supaya lolos di terima jadi caleg, memang ada yang hasil, perjudiannya kena, gembira seperti baru dapat undian, tapi tak sedikit yang gagal, apes tidak terpilih, ratusan juta melayang, langsung cekak lantaran permainan pokernya gagal.
Apakah ada nilai dari permainan yang penuh dengan pemborosan ini?, apakah kira kira Islam mengajarkan permainan yang memang itu biasa terjadi di kalangan kafir?. Rasulullah melarang manusia tonjol tonjolkan diri, agar dipilih jadi pemimpin, tetapi aliran demokrasi pasang diri, memunculkan ribuan gelar yang disandang agar terkesan keren dan angker, larangan dari Rasulullah dianggap sepi.
Ulama A lawan ulama B, ustad A lawan Ustad B, wajah posternya di buat segede gajah, anak orok yang baru lahirpun tak bakal lupa pada tu wajah yang posternya segede gajah. Mereka tak mampu lagi berfikir, ini ria apa tidak sih, Ini apa apaan sih, ustadzah A lawan ustadzah B, pakai jilbab agar terkesan orang beriman, tapi saling menjatuhkan.
Seorang pemimpin atau calon pemimpin, mengeluarkan fulus dari koceknya dari jutaan sampai milyard atau triliun dalam setiap muncul pesta demokrasi agar terpilih lagi, apakah kira kira perbuatan ini cocok dengan nafas Islam?. Kalau dia sukses, dengan berbagai cara, menghalalkan segala cara, dia sedapat dapatnya akan rebut lagi biaya yang telah ia keluar itu. Proyek proyek besar keluarganya yang pegang, mengulangi sejarah nenek moyangnya di negeri ini, aparat pemerintahan sampai cucu cicitnya kaya lantaran keahlian mempermainkan uang amanah Allah dan kaum muslimin. Bagi yang kalah berjudi, siap siap menuju kebangkrutan.
Calon atau pemimpin yang benar tidak boleh keluar seperserpun fulus untuk promosi dirinya, dia tidak mencari jabatan tapi dia di cari untuk jabatan lantaran ummat tahu ketaqwaannya dan prestasinya yang brilian, benar, lurus untuk ummat manusia. Kalaulah yang terjadi sebaliknya, bagaimana mungkin muncul keimanan dan ketaqwaan dari permainan kotor?.
PERPECAHAN UMMAT AKIBAT IKUT JALAN LAIN
Meninjau ayat dibawah, ternyata timbulnya perpecahan dikalangan ummat, jika ada yang sudah mengikuti jalan selain jalan yang ditempuh Rasulullah dan para sahabat nya.
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِى مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ، وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ، ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa. (QS. 6:153)
Jalan menuju Allah hanya satu jalan. Jadi tidak usah saling menyalahkan atau merasa paling benar, check and re check saja diri kita, jama’ah kita, kita ini ikuti jalan lain (milah Yahudi) atau tidak, jika ya, nah kitalah si biang keladi perpecahan di kalangan kaum Muslimin. Gampang saja cara mengujinya.
ASHABIYAH ITU MUSYRIK
Islam samudra luas, dengan system demokrasi ciptaan pemikir-pemikir barat ummat dimasukan dalam aquarium aquarium, maka munculah partai serupa Islam ini, partai serupa Islam itu, masing masing partai katanya berjuang untuk Islam, tapi emoh bersatu. Namanya juga ashabiyah. Masing masing bangga pada kehebatan partainya, sampai sampai dari celana dalam, kaos kaki sampai topi berlambang partai, di bawa ke Masjid, di bawa ke kantor, tidak peduli ada orang selain partainya yang di Masjid itu, atau di kantor itu, yang belum tentu suka dengan atribut atribut ashabiyah itu.
مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَلاَ تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertaqwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, (QS. 30:31)
مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِيْنَهُمْ كَانُوا شِيَعًا ، كُلُّ جِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (QS. 30:32)
Bangga itu boleh, bahkan harus, tapi bangga itu hanya kepada Allah dan Rasul Allah, bukan kepada partai, apalagi kepada atribut partai. Bangga aku sebagai hamba Allah yang mu’min, betapa sedih jika aku dalam kekafiran. Bangga aku menjadi pengikut setia Rasulullah, aku bukan pembuat ajaran baru, atau pengikut ajaran baru, aku bukan pengikut ajaran demokrasi, tapi pengikut setia Rasulullah. Ini bangga yang di bolehkan dan bahkan di haruskan.
Ini yang terjadi semua atribut partai ditempel, dipasang dirumahnya, tapi tidak mau pasang atribut partai serupa Islam lainnya yang juga katanya memperjuangkan Islam, jadi kapan ya mau bersatu partai aliran demokrasi serupa Islam A dengan partai aliran demokrasi serupa Islam B? Kalau masing masing partai fanatik (ashabiyah) pada atributnya saja begitu rupa, kapan mau bersatunya?. Mau pakai ayat Allah yang mempersatukan ya?, ayat tersebut tak akan ketemu untuk orang orang partai. Ayat itu hanya untuk hamba Allah yang tidak memakai jalan lain selain jalan yang ditempuh Rasulullah dan para sahabatnya.
Bersatu adalah perintah wajib bagi kaum muslimin yang sangat tidak boleh di abaikan para pemuka pemuka agama, tokoh tokoh agama, karena di pundak nyalah persatuan itu bisa terwujud. Jama’ah sih tinggal OK saja jika persatuan itu terwujud, tapi kita lihat apa mereka para tokoh tokoh tersebut pada peduli atas perintah wajib dari Allah tersebut?, yang terjadi malah memper kekeh ashabiyahannya, jadi bersatu bagi orang partai adalah omong kosong.
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا ، وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ، كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهِ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. 3:103)
Maka semakin terkuaklah penyebab kebobrokan kita kaum muslimin dimana saja, ternyata kebobrokan itu muncul dari diri kita sendiri, kita di suguhi kue demokrasi yang tampak begitu manis, begitu indah langsung telan tanpa mau di periksa dulu ada bahan bahan yang haram atau tidak pada kue tersebut. Kita disuguhi kue pancasila, juga langsung santap tanpa mau berfikir, tanpa mau merenung, tanpa mau mengkaji qur’an haram atau tidak kue itu, mirip kue Islam nikh, ternyata bukan kue Islam. Begitulah penguasa dan ulama suu’nya berlomba lomba mengeluarkan ummat dari jalan Allah, sunnah Rasulullah.
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهَا الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ، وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya. dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali. (QS. 4:115)
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ، وَلاَ تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ، وَلاَ تُطِعْ مِنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. 18:28)
فَلاَ تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيراً
Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan al-Qur’an dengan jihad yang besar. (QS. 25:52)
MEMBINA BUKAN MEMBURU
Akan capek, letih, lelah dan yang juga tidak kepalang uang jutaan sampai milyaran, bahkan sampai triliunan di hambur hamburkan untuk memburu suara, baik itu dari pemerintah maupun dari partai. Anehnya pada saat seperti itu, semua memaklumi. Jadi ikhlas dalam membenarkan. Ada yang pinjam sana sini dengan janji jika menang kelak di bayar, ada yang palak sana sini, jika tidak mau sumbang dana, bisnisnya akan di ganggu, ada yang bilang ini jihad ini jihad, maka jama’ah yang taklid buta menyerahkan sepuluh persen penghasilannya tiap bulan, ada yang korbankan mobilnya, rumahnya, tanahnya dsbnya. Padahal uang yang digunakan itu, untuk poster, kaos oblong, untuk biaya promosi ria yang intinya untuk memburu suara dan bukan untuk membantu kaum dhuafa yang bergeletakan di sana sini..
Cobalah jika semua uang mubazir itu dikumpulkan, betapa banyak kaum miskin akan tertolong dengan memberi mereka modal, menghidupkan lahan lahan potensi tapi belum di garap, membantu pendidikan anak sekolah yang miskin, memberikan mesin jahit dan bahan bahan pakaian untuk di bisniskan kepada pelacur yang mau tobat dan berusaha halal, dan pasti banyak lagi kaum miskin tertolong dengan uang mubazir itu.
Anehnya seorang capres, caleg, aktivis partai mampu keluarkan jutaan, ratusan juta, milyard bahkan sampai triliunan, agar ia terpilih, tapi untuk orang miskin, tidak pernah dia berikan infaq sebesar itu, supaya orang miskin itu mampu berdiri sendiri. Paling tidak seribu dua ribu perak untuk si miskin, sang caleg, sang capres, sudah merasa fiesabilillah. Ini keanehan yang memang kenyataan.
Andaikan calon presiden A, untuk pencalonan dirinya dia keluarkan uang koceknya 1 M, mau tidak dia bilang, wahai ummat, saya sadar, saya tidak perlu bersaing untuk jadi presiden, 1 M ini saya infakkan untuk kaum miskin, saya mundur jadi capres, uang yang semula untuk kampanye untuk kaum dhuafa sajalah. Sayangnya belum ada contoh satupun dan dari partai manapun yang melakukan itu. Artinya dana untuk kebesaran diri dan hura hura ada, tapi untuk sesuatu yang bernilai disisi Allah, pasti bernilainya, nanti dulu, itu sudah ada pos posnya, untuk kaum dhuafa cukup dua, tiga ribu rupiah, yang penting sudah memberi dan tampak memberi.
Apa tidak letih memburu suara?, ciri khilafah walau cuma 300 orang mampu kalahkan 1000 orang, dimana istimewanya?. Yang seribu orang dipimpin satu orang, sang peminpin 1000 orang ini mati, pasukan berantakan. Kalau khilafah, 1 orang mati, masih ada 299 pemimpin, karena ke tiga ratus orang itu adalah khalifah Allah semua, orang orang yang berkwalitas, mereka terbina dengan baik ke Islamannya. Jadi tidak berpengaruh kematian seseorang walau yang mati itu pemimpin.
Jadi mengapa harus memburu suara?, jika dipadukan kepada ayat Allah juga tidak akan bertemu. Allah sudah katakan kebanyakan manusia tidak mau beriman, dan jangan ikuti kebanyakan manusia, karena kebanyakan manusia pasti sesatnya, lantas mengapa harus memburu kebanyakan orang?.
Kemenangan Islam tidak ditentukan atas banyaknya, tapi dari kwalitasnya, ini pasti, karena Allah SWT yang telah memberi tahu jumlah yang banyak juga bisa kalah:
لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللهُ فِى مَوَاطِنَ كَثِيْرَةٍ ، وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ اْلأَرْضَ بِمضا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ
Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai orang-orang mu’minin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu ketika kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dan bercerai-berai. (at-Tawbah; 9:25)
Jadi sangat keliru memburu suara tanpa juntrungannya yang penting banyak. Binalah ummat menjadi ummat yang berkualitas, khalifah Allah, bukan ummat yang di didik jadi fanatik atribut partai, tapi didiklah agar mereka jadi fanatik persatuan kaum Muslimin, jangan mereka di didik jadi bermental pak turut, macam kerbau, kasih mereka (murid) pedang, wahai murid kalau saya salah tegur saya dengan pedang yang barusan saya kasih ya.
Ustad ustad kalian jika masuk sarang biawak nunut Yahudi Nashara, kalian jangan turut turutan masuk sarang biawak, tarik tangan ustad kalian, gampar yang keras, elu mau masuk sarang biawak ya!!!, kalau sang ustad berzina di Hotel Melinium di tanah abang, rajam sampai mati jangan kasihan sedikitpun dan eh ini malah dibiarkan memimpin terus pesantren, pesantren macam apa pula itu kalau ulamanya pezina?.
Kalau murid mau nikah pendapat pertama yang diminta tentu orang tua atau keluarga yang selama ini membiaya pendidikan dan segala macamnya, tiba tiba ikut liqo, sang Murobi perannya lebih dari peran orang tua, dan banyak lagi yang kesemuanya bisa kacau balau jika doktrin doktrin ashabiyah ditanamkan kepada murid muridnya. Ngakunya ngajarin islam, tapi yang muncul malah sikap ashabiyah terhadap sesama muslim yang tidak sepaham atau tidak mau dalam payung demokrasinya.
Nah kalau sudah guru dan murid tegas dalam masalah kebenaran, yang diajarkan juga kebenaran, bukan doktrin, (seperti doktrin “awas kamu kualat melawan ustad, sebenarnya berisi tipuan syeitan supaya kebatilan yang disuarakan ustad suu’ tidak ada yang berani utak atik/protes), bukan ilmu pelet, bisanya memelet ummat tapi tidak mengajarkan ummat supaya berani bicara benar, itulah murid murid Rasulullah yang sebenar benarnya, khalifah Allah. Manusia manusia yang berkualitas baik jasmani, rohani, pengetahuan, kecerdasannya, kejujurannya, ketaqwaannya, keberaniannya dsbnya.
Manusia kualitas khalifah Allah lah yang harus kita didik kita bina. Bukankah yang 300 orang itu khalifah Allah binaan Rasulullah, Jika kita mendidik manusia untuk menjadi khalifah Allah, walau Rasulullah SAW telah lama tiada, dan kita tak pernah bersua dengan beliau, cintanya beliau akan terasa didekat kita sepanjang zaman.
TUJUAN PERJUANGAN ADALAH KHILAFAH
Tujuan perjuangan adalah khilafah, menjadikan pemerintahan berdasar khilafah, menjadikan system berdasar khilafah, menjadikan manusia berkwalitas khalifah Allah, bukan manusia yang sudah dikader lima tahun atau lebih, ujung ujungnya korupsi. Jadi anggota pilihan rakyat kok korupsi. Pemerintahan Khilafah tak akan muncul dari system kufar. Siapa yang menanam bibit kufar akan tumbuh besar dan lebat pohon serta buah kufar. Akar nya akan mencengkeram segala lapisan bumi yang akan semakin sulit untuk di cabut. Menjadi budaya dan kadung yang batil itu di pandang benar karena sudah tak ada manusia lagi yang mempermasalahkan. Seperti sex bebasnya di Eropa dan Amerika, anak anak gadis umur 12 tahun yang belum pernah merasakan hubungan sex, malah ditertawakan teman teman sebaya, dianggap sebagai manusia antic. Begitulah jika kebatilan telah membudaya.
Hasil dan buah dari bibit yang engkau tanam. Buah dari tanaman demokrasi kadang kadang lucu, menggelikan, mencengangkan, menakutkan dan sekaligus sangat memilukan. Seorang doctor, sehat phisik, katanya sehat mental, katanya cerdas, menobatkan orang buta menjadi presiden, ini sungguh suatu kenyataan yang membingungkan, silahkan anda menilai apa yang terjadi, kemuliaan atau keedanan?. Masih keistimewaan buah demokrasi, Monster pembunuh manusia yang terkenal dengan ratusan ribu korbannya sampai jutaan manusia, dimana keluarga keluarga habis dijatuhi hujan bom sepanjang hari sepanjang tahun, macam di sapu tsunami terpilih lagi jadi penguasa?, sudah tahu begitu buruknya buah demokrasi, masih bangga terus dengan bendera partai?, dan masih terus memilih milah Yahudi?.
Saya pernah membaca tulisan bahwa khilafah akan muncul sekali lagi, dimasa Rasulullah kemunculan pertama, dan kemunculan kedua pasti datangnya, setelah kemunculan pemerintahan khilafah yang kedua konon Yahudi di buru, sampai batu pun memberi tahu letak persembunyian yahudi, saya pikir ini baru pemburuan yang benar, karena keterangan hadistnya memang ada.
DEMOKRASI RUKUN KAFIR
Banyak dari kaum muslimin yang tidak mau menyadari bahwa demokrasi adalah rukun kafir yang memang dirancang untuk memecah belah ummat Islam agar pecah belah terus sampai akhir zaman sehingga tak akan pernah untuk bersatu. Demokrasi adalah jargonnya politik belah bambu, ditanamkan pada diri manusia rasa kesukuan, rasa kewilayahan, rasa kebangsaan. Ujung ujungnya pecah belah terus. Khilafah justru menyatukan berbagai suku, ras, bangsa, wilayah dalam satu konsep yang tiada tandingan “Lailahaillallah”. Persatuan berbagai ras, suku, wilayah berdasar konsep keimanan, bahwa tiada yang patut disembah atau diikuti atau diimani, melainkan Allah. Campur aduk berarti musyrik.
Pilar pilar kesukuan, kebangsaan yang di gembar gemborkan menyebabkan ummat Islam tegak atas dasar kebangsaan, atau kesukuan dan bukan atas dasar bahwa ummat Islam adalah ummat yang satu, yang menelikung mahzab mahzab kesukuan tersebut. Cobalah jika saja Rasulullah dalam dakwahnya, dalam misi yang di embannya membawa pilar persatuan Arab, sudah pasti Bilal bin Rabah, Salman Al Farisi tidak akan masuk Islam lantaran mereka bukan orang Arab.
Ini penting dipahami karena Islam system yang sempurna dan tidak memecah belah atas ras, suku, tapi justru menyatukan ras suku dalam satu bendera perjuangan Lailahaillallah. Bersatunya Jawa dan Sumatra seharusnya bukan karena satu bahasa, atau sama sama kulit coklat hidung pesek, tapi satu keimanan kepada Allah pencipta.
Demokrasi menyebabkan manusia keluar dari pilar pilar Islam, karena demokrasi menyebabkan ummat terpecah terus sampai se kecil kecilnya yang menyebabkan ummat menjadi lemah. Satu dua lidi di patahkan, gampang, tapi jika seratus lidi dipatahkan susah, apalagi 200 juta lidi, dipatahkan semakin susah, apalagi bersatunya ummat Islam dalam persatuan Islam didunia ini dan bukan atas persatuan wilayah, kesukuan, kebangsaan akan semakin susah kaum kufar untuk memporak porandakan.
Kasus Ambalat, dalam Islam jika dua muslim berselisih damaikanlah, tapi dalam prinsip nasionalisme, demokrasi, hajar aja tuh Malaysia, sok belagu amat. Jadi karena telah terbiasa termakan prinsip prinsip nasionalisme (anaknya demokrasi), maka ummat benar benar jadi terkotak kotak. Jika saudara kita berperang di Afghan, Iraq, perasaan yang muncul pada diri kita lantaran terkontaminasi racun kebangsaan, ah mereka kan orang Afghan, kita tidak merasa bahwa itu wilayah kita yang diserbu, kita merasa wilayah kita ini hanya di jawa saja. Coba jika kita merasa negeri kita yang diserbu, muncullah jutaan sukarelawan siap mati melawan kaum muslimin Malaysia, ngeri, maka semakin hancurlah persaudaraan muslim, pilar pilar yang ditanamkan Rasulullah, dan pasti yang akan mengambil keuntungannya lagi lagi Yahudi Nashara.
Aceh dibikin perang terus, karena dasarnya suku isme yang digembar gemborkan, akhirnya lupa bahwa sesama muslim itu bersaudara, akhirnya ummat lemah terus karena peperangan saudara sesama muslim yang tiada kunjung henti. Kekayaan alam begitu besar tapi ummat kere, sibuk perang terus, sementara yang ambil keuntungan lagi lagi pihak luar. Kapankah kebodohan ummat ini berakhir?.
Ketika saya ke Irian jaya dan Aceh, mereka katakan orang jawa itu penjajah atas wilayah mereka, padahal di Aceh mayoritas muslim dan di Irian juga banyak kaum musliminnya. Jadi mereka melihat “Jawa”nya (sukunya) dan bukan melihat “muslimnya”. Inilah racun racun nasionalisme, racun demokrasi yang telah mendarah daging tumbuh dan mengalir deras dalam tubuh ummat Islam, padahal datangnya Islam membasmi habis racun racun ashabiyah tersebut. Maka pantas bukan bagi yang ashabiyah terhadap partai adalah musyrik tulen, itu Allah SWT yang menyatakan dan bukan penulis.
Rukun kafir yang lain adalah Hedonisme, Materialisme, Nasionalisme, Sekularisme, Kapitalisme dan masih banyak lagi isme isme sesat yang ummat sudah terbiasa hidup didalamnya (kita kaji dalam kesempatan lain). Ngakunya muslim, tapi menggaji karyawan berdasar prinsip capital, ini salah satu rukun kafir yang sudah terbiasa kaum muslimin lakukan, akibatnya kemelaratan tak kunjung teratasi. Biar kata aktivis masjid, giliran punya perusahaan menerapkan system kapitalis kepada karyawannya, padahal sang pemilik pak haji yang kerap mondar mandir pergi haji. Jadi memang amat susah membersihkan racun ini, jika kaum muslimin itu sendiri tidak mau mengkaji ulang apa masalah yang sedang kita hadapi, dan bagaimana Al Qur’an dan Al hadist menjawab, jika tidak peduli juga terhadap masalah ini, bablaslah ummat berduyun duyun menuju neraka.
BENCANA ITU IBROH
Bencana yang terus menerus dalam jangka waktu yang berdekatan melanda negeri ini sebenarnya sangat baik bagi manusia. Artinya bencana itu paling tidak akan mengurangi sedikit orang yang tadinya berduyun duyun bakal masuk neraka. Dikasih bencana, sadar tidak?, ada sedikit, kebanyakan tidak, tidak apa apa, yang sedikit itu jika selamat kan sudah bagus. Kasih lagi azab, sadar tidak?, ada sedikit, tidak apa apa, tambah lagi sedikit orang yang sadar bahwa selama ini jalan hidupnya telah menyimpang dari jalan Allah. Kasih lagi azab, ada lagi yang taubat, jadi sebenarnya azab itu bukan tanda murka Allah, justru sayangnya Allah kepada hamba hambanya yang kira kira jika di azab, dia mikir, kemudian bertaubat. Kalau yang bilang bencana itu cuma kejadian alam, habisin aja. Supaya muncul generasi baru yang mereka tidak takut kepada celaan manusia yang mencela.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهِ فَسَوْفَ يَأْتِى اللهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِى سَبِيلِ اللهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لآئِمٍ ، ذَلِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ، وَ اللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang mutad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siap yang dihendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. 5:54)
Aceh ngakunya serambi Mekah, tapi ganja yang Rasulullah sabdakan, yang memabukkan itu, sedikitnya pun haram, tapi kota serambi Mekah memproduksi terus ganja, sapu bersih aja. Suu’ dalam bahasa arab artinya jahat, ulama tsu ulama jahat, tsunami berarti air bah jahat, kok Jakarta yang katanya lebih maksiat tidak kena, harap diketahui dan disadari bahwa hak memberi azab, cobaan atau apalah ada pada Allah, tidak usah protes, yang pasti azab tidak akan muncul pada kaum, puak yang ber iman dengan sebenarnya iman.
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٌ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. 7:96)
Jadi kalau suatu kaum ber-iman, yang akan muncul berkah dari langit, dari mana saja datangnya, dan tidak mungkin perpecahan, korupsi, pembunuhan, pemerkosaan, pelacuran, perampokan, pencurian, bencana alam dst. Azab itu dari kesalahan diri kaum atau puak itu.
قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْيَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِوقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ ، انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ اْلآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ
Katakanlah: “Dia yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu (hujan, badai, topan) atau dari bawah kakimu (gempa, tsunami, tanah longsor)atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan-partai) dan merasakan kepada sebahagian) kamu kepada keganasan sebahagian yang lain (perang saudara). Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya). (QS. 6:65)
Perhatikanlah ayat 6:65 diatas, ternyata bencana bencana yang datang silih berganti itu merupakan tanda tanda kebesaran Allah. Tsunami itu tanda tanda kebesaran kekuasaan Allah, agar kita memahami, mau kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasul atau tidak?. Semua bangunan habis disapu tsunami, tapi banyak Masjid yang bertengger teguh hanya mengalami kerusakan sedikit, padahal dahsyatnya tsunami, bisa menyeret mobil mobil macam gabus, dan bahkan kapal laut seberat 2000 ton, bisa pindah sejauh +/- 5 km kedarat.
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ، وَلاَ تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ، وَلاَ تُطِعْ مِنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. 18:28)
وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللهِ لَهُمُ الْبُشْرَى ، فَبَشِّرْ عِبَادِ
Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, (QS. 39:17)
الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ، أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللهُ ، وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُوا اْلأَلْبَابِ
yang mendengarkan perkataan lalu dipilih yang terbaik, terbenar (sesuai kebenaran Al Qur’an). Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang- orang yang cerdas. (QS. 39:18)
PENUTUP DAN DOA UMAR BIN KHATAB RA
Wahai ummat Muhammad SAW, masuklah Islam secara keseluruhan dan ingatlah selemah lemahnya iman adalah diam, bukan ikut ikutan, bukan pendukung kebatilan itu. Tingkat iman yang lebih baik lagi berani bicara tegas terhadap kesesatan jalan hidup yang ditempuh manusia, yang lebih baik lagi gunakan tangan jika mampu. Jika mendukung kesesatan jalan hidup yang ditempuh manusia, itu sudah keluar dari jalur keimanan, karena itu kaum muslimin harus pandai membaca setiap persoalan persoalan yang dihadapinya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِى السِّلْمِ كَافَّةً وَلاَ تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu. (al-Baqarah; 2:208)
Umar bin Khatab berdoa “ya Allah, masukkanlah aku dalam kelompok orang yang sedikit”, dan marilah kita berdoa Ya Allah, tolonglah ummat Islam, agar mereka menemukan kembali jalan lurus sebagaimana jalan yang ditempuh Rasulullah SAW dan para sahabat sahabat Rasulullah tercinta. Amin ya robbal alamin.
Jakarta, 18 April 2005
Komentar Terakhir