Lahir tahun 1956, dari ibu bernama Rusana dan ayah bernama St. Makmur Suddin, keduanya orang Minangkabau Sumatra Barat. Besar di Jakarta, karena sejak tahun 1957 sudah di Jakarta, karena itu saya tidak punya keindahan masa kecil dikampung halaman Sumbar. Kampung halaman saya di Jakarta, tepatnya di Cipete dan tahun 1960 di Pejompongan, sampai sekarang.
Tujuan dari blog saya ini adalah untuk agar saya bisa berdakwah, karena saya bukan mubaligh atau ustad yang biasa berceramah dimuka umum, bahkan sekalipun saya belum pernah jadi khotib jum’at. dengan kekurangan saya itu, dunia cyber saya gunakan untuk dakwah saya, semoga Allah meridhoi.
Walau bukan mubaligh, dan juga tak pernah sekolah Islam dari Diniyah sampai perguruan tinggi Islam semacam UIN, saya percaya diri punya basis Islam yang memadai. Latar belakang Islam saya, saya dapat dari belajar dari beberapa guru, diantaranya 1. Prof. Osman Raliby (1 1/2 tahun), guru besar UI, 2. Fawzy Agustjik (3 tahun), belajar tentang Teknik Pengambilan Hukum dalam Islam (Ushul), Asbabun Nuzul, Ilmu Hadist, Halal Haram, 3. Mohammad Soebari (2 tahun). Tentu saja ada juga saya belajar Islam dari ustad ustad yang lain, tapi karena tidak berlangsung lama, tidak saya sebutkan.
Selain itu saya juga belajar dari buku buku Islam, ketika saya masih mahasiswa, koleksi buku Islam saya telah mencapai lebih dari 400 judul. Abul A’la Al Maududi dari Pakistan, Al Ghazali merupakan guru besar bagi saya. Dengan pendalaman Islam yang sedemikian, saya tidak khawatir untuk menulis, saya malah terheran heran, banyak para mubaligh atau ustad yang telah malang melintang didunia dakwah, ucapan maupun tindakannya bertentangan dengan kerangka berfikir Islam yang telah Allah SWT dan Rasulullah SAW tetapkan, akibatnya ummat yang memang mentalitasnya dalam memahami Islam ini seperti kerbau (cuma jadi pak turut saja, bukan meneliti untuk menemukan kebenaran yang sebenar benarnya benar), mereka menghancurkan diri mereka sendiri beserta ustad ustadnya yang telah menyimpang itu.
Seharusnya, untuk orang seperti saya, tidak perlu muncul di arena dakwah, karena banyak kekurangan saya, sayangnya mubaligh yang ada, yang lurus Motivasi, Orientasi dan Aplikasinya, serta ihklas, saya perhatikan sangat minoritas. Ummat tidak diajak untuk kembali kepada prinsip prinsip akidah tauhid yang datang dari Allah dan RasulNya, tapi lebih dinina bobokan dengan isi ceramah yang dari tahun ketahun tidak menyebabkan mereka meninggalkan kemusyrikkannya. Sehingga kualitas ummat selalu dalam situasi separuh iman separuh kafir sepanjang masa. Keadaan parah ini tak pernah disadari oleh ummat akan keparahannya. “Maukah kamu AKU tunjukan orang orang yang telah merugi amal amalnya dipenghidupan yang rendah ini?, yaitu, mereka orang orang yang merasa telah berbuat sebaik baiknya, padahal mereka telah sesat”.
Pa, halaman about me nya di edit aja dulu… tulis apa kek gitu
assalamu’alaikum om darmen..
manda ni, yg anaknya pak hari, cucunya bu marmi itu lho, hehe.
izin nge-link ya om..
punya afra sama dida udah punya, tinggal punya om darmen.
terimakasih sebelumnya.
=)
#amanda
Belum lama kan ketemu di bendhill, rambut papanya lebih banyak ubannya lho, tanda tanda apa yaa. he he
Tanda tanda sudah tua.. Hehe.. Yah, doakan sj sm0ga dihari tua-nya si bapak bisa memberikan yang terbaik hanya untuk-Nya
Amanda dah lulus belum dari ITB? kapan nikahnya? jangan lupa undang ya kalau nikah?
assalamu’alaikum Salam kenal Pak..
numpang ninggalin jejak yah pak di blog ini..
~amir bocah Solo~
http://salafiyunpad.wordpress.com
Boleh boleh aja asal bayar pajak….
assalamu’alaikum
wah, afra menyebarkan virus nge-blog ke keluarganya tho..
kyahahahaha
what an amazing family!
Assalamu’alaykum…
Ternyata bapaknya Afra
Namanya kok ada “Adios”-nya?
Apalah artinya nama, kalau bicara hanya nama, Abdurrachman Wahid, Hidayat Nur Wahid nama itu lebih baik dari pada nama saya yang tidak jelas arahnya. Tapi ternyata orang tua saya tidak salah dalam pemberian nama, karena saya tidak seperti dua orang tadi yang bernama bagus.
Assalamualaikum.
Salam kenal pak adios..
Saya temennya apra apipah…
Rismaka, biar sudah sangat lama tidak apakan saya balas juga, salam kenal lagi, jika menerima tulisan saya kalau bisa di forward, karena nabi berpesan demikian, forwardlah apa yang aku sampaikan ini terhadap mereka mereka yang tidak hadir guna kelancara dakwah tidak terhenti. Itullah tanggung jawab seorang pemimpin besar Islam. Ia tidak ingin dakwah terhenti lantaran kelalaian memforward kebenaran yang datang dari Allah swt.
Assalamu’alaykum…
salam kenal om…
musafir kecil itu siapa sih, apakah memang masih kecil seperti anak SD yang sedang melakukan musafir?, tapi salam kenal lagi, senag bertemu kalian.
hi kaspo walau sudah sangat lama, saya tetap balas, salam kenal juga. maaf atas kelalaian saya.
salam kenal…suport semangat..klo ada yg baru jangan sungkan share…
Assalamu’alaikum.. Oh ini blognya om Darmen toh. Kangen saya dengan om Darmen. Sudah berapa puluh tahun tidak ketemu soalnya. Terakhir ketemu sy msh SD. dan dulu om sering dateng main ke rumah untuk servis komputer dan silaturahim dengan bapak. Saya Iben putra ke – 9 Alm. M. Sobeari, Saya msh ingat betul lho dengan om Darmen. Kapan ya bs silaturahim dengan Om Darmen?