Oleh :
Darmen Adios
Tulisan ini pernah saya edarkan melalui email dengan judul “wahai kemenakanku”, artikel tersebut saya angkat lagi mengingat cukup penting dipahami bagi kabilah partai atau bagi siapa saja yang ingin mencari kebenaran. Selalu saja kita melihat kekeliruan ummat dalam menyikapi sesuatu kebenaran. Mereka masih saja menganggap ulamanya sebagai manusia yang pasti selalu benar, walaupun terkadang pandangan atau prinsip ulama tersebut jelas jelas telah bertentangan dengan ketetapan Allah dan Rasulullah SAW.
Padahal jika kita berbicara tentang Islam, kita tidak bicara apa kata ulama, tapi kita bicara apa kata Allah dan RasulNYA, kata kata ulama hanya terpakai jika kata katanya sesuai dengan ketetapan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah.
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ، وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُبِينًا
Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. 33:36)
Dari firman Allah diatas, jika Allah telah menetapkan sesuatu, tidak ada lagi fatwa ulama, ijtihad ulama, yang patut didengar, dipatuhi, kalau ijtihad, fatwa tersebut telah menyimpang atau bertentangan dengan pokok pokok ajaran Islam, bertentangan dengan firman firman Allah maupun sunnah Rasulullah, walau sebelumnya ulama tersebut telah dikenal sebagai ulama yang “lurus”, terkenal kesholehannya dan namanya telah mencuat dijagad ini.
Al Ghazali mengatakan jika ummat menganggap ulamanya selalu benar, pada saat itulah ummat mulai tersesat. Tetapi kita memang tidak perlu heran, oe-lama memang punya tampilan mempesona, punya kharisma tersendiri, saya pernah menghadiri majelis pengajian kaum Ahmadiah di kuningan jaksel, begitu meyakinkan sang ustad menyampaikan ayat ayat Allah untuk membenarkan kenabian Mirza Ghulam Ahmad, dipelesetkan ayat ayat tersebut oleh oe-lamanya, dengan ke fasihan membaca firman firman Alllah, jama’ah Ahmadiyah tak sadar ditipu oe-lama nya.
Saya pernah juga didatangi ustad NII, yang mempunyai prinsip sekarang periode Mekah, jadi pada masa sekarang ini dimana syariat Islam belum ditegakkan tidak sholat tidak mengapa, pembantu rumah tangga yang pasti miskinnya dipalak gajinya dalam jumlah yang tak masuk akal untuk kemampuannya yang sebatas pembantu rumah tangga, mosok untuk pembentukan Negara Islam infaqnya cuma segini?, begitu kata ustadnya untuk menekan jamaahnya, anehnya para pemimpin mereka punya hubungan erat dengan pemuka pemuka Negara yang katanya “diperanginya”.
Ustad NII ini menyampaikan ayat ayat qur’an dengan lidah yang fasih, saya terpana, karena tidak bisa seperti dia, tapi begitu saya tanya, adakah anda tau pedoman mencari kebenaran?, dia tidak bisa menjawab, lantas saya katakan, bagaimana anda akan tahu diri anda tersesat atau tidak, jika pedoman mencari kebenaran anda tidak tahu. Sang ustad yang bermaksud menarik keluarga saya ke NII, terpaksa pulang dengan kekecewaan, mau ngajari tapi malah diajari, tapi sang ustad tidak rugi karena ia memperoleh pengetahuan baru. Prinsip prinsip dalam mencari kebenaran, semoga ia mengkaji ulang perjalanan hidupnya, agar tidak tesesat dari jalan Allah.
Kaum Ahmadiah dan Syi’ah juga pernah bertandang kerumah saya untuk berdebat secara resmi, pada akhir debat tak satupun dari mereka yang berani ditantang untuk bermubahalah. Padahal Rasulullah menantang pemuka agama nasrani yang menganggap Isa putra Maryam sebagai anak Allah. Ketidak beranian mereka bermubahallah sebenarnya membuktikan di qolbu mereka ada penyakit (jiwa), mereka tidak pernah mantap dalam beriman kepada Allah SWT. Jika mereka meyakini 100% Isa benar anak Allah, Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, Kawin mut’ah halal, kenapa mereka harus takut ditantang bermubahalah??.
فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَ أَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَةَ اللهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ
Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya):”Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. (Ál ‘Imrán; 3:61)
Dari kerapnya menghadapi kesesatan manusia, terfikir oleh saya bahwa seyogianya ada hal hal yang harus jadi pedoman bagi manusia agar tidak mudah terseret paham, asas, ideologi, isme atau apalah namanya yang menyimpang dari Islam. Sebab tanpa memahami prinsip prinsip mencari kebenaran, ternyata manusia memang gampang ditipu mentah mentah oleh para oe-lamanya. Mereka melihat oe-lama nya sebagai mahluk suci, “mahluk penuntun ke jalan lurus” “mahluk pembebas manusia dari jalan sesat”. Persis seperti ummat nasrani memandang Paus Paulus dari Vatikan. Suatu kecintaan yang sangat memprihatinkan, walau Allah SWT dan Rasulullah menyatakan A, oe-lama menyatakan B, maka ummat turut patuh ikut sang oe-lama berpegang kepada B, ummat terkena sihir penampilan suci sang oe-lamanya.
Memang tidak mudah berhadapan dengan oe-lama jika ternyata membawa ajaran sesat, melapor polisi minta bantuan tapi sebenarnya sang polisilah yang perampok, menyeru hidup sederhana kepada rakyat, tapi pakaian pengantin anaknya presiden Rp. 100.000.000,- anggota DPR tapi sebenarnya Dewan Perwakilan Pemerintah, berjuang untuk rakyat memerangi kemiskinan, tapi hartanya (mobilnya, rumahnya, ranchnya, koceknya di bank) terus bertambah dari hari kehari, menyeru semua agama sama tapi tidak mau pindah agama ketika ditawarkan kepada agama yang paling ringan syariatnya. Beginilah gambaran nyata manusia manusia sakit jiwa didalam kehidupan kita sehari hari, mereka berpenampilan normal, tampak terpandang dihadapan orang banyak, berdasi, ber jas, bermobil selalu keren, tampak sebagai manusia manusia terhormat, tetapi justru dari mereka sinyal sinyal menyesatkan terus di produksi untuk kebutuhan rohani masyarakat banyak, maka bagaimana negeri ini tidak babak belur???. Sebab kalau masyarakat bangsa ini benar benar ber –iman adalah janji Allah SWT menjadikan Indonesia negeri yang aman makmur penuh berkah dan bahagia.
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٌ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. 7:96)
TYPICAL MANUSIA DALAM MENYIKAPI KEBENARAN
Dalam menyikapi suatu ajakan ke jalan Allah, Al Ghazali mengkelompokan manusia dalam beberapa bagian.
- Karakter manusia yang sama sekali tidak peduli terhadap suatu peringatan yang datang pada dirinya, mungkin karena begitu sibuk dalam memburu kekayaan dunia, atau memang sudah sangat alergi terhadap apa yang namanya agama, ketika misal diberi peringatan Mirza Ghulam Ahmad bukan nabi, kawin mut’ah haram, Yesus bukan tuhan, demokrasi asas suara terbanyak adalah sesat, dia tidak selintaspun mau berfikir terhadap peringatan yang datang padanya. “Bodo!! emangnya gua pikirin!!”. Orang partai jika dikatakan demokrasi asas suara terbanyak sesat akan berang, apalagi jika ia telah masuk papan atas dalam partainya, “elu tau apa, dari dulu juga ulama ulama top kita telah terbiasa berjuang di parlermen”(ukurannya oe-lama). Maka, jika anda berkarakter seperti ini, anda adalah tipe manusia numpang lewat dikehidupan dunia ini. Seperti tercermin di ayat berikut :
{أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَبَأُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَالَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ ، لاَ يَعْلَمُهُمْ إِلاَّ اللهُ ، جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَرَدُّوا أَيْدِيَهُمْ فِى أَفْوَ1`اهِهِمْ وَقَالُوا إِنَّا كَفَرْنَا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ وَإِنَّا لَفِى شَكٍّ مِمَّا تَدْعُونَنَا إِلَيْهِ مُرِيبٍ}
Belumkah sampai kepada kamu berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud dan orang-orang sesudah mereka.Tidak ada yang mengetahui mereka selain Allah.Telah datang rasul-rasul kepada mereka (membawa) bukti-bukti yang nyata lalu mereka menutupkan tangannya ke mulutnya (karena kebencian), dan berkata: “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu disuruh menyampaikannya (kepada kami), dan sesungguhnya kami benar-benar dalam keragu-raguan yang menggelisahkan terhadap apa yang kamu ajak kami kepadanya”. (QS. 14:9)
- 2. Karakter manusia yang masih ada perhatian terhadap peringatan yang datang padanya, wahai fulan, demokrasi suara terbanyak itu sesat. Dia cukup tanggap, dia tanya pada ustadnya, jawaban ustadnya ya atau tidak. Setelah mendapat jawaban ya atau tidak dari ustadnya, puaslah dia. Karakter manusia seperti ini beriman dengan gaya tipe penjudi. Kalau kebetulan jawaban ustadnya sesuai Qur’an Sunnah, maka ia akan selamat, tapi jika tidak, maka ia akan terseret ke neraka bersama ustadnya, pendeta nya. Manusia seperti ini hanya bersandar kepada kemuliaan seseorang, dan bukan kepada kebenaran yang hakiki dari sumbernya yang asli (Al Qur’an). Semoga saja guru gurunya memang manusia yang sebenarnya taqwa. Tapi kalau bertemu guru sesat macam Ahmadiyah, Syiah, pendeta, bikhsu dan semacamnya, dia akan celaka dan akan saling tuding dengan ustadnya kelak didalam api neraka.
{قَالَ ادْخُلُوا فِى أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ مِنَ الْجِنِّ وَاْلإِنْسِ فِى النَّارِ ، كُلَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَعَنَتْ أُخْتَهَا ، حَتَّى إِذَا ادَّارَكُوا فِيَها جَمِيعًا قَالَتْ أُخْرَاهُمْ ِلأُولاَهُمْ رَبَّنَا هَؤُلاَءِ أَضَلُّوناَ فَآتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِنَ النَّار ، قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَكِنْ لاَ تَعْلَمُونَ}
Allah berfirman: “Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk (kedalam neraka), dia mengutuk kawannya (yang menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk kemudian diantara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu: “Ya Rabb kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka”. Allah berfirman: “Masing-masing mendapat (siksaan), yang berlipat ganda akan tetapi kamu tidak mengetahui”. (QS. 7:38)
- Karakter manusia yang peduli, meneliti, tapi kurang mendalam penelitiannya, (masih ceroboh dalam memberi kesimpulan) wahai fulan, demokrasi suara terbanyak itu sesat, dia tanya ustadnya, dia periksa juga kata kata demokrasi dalam qur’an, ternyata tidak ada, bahasa arab atau bahasa latin dalam terjemahan Qur’an tidak ada. Ah, demokrasi itu pasti ayat mustasyabihat, begitu pikirnya.
هُوَ الَّذِى أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ، فَأَمَّا الَّذِينَ فِى قُلُوبِهِمْ زِيَغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللهُ وَالرَّاسِخُونَ فِى الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَرُ إِلاَّ أُولُوا اْلأَلْبَابِ
Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (al-Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yg berakal. (Ál ‘Imrán; 3:7)
Maka untuk membela kehormatan kabilahnya, sebut saja demokrasi berdasar suara terbanyak itu sebagai ayat mutasyabihat, padahal kata demokrasi suatu kata yang amat mudah dimengerti bagi kebanyakan manusia dimuka bumi ini, orang yang tinggal di-ujung ujung gunung sekalipun paham arti kemenangan demokrasi, adalah arti kemenangan suara terbanyak, bukan arti kemenangan suara kebenaran yang datang dari Allah SWT, hanya lantaran sudah ditipu syaitan, manusia selalu menganggap atau merasa kemenangan suara terbanyak adalah kemenangan dari “tuhan”.
Ada lagi yang membela diri untuk menjaga kehormatan kabilahnya, wah demokrasi itukan masalah fikih, wajar dong beda pendapat. Kok bilang demokrasi sesat sih. Pendek kata, membela diri tanpa menguasai ilmu terhadap apa yang telah menjadi pernyataannya.
Fikih itu suatu ketetapan ugama yang muncul dari masalah ugama pula, tetapi sabda dari Rasulullah tidak ada. misal air yang mau dipakai wudhu satu bak mandi terciprat air kencing setitik, sah tidak dipakai wudhu?. Ulama Indonesia yang negerinya air tidak bermasalah akan memberi fatwa, buang saja tuh air, tidak sah, ganti air baru, tinggal buka keran saja, tuntas sudah masalah air wudhu. Kalau ulama padang pasir, yang hujan datang cuma satu dua kali dalam setahun, air di oase oase terciprat sedikit kencing, mereka tetapkan hukum, kalau jumlah air sekian kulah sah, kalau segitu kulah tak sah, wajar ulama Indonesia beda dengan ulama padang pasir, perbedaan dari kedua duanya ini sah, karena merupakan ranting dalam masalah ugama, dimana penetapan ukuran berapa banyaknya air bersih yang diizinkan jika terciprat air kencing tidak terdapat dalam sabda Rasulullah.
Demokrasi bukan masalah yang muncul dari masalah fikih Islam (seperti soal qunut atau contoh air yang terkena air kencing setitik untuk wudhu). Tapi demokrasi suatu olah pikir pemikir barat untuk mengatur kehidupan bermasyarakat, bernegara yang terbaik menurut olah otak mereka. bagaimana olahan pemikir barat yang tidak menjadikan Qur’an sebagai pedoman bahkan menendangnya kita katakan ini masalah fikih?. Ayat ayat Allah, dan contoh perjuangan Rasulullah sudah sangat jelas bertentangan dengan syar’i-nya demokrasi. bagaimana kita mengatakan demokrasi masalah fikih, masalah ranting?, sesuatu yang datang dari luar pohon Islam kita katakan rantingnya dalam masalah Islam?
- Akhirnya karakter tipe tiga ini kembali kepada status quo, sesuatu yang selama ini berjalan, bahkan dia balik serang penyeru, “yang benar aja, selama ini ane ama temen temen memperjuangkan Islam di bilang berbuat musyrik, gelo apa elu” Tapi si fulan memang batas penelitiannya masih kurang sempurna, selain ilmu pokok pokok Islam dia banyak yang belum menguasai, maka dia memberi kesimpulan dari pemahamannya yang terbatas dan dia cuma tunduk patuh kepada oe-lamanya yang selama ini membinanya. “Mosok sih oe-lama gua sesat?”. Maka si penyeru dibanding bandingkan oleh ulama kesohor di manca negara, ah sipenyeru dianggap tidak ada apa apanya dibandingkan oe-lama top yang tidak pernah mempermasalahkan demokrasi. Lagi lagi yang dijadikan pegangan oe-lamanya dan bukan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Jadi ketetapan Allah dan Rasulullah bagaimana kata ulamanyalah, hebatnya oe-lama sekarang!!!.
- Karakter manusia yang selalu mencari kebenaran, apapun masalahnya, dimanapun dan kapanpun. Setiap masalah yang timbul difikirkan dan dicari jawabnya. Ketika ada yang mengatakan demokrasi suara terbanyak itu system sesat, dia pelajari seperti Salman al Farisi mencari kebenaran dengan pembuktian, bagaimana Salman meminta ciri khas yang dia ketahui tentang kenabian Rasulullah, setelah Rasulullah memberikan bukti ciri kenabiannya, yakinlah ia 100%, maka bersyahadatlah beliau di hadapan Rasulullah. Maka manusia yang bersungguh sungguh mencari kebenaran seperti Salman Al Farisi, seperti nabi Ibrahim AS, Insya Allah yang akan menemukan kebenaran.
- Kenapa?, Pertama dia mencoba memahami makna sebenarnya dari demokrasi yang berlaku, memang terbukti demokrasi yang berlaku semata mata atas putusan suara terbanyak (dalam keputusan apapun), tanpa menghiraukan firman Allah benar atau tidaknya, Kedua dia lihat dari ilmu ushul, demokrasi masuk katagori perkara dunia, dasar hukumnya serba boleh, OK OK saja, kecuali yang diharamkan, ternyata dalam Islam bukan berdasar terbanyak tetapi ber asas terbaik terbenar yang harus klop dengan Qur’an Sunnah, peduli keputusan tersebut atas pandangan satu orang, dia akan menjadi keputusan, jika sesuai dengan firman Allah dan Sunnah Rasulullah, kita lihat firman Allah:
وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللهِ لَهُمُ الْبُشْرَى ، فَبَشِّرْ عِبَادِ
Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, (QS. 39:17)
الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ، أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللهُ ، وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُوا اْلأَلْبَابِ
yang mendengarkan perkataan lalu dipilih yang terbaik, terbenar (sesuai kebenaran Al Qur’an). Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang- orang yang cerdas. (QS. 39:18)
- Nah, dengan penelitian yang mendalam itulah, karakter tipe 4, yang lebih berpeluang selamat dihari pembalasan, karena dialah pencari kebenaran sejati. Tipe tipe yang lain belum pantas untuk dikatakan sebagai pencari kebenaran, karena dia tidak berusaha menemukan kebenaran dengan sungguh sungguh. Cintanya kepada kursi melebihi cintanya kepada keputusan Allah dan Rasulnya (9:24), kehidupan didunia ini memang tidak mudah, banyak celah celah yang dapat menjungkir balikkan manusia ke neraka, padahal jalan lurus menuju Allah hanya satu jalan.
SYARAT UTAMA PENCARI KEBENARAN
Menjadi pencari kebenaran ada syaratnya, tentu saja, sebab tanpa memenuhi syarat syarat, mereka adalah pencari kebenaran palsu.
SYARAT PERTAMA :
Hendaklah ia jujur terhadap kebenaran itu sendiri. Jika selama ini ia telah di doktrin oleh oe-lama nya, pastornya, orang tuanya, pendetanya, bikhsunya, 2+2=5, datang seorang anak jelek compang camping, mengatakan 2+2=4 disertai pembuktian yang ilmiah, akurat dan rasional (masuk akal). Jika ia menolak kebenaran yang telah sampai padanya walau telah disertai bukti bukti yang kongkrit, lantaran kebenaran itu sangat menyinggung kepercayaannya selama ini, ibadahnya selama ini, mempermalukan kemuliaan pastornya, pendetanya, kabilahnya, yang ternyata mereka salah jalan, telah menyimpang dari jalan Allah, ditolaknya kebenaran dari si compang camping tadi, ah dia kan cuma sicompang camping, maka orang tersebut adalah pencari kebenaran palsu. Manusia seperti ini akan masuk neraka, karena ada kesombongan (menolak kebenaran) pada qolbunya.
Rasulullah mensabdakan tidak akan masuk syurga pada diri seseorang yang sombong walau sebesar biji zarah. Walau kesombongan itu begitu kecil pasti masuk nerakanya. Sombong itu bukan berpakaian bagus dan bermobil mewah, sombong itu menolak kebenaran, walau terhadap masalah yang dianggap kecil. Jadi jangan takabur terhadap kebenaran yang disampaikan manusia lain kepada kita, konsekwensi dari menolak atau mengabaikan kebenaran yang disampaikan manusia lain kepada diri kita sangat serius, bukan main main, tidak senilai dengan harta dunia yang kita buru sebagai tukarannya.
Kebenaran itu dari Allah (Q 2:147), manusia di ciptakan oleh Allah, qolbu manusia adalah ciptaan Allah, maka manusia sebenarnya tidak bisa berbohong terhadap kebenaran yang datang padanya, kita lihat bahwa hati nurani secara fitrah tidak bisa mendustai kebenaran (yang datang dari Allah tersebut), karena telah ada pengakuan diawal kehidupan manusia terhadap keesaan Allah SWT (sebagai sumber kebenaran) dalam surat :
{وَإِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِى آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ، قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا ، أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ}
Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):”Bukankah Aku ini Rabbmu”. Mereka menjawab:”Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:”Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb)”. (QS. 7:172)
Dari kajian ayat diatas, secara fitrah, ternyata manusia tidak bisa mendustai nuraninya sendiri. Hanya saja pada saat kebenaran itu telah sampai pada dirinya, syeitan, iblis merusak nuraninya, dia merasa berasal dari api seperti syeitan, sementara lawan bicaranya cuma preman pinggir jalan (dari tanah) yang dianggapnya sok sok an bicara Islam. Gile gua dikalahin bicara ama anak kemaren sore, munculah tabiat iblisnya, karena anda bukan ulama maka anda tak pantas bicara Islam, khususnya demokrasi, belajar dululah. Jadilah ia abdi syetan, karena dirasa berat meninggalkan kenikmatan dunia yang telah diraihnya. Berat bo ninggalin kursi yang telah tahunan diperjuangkan. Tidak apalah sekali kali melawan hati nurani, mumpung belum banyak orang yang paham apa itu demokrasi suara terbanyak. Taubat nanti nanti saja masih bisa kalau dah tidak duduk dikursi empuk.
Sebenarnya banyak contoh yang bisa memberi gambaran bahwa hati nurani benar benar tidak bisa didustai. Prof Osman Raliby, dalam kuliah Islamnya menceritakan pernah bertanya kepada kaula muda Amerika yang telah terbiasa sex bebas, ketika ditanya lebih suka kehidupan sex bebas atau pernikahan ? ternyata mereka menyatakan pernikahan itu lebih baik, walau sex bebas jalan terus. Sama saja korupsi itu sesat lho mas, tapi diri tetap saja konsisten dalam berkorupsi. Suatu pertanda hati nurani tetap tidak bisa didustai.
SYARAT KEDUA :
Janganlah ada pada diri seorang pencari kebenaran suatu sikap mental belum apa sudah apriori (belum apa apa sudah menolak, padahal belum di kaji kebenaran yang datang pada diri kita tsb). Sikap belum apa apa sudah apriori menjadikan diri semakin sulit untuk menerima kebenaran berikutnya. Bahkan mungkin tak akan datang lagi orang orang, atau sinyal sinyal kebenaran pada diri kita lantaran yang sudah sudah kita begitu sombong terhadap diri sendiri, orang berikutnya jadi enggan untuk amar ma’ruf nahi munkar. Kalau terjadi demikian tentu yang rugi manusia yang bermental mudah apriori itu.
Orang orang Nasrani Yahudi kebanyakan bersikap mental seperti ini, mereka enggan untuk mengkaji Al Qur’an melainkan untuk mencari cari titik lemah yang tentunya tak akan mereka temukan, tapi dicari juga hanya dengan tujuan untuk menyesatkan ummat, sampai sampai mereka telah terbiasa dengan kata alhamdulilah, assalamualaikum, pakai busana wanita muslim kegereja, pakai sarung dan sorban, yang tujuannya untuk menipu ummat Islam yang bodoh agar tereseret kedalam ugama mereka.
Dicari cari hadist atau ayat untuk membenarkan kenabian Mirza Ghulam Ahmad, padahal ayat Qur’an yang digunakan dan ditafsirkan jauh panggang dari api, ayat dibawah adalah salah satu contoh ayat Al Qur’an yang dipakai kaum ahmadiyah untuk membenarkan kenabian Mirza Ghulam Ahmad.
{وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِى إِسْرَائِيلَ إِنِّى رَسُولُ اللهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَىَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِى مِنْ بَعْدِى اسْمُهُ أَحْمَدُ ، فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ}
Dan (ingatlah) ketika Isa putera Maryam berkata: “Hai bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)”. Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”. (QS. 61:6)
Sayangnya walau kaum ahmadiyah ini tingkatan pendidikannya sarjana waktu terjadi debat, tapi tidak mampu berpikir untuk memahami ayat 61:6 tersebut. Ayat tersebut menceritakan zaman di masa Isa AS, yang Allah menginformasikan akan datang nabi lagi sesudah Isa AS bernama ahmad (nama panggilan Rasulullah dimasa kanak kanak), bagaimana mungkin Mirza Ghulam Ahmad kedatangannya di informasikan Allah SWT melalui Isa AS dan tertulis pula dalam Al Qur’an, sementara Nabi Muhammad SAW yang terbukti menerima wahyu kedatangannya tidak Allah informasikan (karena ayat itu diklaim untuk si Mirza)?, klaim ahmadi ini adalah klaim terbodoh sepanjang sejarah kehidupan manusia, tapi pengikutnya ada terus “enggada habisnye”, inilah realitas kehidupan, begitu menarik.
Karena itu marilah kita mengkaji setiap peringatan (sinyal sinyal) yang datang pada diri kita, siapa tau kita memang yang tersesat, kita pelajari dengan seksama, jangan katakan ah dasar mereka syirik aja (iri hati) pada kesuksesan kabilah kita. Ketika terucap kata kata tersebut, syeitan telah bercokol di qolbunya, yah bagaimana dia akan menemukan kebenaran yang datang dari Allah?, karena mereka sendirilah yang sudah menutup diri ketika sinyal sinyal itu datang?. Gue engga mau tau, pokoke kabilah gue pasti benarnya. kebenaran yang datang dari luar no way.
Saya menerima email yang kutipannya sbb:
Seorang Imam tsiqah, Ayub As-Sakhtiyaniy pernah berkata : “Jika engkau ingin mengerti kesalahan gurumu, maka duduklah engkau untuk belajar kepada orang lain” (Diriwayatkan oleh Ad-Darimi dalam Sunannya (1/153). Justru karena inilah, maka kaum hizbiyun (aktifis fanatik terhadap golongan) melarang pengikut-pengikutnya untuk menimba ilmu dari orang-orang selain golongan atau simpatisannya. Kalaupun sikap mereka menjadi lunak, namun mereka akan memberikan kelonggaran dengan banyak syarat serta ikatan-ikatan yang njelimet, supaya akal-akal pikiran para pengikutnya tetap tertutup bila mendengar hal-hal yang bertentangan dengan jalan mereka atau mendengar bantahan terhadap bid’ah mereka.
Oleh sebab itu Allah SWT melarang kepada hambaNYA supaya jangan bermental seperti orang kafir, belum apa apa sudah menolak, terjemahan depak (departemen agama) kurang tepat {(yang pertama kafir (kafir = ingkar, menolak)}, kalau diterjemahkan yang pertama, maka yang kedua boleh, tentu tidak begitu, maka yang tepat belum apa apa sudah menolak, belum di baca tu artikel, sudah katakan gua dah tau isinya, dibaca juga belum?, jangan bermental seperti itu.
وَآمِنُوا بِمَا أَنْزَلْتُ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ وَلاَ تَكُونُوا أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ ، وَلاَ تَشْتَرُوا بِآيَاتِى ثَمَناً قَلِيْلاً ، وَ إِيَّاىَ فَاتَّقُونِ
Dan berimanlah kamu kepada apa ang telah Aku turunkan (al-Qur’an) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang belum apa apa ingkar kepadanya (kepada Qur’an), dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertaqwa. (al-Baqarah; 2:41)
Terbukalah, tawadu lah dalam mencari kebenaran, dari sejak bayi kita harus terus mencari kebenaran sampai kita mati, jika ada yang memberi sinyal kepada kita didalam perjalanan hidup kita ini, dan sinyal itu benar dari Allah, tapi tidak kita ikuti sinyal tersebut, maka kita pasti akan berhadapan dengan Allah SWT yang siksaNYA begitu dahsyat, suatu pertemuan yang pasti akan begitu pahit.
SYARAT KE TIGA :
Janganlah ada pada diri seseorang pencari kebenaran sikap mental taklid buta (mengikuti doktrin oe-lamanya tanpa di kaji lagi). Menurut saja apa kata gurunya tanpa mencoba meneliti benar atau tidak yang diucapkan guru. Mengikuti membabi buta apa yang diajarkan gurunya justru membahayakan bagi masa depan sang murid dan justru merusak system pendidikan ditempat itu. Akan muncul karakter karakter munafik pada diri sang murid, akhirnya manakala sang murid menjadi guru pula, dia akan sama kebangetannya seperti gurunya. Dia pikir tak bakal ada murid yang berani intropeksi dia.
Sikap mental taklid buta seperti ini adalah seperti mental kerbau, sehingga jika diseret ke tepi jurang nerakapun kerbau tak pernah menolak, moooo…moooo, diajak kesyurga nikh yee, begitu kata kerbau, manusia bermental seperti ini juga mencerminkan nilai kepribadiannya, bisa juga tingkat kecerdasannya. Walau tidak selalu, karena banyak juga manusia yang cerdas keblinger jika sudah mempertuhankan hawa nafsunya.
Kita lihat mantan biarawati Irene Handono, dalam pendidikan super sesat yang begitu ketat, dari kecil sampai dewasa di didik kristiani katolik, ia akhirnya memperoleh hidayah Allah jua, terciri pada dirinya sikap mental yang tidak mau menerima begitu saja kata romonya (pastornya). Siapa menyangka puluhan tahun sampai dewasa dicocoki ajaran kristiani malah hasilnya menjadi muslimah berkualitas???, banyak akhwat kita yang terus belajar Islam masih gampang ditipu oe-lamanya atau kalau tidak tertipu tapi belum juga berkualitas seperti Irene Handono.
Pada organisasi “keagamaan yang besar” umum terjadi oe-lamanya mendidik muridnya agar taklid buta pada sang guru dengan berbagai ancaman kualat dan semacamnya jika berani mendebat guru. Karena itu sang murid pun tak pernah punya keberanian untuk menentang gurunya jika ia merasakan sesuatu yang salah pada gurunya. Akibatnya mental feodal dan mental perbudakan tumbuh subur dalam system seperti ini, baik guru atau muridnya berkembang menuju kerusakan. Kita bisa melihat seorang oe-lama yang berzina masih memimpin pesantren atau organisasi besar, suatu cermin kehancuran dari berkembangnya taklid buta yang telah menjadi budaya dimasyarakat kita ini, tapi lebih herannya lagi organisasi seperti itu tetap dianggap “pedoman kebenaran” bagi surat kabar, radio TV .
Dalam surat 17:36 Allah SWT melarang hambaNYA mengikuti suatu ajaran atau aktivitas tanpa ia tahu kandungan aktivitas yang ia lakukan.
{وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ، إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كاَنَ عَنْهُ مَسْئُولاً}
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. 17:36)
Khalifah Umar bin Khatab RA dengan tegas berkata, tegurlah aku jika aku tersalah, Khalifah Abu Bakar RA juga berkata kalian tidak perlu patuh kepadaku jika aku tidak patuh kepada Allah dan Rasulullah. Jadi di awal awal kepemimpinannya mental taklid buta telah di hancurkan terlebih dahulu, sehingga bawahan atau murid tidak perlu merasa gentar akan segala macam konsekwensi untuk mengatakan yang benar dimana saja dan kapan saja serta bagi siapa saja.
Berbeda bukan dengan sikap mental oe-lama masa kini? Maka hasilnya dari pembinaan ummat juga berbeda, ummat Islam masa kini cuma bagai buih dipermukaan laut. Jumlahnya banyak tapi tidak berkualitas. Dan kesenangan actor aktor politik justru inginnya ummat Islam ini bodoh terus agar dapat dimanfaatkan selamanya dalam system demokrasi yang jelas jelas memanfaatkan kebodohan mereka.
SYARAT KE EMPAT :
Bacalah Al Qur’an dengan sebenar benarnya baca (iqro). Jika membaca Al Qur’an tanpa mau mengkaji mengapa begini mengapa begitu, bagaimana ia akan menemukan kebenaran?. itu namanya hanya melihat lihat bagusnya tulisan Al Qur’an dan bukan untuk mencoba memahami isinya. Orang orang “Rawabelong” beriman kepada Al Qur’an, tapi tidak memahami isinya. Kaki tangan kaum orientalis seperti Mirza Ghulam Ahmad, Snouck Hugronye, htisaB ludbA mempelajari dan memahami Al qur’an dengan baik, tapi tidaklah beriman. Mana yang lebih baik?, tentu tak ada yang lebih baik, karena membaca Al Qur’an dengan sebenarnya baca adalah perintah Allah SWT dalam surat 2:121
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلاَوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Orang-orang yang telah kami beri Al-kitab kepadanya, mereka membacanya dengan sebenarnya baca, mereka itu beriman kepadanya. Dan barang siapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (al-Baqarah; 2:121)
Dan bagi ummat Islam yang tidak mau mencoba untuk memahami maksud dan tujuan apa yang terkandung didalam Al Qur’an Allah umpamakan seperti keledai.
{مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا ، بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللهِ ، وَ اللُه لاَ يَهْدِى الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ}
Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (QS. 62:5)
Hai keledai apa yang kamu bawa di punggungmu itu? Engga tau… Hai ummat Islam, apa yang terkandung dalam Al Qur’an dan As Sunnah? Yang kitabnya kamu simpan di rumah? Engga tau…Lah, kamu bawa barang tapi kamu tidak tau yang kamu bawa, kamu punya kitab tapi kamu tidak tau apa isinya? Macam apa pula kamu!!!, horass bah…biar tampan begini tapi aku keledai tho mas.
Jika ustad kita mengatakan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi setelah Rasulullah SAW, pelajari dasarnya apa, jika dikatakan berdasar ayat tertentu, pelajari pula ayat yang dimaksud dengan seksama, jangan lantas dilahap tanpa di iqro kan terlebih dahulu, jika belum paham juga pending (tahan dulu, cari pembanding yang kontra, atau pelajari lagi ilmu ilmu lain untuk menunjang pemahaman Al Qur’an seperti : Ilmu Lughat (philology), Ilmu Nahwu (Syntax), Ilmu Sharaf (Ethymology), Ilmu Isytigaq (derivatives), Ilmu Ma’ani (semantik), Ilmu Bayan (speech), Ilmu Badi’ (rhetoric), Ilmu Qira’atI lmu Agaid; ilmu Usul Fiqih; Ilmu Nasikh Mansukh; Ilmu Fiqih; Ilmu Hadits dan tentunya saya kira masih ada lagi.
Dalam tiap disiplin ilmu pasti ada ilmu ilmu inti yang harus dikuasai, misal seorang sarjana sipil, materi pokok yang harus sangat dikuasainya adalah Ilmu mekanika teknik, ilmu konstruksi baja, ilmu konstruksi beton, ilmu konstruksi kayu, dengan demikian jika dia berbicara masalah sipil konstruksi, semua sarjana sipil dari seluruh dunia akan paham apa yang dibicarakannya. Karena tak akan ada yang aneh (tak masuk akal) dari yang dibicarakannya. Mosok bikin beton bertulang campurannya kacang goreng diulek, air mateng, cabe, gula jawa plus toge, memangnya mau bikin pecel?. Ketika dikatakan campurannya pasir, batu koral, semen, air dan besi atau baja sebagai tulangan, maka semua sarjana sipil diseluruh dunia akan memahaminya.
Begitu juga dalam ilmu Kedokteran, Kimia, Hukum dstnya pastilah ada prinsip prinsip ilmu yang baku yang mewakili dari ilmu yang dipelajarinya itu. Tanpa ilmu baku (sunatullah) itu manusia tak akan pernah bisa kebulan. Dalam Islam ilmu baku tersebut bagian dari hukum Allah yang disebut akli nakli, cause and effect, sebab akibat, atau hukum logika.
Begitu juga dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah tentu saja ada ilmu ilmu yang yang harus dikuasai ummat (seperti diantaranya yang saya sebut diatas), agar memahami qur’an dan Sunnah dengan pas sehingga tidak menjadi over tapi tidak pula dikurang kurangi.
Karena itu bagaimana kita bisa terbebas dari tipuan ulama syiah, ahmadiah dan dari penyeru penyeru kesesatan lain jika ilmu pokok pokok untuk menunjang pemahaman kita tentang Islam kita buta?. Membela mati matian Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, membela mati matian kawin mut’ah (kawin kontrak) halal, tapi kita tidak menguasai ilmu pokok pokok ugama Islam, ketahuan deh ketika kita berdebat “bodohnya kita dipamerkan”, dengan lawan bicara. Dan karena kebodohan kita jua, kita membantah manusia yang menyadarkan kita tanpa ilmu (sok tau). Sesuatu yang diharamkan Allah.
{بَلِ اتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَهْوَاءَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَمَنْ يَهْدِى مَنْ أَضَلَّ اللهُ ، وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ}
Tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan; maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah? Dan tiadalah bagi mereka seorang penolongpun. (QS. 30:29)
Kalau anda ahli membuat asinan bogor, saya yang tak pernah tau soal masak memasak, bicara masalah asinan bogor yang sedap, bumbu bumbunya dari bahan apa saja, pastilah anda akan mentertawakan saya. Anda pasti tau pada point point tertentu dimana saya menipu anda ditentang asinan bogor. Begitu juga dalam masalah ugama, pastilah suatu ketika anda akan tahu siapa menipu siapa jika anda serius dalam mempelajari Islam dengan sungguh sungguh, dan ini sudah merupakan janji Allah, petunjuk dan hidayah Allah akan sampai juga bagi yang sungguh sungguh belajar Islam untuk mencari kebenaran.
{وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ، وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ} 69/ العنكبوت .
Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh sungguh) untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. 29:69).
Kalau tidak datang juga hidayah itu kepada kita, berarti kita sudah masuk dalam kelompok manusia yang sudah disesatkan Allah, karena Allah SWT tidak pernah ingkar janji kepada hambaNya. Tersesat juga walau telah ”belajar Islam”, itu tandanya kita bukan pencari kebenaran sejati, tetapi mencari pembenaran sejati untuk ke eksis- an kabilah kita, macam kelompok Jaringan Islam Liberal, Syiah, Ahmadiyah dstnya. Dimantapkan sajalah kesesatannya oleh Allah, memang pantasnya manusia yang tidak mencari kebenaran dalam hidupnya, tetapi mencari pembenaran diri, mencari pembenaran kabilahnya, golongannya, dibakukan sekalian saja kesesatannya.
{فَمَا لَكُمْ فِى الْمُنَافِقِينَ فِئَتَيْنِ وَ اللهُ أَرْكَسَهُمْ بِمَا كَسَبُوا ، أَتُرِيدُونَ أَنْ تَهْدُوا مَنْ أَضَلَّ اللهُ ، وَمَنْ يُضْلِلِ اللهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلاً}
Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka pada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri. Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah?, Barangsiapa yang telah disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya. (QS. 4:88)
لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللهَ يَهْدشى مَنْ يَشَاءُ ، وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلأَنْفُسِكُمْ ، وَمَا تُنْفِقُونَ إِلاَّ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ ، وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لاَ تُظْلَمُونَ
Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siap yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya. (al-Baqarah; 2:272)
SYARAT KELIMA :
Jangan sembunyikan kebenaran jika kita kita telah mengetahuinya. Jangan belagak pilon, jangan pura pura tidak tahu terhadap masalah yang ada dihadapan kita. Ciri seorang pencari kebenaran sejati justru begitu gembira menemukan kebenaran baru yang datang padanya dan tak akan mempeti es kan apa yang ia telah temui. Karena tanggung jawabnya langsung kepada Allah SWT. Tidak ada KONGKALIKONG dalam masalah kebenaran. Karena manusia hanya tunduk patuh kepada Allah SWT. Begitu telah ia sampaikan kepada orang lain apa yang ia telah ketahui, maka terlepaslah ia dari pertanyaan Allah SWT kelak di yaumil akhir.
وَلاَ تَلْبِسُوا اْلحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا اْلحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ.
Dan janganlah kamu campur-adukkan yang hak (yang benar) dengan yang bathil (yang sesat) dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu (yang benar itu), sedang kamu mengetahui. (al-Baqarah; 2:42)
Problem yang paling berat dihadapi manusia adalah bagaimana menyampaikan kepada ummat bahwa perjalanan hidup yang dilaluinya selama ini telah tersesat, sementara ia telah menjadi figure public yang menjadi panutan ummat. Pamor akan jatuh?. Pada phase ini andil iblis amat berperan. Karena itu ia tetap mempertahankan kesesatannya lantaran gengsi seperti paman Rasulullah Abdul Mutholib, hidup dimakan gengsi, maka Allah akan bikin sesat sekalian kelompok manusia tersebut macam organisasi organisasi sesat terdahulu.
Betapa menyedihkan mantan ketua Muhamadiyah yang namanya amat kesohor berpeluk pelukan mencium kening khalifatulmesihnya Ahmadiyah, tokoh yang kalau dimasa Khalifah Abubakar RA sudah pasti di basmi habis. Tokoh muhammadiyah malah memeluknya dengan mesra.
Nabi palsu dan pengikutnya dimasa kekhalifahan di perangi (dibunuh habis), zaman sekarang cuma didemo dan sedikit perang batu, pendemo inipun masih dikomentari oleh JIL (Ulil Abshar Abdala), Adnan Buyung Nasution sebagai tindakan yang anarkis dan pelanggaran HAM. MUI mau dituntut pula, wah. Begitulah kalau keledai tidak paham apa yang dibawa. Contoh lain peristiwa tanjung Priok dimana kaum muslimin di bantai, setelah itu Benny Moerdany mengunjung pesantren pesantren (ceritanya ishlah neh), ternyata para ulama berpelukan mesra dengan manusia yang patut mendapat qishas tersebut. Ironis dan itulah fakta, kualitas dan mentalitas oe-lama organisasi organisasi Islam terbesar di Indonesia telah amburadul, bagaimana ummat juga tidak kacau jika ulamanya Mr. Bean?(oe-lama yang mentertawakan karena akhlaknya).
Berpeluk pelukan berkasih sayang terhadap manusia yang jelas jelas mencederai Al Qur’an bukanlah cermin dari manusia taqwa. Akhlak Islam adalah berkasih sayang kepada sesama mereka yang ber-iman, tapi bersikap keras dan tegas terhadap kaum kufar yang jelas jelas mencoba menggerogoti wahyu wahyu Allah SWT(Q 48:29). Jika yang dilakukan berpelukan mesra dan saling mencium, bukankah itu pertanda Muhammadiyah dengan Ahmadiyah, organisasi kakak beradik ?
Jadi jelas mengapa Allah SWT mempatenkan mereka sesat sekalian? Karena sombongnya mereka terhadap kebenaran yang datang dari Allah. Masa bodoh terhadap peringatan peringatan yang datang padanya, cuek, merasa organisasi Islam tapi menjadikan perasaannya, akalnya, ghodob dan syahwat sebagai tuhannya, sementara Al Qur’an dan As Sunnah ditelikung didalam ketiaknya. Al Qur’an cuma dipakai buat musabaqoh, nujuh hari-an, pembukaan acara acara keagamaan, setelah itu Qur’an cuma dipajang dan dibangga banggakan sebagai kitab yang hebat, tapi bukan untuk di aplikasikan dalam kehidupan masyarakat. Maka secara hakikat masyarakat kita memang bukan masyarakat Islam, tapi masyarakat yang serupa Islam. Masyarakat yang ragu terhadap Al Qur’an, hanya mau pakai yang ringan ringan saja, ayat ayat yang lain peti es kan. Sempit dada saya pakai baju Islam, begitu kata tokoh Ahmadiyah, eh …Muhammadiyah. Indah nian itu pernyataan.
Al Ghazali mengatakan bahwa justru manusia yang paling dalam tercampak kedalam jahanam adalah dari kelompok manusia yang menyembunyikan kebenaran padahal dia amat mengetahui. Tampilan mereka 100% berwajah Islam, tapi manakala ditawarkan syariat Islam sebagai jalan satu satunya dan tidak ada pilihan lain untuk mengatur kehidupan manusia, maka justru dari organisasi yang mengatas namakan Muhammad, mengatas namakan Ulama sangat menentang syariat Islam ditegakkan.
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِى اْلحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللهَ عَلَى مَا فِى قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ
Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. (al-Baqarah; 2:204)
Maka terjatuhlah manusia pada nilai kemanusiaan yang paling rendah, aspal. (tempat yang serendah rendahnya) Kata orang betawi mereka enggada ape apenye. Enggade nilainye. Oe-lama ame preman sama aje, enggada bedanye. Gawat kan tuh kalau pandangan masyarakat sudah demikian.
{لَقَدْ خَلَقْنَا اْلإِنْسَانَ فِى أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ}
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (QS. 95:4)
{ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ}
Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), (QS. 95:5)
TINGKATAN SUMBER KEBENARAN :
I. Kebenaran dari Allah SWT :
Bersifat mutlak benarnya. Kebenaran yang sebenar benarnya benar. Berlaku bagi siapapun, kapanpun dan dimanapun.
اَلْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ ، فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ اْلمُمْتَرِينَ
Kebenaran itu adalah dari Rabb-mu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.(mutlak benarnya) (al-Baqarah; 2:147)
Bagaimana kebenaran dari Rasulullah?. Sunnah Rasulullah itupun sebenarnya sumber utamanya dari Allah jua. Jadi tak seorangpun berhak, punya hak, mengklaim sebagai sumber atau creator kebenaran. Tak ada kalimat dalam Al Qur’an yang menyatakan Rasulullah sebagai sumber kebenaran, maka Rasulullahpun bukan creator kebenaran, Rasulullah hanya utusan Allah, pesuruh Allah untuk menyampaikan pesan pesanNYA kepada manusia, agar manusia hidup sesuai petunjuk Allah semata. Karena Allah SWT memerintahkan hambaNYA mentaati Rasulullah, maka kita sebagai ummat Muhammad wajib pula berpegang kepada Sunnah Rasulullah SAW.
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهَا الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ، وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya. dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali. (QS. 4:115)
Karena kebenaran itu hanya datangnya dari Allah, maka jika ada seseorang Yahudi, Nashara, atau Majusi, berbicara benar yang ternyata sesuai dengan prinsip prinsip Qur’an, Sunnah, kita harus berani menyatakan bahwa apa yang dikatakannya itu benar, tapi sebatas menerima apa yang dikatakannya dan bukan lantas mengikuti jejak ugamanya atau gerak hidupnya yang jauh dari konsep hidup Islam. Mungkin saja suatu ketika walau seorang pendosa sekalipun (pelacur), berbicara, diantara kata katanya ada yang benar, manusia lain harus siap menerimanya untuk kata kata yang benarnya. Jadi kita tak boleh mengatakan lantaran anda bukan ulama, anda tak pantas bicara Islam, pernyataan tokoh anggota DPR itu memprihatinkan, padahal Ali Bin Abi Talib berkata, jangan lihat siapa yang bicara tapi lihatlah apa yang dibicarakan.
II. Kebenaran bersumber dari Akal:
Bersifat bisa benar bisa salah. Jika semata mata hanya mengandalkan akal tanpa mengacu kepada Al Qur’an dan As Sunnah, maka akal bisa keliru, akal bisa salah dan bahkan malah kerap membikin manusia jadi pusing, bersikap ekstrim atau tersesat lantaran hanya mengandalkan akal.
Contoh:
Seorang sopir membawa kendaraan se kencang kencangnya, teman disebelahnya berkata, kenapa kamu bawa mobil gila gilaan?, jawab sopir, sabodo amat bukan mobil gue ini. Benar juga pikir temannya, karena bukan mobilnya maka sang sopir bawa mobil gila gilaan, kalau mobilnya sendiri tentu dia akan hati hati dan nyantai, begitu pikir temannya. Di hari berikut sang sopir pakai mobil lain, ngebut lagi, temannya berkata lagi, tentunya ini mobil orang lain lagi?, jawab sang sopir tidak, ini mobil gua. Sabodo amat, mau gue kebut kek, mau engga kek, mobil gue ini. Temannya berfikir lagi, benar juga soalnya mobil sendiri dia bebas ngebut se kencang kencangnya. Disini terlihat kebenaran akal yang tidak berkait dengan qur’an langsung bersifat relative.
Seorang pengendara motor di malam hari ngebut dan menabrak pengendara sepeda yang sedang menyeberang jalan. Dua duanya terjatuh. Pengendara motor marah, mate elu kemana, tau ada motor lewat pakai lampu, elu nyebrang aja. Kemane mate lu…Pengendara sepeda tidak mau kalah ngotot, mate elu yang kemane, tau ada orang nyeberang jalan pakai lampu, eh main tabrak aja.
Mana yang benar?, dua duanya merasa benar, tapi jika mau diteliti pasti ada yang lebih benar dari yang benar, harus ada solusi lain dalam menilai kasus diatas, yaitu peraturan untuk umum dalam penggunaan jalan. jika tanpa aturan, dunia semakin ruwet. Begitupun dalam memahami Al Qur’an, ada ilmunya, jika tidak mengunakan ilmu tersebut, banyaklah manusia menafsir Al Qur’an seenak hati, akibatnya muncullah aliran ini itu, disebabkan menyatakan suatu “kebenaran” tanpa didukung ilmu yang memadai.
Dari contoh kisah diatas, ternyata kebenaran akal, yang tidak berkait langsung dengan Al Qur’an dan As Sunnnah, ada tingkatannya. Maka Allah SWT meminta untuk manusia, memilih yang terbaik dan terbenar (Q 39:17,18) tentunya dengan melihat situasi dan kondisi, ideal dan realistisnya, aturannya dan kebijakannya. Tidak terlalu serba aturan sehingga orang menjadi stress dalam menghadapi kehidupan (manusia diplot seperti mesin, kaku), tidak pula begitu nyantai lunak sehingga segala sesuatu menjadi acak acakan, karena tidak ada disiplin. Tidak main hakim sendiri (hantam kromo), karena merasa power ada padanya, tidak pula membiarkan sehingga manusia nekad.
Keseimbangan ini (balance) perlu di jaga karena kebenaran akal yang tidak terkait Al Qur’an bersifat relative sementara kebenaran Al Qur’an bersifat mutlak. Ugama Islam adalah ugama yang sangat seimbang diantara ugama ugama lain yang ekstrim kanan atau ekstrim kiri. Ugama Islam tidak pernah menjadi ekstrim kanan atau ekstrim kiri. Jika manusianya atau pengikutnya bisa saja menjadi ekstrim kiri, ekstrim kanan, bahkan teroris sekalipun. Jangan sekali kali menyamakan pengikut suatu agama dengan agamanya, pengikut ajaran adalah manusia, bisa saja melenceng, tapi Islam terjamin keasliannya.
ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ
Kitab (al-Qurán) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (al-Baqarah; 2:2)
III. Kebenaran dari Penglihatan :
Sumber kebenaran bisa juga berasal dari penglihatan, tetapi jika hanya mengandalkan penglihatan, ternyata penglihatan mata juga bisa keliru. Misal kita dihadapkan seorang kembar yang salah satunya melakukan pembunuhan, begitu sikembar di pajang, kita menjadi bingung, mana yang sesungguhnya pembunuh yang sesungguhnya, mau tidak mau harus ada perangkat lain untuk menentukan dari sikembar yang salah satunya melakukan pembunuhan tersebut.
Karena itu kita tidak boleh 100% percaya pada kebenaran pandangan mata, contoh, jika kita amati rel kereta api, ternyata disukai atau tidak, mata kita mengatakan bahwa pada ujungnya rel tersebut menyempit dan menyatu, padahal kalau kita dekati, tak akan pernah kita jumpai rel kereta api yang menyatu. Contoh lain, ada air didepan pandangan kita digurun ditengah hari. Kita katakan fatamorgana, ternyata setiap kita dekati daerah yang kita anggap ada air tersebut, air tidak pernah kita jumpai. (jadi fatamorgana adalah hasil pandangan mata yang menipu).
Mata kita sering mengukur kebahagiaan manusia dari kekayaan yang diperoleh, betapa bahagianya mereka yang punya rumah mewah dan mobil wah, ranch luas ber hektar hektar. Itulah ukuran mata kita yang kemudian diolah akal. Ternyata Allah SWT justru menyatakan yang sebaliknya.
{اِعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى اْلأَمْوَالِ وَ اْلأَوْلاَدِ ، كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَمًا ، وَفِى اْلآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللهِ وَرِضْوَانٌ ، وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ}
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu (fatamorgana). (QS. 57:20)
Tapi anehnya walau kemewahan dunia tersebut adalah kesenangan yang menipu, tetap saja manusia doyan dan amat senang untuk ditipu. Orang orang KPU korupsi, mantan menteri agama hafiz Qur’an korupsi, Gubernur daerah tegaknya syariat Islam korupsi, anggota DPR semua partai Islam juga korupsi, maling teriak maling, maling teriak maling, maling teriak maling, lantas kapan kita ketemu yang bukan maling jika yang nangkap maling pun maling.
IV. Kebenaran dari Perasaan :
Betapa menyeramkannya hidup dalam kemelaratan, begitulah yang dirasakan kebanyakan manusia, maka mereka berusaha keras untuk keluar dari kemelaratan, siang malam, pagi sore kerja keras tanpa mengenal lelah walau kerap telah kelelahan, tetap genjot terus untuk mendapat hasil yang optimal, resiko lever atau penyakit lain bagi orang yang memforsir dirinya kurang diperdulikan. Padahal Allah SWT telah mengatur yang baiknya menurut manusia dalam pengaturan waktu sbb:
{هُوَ الَّذِى جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا ، إِنَّ فِى ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ}
Dialah yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya dan (menjadikan) siang terang benderang (supaya kamu mencari karunia Allah). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar. (QS. 10:67)
Padahal sesungguhnya kesenangan dan kesusahan itu hanya permainan perasaan. Tidak sedikit orang yang kaya raya karena takut menjadi miskin menjadi sangat kikir dan selalu menghitung hitung. Sementara ada orang yang serba kekurangan harta hidupnya always happy. Wajahnya cerah, senyumnya murah, biar umur tua, tapi wajah segar, ada pula orang yang masih muda wajah tampak tua menggambarkan perjuangan hidup yang keras dalam pemburuan harta yang tak pernah cukup cukupnya.
Seorang ibu bertanya kepada seorang arif, pak, rumah saya kecil, adik sayapun tinggal dirumah saya, pusing saya dengan sumpeknya rumah dan dengan kemiskinan ini, apa yang harus saya lakukan dari tekanan perasaan kesumpekan seperti ini?, sang arif menjawab, besok ibu masukkan ayam 5 ekor dan kandangnya dalam rumah, setelah seminggu balik lagi kesini. Seminggu kemudian sang ibu balik, waduh pak saya tambah bingung dan sumpek dengan adanya ayam dalam rumah, saya harus lakukan apalagi supaya kesemrawutan ini berakhir?, sekarang masukkan kambing 5 ekor dalam rumah, dan ibu kembali lagi kesini seminggu lagi, sang ibu menurut dan datang lagi kepada sang Arif, semakin meluaplah kekesalannya karena terhimpit beban yang semakin berat dan semakin semrawut, sang Arif kemudian memberi nasihat final, coba sekarang ibu keluarkan semua hewan didalam rumah tersebut semuanya, dan datang lagi seminggu lagi kesini, Sepekan kemudian sang ibu datang lagi dengan wajah cerah, wah pak, sekarang lega perasaan saya, rumah terasa lapang dengan tidak adanya hewan hewan tersebut.
Begitulah manusia jika hanya mengandalkan perasaan. Pandangannya tentang kebenaran yang menjadi fokusnya bisa berubah ubah, sekarang keluh kesah, besok semakin keluh kesah, besoknya lagi merasa nyaman, padahal tidak ada perubahan dalam kasus yang pertama. Hanya saja setelah beban ditambah, ditambah lagi,ditambah lagi, kemudian di hilangkan beban baru tersebut, perasaan sang ibu menjadi lega. Padahal isinya tetap sama sejak awal ia datang. Sang ibu telah ditipu perasaannya.
Karena itu kita harus berhati hati menyikapi sesuatu kebenaran hanya berdasarkan perasaan, bahkan bisa bablas jika tidak mengindahkan syariat. Tidak enakkan pi dia bicarakan nikah kontrak yang jadi kemelut papi, mami setuju pemikiran papi, tapi dia kan masih anak kita juga. biar sajalah dia nikah kontrak dalam sehari 12 wanita ditiduri jika masa kontraknya hanya 2 jam, jangan singgung perasaannya lho pi. Itukan keyakinan mereka yang harus kita hargai. Pokoknya mami tidak mau ada ribut ribut dalam keluarga kita, biar kata anak mami udel di tontonin, yang penting anak kita enjoy, merasa PD dengan penampilannya. Zaman sudah dimana mana anak gadisnya begitu pi, jadi papi tidak usah mencampuri ham mereka. Ya to pi.. ihhh.. gue gecek luh..
Mengandalkan kebenaran akan sesuatu berdasar perasaan tanpa dukungan wahyu Allah akan repot. Dan hebatnya perasaan itu sendiri merupakan tempat mangkalnya syeitan seperti ayat sbb:
{وَقَالَ إِنَّمَا اتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِ اللهِ أَوْثَانًا مَوَدَّةً بَيْنِكُمْ فِى الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ، ثُمَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُو بَعْضُكُمْ بِبَعْضٍ وَيَلْعَنُ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَمَأْوَاكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَاصِرِينَ}
Dan berkata Ibrahim: “Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini kemudian di hari kiamat sebagian kamu mengingkari sebagian (yang lain) dan sebagian kamu melaknati sebagian (yang lain); dan tempat kembalimu adalah neraka, dan sekali-kali tidak ada bagimu para penolongpun. (QS. 29:25)
Karena perasaan kasih sayangnya begitu rupa terhadap istrinya yang cantik tapi beda ugama, anaknya yang cantik, sexy dan manja, maka dibiarkannya ia tetap dalam ugama yang beda, dibiarkannya udel terbuka, dibiarkannya tidak sholat dst, padahal secara syariat dia tidak sebenarnya kasih kepada istrinya, istrinya bakal masuk neraka dibiarkan saja, anaknya bakal masuk neraka dibiarkan saja, bahkan di support pakaian pakaian makin merangsang dan itulah yang terjadi. Takut menyinggung perasaan hatinya jika aku bicara ugama, “Takut”nya itu sebenarnya hanya bisikan syeitan yang merasuk didalam perasaannya.
الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَ اللهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلاً وَ اللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (al-Baqarah; 2:268)
Nah, jika sudah begitu bunyi ayatnya, semakin parahlah jika kita mencari kebenaran semata mata mengandalkan perasaan, Kita harus berusaha membuangnya dan mampu berkata, bodo miskin, emang gue pikirin…..Sebab kalau dituruti perasaan takut itu, maka jelas kita termakan syeitan.
V. Kebenaran dari Pendengaran :
Pendengaran merupakan alat penerima dalam panca indra kita, tapi itupun jangan di percaya seratus persen. Karena pendengaran juga bisa tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Contoh, ada sekumpulan pemusik bermain band, dengan perangkat yang begitu hebat mereka memainkan alat alat musiknya, penonton terpukau oleh aksi panggung mereka memainkan alat musik, eh tidak taunya mereka hanya berpura pura memainkan musik, padahal sound musiknya sendiri bukan dari instrument yang mereka pakai, tapi dari sound system lain berkwalitas baik yang diputar keras keras.
Katakanlah untuk ayam berkokok saja, tiap tiap negara atau daerah ada yang beda beda dalam pengucapannya, ada yang kuk ku ruyuk ada yang kong ko rongok. Mana yang dijadikan dasar?. Jadi berpegang kebenaran dengan mengandalkan pendengaran, juga harus diwaspadai, semua alat panca indra tersebut hanya sebagai alat bantu untuk mencernakan qur’an dan sunnah dengan baik. Bukan untuk yang sebaliknya. Tidak boleh, penglihatan, perasaan, pendengaran, pemikiran (akal) diatas kebenaran Al Qur’an dan As Sunnah, jika itu yang terjadi sesatlah manusia itu se sesat sesatnya.
Bisa menerima Kebenaran adalah Hidayah :
Al Ghazali mengatakan bahwa kebenaran tidak bisa dijelaskan dengan kata kata, kata kata adalah bahasa kesepakatan, kebenaran tidak mengenal kesepakatan. Kebenaran adalah hidayah. Orang non muslim mengatakan yesus tuhan, dan itu mereka yakini benar, walau kita ummat Islam mengatakan bahwa yesus itu hanya manusia biasa. Walau kita katakan, mosok tuhan berak, kentut, kencing dan nafsu lihat wanita telanjang, mereka tetap saja tidak hiraukan apa yang menjadi keberatan kita. Jadi apakah mereka bodoh? sama sekali tidak, cuma soal hidayah, (paman Rasulullah orang yang pintar melindungi dan mempergauli kemenakannya), mereka belum pantas menerima hidayah Allah karena jiwanya memang belum pantas untuk menerimanya. Hebatnya mereka juga akan mengatakan kepada kita bahwa kita belum dapat hidayah untuk memahami tuhan Yesus, nah, berarti hidayah itu sesuatu yang sangat istimewa bukan?, Hidayah hanya bisa dimengerti hanya bagi yang mereka memperoleh hidayah pula. Jadi semacam bahasa isyarat.
Jika ada kesalahan mohon dikoreksi, yang benar dari Allah yang keliru dari penulis.
Jakarta, 21 Juli 2005.
-ooOoo–
Salamun alaikum
Ikut nulis sedikit, maaf kalau saya tidak meminta ijin terlebih dahulu, hanya ingin menyampaikan apa yang menurut saya benar.
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (17:36)
Ayat di atas telah membuat takjub mereka yang menjadi murid dari agama Allah. Ayat tersebut selalu mengingatkan mereka “kriteria” yang dijadikan dalam menerima dan menegakkan apa yang diberikan kepada mereka sebagai “hukum.”
Kita sebagai manusia diwajibkan oleh Allah untuk menggunakan indera yang kita miliki (penglihatan, pendengaran, dan pikiran) sehingga kita dapat memastikan dan membedakan kebenaran dari kepalsuan… Menjadi pengikut buta TIDAK diperbolehkan dalam Al-Qur’an dan itu dicap sebagai salah satu tanda kekufuran:
“Dan perumpamaan orang-orang kafir adalah seperti mereka yang MENGULANG (Yan’iq) hanya apa yang mereka dengar melalui seruan dan panggilan saja, tanpa mengerti. Mereka tuli, bisu dan buta, mereka tidaklah mengerti.” (2:171)
Lalu apa yang bisa menjadi petunjuk kita? mana jalan yang lurus?
mana yang bisa membuat kita mengerti?
“Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nimat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat” (1:6-7)
Tidak perlu jauh2, cukup lihat halaman selanjutnya, 2 ayat setelahnya sudah memberi jawaban.
“Alif laam miim. Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (2:1-2)
Problem Solved, Case Closed.
“Maka patutkah aku mencari hakim SELAIN DARIPADA Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab kepadamu dengan TERPERINCI? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al-Qur’an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu. Telah SEMPURNALAH kalimat Tuhanmu, sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti PERSANGKAAN BELAKA, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta.” (6:114-116)